Solo Hiking Gunung Merbabu Jalur Suwanting

Turun dari Gunung Andong, pendakian selanjutnya ke Gunung Merbabu. Usai mandi dan menikmati segelas susu jahe di Base Camp (BC) Pendem, peralatan di rapikan. Peralatan dan pakaian yang masih basah akibat guyuran hujan di hampar di cabin mobil, di jemur ceritanya. Basa-basi sedikit sama si Mbak Warung sambil membereskan pembayaran makan dan penggunaan toilet, mobil kembali meluncur melewati jalan-jalan Desa. Tujuan berikutnya seperti tertulis di google map handphone, Basecamp Suwanting!

Pemandangan desa yang di dominasi kebun dan perumahan, aktifitas warga desa di kebun, pasar, kebun pembibitan dan sekolah menjadi teman perjalanan pagi menjelang siang itu. Masih sendiri, alunan musik jadul ala 80’s menemani. Sesekali aku ikut bersenandung agar tak bosan.

Berselang 1 jam, aku sudah tiba di salah satu basecamp Suwanting. Letaknya 1 rumah dari ujung terakhir jalan desa menuju gerbang pendakian. Basecamp Pak Udin, demikian nama basecamp-nya. Usai memarkir mobil di lahan kosong depan basecamp, aku turun menyapa seorang ibu yang menyambutku.

“Tadi gak lapor di pos ya, mas?” Tanya sang Ibu.

“Nggak bu, aku harus ke sana lapor dulu ya?” Aku balik bertanya.

“Oh ndak usah. Nanti juga akan ada orang yang ke sini. Mo ndaki?”

“Iya, Bu.”

“Sama siapa?”

“Sendiri bu. Tadinya mau bareng teman dari selo tapi ndak jadi.”

“Dari mana Mas?”

“Jakarta, bu.”

“Dari Jakarta sendiri ke sini?” Si Ibu kepo juga neh.

“Ndak bu. Tadi baru turun dari Andong langsung ke sini” Aku melangkah masuk rumah.

Mungkin si Ibu agak keheranan melihatku akan melakukan pendakian seorang diri. Awalnya aku berencana mengajak rekan sekaligus porter yang pernah menemani ke Merbabu 5 tahun silam. Kami sudah berkomunikasi lewat whatsapp. Saat itu aku bertiga bareng rekan-rekan dari komunitas Jalan Kaki melakukan pendakian ke Merbabu via Jalur Selo. Kami menggunakan jasa porter dari penduduk lokal. Saat itu biayanya masih 300 ribu rupiah sekali pendakian. Namun setelah berkomunikasi mengenai harga ternyata saat ini biayanya sudah naik menjadi 500 ribu. Sudah berusaha nego, namun harganya tetap segitu. Katanya sudah standard segitu. Akhirnya aku memutuskan untuk mendaki sendiri dengan membawa carrier yang beratnya sekitar 15 kg.

Saat di dalam basecamp, terlihat 2 pendaki sedang berkemas. Sebagian peralatan mereka terhampar di atas tikar pelapis lantai. Waahh, bakalan ada teman nanjak neh, pikirku.

“Dari mana Mas?” Basa-basi pembuka di mulai.

“Semarang. Kalau Mas?” Jawab pemuda berambut gondrong. Dia sibuk merapikan rambutnya yang masih basah. Tampaknya dia baru usai mandi. Salah satu rekannya sibuk memasukkan barang ke dalam daypack.

“Jakarta. Mau nanjak juga?”

“Nggak Mas. Kami baru turun.”

Jiaahhhh, gagal deh nanjak bareng, artinya harus nanjak sendiri, pikirku. Di basecamp hanya ada kami bertiga. Tadi Ibu sempat menyampaikan jika ada pendaki keluarga dari Jakarta yang sudah mendaki duluan pagi tadi.

“Abis muncak, Bro?” Aku kembali bertanya ke si rambut gondrong yang akhirnya aku tahu bernama Fuad.

‘Nggak Mas. Cuman nge-camp di Pos 2 trus turun”

“Lho, kenapa?”

“Ujan dan angin Mas. Lagian aku juga udah pernah muncak. “

Jawaban Fuad bikin keder. Hujan adalah momok pendaki jika melewati jalur Suwanting seperti yang aku baca di sosial media. Jalurnya yang curam, terjal dan konon ekstrim akan semakin parah saat hujan. Haruskah aku mengurungkan niat? Apa tak sebaiknya aku mencari porter untuk menemani?

