Solo Hiking Malam di Gunung Andong

Undangan dari Aliansi Pendaki Nusantara (APN) chapter Jawa Tengah sebagai nara sumber dalam acara Kopi darat sesama anggota menjadi penyebab. Acaranya Hari Sabtu malam, tanggal 9 maret 2019. Berlangsung di Kawasan Wisata Guci, Tegal. Tepatnya di kaki Gunung Slamet.

Awalnya Aku berencana mendaki Gunung Slamet untuk ke 5 kalinya sebelum acara. Hitung punya hitung waktunya tak cukup. Aku baru bisa meninggalkan Jakarta hari jumat siang, ada meeting yang harus diikuti jumat paginya.

Setelah melalui pertimbangan panjang, Gunung Andong dengan waktu pendakian singkat menjadi pilihan. Meski baru sebulan sebelumnya aku mendaki ke sana. Namun kala itu cuaca sedang tidak bersahabat, view yang tersaji pun tak terlalu memuaskan. Cerita pendakiannya sudah pernah di tulis sebelumnya. Silahkan dibaca.https://rahmathadi.com/2019/02/05/gunung-andong-si-imut-nan-rupawan-di-pusat-jawa/

Meski pendakian ke 2 kalinya akan terjadi dalam waktu yang sangat dekat, aku ingin membuat pendakian ini berbeda dengan pendakian sebelumnya. Caranya? Mendaki malam dan sendiri alias Night solo hiking.

Usai shalat jumat, aku meninggalkan kantor di bilangan Cibitung. Apes, aku salah ambil jalur tol. Akibatnya harus memutar dan menghabiskan waktu sejam untuk bisa kembali ke arah yang benar. Padahal aku sedang mengejar waktu agar bisa tiba di Magelang sekitar jam 7 malam. Pendakian direncanakan mulai jam 8 malam. Namun karena salah jalur tol, sepertinya rencana harus di susun ulang. Tak apalah, yang penting bisa tiba di basecamp dengan selamat.

Usai menempuh Jalan Tol Trans Jawa setelah mampir di 2 rest area, aku tiba di Basecamp Pendem , salah satu basecamp untuk mendaki Gunung Andong. Ada beberapa basecamp atau jalur yang ditempuh untuk mendaki Andong. Diantaranya jalur sawit dan jalur pindik. Aku memilih tetap menggunakan Jalur Pendem. Waktu menunjukkan tepat jam 8 malam. Aku disambut Ibu Aminah, penjaga warung yang berdagang di basecamp. Ada 3 pendaki asal Magelang yang akan memulai pendakian. Kami bertegur sapa dan mereka langsung menuju jalur.

“Mo naik lagi, Mas?” Ibu Aminah langsung mengenaliku.

“Iya, bu.”

“Sendiri lagi?”

“Hehehe, iya bu. Minta susu jahe gelas besar seperti biasa ya bu?” Aku duduk di bangku depan warung.

“Susu jahenya abis eh mas, bajigur aja ya?”

“Boleh. Nanti sekalian siapin mie rebus sama telor dadar goreng ya bu? Aku belum makan malam.” Aku menyulut rokok. Asapnya menyatu dengan gumpalan kabut tipis.

” Makannya sekarang toh mas?”

” Entar aja bu, aku mau mandi dan shalat dulu.” Ibu Aminah menyerahkan segelas besar bajigur. Aku menyeruputnya.

“Mas mau mandi dingin-dingin begini?” Tanya salah seorang pemuda yang nongkrong di depan warung.

“Ndak apa-apa toh, biar mas-nya seger. Dia pasti capek abis nyetir jauh” Ibu Aminah yang nyeletuk. Aku tertawa.

Usai mandi dan shalat, hidangan mie instant di campur telur dan nasi menemani malam dingin itu. Saat dingin dan lapar begini, mie instant yang biasanya berasa biasa-biasa aja jadi sangat nikmat. Apalagi di tambah irisan cabe pedes. Lumayan buat bekal tenaga selama pendakian.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Aku bersiap-siap. Carrier yang sudah terpacking rapih dikeluarkan dari dalam mobil. Tepat jam 9, aku pamit ke Ibu Aminah. Dengan langkah pasti aku menuju pos registrasi. Seorang penjaga berjaket kuning sudah menunggu.

