Tips Memilih Alat Pendakian – part 1

Sejak booming beberapa tahun silam, trend pendakian gunung sepertinya belum usai. Peminatnya semakin hari semakin banyak. Tak dipungkiri, sosial media menjadi salah satu pemicu dan pemacunya. Foto-foto berlatar gunung dan segenap pesonanya seakan menyajikan panorama yang memikat hati. Keindahan sunset dan sunrise berhampar samudera awan berbalut kabut tipis senantiasa membius sanubari pengguna sosmed.

Penikmat alam yang dulu lebih dikenal dengan istilah pencinta alam secara sporadis bermunculan. Segala umur segala kalangan, balita sampai emak-emak dan aki-aki. Kaum milenial tak usah dibilang. Gunung laksana magnet yang menarik perhatian dan adrenalin untuk dijelajahi. Sebagian karena passion atau panggilan jiwanya, tak jarang karena mengincar hasil foto yang dapat mengundang ‘suka’ dan komentar. Semuanya wajar, semuanya sah. Mendaki gunung hak sama setiap orang.

Sayangnya, kesukaan terhadap aktifitas pendakian gunung tak dibarengi dengan ‘bekal’ yang mumpuni. Baik dari segi kesiapan fisik, pengetahuan, keahlian dan yang tak kalah pentingnya adalah peralatan pendakian yang memadai. Disadari atau tidak, pendakian gunung termasuk salah satu jenis hobbi beresiko tinggi atau lebih umum disebut ekstrim. Fisik prima dan peralatan memadai menjadi faktor penentu keberhasilan pendakian, selain faktor alam yang tak dapat di kontrol.

Berbekal pengalaman pendakian selama ini, aku ingin berbagi tips dan cara memilih alat pendakian. Namun perlu diingat bahwa ini hanya berdasarkan pengalamanku selama ini. Bisa benar bisa tidak.

Memilih alat pendakian biasanya didasarkan beberapa faktor, diantaranya :

1. Fungsi

2. Kualitas

3. Kenyamanan

4. Model/style

5. Brand/Merk

6. Harga

Tulisan tips ini tak diendorse atau disponsori merk apapun. Namun aku akan mencantumkan merk alat yang aku gunakan selama ini beserta alasannya. Karena banyaknya alat dan jenisnya, setiap tulisan yang ditampilkan secara sekuel/bersambung ini akan membahas 2 alat saja.

Mari kita mulai.

1. Tenda

Tenda adalah alat wajib dibawa setiap pendaki saat mendaki gunung, khususnya untuk pendakian yang akan nge-camp, istilah untuk menginap. Saat ini tenda dengan berbagai merk, type dan harga beredar. Tergantung jenis, kapasitas serta kualitas.

Aku memiliki beberapa tenda, mulai dari kapasitas 2-6 orang. Saat sering mendaki dengan rekan-rekan, tenda yang sering di bawa adalah tenda kapasitas 4-6 orang. Namun sejak memutuskan mendaki sendiri maksimal berdua, tenda dengan kapasitas 2 orang jadi pilihan.

Awalnya tenda simpel tanpa flysheet, pelindung tenda dari hujan, jadi pilihan. Alasannya karena ringan. Namun konsekuensinya harus membawa flysheet jika musim hujan tiba. Malah jadi ribet.

Tenda dengan flysheet pilihan berikutnya. Jadinya lebih berat. Alhasil, aku jadi sering beli beberapa tenda karena mencari yang ringan. Masih belum puas juga.

Akhirnya dapat 1 tenda dengan spesifikasi yang dibutuhkan. Kapasitas 2 orang, dengan flysheet dan ringan. Terlebih lagi memiliki 2 pintu, depan belakang, plus restleting untuk jendela. Pintu bagian depan bisa di jadikan teras dan pintu belakang bisa dijadikan area dapur. Framenya simpel dan ringan plus pasak/patok yang juga ringan. Khusus buat pasak ditambah kelebihan lain, tak mudah bengkok. Merk-nya Tocubic. Harganya kalau tak salah ingat sekitar 300 ribuan. Aku punya 2 type, 1 yang sering dibawa nanjak.