“Yaahhh, ceeemenn. Masak gitu aja mau nyerah. Katanya suka tantangan? Katanya mau berlatih? Katanya tak mau tergantung sama orang lain?” Sekeping sisi hati yang suka nyinyir sendiri seakan mengejek

“Ok. Ente jual ane berangkat!” Tantang sisi bathin yang lain gak mau kalah.

Begitulah aku. Suka bicara atau diskusi sendiri. Perjalanan yang banyak dilakukan seorang diri membuatku sering berdialog dan berdiskusi dengan diri sendiri. Tak jarang aku menertawai diri sendiri. Gila? Belum seh, dikit lagi. Hahahaha

Fuad dan rekannya sudah pergi meninggalkan basecamp. Aku membereskan perlengkapan yang akan dibawa nanjak. Tak lupa memesan makan untuk dimasukkan dalam tupperware buat bekal makan di atas. Air tak perlu bawa banyak, berdasarkan peta, ada 2 pos air yang bisa dimanfaatkan, Setelah pos 2 dan sebelum pos 3.

Tak berselang lama, ada 2 motor masuk halaman basecamp pak Udin. Ternyata pemuda warga lokal penjaga posko. Mereka memintaku melakukan registrasi dan membayar simaksi. Aku meminta mereka menghitung berapa total yang harus aku bayar. Seingatku totalnya ada Rp.18.500 tambah biaya parkir mobil 10 ribu. Pembayaran kelar, lembar bukti pembayaran sudah ditangan, data diri sudah aku cantumkan di buku besar. Selesailah sudah proses registrasi. Salah seorang dari mereka menawarkan ojek ke pintu gerbang pendakian. Dengan senang hati dan senyum manis aku menolaknya. Mereka pun berlalu.

Setelah semua siap dan membayar semua keperluan logistik dari Ibu, pendakian dimulai. Si Ibu tak henti-hentinya mengucapkan kalimat “hati-hati yaa”. Kalimat yang mengingatkanku pada Mama. Aku yakin, rentetan doa dari beliau nun jauh di Jakarta senantiasa melindungi dan mengiringi langkahku. Sekali lagi aku meyakini, saat berjalan sendiri, semesta senantiasa menemani.

Langkah demi langkah terayun menyusuri jalan beton. Mendung menggantung di langit seakan siap menumpahkan hujan yang sedang disiapkan untuk menguji nyali. Dari kejauhan terlihat Puncak Merbabu seakan menyemangati. Peluh mulai membasahi baju dan badan seiring desah nafas yang mulai memburu. Sesekali aku berpapasan dengan warga lokal yang baru turun dari kebun. Kami bersapa. Lagi-lagi ucapan “hati-hati yaa” terasa menyejukkan hati. Aku sungguh merasa tak sendiri. Mungkin mereka merasa kasihan melihatku jalan seorang diri.

Selepas jalan beton, aku melipir ke arah kiri melewati jalan setapak, masih dari beton. Semakin lama semakin menanjak. Sesekali aku berhenti mengatur nafas. Pemandangan petakan kebun lumayan menghibur. Namun tak bisa berlama-lama. Sudah hampir jam 1 siang. Menurut Fuad, butuh waktu 5 jam untuk bisa mencapai Pos 3 untuk nge-camp. Aku harus bergegas jika tak ingin kemalaman.

Berselang 30 menit, aku tiba di pintu gerbang pendakian. Sebuah bangunan gerbang dan beberapa penyampaian terpasang. Aku berhenti sejenak mengambil gambar. Pintu gerbang penanda titik awal pendakian sekaligus batas kebun dan vegetasi pinus. Jalur berganti dari setapak beton menjadi pengerasan batu.

Tak ingin berlama-lama, aku mulai melangkah menyusuri jalan setapak. Kumpulan daun pinus kering menutupi bebatuan. Jalur menanjak perlahan, suasana sejuk. Hembusan angin semilir menggoyangkan pucuk-pucuk pinus seakan menyanyikan kidung hutan nan syahdu. Indah. Aku terus melangkah.

