Gunung Andong, si Imut nan Rupawan di Pusat Jawa

Sudah lama aku ingin mendaki gunung ini. Postingan di sosial media yang menampilkan lautan awan dengan puncak-puncak gunung Jawa Tengah penyebabnya. Meskipun sebagian orang menyebutnya cetek karena hanya berketinggian 1726 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun bagiku, tak ada gunung yang cetek maupun tinggi. Semua gunung pasti tinggi, yang berbeda hanya ketinggiannya. Setiap gunung memiliki pesona dan tantangan tersendiri, pendaki harus respek dan tidak menganggap remeh hanya karena gunung itu ‘cetek’.

Usai menyelesaikan pekerjaan di kantor Yogya, aku segera mengemasi barang bawaan. Agar bisa menikmati sunset di puncak, aku berusaha agar bisa tiba di puncak sebelum senja. Menurut info beberapa kawan, hanya butuh 1.5 – 2 jam dari basecamp (BC) menuju puncak. Menurut penelusuran Google Map, butuh waktu 2 jam dari Yogya ke Desa Pendem di Magelang, salah satu BC di Gunung Andong.

Meninggalkan Kota Yogya pukul 11 Siang, aku mampir di Desa Borobudur untuk menunaikan shalat jumat. Awalnya aku berencana untuk mendaki Andong di hari Sabtu. Salah seorang teman di Yogya berjanji menemani. Namun hingga hari keberangkatan, tak ada kabar apakah dia jadi ikut atau tidak. Padahal aku sudah melakukan reservasi di salah satu hotel di kawasan Borobudur untuk bertemu sebelum mendaki. Namun karena tak ada kepastian, aku memutuskan mendaki seorang diri. Reservasi hotel sudah tak bisa lagi di batalkan karena sudah lewat time limit untuk pembatalan. Uang ratusan ribu melayang percuma.

Ini salah satu alasan kenapa akhirnya memutuskan untuk banyak melakukan pendakian seorang diri, tak bisa mengharapkan orang lain. Selalu ada alasan untuk membatalkan janji yang telah dibuat. Namun aku juga tak bisa memaksakan, meskipun harus berkorban materi dan … perasaan!

Rencana berubah. Pendakian seorang diri akan aku lakukan hari Jumat. Konon, pendakian Hari Sabtu Minggu juga selalu ramai. Sulit mendapatkan tempat nge-camp (istilah pendakian untuk tempat mendirikan tenda). Banyak pendaki dan wisatawan yang sering melewatkan akhir pekan di sana.

Usai shalat jumat, aku langsung menuju ke Desa Girirejo, Ngablak seperti yang ditunjukkan Google Map. Simpel, aku hanya memasukkan kata ‘Basecamp Gunung Andong’, rute-nya akan langsung di arahkan. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Andai bisa tiba di BC jam 3 sore, artinya masih memiliki kesempatan untuk menyaksikan sunset, andai cuaca mendukung.

Dalam kesendirian, aku menyetir membelah Kota Magelang. Perjalanan berbelok ke arah kanan melewati jalan menanjak berliku. Apa lacur, sepertinya harapan untuk menyaksikan sunset dari puncak hanyalah angan dan mimpi yang takkan menjadi nyata. Mendung tebal yang menggelayut tiba-tiba menumpahkan air hujan dengan derasnya. Aku harus berhati-hati. Jalan menanjak dan berliku melewati jalan sempit pedesaan perlu kewaspadaan.

Hujan masih terus turun dengan derasnya saat tiba di Pendem, demikian nama dusun tempat BC ini berada. Parkiran kosong tanpa siapapun. Ada sebuah warung yang ditempati seorang bapak tua dan si mbak penjaga warung. Dari kejauhan, tampak kabut tebal menutupi Gunung Andong yang memiliki beberapa puncak.

“Mau naik, Mas?” Si Bapak menyapa sambil tersenyum. Giginya yang sebagian kuning kecoklatan karena nikotin terlihat jelas.

