Nikmati Kepingan Indah Surga di Sepanjang Tol Trans Jawa

Semua berawal dari liburan akhir tahun silam. Kala itu aku bersama Mama dan keponakan melewatkan liburan akhir tahun sambil mengisi acara ngobrol buku di Yogyakarta dan Solo. Kami bertiga bermobil menyusuri jalan tol hingga ke Yogyakarta.

Dihari yang sama, Presiden Jokowi melakukan peresmian penggunaan Jalan Tol Trans Jawa (TTJ) sambil menyusuri jalan tol sepanjang 1167 kilometer itu dengan mengendarai bus. Peresmian dilakukan di kawasan Jembatan Kalikuto Kendal. Jembatan dengan rangka melengkung berwarna merah itu seperti menjadi ikon TTJ.

Keasyikan merasakan sensasi menyetir di atas jalan tol nan mulus seperti mengusik adrenalin. Tetiba timbul keinginan “suatu saat aku akan mencoba TTJ ini sampai Surabaya”

Keinginan terbersit menjadi hasrat yang harus di wujudkan. Ide pun tercetus. Perusahaan tempatku bekerja memiliki beberapa kantor cabang di Pulau Jawa. Selain Jakarta, cabangnya ada di Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Kenapa tak sekalian berkantor di sana saja untuk jangka waktu setidaknya seminggu?

Aku menghadap atasan menyampaikan ide itu. Gayung bersambut, atasanku setuju. Perjalanan ini tak akan dihitung sebagai Business Trip, alias semua biaya akan aku tanggung sendiri. Selain dapat melihat aktifitas operasional kantor di cabang-cabang, aku bisa menyalurkan hasrat dan keinginan. Menggabungkan pekerjaan dan hobbi. Win-win Solution.

Sebenarnya ini bukan kali pertama aku berkeliling Jawa. Ini kali kedua. Hanya sebelumnya aku menyetir seorang diri dengan menyusuri pinggir pulau Jawa dari Jakarta, Pantai Selatan dan berbalik ke Jakarta lewat Pantai Utara. Perjalanan selama 10 hari menempuh jarak 3313 km aku lakukan dengan singgah ke beberapa kota di pesisir utara dan selatan Pantai Jawa. Namun kali ini perjalanan akan berbeda karena akan menyusuri tengah Pulau Jawa lewat jalan tol.

Tanpa perlu persiapan panjang, aku menyiapkan peralatan. Bukan perjalanan keliling Jawa-nya yang agak riweuh. Lebih ke persiapan naik gunungnya. Ya, diujung perjalanan aku rencananya akan mendaki 2 gunung di Jawa Tengah, Andong dan Merbabu. Andai tenaga masih memungkinkan, mungkin ada gunung ke -3. Kita lihat saja nanti.

Jumat pagi perjalanan dimulai. Tujuan awalnya adalah Kota Kembang, Bandung. Tak banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan ke Bandung. Jalur tol Cikarang dan Cipularang sudah sangat sering aku lewati. Meski demikian, tak ayal perjalanan indah Bumi Parahyangan di sepanjang jalan tol lumayan menghibur di akhir pekan itu.

Menginap semalam di Bandung, perjalanan dilanjutkan. Kali ini tujuannya adalah Kota Tegal. Aku harus mengisi acara ngopi buku di Kelana Kopi, kedai tempat berkumpul dan berinteraksi kalangan muda penggiat literasi di Tegal. Perjalanan dari Tol Cipularang berbelok ke arah Dawuan, Cikampek. Untuk pertama kalinya aku melewati jalur tol ini. Pemandangan hijau daun nan segar usai diguyur hujan kiri kanan jalan tol menghadirkan perasaan segar dan penambah semangat.

Suasana masih sepi saat Qashwa, tunggangan kesayanganku, mulai melaju di jalan tol Cipali (Cikopo-Palimanan). Masih tak ada yang istimewa. Tol Cipali pun sudah kerap aku lewati. Mendung menggelayut dengan barisan awan sesekali menampakkan pemandangan indah. Puncak Gunung Ciremai menyembul malu-malu dari balik awan berpadu hamparan sawah laksana hamparan karpet berwarna hijau. Tetap indah.