Hanya berselang 30 menit, aku tiba di pos 1. Surprise! secepat ini pos 1? Hanya begini jalurnya? Menyusuri celah hutan pinus? Jika nge-camp di pos 3 dengan melewati jalur seperti ini, bentar juga nyampe. Begitu pikirku. Mungkin karena aku belum tahu jalur seperti apa yang akan kutemui di depan.

Usai buang jangkar (istilahku untuk menurunkan carrier) dan sebat (istilah untuk merokok), aku melanjutkan perjalanan. Masih harus melintasi celah hutan pinus. Jalur semakin lama semakin menanjak. Berdasarkan peta, pendakian akan melewati 4 pos bayangan sebelum tiba di pos 2. Semua pos bayangan diberi nama-nama lembah. Apa saja? Nanti saja. Temani saja aku menyusuri jalur yang mulai menggelitik emosi jiwa ini.

Jalur menanjak, kabut perlahan turun meski tak hujan. Kaki yang masih terasa lelah usai pendakian ke Andong masih terus terseret. Rimbunan semak-semak di sepanjang jalur terkadang nyangkut di carrier. Meski mulai menanjak, aku tiba di pos bayangan pertama, Lembah gosong. Entah kenapa diberi nama gosong. Aku tak memikirkan itu. Nafas yang mulai tersengal dan degup jantung yang mulai berdebar kencang di tenangkan dengan tegukan air dan…. sebatang rokok! Hehehe

Langkah kembali terayun. Perlahan tapi pasti, Suwanting mulai menunjukkan taringnya. Kesan bahwa Suwanting adalah jalur ekstrim muncul perlahan. Beberapa ruas jalur terpasang tali untuk membantu pendaki naik atau turun. Gerimis turun. Aku menurunkan carrier untuk memasang jas hujan dan rain cover carrier. Jalur berkemiringan 30 derajat kembali disusuri. Meski pendakian baru berjalan selama sejam, aku mulai harus bergantung di beberapa akar pohon untuk bisa naik. Tak ayal, hal itu mulai membuat kewalahan.

Hujan turun dengan derasnya. Aku menepi di bawah pohon pinus. Tak ada gunanya. Pohon pinus yang berdaun jarum takkan sanggup menahan air hujan untuk berteduh. Perjalanan aku lanjutkan dalam guyuran hujan. Jalur licin mulai membuat bergoyang. Carrier semakin terasa berat. Tak ada siapa-siapa. Hanya Jalur licin, aku dan bayangan masa lalu. Hahaha…

Emosi mulai terguncang. Jalur semakin menjadi-jadi seiring derasnya hujan. Aku harus melangkah zig-zag menghindari jalur licin yang didominasi tanah liat bercampur tanah berbatu di beberapa ruas jalur. Aku harus berhati-hati. Tak ada siapapun yang bisa menolong. Namun itulah inti dari pendakian seorang diri. Pembuktian lebih ke diri sendiri apakah sanggup menghadapi segala sesuatunya tanpa bergantung ke orang lain. Kemampuan bertahan dalam segala situasi. Mengingat hal itu, semangat kembali membara. Apapun yang akan terjadi, hadapi. Jalani dan jangan menyerah.

Hujan mulai berhenti saat aku tiba di pos Lembah Cemoro. Di sekitar jalur terdapat beberapa pohon cemara, mungkin itu penyebab pos ini dinamakan Lembah Cemoro. Sudah jam 3. Aku istirahat sejenak sebelum lanjut.

Pendakian selanjutnya semakin membuat emosi dan frustasi. Tak ada bonus sama sekali. Menanjak dan terus menanjak. Jalur basah dan licin semakin menguras tenaga dan emosi. Beberapa utas tali terpasang untuk membantuku berpegangan. Jalur alternatif memutar juga tersedia untuk menghindari jalur licin itu. Beberapa jalur alternatif aku lewati jika melihat jalur utama sangat licin. Rasa tak sabar untuk segera tiba di pos 2 semakin menggebu. Ingin rasanya segera mengakhiri pendakian ini dengan duduk menikmati pemandangan sambil menikmati segelas teh jahe. Namun itu hanya khayalan saja. Jalur sinting masih menanti.