“Iya Pak!” Jawabku sambil menepis air yang menempel di jaket.

“Sendiri?” Si Bapak masih bertanya.

“Iya pak. Di atas ada orang?” Aku balik bertanya.

“Wahh. Di sini ndak pernah kosong, mas. Selalu ada orang. Apalagi kalo sabtu, udah kayak pasar di sini. Buanyakkk” Si Bapak bercerita sambil mengepulkan asap rokok linting dari mulutnya.

Aku tersenyum sambil memesan teh hangat.

“Aman jalan sendiri ke atas ya Pak?” Aku kembali bertanya

“Wahh, aman Mas. jalure juelass! Banyak yang sering naik sendiri, hingga tengah malam, ada aja yang naik”

“Kalau hujan gini, jalurnya licin pak? ” Aku mencoba melanjutkan percakapan. Begitulah caraku berinteraksi dengan warga lokal. Banyak bertanya diiring canda dan tawa, komunikasi akan terjalin. Tak jarang banyak informasi, baik penting maupun sepele yang bisa di dapat. Semuanya akan berguna, khususnya saat melakukan pendakian seorang diri.

“Yaah, ada yang licin ada yang ndak, mas. Kalo bisa, perginya ambil jalur utara saja. Nanti pulangnya ambil jalur selatan. Jalur Utara itu jalannya landai namun berbelok, tapi aman. Kalau jalur selatan itu akan nanjak terus. Ada beberapa bagian yang sering longsor. “

“Kalau ke atas berapa lama pak?” Pertanyaan tak penting sebenarnya tapi lagi-lagi begitu cara menjalin komunikasi.

“Yahhh, deket toh mas. Se-jam juga sudah nyampe puncak.” Jawab si Bapak sambil tertawa.

Se-jam bagi dia belum tentu bagiku.

“Ndak se-jam toh pak. Apalagi mas-e kan bawa barang” Si mbak menyela sambil menyerahkan segelas besar teh jahe. Aku tertawa.

“Ya kalo aku se-jam!” kata bapak sambil tertawa juga.

Hujan masih turun meski sudah tak deras. Aku menyeruput teh jahe sambil pamit ke mobil untuk siap-siap. Sudah jam setengah empat. Andai waktu tempuh 2 jam, artinya minimal aku harus berangkat jam 4 agar tak kemalaman di jalur. Semua perlengkapan aku masukkan carrier. Jika hujan tak reda juga, aku akan menembusnya dengan mengenakan jas hujan. Sebelumnya aku melakukan pembayaran biaya pendakian sebesar 10 ribu plus biaya parkir mobil 5000 rupiah ke si Mbak penjaga warung.

Benar saja, hujan masih turun saat jam menunjukkan pukul 4 sore. Aku harus bergegas. Berjalan malam di jalur yang tak aku kenal cukup riskan dalam pendakian seorang diri. Belum mengenal medan.

Usai pamit pada Bapak dan si Mbak, aku mulai melangkah. Setapak ber-paving blok mengawali jalur pendakian. Pemandangan kebun warga di kiri kanan setapak seperti merunduk dalam guyuran gerimis.

Langkah demi langkah terayun seiring meningkatnya degup jantung dan desah nafas. Biasalah bagi perokok aktif sepertiku. Namun apa daya, belenggu nikotin dengan segala sensasinya masih tak kuasa aku tinggalkan. Tak apa, asal siap menanggung resikonya. Ya itu tadi, ngos-ngosan saat mendaki.

Jalan setapak berganti dengan hutan pinus. Ada papan petunjuk tertempel di salah satu pohon, utara dan selatan. Inilah yang dimaksud bapak tadi. Seperti saran beliau, aku mengambil jalur utara. Tak ada siapapun di sana. Langkah 2S (slow and steady) tetap menjadi prinsipku. Itu alasan kedua. Alasan pertamanya, ngos-ngosan.