Tenda 1-nya lagi digunakan saat nge-camp di basecamp atau di kaki gunung sebelum nanjak. Type ini berbentuk bulat, berdiameter 60 cm dan bisa terlipat. Begitu lipatan dilepas, tenda akan terbentuk. Agak ribet kalau dibawa nanjak. Biasanya hanya disimpan di mobil buat jaga-jaga andai harus nge-camp di kaki gunung yang tak ada basecamp. Misalnya di kaki Gunung Cikuray via Bayongbong. Tujuannya agar aku tak perlu membongkar dan melipat tenda yang akan digunakan mendaki. Meskipun banyakan aku tidur di mobil jika tiba di basecamp sudah tengah malam dan aku malas bongkar-bongkar.

Kelebihan lainnya adalah flysheetnya waterproof atau anti air. Sementara bagian dalamnya ada semacam kain kasa jadi tak pengap jika semua pintu dan jendela ditutup.

2. Carrier/ransel

Alat yang tak kalah pentingnya. Beberapa lebih sering menyebut atau menulisnya keril. Dulu lebih dikenal dengan istilah ransel. Meskipun istilah ransel lebih sering dikaitkan dengan tas tentara.

Carrier yang berarti pembawa berfungsi membawa peralatan pendakian. Seluruh alat yang dibutuhkan selama pendakian akan dimasukkan ke dalam carrier.

Dalam memilih carrier, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Aku mementingkan kapasitas dan kualitas. Ukuran carrier biasanya menggunakan istilah liter. Ya, diukur dengan kapasitas jumlah liter air.

Sama seperti tenda, faktor berat ikut menjadi pertimbangan. Ada carrier yang berat, ada pula yang ringan. Tergantung bahannya. Pastikan pula bahannya anti air atau waterproof meskipun tetap dibutuhkan rain cover untuk melindunginya dari hujan.

Untuk carrier, aku sudah lama menggunakan merk deuter. Berkapasitas 60 dan 85 liter, penggunaanya disesuaikan. Kalau berjalan sendiri tanpa porter, biasanya carrier 60 liter yang dibawa, tapi kalau pakai porter, bawa yang 85 liter.

Kenapa memilih deuter? Sejujurnya berawal dari trend. Saat kembali ke dunia pendakian 7 tahun silam, terlihat banyak pendaki menggunakan merk itu. Aku penasaran, apa kelebihannya selain mahal? Setelah mencobanya, saat itu harganya belum semahal saat ini, ternyata aku suka. Selain kualitasnya, deuter dilengkapi banyak kantong luar, istilahnya kompartemen. Aku yang suka membawa banyak peralatan dan gampang lupa simpan dimana sangat terbantu. Meskipun harganya memang diatas merk lain. Yaah ada harga ada mutulah. You buy peanut you get monkey.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah rain cover dan bag cover. Sangat diperlukan saat melakukan pendakian di musim hujan. Selain melindungi dari air hujan,rain cover juga bisa melindungi dari kotor. Tambahan, bag cover sangat dibutuhkan untuk melindungi carrier saat dibawa naik pesawat. Talinya dapat terlindung saat di masukkan dalam mesin X-Ray atau conveyor belt. Sebelumnya aku pernah memiliki pengalaman tali carrier harus di gunting karena tersangkut di mesin conveyor belt di cengkareng. Meski sempat berhenti berjalan namun tak sampai merusaknya. Setelah tali carrier dipotong, conveyor belt bisa berjalan kembali. Kalau rusak, aku bisa diminta ganti rugi. Carrier rusak itu aku hibahkan ke teman.

Fitur air contact atau air system yang membuatnya terasa nyaman saat dipanggul juga menjadi pertimbangan. Tali atau strap yang dapat disesuaikan di bagian dada, pinggul dan bahu sangat membantu. Sudah hampir 7 tahun aku menggunakan deuter, masih nyaman-nyaman saja. Bukan hanya carrier, beberapa perlengkapan lain merk ini juga aku gunakan. Nanti akan dibahas.

Alat berikutnya, sepatu dan jaket. Stay tune atau follow biar dapat update.

Let’s be a smart mountaineer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s