Selembar uang 20 ribuan untuk biaya simaksi dan parkir mobil aku serahkan sambil mencatat nama di buku registrasi. Sebenarnya biayanya hanya 12.500 rupiah, selebihnya buat tip si mas-nya. Namun ada syaratnya, dia harus memotretku. Gak mau rugi akutuhhh……hahahaha….

Usai foto-foto di depan gerbang pendakian, aku berdoa memohon perlindungan-Nya. Ini kali pertama aku melakukan pendakian malam dan seorang diri. Beberapa kali pernah melakukan pendakian malam tapi itu karena kemalaman di jalur. Kali ini pendakian dimulai di malam hari. Meskipun sudah mengenal jalurnya, gunung tetap tak boleh dianggap remeh. Aku harus senantiasa berhati-hati dan waspada.

Usai berdoa, aku mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak paving blok. Lampu headlamp di kepala menyala terang menerangi jalur. Semilir angin sepoi berpadu desah nafas seakan menemani. Tak ada siapa-siapa. Aku sendiri.

Perlahan langkah terayun memasuki jalur vegetasi. Rimbunan bambu yang menjadi penanda jalur utara selatan menyambut. Suara gesekan dahan dan daun berpadu oleh hembusan angin menghadirkan melodi alam nan syahdu. Sepi. Tak ada siapapun. Selain area yang terkena cahaya headlamp, selebihnya gelap. Cahaya lampu dari basecamp dan rumah-rumah penduduk mengintip dari balik daun dan pepohonan. Samar-samar terdengar suara gamelan yang sepertinya di tabuh dari rumah penduduk. Anggap saja musik pengiring langkah menemani pendakianku.

Slow and steady, pelan dan stabil, prinsip yang selalu aku jalani selama pendakian. Tak perlu terburu-buru. Nikmati perjalanan. Bahkan nikmati desah nafas yang mulai memburu seirama detak jantung yang berdegup kencang. Meski hembusan bayu menerpa perlahan, tak urung keringat tetap membasahi beberapa bagian tubuh. Baju mulai basah. Jaket yang tadinya rapat, restleting-nya mulai di buka sebagian. Sesaat angin menyusup ke dalam dada. Sejuk. Menghadirkan kenikmatan tersendiri. Hutan pinus dengan batang pohon yang saling berdetas karena hembusan bayu seperti mengintip malu. Aku tersipu. Sesekali pandangan kuarahkan berkeliling. Satu dua kunang-kunang terbang menerangi dengan kerlipnya yang genit. Mereka menggoda, tapi aku tak bergeming. Langkah tetap terayun perlahan.

Entah perasaan apa, ada aliran adrenalin laksana semburan lava yang menggelegar dalam pembuluh darah. Rasa yang menghadirkan kekuatan diri. ini pertama kalinya aku mendaki seorang diri di malam hari. Tak ada siapa-siapa di jalur dan hutan menuju Puncak Gunung Andong malam itu. Berjalan sendiri, harus bersiap menghadapi apapun dan siapapun yang mencoba mengusik. Mahluk apapun. Tanpa ragu dan takut langkah terus terayun menembus keremangan dan kegelapan malam.

Berbeda dengan pendakian bulan lalu yang di warnai gerimis dan hujan, pendakian malam di bawah langit cerah itu sangat menyenangkan. Meski sesekali terlihat kilatan petir dan suara guntur terdengar dari kejauhan, hamparan bintang di langit cakrawala malam seakan menerangi langkah. Tak terlalu jelas memang, rimbunan pepohonan tak mengijinkan bintang bercanda denganku.

Berselang setengah jam, aku sudah tiba di pos 2, Kendit. Aku buang jangkar (menurunkan carrier). Selain untuk mengatur nafas dan isirahat, aku ingin menikmati keheningan dan kegelapan malam seorang diri di dalam hutan di jalur pendakian. Aku keluarkan bungkusan rokok dari saku celana. Aku sulut sebatang dan menghisapnya dalam-dalam. Lampu headlamp dimatikan. Tak terlihat apa-apa. Hanya cahaya lampu perkampungan setia mengintip dari celah pepohonan. Aku bersandar di batang pohon pinus.