Sesekali aku berhenti mengatur nafas meski tak harus buang jangkar (istilahku untuk menurunkan carrier). Pemandangan Gunung Merbabu tertutup awan tipis berpadu barisan kebun dan sawah cukup menghibur. Lagi-lagi ini alasan. Jika saat pendakian ada rekan yang mengatakan, “sebentar, pemandangan lagi indah!” percayalah, itu alasan dia untuk berhenti mengatur nafas. Hahaha…

Berselang 30 menit, aku tiba di pos 1 kalau tidak salah namanya Kenongan. Aku buang jangkar. Tak salah, sebatang rokok mengepul keluar dari celah bibirku. (Contoh buruk, Jangan ditiru!)

Kelar sebat (istilah untuk merokok), aku lanjut. gerimis tak lagi turun. hanya sesekali dijatuhi tetesan hujan dari pucuk-pucuk pinus yang setia menemani kesendirianku. Jalur pendakian masih terbilang landai. berkemiringan sekitar 20 – 30 derajat. Masih dalam langkah 2S, aku terus mendaki. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore. Kabut tipis menerpa badan yang basah oleh peluh menjadikan sore itu terasa menggigil.

Tiba di pos 2 yang hanya ditandai oleh sepotong papan tertempel di salah satu pohon pinus, waktu menunjukkan pukul 5. 15 sore. Masih dalam balutan kabut tipis. Aku sudah berjalan sejam lebih namun belum sampai puncak seperti kata si Bapak. Nafas masih tersengal meski sudah tak separah di awal. Sudah menyesuaikan diri. Tak ada sebat atau pemandangan indah, langkah kembali terayun. Gelap penanda malam akan segera datang.

Jalur pendakian sudah mulai menanjak. Kemiringan berkisar 30 – 40 derajat. Nafas kembali tersengal. Menurut peta yang tadi aku lihat , tak ada lagi pos hingga tiba di Puncak Alap-alap. Hari mulai gelap terbalut kabut tebal.

Saat mengayuh langkah, samar-samar terdengar suara orang bercakap. Aku berhenti untuk mendengarkan sumbernya, apakah dari atas atau dari bawah atau….. Husshh.. jangan parno!

Di jalur ada 2 pendaki sedang sibuk melakukan rekaman video ala youtuber. Mereka berasal dari Magelang. Ali, demikian nama salah satunya. Kami berkenalan. Mereka berdua akan menginap di puncak. Ada kawan neh, pikirku. Dari potongannya, mereka terlihat masih remaja. Yang satunya, yang aku tak tahu namanya karena banyakan diam, seperti masih anak SMP. Si Ali aja yang lebih tua yang banyak ngobrol denganku.

Saat berjalan sendiri sesungguhnya engkau tak pernah benar-benar sendiri. Semesta dan isinya senantiasa menemani perjalananmu’  Begitulah prinsip yang aku yakini saat sedang berjalan atau mendaki seorang diri. Apapun dan siapapun bisa menjadi kawan perjalanan. Seperti sore itu, Ali dan kawannya menemani. Kami bertiga melangkan bersama menuju Puncak Alap-alap.

Kabut tebal menerjang. Jarak pandang hanya berkisar 4-5 meter. Aku mempersilahkan Ali dan rekannya berjalan duluan. Mereka sepertinya sangat ingin segera tiba di puncak. Aku berjalan sendiri di belakang. Jalur yang didominasi tanah liat tanpa vegetasi ditambah sedikit bebatuan menemani. Balutan kabut tebal masih setia mendampingi kesendirianku. Kemiringan mendekati 50 derajat cukup membuat nafas kembali tersengal. Jantung berdegup kencang laksana genderang perang. Kembali aku harus sering menikmati pemandangan berkabut alias istirahat.