Pos Lembah Ngrijan. Aku menghempaskan carrier ke tanah karena kelelahan. Air hujan berbaur keringat yang mengucur menghadirkan rasa dingin. Aku meneguk air dari tumbler. Segarnya membasahi kerongkongan yang sudah sekering Gurun Sahara. Sungguh berat perjalanan ini. Pemandangan lembah dari celah pohon dan semak terlihat di bawah. Tak boleh berlama-lama istirahat. Sebentar lagi gelap datang. Sudah jam setengah 4.

Pos 2 menjadi tujuan berikutnya. Jalur masih sama, malah semakin menyebalkan. Tak jarang aku harus menggantung, menggapai dan menggunakan segenap tenaga untuk bisa naik. Hujan sudah tak turun lagi tapi jas hujan tetap kukenakan. Buat jaga-jaga kalau hujan lagi. Jalur menanjak harus dihadapi dan dilewati. Persis seperti permasalahan hidup, butuh perjuangan untuk melewatinya. Itulah pelajaran yang bisa kupetik dari perjalanan menyusuri jalur nan berat ini.

Nafas tersengal dan degup jantung yang semakin menggila membuatku harus berhenti di setiap beberapa langkah. Aku sebenarnya berencana untuk berhenti ada tempat yang layak di jadikan tempat nge-camp. Namun air yang kubawa sisa sedikit. Berdasarkan peta, Pos Air ada setelah pos 2. Artinya harus tiba di Pos 2 jika ingin mendirikan tenda. Itulah enaknya jalan sendiri. Bisa berhenti dimana saja, bisa mengukur kemampuan. Tak perlu memaksakan diri. Andai sudah lelah dan tak sanggup melanjutkan perjalanan, bisa berhenti dimana saja dan istirahat.

Aku tak menemukan tempat Lembah ke 4 yaitu lembah Mitoh. Di ujung tenaga dan lelah, aku tiba di Pos 2. Serta merta carrier kuhempaskan ke tanah dan mencari tumbler. Air berteguk-teguk membasahi tenggorokanku. Tak peduli lagi untuk menyisakan air. Konon Pos Air tak jauh dari Pos 2. Aku akan segera mencarinya setelah istirahat sejenak. Aku akan mendirikan tenda di Pos 2 ini. Aku tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan ke Pos 3. Pendakian akan lanjut besok pagi usai istirahat.

Carrier aku simpan di Pos 2 lalu melangkah naik mencari Pos Air. Masih harus berjalan sekitar 10 menit dengan jalur menanjak. Sebuah gentong berwarna biru mengalirkan air meski debitnya kecil sebagai penanda. Aku menampungnya di tumbler. Tak ada botol plastik, aku sudah tak membawa botol plastik untuk mendaki. Cukup sudah sampah plastik menodai bumi ini.

Tumbler terisi penuh, aku kembali ke Pos 2. Dalam perjalanan, aku menemukan tempat yang bagus untuk nge-camp. Tempatnya mirip teras. Meski suasana sekitar tertutup kabut, insting mengatakan view di situ lebih bagus dari pos 2 yang dikelilingi pohon. Akhirnya aku meletakkan tumbler dan berjalan ke bawah mengambil carrier.

Usai mendirikan tenda, aku mulai memasak air untuk bikin teh. Segelas teh jahe berteman biskuit menjadi menu afternoon tea kali itu. Aku bergegas keluar tenda. Sudah jam 5 sore. Kabut tipis masih menyelimuti. Aku ingin menikmati alam dalam keheningan. Andai tak ada pemandangan bagus juga tak apa. Aku akan menikmati kesunyian alam dalam balutan kabut.

Dalam balutan jaket, aku menikmati suasana sore di luar tenda. Kicau burung bersahutan menemani. Tetiba berhembus angin cukup kencang. Aku merapatkan jaket. Namun secara bersamaan, kabut yang menutupi semesta seperti tersingkap. Cahaya keemasan berpendar. Sinar matahari sore. Sunset! Aku terperanjat. Akankah aku disuguhi pemandangan sunset menawan sore ini?

Aku masuk ke tenda mengambil kamera dan tripod. Handphone aku siagakan. Usai memasang tripod, pandanganku tertuju pada 2 gunung seperti berselimut awan tipis dari kejauhan. Sindoro Sumbing. Agak jauh lagi terlihat gunung imut yang berpuncak banyak. Gunung Andong. Semalam aku di sana. Aku membidikkan kamera. Cahaya jingga mulai hadir. Semburatnya terhampar menerpa puncak Sindoro Sumbing dan Andong. Guratan awan di langit seperti tak mau kalah menghias diri dengan balutan cahaya jingga. Indah. Sangat indah.