Saat memasuki ruas tol Pemalang-Tegal, aku mulai excited. Akhir tahun lalu, hari yang sama saat peresmian, jalan ini belum aku lewati. Perjalanan bersama keluarga kala itu dibelokkan keluar Gerbang Tol (GT) Pemalang. Jadilah kami harus menempuh perjalanan Pemalang-Yogyakarta selama 9 jam. Macet parah terjadi hampir di setiap ruas jalan. Apalagi saat itu ada pengecoran jalan di daerah Batang yang macetnya hingga ke Pekalongan.

Memasuki ruas tol Tegal, meski masih berbalut mendung, Puncak Gunung Slamet sesekali menampakkan pesona keindahannya. Ahhh, ada rasa rindu kembali ke puncak gunung itu. Suatu saat akan kembali ke sana lagi, bukan sekarang.

Perjalanan dari Bandung ke Tegal ditempuh dalam waktu 5 jam, sudah termasuk mampir di beberapa rest area untuk istirahat. Aku menginap semalam di tegal sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Kesibukan pagi mewarnai Kota Tegal saat aku meninggalkan kota itu. Tidur yang hanya beberapa jam karena acara ngopi buku di Kelana Kopi berlangsung hingga dinihari. Pertanyaan yang terus mengalir dari penggiat alam dan literasi Kota Tegal membuat diskusi berlangsung seru. Tak ayal aku baru tiba di guess house tempatku menginap menjelang dinihari.

Cuaca mendung yang terus memayungi buana membuatku harus berhati-hati. Tujuan selanjutnya adalah Kota Pahlawan, Surabaya. Baru saja memasuki jalan tol saat hujan deras mengguyur. Aku harus fokus menyetir. Berkendara seorang diri saat hujan deras membutuhkan konsentrasi prima. Meski sesekali aku melirik ke pemandangan di kiri kanan jalan tol yang menghandirkan hamparan sawah dan kebun dalam guyuran hujan.

Menjelang tol ruas Pemalang-Batang, hujan semakin menjadi-jadi. jarak pandang hanya sekitar 5 meter. Lampu jauh dan lampu hazard aku nyalakan. Sangat sulit melihat situasi di depan dan kiri kanan. Hembusan angin seperti hempasan badai menghantam Qashwa. Sering aku merasakan setir oleng sendiri oleh hantaman angin. Suasana cukup menyeramkan. Jarak pandang tersisa 1 meter. Qashwa meluncur pelan, namun kuatir jika di tabrak dari belakang. Dalam situasi hujan deras dengan jarak pandang minim seperti itu sangat berbahaya.

Untungnya terdapat rest area di KM 379 daerah Batang. Aku membelokkan Qashwa. Isitrahat menunggu hujan reda adalah pilihan terbaik. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Aku sudah menyetir selama 2 jam.

Hujan reda, perjalanan dilanjutkan kembali. Meski gerimis sesekali hujan setia menemani, pemandangan sepanjang jalan mulai nampak. Terlihat Banjir menggenangi daerah Batang dan Pekalongan. Banyak sawah terendam banjir.

Memasuki tol Semarang, cuaca mulai bersahabat meski tak terlalu cerah. Aku harus berhati-hati mengambil jalur. Menurut informasi teman yang sudah menjajaki TTJ hingga Surabaya, aku harus mengambil jalur ke arah Solo. Di area tol Bawen di Semarang terdapat petunjuk arah Surabaya, sepertinya itu petunjuk lama menggunakan rute sebelumnya.

Meski mendung, barisan gunung-gunung indah di Jawa Tengah muncul satu persatu. Gunung Merbabu, Sindoro Sumbing, Ungaran dan Andong seakan berlomba memamerkan keindahannya. “Tunggu sampai pekerjaanku kelar yaa…” Aku menggumam.

Melewati Solo, jalan tol mulai sepi. Terkadang tanpa terasa, kecepatan Qashwa melebihi kecepatan yang diijinkan di jalan tol, 100 km/jam. Kecepatan harus di kendalikan khususnya saat jalan tol sepi namun licin usai diguyur hujan. Pemandangan di kiri kanan jalan tol tak terkatakan indahnya. Hamparan sawah berganti rimbunan kebun jati dan tebu sungguh indah. Meski sendiri, aku tak henti-hentinya berteriak, “Gilaaaaaa, ini keren bangettttttt”

Aku memasuki Kota Surabaya jam 4 sore. Artinya perjalanan dari Tegal ke Surabaya aku tempuh dalam waktu 6 jam. Tak ada rasa bosan, kecuali saat akan memasuki Kota Surabaya saat arus lalu lintas mulai padat hingga memasuki GT Warugunung. Oh ya, aku lupa mencari tahu berapa tarif tol yang harus aku bayar sepanjang perjalanan. Yang aku tahu, tarif tol dari Jakarta hingga Surabaya sekitar 500 ribu. Harga yang pantas untuk kecepatan, bebas macet dan keindahan sepanjang perjalanan.