Selepas berjibaku dengan jalur dan kabut, aku tiba di Puncak Alap-alap. Ali dan rekannya baru saja akan kembali melanjutkan perjalanan usai istirahat. Aku seorang diri menikmati suasana berkabut di Puncak Alap-alap. Mengingat hari akan gelap, aku hanya berhenti sejenak. Selanjutnya akan melewati jalur menurun. Itulah jembatan setan. Ada pula yang menamainya jalur punuk unta. Jalur dengan lebar sekitar 50 cm dengan lembah di kiri kanan. Jadi seperti punggungan gunung yang sempit. Berjalan dalam balutan kabut tebal di jalur seperti itu harus berhati-hati dan tak tergesa-gesa. Salah-salah bisa tergelincir.

Jalur menurun berganti jalur menanjak yang di ujungnya terletak Puncak Gunung Andong. Yah, Aku sudah tiba di Puncak Andong. Waktu menunjukkan pukul 6.15. Artinya pendakian aku tempuh dalam waktu 2 jam 15 menit, sudah termasuk istirahat. Jalur yang terbilang moderat dan konon sangat cocok bagi pendaki pemula untuk berlatih. Selain jalurnya yang relatif moderate, jika beruntung juga akan mendapatkan pemandangan indah. Apakah pendakian kali ini aku termasuk orang yang beruntung itu? Sepertinya belum. Kabut tebal yang menyelimuti Puncak Andong tak menyisakan sedikit pun goresan cahaya senja nan rupawan. Tapi tak mengapa, dalam pendakian, tiba di puncak berarti target utamaku sudah tercapai. Pemandangan indah hanyalah bonus.

Ali dan rekannya terlihat mendirikan tenda. Mereka mengambil tempat di sisi kiri. Aku menyarankan untuk mendirikan di sisi kanan dimana terdapat semak dan tempat yang agak rendah. Tujuannya untuk tempat berlindung andai angin dan badai menerpa. Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di gunung. Menyiapkan diri untuk kondisi terburuk adalah cara terbaik andai pilihan itu ada. Ali setuju dengan usulku dan memindahkan tenda ke samping lokasi yang aku pilih di sisi kanan.

Saat mendirikan tenda, aku melihat tenda Ali kurang cocok untuk dipakai dalam musim hujan seperti ini. Tenda summer tanpa fly sheet yang biasa di pakai di musim panas atau kemarau. Aku meminjamkan fly sheet yang aku bawa untuk dia melindungi tendanya. Andai hujan, tendanya tak akan basah.

Ternyata Ali dan rekannya baru kali ini nge-camp di puncak. Menurut ceritanya, dia pernah melakukan pendakian ke Puncak Gunung Sumbing dengan cara tek-tok tanpa menginap. Kala itu dia dan kawan-kawannya tak membawa tenda. Inipun tenda yang dia bawa adalah tenda sewaan. Aku membantunya membereskan tendanya usai mendirikan tendaku.

Malam sudah turun. Kabut tebal perlahan hilang berganti kabut tipis. Terlihat city light Kota Magelang, Salatiga, Yogyakarta dan kota-kota lain di Jawa Tengah. Keindahan malam di gunung yang tak tertandingi. Dengan segelas coklat susu jahe, aku dan Ali berbagi cerita. Ali lebih banyak bercerita tentang keinginannya untuk melakukan pendakian di beberapa gunung. Sebagai kawan baru, aku menyemangatinya.

Malam berlalu dalam balutan kabut. Aku membereskan barang-barang dalam tenda. Aku bermaksud istirahat secepatnya karena pendakian yang sesungguhnya akan aku lakukan besok ke Gunung Merbabu. Bagiku, ke Gunung Andong hanya untuk melakukan pemanasan. Yah semacam aklimatisasi sebelum ke Gunung Merbabu. Waktu menunjukkan pukul 9 malam saat aku sudah membungkus badan dengan sleeping bag.  Aku terbang ke alam mimpi. Sayup-sayup terdengar derap langkah pendaki lain yang baru tiba. Aku tertidur.