“Ahh, perasaan seperti inilah yang selalu aku dambakan. Kebebasan, ketenangan dan keheningan.” Aku menggumam dalam hati. Asap rokok yang perlahan akan menggerogoti paru-paru dan kesehatan seakan terasa lebih nikmat. Pemberi kenikmatan sekaligus pembunuh. Tapi rasa sudah terjerat candu. Aku tahu buruk tapi aku menikmatinya. Manusia.

Kukeluarkan termos berisi bajigur buatan Ibu Aminah dari saku carrier. Seteguk demi seteguk mengalir melewati kerongkongan yang mulai kering karena rasa dingin. Rasanya lebih nikmat lagi. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Nikmat, sangat nikmat. Aku tak peduli lagi pada apa yang terjadi dalam hidupku. Aku tak ingin berpikir. Aku hanya ingin menikmati hidup dalam kepulan asap rokok dan rasa manis yang mengalir di tenggorokan. Di sini, malam ini, di jalur pendakian nan gelap.

Tak ingin berlama-lama dalam kenikmatan, aku memasukkan puntung rokok yang apinya sudah kumatikan ke dalam saku celana. Bergegas kuangkat carrier ke punggung. Masih dalam rengkuhan semangat, langkah kembali terayun. Meski tenaga sudah terkumpul, langkah awal usai istirahat tetap terjaga agar slow and steady.

Kunang-kunang masih terlihat satu-satu seakan menuntun langkah yang diterangi cahaya headlamp. Sesekali aku mematikannya untuk melihat apakah gemerlap bintang dapat menjadi cahaya penuntun malam. Namun aku harus terhempas dalam kecewa. Sang bintang tak sudi menerangi kegelapan di jalur yang kulalui. Dia tak mau hadir dalam langkahku malam itu. Aku kecewa, namun tak apa, sudah terbiasa . Kekecewaan sudah menjadi sahabatku sejak lama.

Punggungan gunung tanpa vegetasi. Aku berdiri memandang cakrawala tanpa batas horison. Kerlip dan taburan cahaya lampu penduduk berkolaborasi membentuk konfigurasi mirip rasi bintang. Gunung Merbabu berbayang Gunung Merapi di belakangnya seperti tersenyum dari kejauhan. Aku membalas senyum mereka. Senyum palsu yang terbungkus rapih. Jauh di lubuk hati, segumpal kecewa sedang berkecamuk. Namun bukan saatnya untuk ber-melankolis. Aku memilih melemparkan rasa itu ke dalam jurang yang menganga di hadapanku. Pendakian di lanjutkan. Langkah semakin ringan.

Area Batu Pertapan, salah satu pos yang berada di punggungan Gunung Andong menjadi tempat isitrahat selanjutnya. Pemandangan masih sama. Namun kali ini, hembusan angin kencang menemani. Aku merapatkan jaket, baju basah yang menempel di tubuh membuatku semakin dingin. Inilah yang sering menjadi penyebab sekaligus pembunuh di gunung, hypotermia. Baju basah, hembusan angin dan tinggal diam. Suhu tubuh akan drop ke titik terendah. Di saat itulah organ tubuh tak dapat bekerja normal. Aku harus terus melangkah. Dingin menggigil mulai menerpa. Bukan hanya dari tiupan angin, juga akibat baju yang basah oleh keringat.

Aku kembali melangkah. Selangkah demi selangkah meniti punggungan gunung yang dibeberapa bagian di buat menyerupai anak tangga. Tumpukan karung berisi tanah tersusun untuk mencegah longsor. Inisiatif penduduk lokal untuk memudahkan pendaki. Terus mendaki. Angin sesekali bertiup kencang. Suara gesekan dahan dan daun terdengar mirip suara kereta api. Mungkin menurut sebagian orang, suara angin seperti itu akan terdengar menyeramkan di malam gelap begini, namun bagiku malah terdengar indah. Sesekali aku berhenti untuk menikmati melodinya. Nikmat. Aku laksana seseorang yang sedang mabuk kepayang oleh keindahan dan keheningan alam.

Tak berselang lama, aku tiba di puncak alap-alap. Puncak pertama yang kerap di jadikan camping ground bagi pendaki. Tak ada siapapun di sana. Sepi. Dari kejauhan terlihat kilatan cahaya. Samar-samar terdengar seperti orang bercakap. Tampaknya suara yang berasal dari pendaki yang sedang nge-camp di Puncak Andong, Puncak tertinggi Gunung Andong. Aku hanya berhenti mengambil video dan kembali melanjutkan perjalanan.