Melewatkan 2 malam di Surabaya, aku kembali menyusuri jalan tol menuju Semarang. Berbeda dengan perjalan sebelumnya, kali ini cuaca cerah mewarnai perjalanan. Langit biru berpadu hamparan sawah dan kebun terlihat sangat cantik. Ruas tol yang terbilang sepi karena hari biasa menjadikan perjalanan itu terasa sangat mengasyikkan. Meninggalkan Surabaya jam 10 pagi, aku tiba di Semarang jam setengah 2. Artinya perjalanan Surabaya – Semarang ditempuh dalam waktu 3.5 jam. Sebelumnya harus ditempuh dalam waktu 6 – 7 jam lewat jalan biasa.

Usai dari Semarang, perjalanan berlanjut ke Yogyakarta. Kali ini tak semua melewati tol. Jalur tol yang menghubungkan Semarang dan Yogya hanya bisa di lewati via Magelang atau Klaten. Aku memutuskan ke Yogyakarta via Ungaran dan Magelang, jalur biasa. Konon penguasa Yogya saat ini tak mengijinkan pembangunan jalur tol melewati Yogya. Entah apa alasannya. Kalau dikatakan bahwa penghasilan masyarakat di sepanjang jalan non tol akan hilang, bukankah rejeki sudah ada yang atur? Dulu juga saat pembangunan jalan tol lain ada yang berpendapat seperti itu, tapi hingga kini masyarakat di sepanjang jalan arteri tetap hidup. Jalan tol hanya alternatif, sebagian pengguna jalan tetap akan melewati jalan arteri.

Yogyakarta adalah tujuan terakhir untuk urusan pekerjaan. Waktunya menjalankan hobbi, naik gunung. Gunung Andong dan Merbabu di Magelang yang akan aku daki seorang diri menjadi tujuan. Nanti aku ceritakan detail perjalanannya di tulisan berikutnya.

Jembatan Kalikuto

Usai pendakian ke Merbabu via Jalur Suwanting, perjalanan pulang ke Jakarta tak menemui kendala. Kendahan sepanjang perjalanan laksana menyaksikan kepingan nirwana berpadu langit biru menemani. Berangkat dari Basecamp Suwanting Gunung Merbabu jam 7 pagi, tiba di Jakarta jam 1 siang. Perjalanan selama 6 jam itu menutup rangkaian perjalanan menyusuri TTJ selama 10 hari sepanjang angka yang tertera di speedometer Qashwa, 2064.5 km!

Rest Area di Madiun

Usai sudah perjalanan bertajuk #tourdejava2 ini. Perjalanan panjang yang telah menhadirkan kebanggaan akan keindahan panorama negeri tercinta ini. Jalan tol yang menghubungkan pulau utama di negeri ini. Jalan tol yang sudah meruntuhkan dominasi jalan pantai utara (Pantura) buatan kolonial Daendels. Jalan tol yang sudah lama menjadi idaman dan dambaan akhirnya terbentang. Meski beberapa perbaikan senantiasa dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi kami penggunanya, rasa penghargaan dan penghormatan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berusaha keras menwujudkan infrastruktur seperti ini. Andai pulau lain memiliki jalan tol yang sama, negeri ini akan semakin mudah di explore. Tentunya masih banyak kepingan keindahan ala nirwana tersembunyi di pulau-pulau lain. Tak cukup hanya dinikmati dari ketinggian di balik jendela pesawat, namun bisa di lewati. Sungguh beruntung kita memiliki Indonesia, negeri kaya akan keindahan. Kehadiran area istirahat yang memadai juga sangat bermanfaat untuk tempat memulihkan stamina. Jika lelah dan mengantuk, istirahatlah. Jangan paksakan berkendara.

Berangkatlah kawan, jelajahi kepingan surga di tanah yang kita pijak ini. Semoga akan menghadirkan rasa bangga sebagai anak bangsa dalam sanubari. Salam jelajah negeri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s