Aku berdiri memandangi lukisan alam indah sore itu. Aku bermaksud menambah teh yang sudah habis. Namun apa yang kulihat saat membalikkan badan membuatku terpana. Aku tak berkedip. Badan gemetar. Lukisan alam di hadapanku seperti merontokkan semua lelah dan kesal selama pendakian barusan. Betapa tidak, Gunung Merapi yang terlihat begitu dekat bermandikan cahaya senja terlihat sangat rupawan. Indah, sangat dan terlalu indah. Tak sadar aku berteriak, ‘Wowwwwwwwww…….. “

Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku persis seperti orang gila yang kegirangan. Aku tak pernah menyangka akan menyaksikan pemandangan indah ini. Aku mengabadikannya dalam kamera. Setelahnya, aku melaksanakan apa yang aku inginkan, menikmati keindahan dalam keheningan. Rasanya tak terungkap kata.

Perlahan sinar mentari menghilang. Lampu-lampu dari rumah penduduk di bawah sana mulai menyala menciptakan keindahan lain. Sementara di atas awan, Sang mentari seperti menari mengakhiri tugasnya mengawal siang. Masih tersisa keindahan untuk aku nikmati sebelum malam datang menghadirkan gelap di lereng Merbabu, dalam kesendirian. Banyak hal yang aku pikirkan. Mengapa aku ada di sini? Inikah jalan hidup yang aku inginkan? Apakah aku bahagia dengan pilihan hidup yang aku jalani? Banyak hal. Itulah inti perjalanan seorang diri ini. Sesekali aku menatap langit-langit tenda. Namun hanya satu kata, bahagia!

Tak banyak yang kulakukan saat malam. Aku hanya menyiapkan makan malam berupa rebusan mie instant untuk menemani bekal nasi yang sudah disiapkan Ibu tadi. Usai makan malam, aku keluar tenda menikmati malam dengan segelas teh jahe dan sebatang rokok. Tidur adalah pilihan terbaik untuk mengakhiri malam dan mengistirahatkan raga dari kelelahan.

Terbangun jam 5 pagi, hawa dingin menyergap. Aku tidur pulas sekali. Teringat masih harus melanjutkan pendakian ke Puncak, aku membereskan barang sambil memasak air. Aku perlu membawa bekal, setidaknya minuman panas selama perjalanan. Jika jalur masih seperti kemarin dan hujan juga, bukan tak mungkin akan memakan waktu lama. Untungnya cuaca pagi itu terlihat cerah meski tak bisa melihat sunrise. Arah matahari terbit tertutup Gunung Merbabu.

Dengan memanggul carrier berisi sleeping bag, jaket, tumbler dan beberapa snack aku melangkah menyusuri jalur menanjak. Tenda, matras, peralatan masak dan pakaian cadangan aku tinggalkan. Jalan menanjak yang masih menyisakan basah sisa hujan kemarin setia menemani.

Usai pos 2, jalur semakin seru. Tanjakan licin berkemiringan hingga 70 derajat seakan menantangku. Tak heran jika sebagian pendaki menganggap jalur Suwanting ini adalah jalur ekstrim yang menguji nyali pendaki. Apalagi saat licin. Di beberapa ruas jalur harus bergantung di tali, menarik akar atau batang pohon hingga bertopang di kedua tangan untuk bisa naik. Dada dan dengkul tak jarang bertemu dan kangen-kangenan cukup lama. Nafas sudah ketebak, ngos-ngosan. Detak jantung sudah seperti deru mobil F1. berpacu kencang. begitu seterusnya hingga mencapai Pos Air yang ditempuh selama 2 jam!

Saat di Pos Air, pendaki lain dari Salatiga bergabung. Mereka nge-camp di pos 2, di bawahku. Kami bertukar canda dan cerita. Tak jauh dari tempat kami istirahat, pendaki lain yang nge-camp dekat Pos Air terlihat bersiap-siap ke puncak. Aku menghabiskan waktu istirahat cukup lama.