Selepas Puncak Alap-alap, lampu headlamp tak lagi kunyalakan. Aku menikmati berjalan dalam sinaran gemerlap bintang. Jalur terlihat jelas. Meski demikian harus tetap berhati-hati. Jalur Jembatan Setan yang menghubungkan puncak Alap-alap dan Puncak Andong tergolong berbahaya. Jalurnya hanya selebar semeter, mungkin kurang. Jurang kiri kanan senantiasa mengancam andai tak berhati-hati.

Langkah perlahan akhirnya membawaku tiba di Puncak Andong. Benar saja, puluhan tenda sudah berdiri di atas puncak berketinggian 1726 mdpl itu. Ucapan syukur keluar dari celah bibirku. Bukan hanya bersyukur karena bisa mencapai puncak, namun aku mampu melakukan pendakian malam seorang diri. Terukir dalam sejarah hidupku, aku mampu menjalani hal baru yang tak pernah kujalani sebelumnya.

Aku segera mencari lokasi mendirikan tenda. Akhirnya kutemukan lokasi di antara tenda yang sudah berdiri. Tenda kecil milikku yang hanya memuat 2 orang tak memerlukan area luas.

Usai mendirikan tenda, aku mengambil gambar. Langit cerah, angin sepoi sesekali berhembus. Dingin menyusup melalui celah jaket. Dari tepat di depan tenda, berdiri tegak Gunung Merbabu. Dibelakangnya terlihat Gunung Merapi. Rangkaian lampu-lampu membentuk city light tersaji dengan sangat indahnya. Langit berpayung horison malam di puncak Gunung Andong menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Kenangan yang mengantarku ke alam mimpi.

Alarm pertanda subuh menggema dari telepon genggam. Sleeping bag yang membungkus badan tersingkap. Tidurku sangat nyenyak hingga subuh datang. Usai shalat subuh, aku menyingkap tenda bagian belakang. Masya Allah, pemandangan indah berlatar Gunung Merbabu dan Merapi terlihat menyambut dengan senyum renyah. Goresan awan menghias langit subuh yang mulai menggeliat menyongsong fajar. Aku terkesima. Inilah yang mendorongku kembali ke Gunung Andong ini. Aku rindu panorama gunung yang belakangan ini kudaki tak memberikan view apa-apa atau istilahnya zonk. Tak salah karena memang aku melakukan pendakian selama musim hujan. Meskipun saat ini view bukan lagi tujuan utama, namun kerinduan akan keindahan tetap sesekali mengusik. setidaknya untuk saat ini.

Aku melangkah keluar tenda. Kesibukan pendaki lain mengambil foto tak mengusikku. Kalaupun ada yang ‘sedikit’ mengganggu adalah suara berisik yang seperti tak ada ujung pangkalnya. Aku bisa memahami aksi mereka yang mungkin sangat excited bisa menyaksikan view indah. Sayang saja jika view dan panorama indah itu terusik dan berlalu tanpa di nikmati hanya karena sibuk dengan urusan foto dan candaan. Tapi itulah mereka, aku tak ada ada hak apapun untuk melarang dan menegur mereka. Di gunung, semua pendaki memiliki hak yang sama.

Usai menikmati pemandangan, aku mulai berbenah. Semua peralatan dimasukkan kembali ke dalam carrier. Tenda terlipat, sampah terkumpul dalam plastik. Kaki siap kembali melangkah turun melewati jalur yang sama. Berbeda dengan perjalanan sebelumnya saat aku memilih jalur sawit untuk turun. Kali ini aku hanya melangkah perlahan hingga tiba kembali di Basecamp Pendem. Saat berbenah dan menuju lokasi acara yang berlangsung di Kawasan Wisata Guci, Tegal. Perjalanan sepanjang jalan tol di pagi nan cerah itu terasa sangat indah. Terima kasih Andong telah memulihkan semangat hidup yang akhir-akhir ini terasa redup.

Video pendakian bisa dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=7-t3ttUTmAM&t=83s

2 thoughts on “Solo Hiking Malam di Gunung Andong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s