Suara gaduh membangunkanku. Aku melihat jam tangan. Jam 2. Suara gaduh berasal dari pendaki yang nampaknya baru tiba. Mereka mendirikan tenda di samping tenda Ali. Suara wanita membahana terkadang tergelak dalam balutan dini hari nan dingin itu. Aku mencoba tidur kembali. Suara mereka sangat keras. Akhirnya aku bangun menyalakan lampu dan meminum susu yang tersimpan dalam termos.

Ini yang aku herankan. Respect sesama pendaki. Sebegitu sulitkah memberikan respek untuk pendaki lain saat pendakian? Apakah tak sebaiknya mereka mengecilkan volume suara saat tiba dan menghargai pendaki lain yang sedang beristirahat? Apalagi topik pembicaraan mereka yang diselingi gelak terbahak sepertinya tak perlu dilakukan di dinihari menjelang pagi itu. Setidaknya mereka bisa melihat banyak tenda yang sudah gelap pertanda penghuninya sudah tertidur.

Untungnya cuaca dingin dan rasa kantuk bisa membawaku kembali tertidur. Aku terbangun saat suara gaduh kembali terdengar. Saat melirik jam, sudah jam 5 pagi. Aku membuka pintu tenda dan mengintip suasana di luar. Full of Kabut! Restleting tenda kembali kututup rapat. Lagi-lagi aku termasuk pendaki yang belum beruntung. Samar-samar kudengar Ali ngobrol bersama rekannya di tenda sebelah.

Secangkir teh jahe menemani pagi berkabut itu. Pelan tapi pasti, balutan kabut tipis menghilang. Barisan gunung-gunung indah terlihat berjejer rapi dan rupawan. Gunung Merbabu yang terlihat sepelemparan, Gunung Sindoro- Sumbing laksana gunung kembar dari kejauhan menyajikan pemandangan alam rupawan pagi itu. Inilah yang menjadi incaran pendaki. Meski tak beralas samudera awan, pemandangan pagi itu lumayan menghibur bagi pendaki yang belum beruntung sepertiku.

Usai mengambil gambar beberapa spot dan di puncak, aku mulai mengemasi barang. Pendaki lain yang umumnya terlihat masih remaja silih berganti mengambil foto tanpa rasa bosan dengan berbagai pose. Beberapa pendaki terlihat melakukan video call. Yah, dengan ketinggian ‘cetek’, ada operator telekomunikasi yang bisa menjangkau area puncak.

Usai mengemasi barang, Ali berpamitan. Kami akan mengambil jalur berbeda. Dia kembali lewat utara, aku memutuskan mengambil jalur selatan. Tepatnya lewat jalur sawit. Anggap aja lintas jalur, meski jaraknya berdekatan. Aku mampir sejenak di puncak dan meminta bantuan pendaki lain untuk mengambil gambarku. Untuk barbuk (Barang Bukti). Kalau hanya menampilkan foto-foto pemandangan saja, nanti dibilang ambil dari internet…hehehehe

Perjalanan turun tak sesulit saat menanjak. Semua jalur menurun. Sejenak aku mampir ke Puncak Makam untuk mengambil gambar. Selanjutnya, jalur menurun yang didominasi tanah liat dan batu terlewati. Barisan pohon pinus menemani. Benar kata bapak kemarin, di beberapa ruas jalur terdapat area rawan longsor. papan penanda terpasang untuk mengingatkan pendaki untuk berhati-hati.

Kurang dari sejam, aku sudah tiba kembali di BC Pendem. Si Mbak beserta suaminya menyambutku. Aku meminta izin menggunakan kamar mandi untuk membersihkan badan. Masih ada perjalanan panjang menanti hari itu. Gunung Merbabu lewat jalur Suwanting. Usai membereskan semua perlengkapan ke atas mobil, aku meluncur mengikuti rute yang sudah terpasang di google map, Basecamp Suwanting!

Nantikan cerita pendakian solo ke Gunung Merbabu lewat Jalur Suwanting. Seru!

Advertisements

4 thoughts on “Gunung Andong, si Imut nan Rupawan di Pusat Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s