Kabut turun perlahan, langit berubah gelap. Aku bersiap-siap sebelum hujan kembali turun. Sudah pukul setengah sepuluh. Usai membereskan perlengkapan ke dalam carrier, aku mulai melangkah menapaki jalur yang terbuka tanpa vegetasi. Pendaki dari Salatiga masih istirahat. Aku kembali berjalan sendiri menanjak jalur kemiringan 80 derajat. Setiap beberapa langkah harus berhenti.

Berselang setengah jam, aku tiba di pos 3. Ada 2 tenda berdiri di camping ground yang sangat lapang. Menurut informasi, Pos 3 memang merupakan tempat favorit nge-camp. Pemandangan Gunung Merapi yang terlihat dekat dan Sindoro Sumbing serta Andong dari kejauhan menjadi pemandangan indah yang selalu di incar pendaki.

Detak jantung dan nafas kembali normal, aku melanjutkan perjalanan. Jalur sudah lumayan landai. Puncak sudah dekat. Hanya perlu melewati sabana luas yang menjadi ikon Gunung Merbabu. Ada 3 Sabana yang akan di lewati jika melewati jalur normal. Namun pendaki bisa tidak melewati sabana 2 dan memotong jalur langsung ke Sabana 3 dan Puncak Suwanting.

Hamparan sabana berumput hijau berbalut kabut tipis menemani perjalanan dalam kesendirian. Tak ada siapapun di sana. Dari kejauhan tampak Puncak Triangulasi dan Puncak Kenteng Songo. Dari kejauhan terlihat ada siluet orang pertanda ada pendaki yang sedang di puncak. Aku terus berjalan. Mendung memayungi, kabut tipis menyertai. Nafas yang tersengal beberapa kali harus diistirahatkan.

Hujan gerimis di sertai angin yang tak terlalu kencang menyambut saat aku menjejakkan kaki di Puncak Suwanting. Pendaki asal Jogja yang tadi naik saat aku di Pos Air sudah turun. Mereka akan kembali ke tenda mereka. Menurut mereka, perjalanan sisa 200 meter lagi. Aku kembali bersemangat.

Langkah demi langkah terseret membawakiu menjejakkan kaki di Puncak Triangulasi Gunung Merbabu, waktu menunjukkan jam 12.30 siang. Waktu tempuh dari Pos 3 ke Puncak memakan waktu 2 jam 30 menit. Target muncak untuk kedua kalinya tercapai sudah. Gumpalan kabut tebal dan tetesan hujan seakan menyambutku. Pendaki lain yang naik lewat Jalur Selo segera berlari turun saat hujan turun dengan derasnya. Tinggallah aku seorang diri di titik 3142 mdpl itu.

Perjalanan 5 tahun silam kembali terbayang di puncak Merbabu ini. Perjalanan yang dulu berbeda dengan perjalanan saat ini. Perjalanan yang dulu bersama 3 orang rekan, kali ini aku lakukan seorang diri. Meski awalnya aku merasa sangsi bisa sampai di puncak karena informasi mengenai ekstrimnya jalur. Perjalanan yang awalnya aku rasa tak mampu aku lakukan dengan mendaki seorang diri. Namun kepercayaan akan kemampuan diri dan keberanian mengambil keputusan dan resiko telah membawaku mampu mengatasi segalanya. Pelajaran hidup yang akan semakin meningkatkan kepercayaan diriku. Pelajaran akan pentingnya perjuangan dan kerja keras untuk mencapai titik tertinggi, puncak.

Aku mengambil gambar dan video dalam balutan kabut tebal serta guyuran hujan. Untungnya tugu masih terlihat. Kalau tidak, bisa-bisa pencapaianku ke Puncak Merbabu dianggap hoaks karena tanpa barbuk (barang bukti). Hehehe…itu hanya untuk lucu-lucuan saja karena aku tidak perlu pembuktian apapun untuk diri sendiri.

Hujan masih mengguyur saat aku meninggalkan puncak trianggulasi Merbabu saat jam menunjukkan pukul 1 siang. Kabut tebal seperti menghalangi jalan yang nyaris tak kelihatan. Aku tetap melangkah perlahan. Tak perlu terburu-buru. Angin kadang keras kadang pelan menerpa. Aku tetap berjalan dengan carrier di punggung.

Berselang 45 menit, aku tiba di Pos 3. Sebelumnya aku bertemu dengan rombongan pendaki dari Salatiga yang baru akan berjalan ke Puncak. Hujan sudah reda, kabut tebal masih menyelimuti. Aku lupa tadi naik dari jalur mana. Aku mengambil keputusan melewati jalur yang ada di sisi kanan. Saat kutelusuri, instingku mengatakan bahwa ini bukan jalur yang aku lewati saat naik tadi. Di kiri kananku pohon edelweis. Tak ada siapa-siapa. Aku berjalan mengikuti jalur berharap ada jalan tembus. Namun aku tiba pada titik dimana sudah tak ada jalur. Hanya pohon.

Aku berjalan kembali ke titik awal menuju pos 3. Aku mengelilingi tanah lapang itu. Akhirnya aku menemukan jalur yang aku yakini sama dengan jalur yang aku tempuh saat naik tadi. Ternyata jalurnya benar. Untung saja, aku hampir salah jalur dan tersesat dalam balutan kabut tebal.

Aku melanjutkan perjalanan hingga tiba kembali di tenda. Aku menghempaskan badan di atas matras. Meski belum sepenuhnya usai, aku sangat bersyukur bisa menyelesaikan perjalanan ini. Ada rasa bangga pada diri sendiri yang sanggup melewati rintangan dan tantangan pendakian sejauh ini. Meski aku tak bisa berlama-lama. Waktu sudah menunjukkan jam 4 sore. Aku bangun dan membereskan perlengkapan ke dalam carrier.

Jam 4.30 aku meninggalkan tempat nge -camp di atas pos 2. Kabut tipis mengiringi langkah. Aku berharap tak hujan agar perjalanan kembali ke basecamp bisa berjalan lancar. Namun apa daya, baru melangkah beberapa meter, hujan sudah mengguyur. Jas hujan sudah dimasukkan ke dalam carrier, aku memutuskan terus berjalan tanpa jas hujan. Udah tanggung.

Rasa lelah, lapar, mengantuk, basah dan jalur licin adalah kombinasi sempurna untuk tantangan dan perjuangan. Tak terkatakan sulitnya jalur yang sudah membentuk aliran sungai. Bergantung di dahan, akar hingga tali menjadi pengalaman yang takkan terlupakan. Aku sempat terjatuh dan terseret di jalur licin sejauh 3 meter ke bawah. Tulang kering membentur akar pohon yang menyembul di tanah. Semakin lengkaplah perjuangan turun ke basecamp ini. Darah mengucur dialiri keringat dan air hujan menghadirkan rasa ‘ngeri-ngeri sedap’.

Aku terus bergerak. Karena sudah mengenal medan, aku hanya menghitung waktu tempuh dan pos yang terlewati. Targetku adalah tiba di pintu gerbang pendakian sebelum maghrib. Berjalan dalam gelap di jalur licin tentunya bukan pilihan tepat. Terus berjalan menembus derasnya hujan sambil ber-goyang maumere ke kiri dan ke kanan di atas jalur licin ternyata cukup mengasyikkan. Tak jarang aku tertawa sendiri jika hampir terjatuh. Bukannya stress dan was-was, aku malah menikmati moment yang sebenarnya ‘mengkhawatirkan’ itu.

Setelah berjibaku dengan jalur licin dan hujan deras, pendakian berakhir saat aku tiba di basecamp jam setengah tujuh malam. Ibu menyambutku dengan gembira sambil tertawa melihat penampilanku mirip ayam abis di siram. Kuyup.

Sesuai saran beliau, aku memilih istirahat semalam di basecamp. Padahal awalnya aku ingin langsung balik Jakarta. Namun kondisi tubuh yang sudah kelelahan tak baik memaksa diri untuk menyertir sejauh ratusan kilometer seorang diri. Dalam situasi lelah teramat sangat, aku mengakhiri pendakian ke Gunung Merbabu lewat jalur Suwanting dengan tidur.

Suwanting, kamu gila dan aku suka kegilaan kamu. Aku akan kembali lagi suatu hari nanti. Aku janji!

Saat engkau berjalan sendiri, sesungguhnya engkau tak pernah benar-benar sendiri. Semesta dan seisinya senantiasa menemani perjalananmu

Advertisements

2 thoughts on “Solo Hiking Gunung Merbabu Jalur Suwanting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s