Gunung Cikuray: Antara Kabut, Ego dan Hypothermia

Jika ditanya apa gunung favoritku? Jawabannya adalah Gunung Cikuray. Tak tanggung-tanggung, aku sudah mendaki hingga 5 kali. Semua melewati jalur sama, Pamalayang, Bayongbong. Sejak pertama kali mendaki 2015 silam, selalu ada rasa rindu untuk kembali ke sana. Terakhir akhir pekan kemarin. Agak berbeda dengan pendakian-pendakian sebelumnya, pendakian seorang diri kali ini berlangsung dramatis. Kenapa? Ikuti kisahnya.

Usai mendaki Gunung Lawu akhir Desember silam, perencanaan pendakian gunung lainnya kembali di susun. Seiring buruknya cuaca akhir-akhir ini, beberapa gunung khususnya di Pulau Jawa ditutup. Selain faktor keselamatan dan keamanan, penutupan juga bertujuan untuk memberikan kesempatan gunung tumbuh secara alami beberapa bulan. Penutupan itu dimanfaatkan pula untuk membersihkan sampah-sampah yang jumlahnya tak sedikit.

Akhirnya pilihan kembali ke Gunung Cikuray. Gunung berketinggian 2821 mdpl di Kabupaten Garut ini sudah 4 kali aku daki. Semua melewati jalur sama, Pamalayang, Bayongbong. Ada alasan kenapa aku sangat menyukai jalur itu. Bagiku, jalur Bayongbong paling ekstrim di antara semua jalur gunung di Indonesia yang pernah aku daki. Tak ada bonus. Tanjakan panjang cenderung membosankan di awal hingga puncak sangat memacu dan memicu adrenalin. Melangkah setapak demi setapak setiap jengkal tanahnya selalu bikin emosi jiwa. Tapi disitu letak tantangan dan seninya. Kesabaran dan kegigihan sangat diperlukan. Fisik, stamina serta perlengkapan logistik harus di perhitungkan dan dipersiapkan dengan matang.

Kelebihan Gunung Cikuray lainnya adalah pendaki bisa nge-camp di puncak. Jika beruntung, seluruh pemandangan indah yang jadi idaman pendaki bisa di dapatkan. Sunset, sunrise dan city light  (lampu kota terlihat dari ketinggian) .

Jarak yang tak jauh dari Jakarta ikut menjadi pertimbangan. Sejak beroperasinya jalur lingkar Nagreg, perjalanan ke Garut hanya membutuhkan waktu 4 jam untuk tiba di basecamp Desa Pamalayang.

Seperti 2.5 tahun lalu, kali ini kembali Aku mendaki Cikuray seorang diri. Kenapa? Begini. Aku orangnya egois, jika sudah buat rencana, harus jalan. Apalagi jika sudah melakukan persiapan. Di beberapa pengalaman yang pernah kualami, kerap beberapa rekan yang sudah bersedia mendaki bersama tetiba mundur satu-satu menjelang hari H. Yang lebih parah lagi jika ada rekan yang diam-diam saja, setelah di tanya baru menjawab tak bisa ikut. Padahal di awal dia yang paling bersemangat. Tentunya dengan berbagai dalih dan alasan. Dari pada sakit hati, lebih baik jalan sendiri. Saat ini jika ada yang ingin mendaki bareng, selalu aku katakan, “Kita ketemu di Basecamp atau di puncak!” Ada di antara kalian yang punya pengalaman (buruk) yang sama?

Juga, anggap saja pendakian seorang diri itu untuk uji nyali seberapa sanggup aku bertahan tanpa bergantung orang lain. Kalau terjadi apa-apa? Hadapi! Se-simple itu.

Singkat kata, aku berangkat ke Garut usai menyelesaikan pekerjaan kantor hari Jumat sore. Perjalanan lancar, tak kurang dari 3 jam sudah tiba di Garut. Hujan deras menyambut kedatanganku di Kota Dodol itu. Eh, hujan deras? Mendaki gunung di musim hujan? So what?

Memasuki Garut, Aku mampir ke toko peralatan outdoor untuk membeli matras dan lentera yang ketinggalan di Jakarta. Terlihat sepele, namun seluruh peralatan harus lengkap, apalagi mendaki seorang diri. Ujug-ujug beli matras dan lentera, sebagian ‘belanjaan’ yang tak terencana ikut mengisi kantong belanja. Jaket, hem kotak-kotak, dan topi dengan tak terduga terikut dalam slip pembayaran. Maaf, kalau sudah di toko peralatan outdoor, aku memang suka kalap dan khilaf. Yaah, namanya juga manusia biasa yang tak tahan godaan.

Kelar dari toko outdoor, aku mampir makan malam ke salah satu warung penjual makanan sunda. Satu paket nasi timbel komplit mengisi relung-relung hampa dalam perut yang sudah kelaparan. Makan enak terakhir sebelum pendakian. Ini yang ingin aku share juga. Pendakian memerlukan tenaga, stamina dan fisik yang prima. Usahakan mengkonsumsi makanan sehat dalam jumlah banyak sebelum pendakian. Perjalanan panjang dari kaki hingga puncak akan menguras energi. Fisik dan stamina yang sehat akan menambah daya tahan tubuh terhadap terpaan alam dan cuaca yang akan dihadapi.

Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam saat tiba di depan basecamp yang gelap dan nampak terkunci. Warung Ibu di depan rumah yang biasa aku tempati makan juga sudah sepi. Tak ada siapa-siapa. Sepi. Kabut dingin menemai kesendirian.

Ada hal unik dalam pengelolaan basecamp di jalur Pamalayang Bayongbong ini. Di tahun 2015 silam, pertama kali lewat jalur ini, pendaki cukup mendaftar di warung Ibu dan bayar 10 ribu rupiah. Tahun berikutnya, registrasi dilakukan di pos 1 yang kala itu belum selesai dibangun di sela-sela kebun penduduk. Pendaki harus bayar 15 ribu rupiah. Setahun berikutnya, terakhir kali mendaki 2.5 tahun silam pengelolaan dipegang oleh (konon) karang taruna dan disiapkan basecamp yang bisa ditempati menginap. Biaya registrasi, jika tak salah ingat sebesar 25 ribu rupiah. Makanya kali ini aku berencana menginap di basecamp. Namun apa daya, rumah berwarna pink yang konon menjadi basecamp tampak gelap dan terkunci.

Untungnya punya rencana cadangan. Nenda atau tidur di mobil. Opsi kedua yang dipilih. Tidur di mobil. Kursi di lipat, kasur di gelar. Meski harus tidur melingkar mirip ular, bisa juga terlelap hingga pagi. Tinggalkan zona nyaman, kita tak penah tahu apakah akan hidup dengan rezeki yang ada saat ini selamanya.

Pagi menjelang. Aku terbangun saat mendengar suara orang bercakap. Beberapa pendaki sudah ada di basecamp. Aku langsung ke warung menyapa Ibu. Orang-orang sering menyapanya Ummi. Wanita paruh baya yang membuka warung di depan rumah anaknya. Dia masih mengenaliku.

“Kenapa tak tidur di dalam saja semalam? Ibu baru pulang dari Bandung. Ibu kira anak tak ada di mobil” Seperti biasa, beliau selalu menyapa dengan suara khasnya.

“Ah gak apa-apa bu. aku sudah biasa tidur di mobil. Tolong siapkan teh manis panas ya bu. Aku mau numpang ke kamar mandi.” Kataku sambil ngeloyor ke kamar mandi.

“Mau disiapkan bekal makan siang?”

“Boleh bu. Menunya seperti biasa. Nanti aku ambilkan tempatnya”

Ibu sudah hapal. Selama 4 kali pendakian sebelumnya, aku selalu meminta beliau menyiapkan makanan di dalam kotak tupperware untuk bekal makan siang di jalur. Jadi tak perlu bongkar carrier untuk memasak.

“Naik sendiri lagi?” Tanya Ibu sambil menyerahkan teh.

“Iya bu. ” Teh panas manis yang masih mengepul menghangatkan kerongkongan dan badan.

“Kenapa gak sama teman?”

“Nggak bu, sendiri aja”

Aku balik ke mobil. Mau siap-siap. waktu sudah menunjukkan jam 6 lewat. Perlengkapan dirapikan dan masukkan ke dalam carrier. Tenda, fly sheet, kebutuhan logistik, tumbler kosong yang bakal di isi air di pos 2, jaket tebal, jas hujan, berikut perlengkapan lainnya. Karena musim hujan, perlengkapan kali ini lumayan banyak. Tak ayal, carrier seberat 20 kg harus dibopong hingga puncak. Apalagi jika tumbler sudah diisi air, bakal tambah berat.

Pendaki lain ikut berkumpul di warung Ibu. Mereka memesan teh dan sarapan. Aku mencoba membuka percakapan dengan seseorang yang duduk tak jauh yang akhirnya aku tahu bernama Agi, kami saling follow di instagram.

“Dari mana, Mas?”

‘Dari Jakarta. Open Trip.” jawab Agi.

“Dari mana aja?”

“Macam-macam, Mas. Ada dari Tangerang, Tebet, Cibinong. Semuanya ada 6 orang. bertujuh sama saya. Ini mas Hadi yang nulis buku Kilimanjaro ya?”

Aku terdiam sesaat. “Kok tauk?”

“Aku liat di instagram.”

Seluruh perlengkapan sudah masuk ke dalam carrier. Terakhir memasukkan bekal makan siang yang sudah terbungkus rapi dalam tupperware berlapis plastik. Aku membayar semua logistik. Sekalian bayar biaya registrasi yang kembali ditangani Ibu. Entah saat ini bayar berapa, aku hanya meminta agar uang lebih belanjaanku buat bayar biaya registrasi. Ibu hanya bilang, “Ini kebanyakan, Nak!” yang aku jawab dengan senyum.

Langkah pertama menyusuri jalan setapak mulai terayun saat jam menunjukkan pukul 7.30. Ada 3 pendaki lain yang ikut jalan bersamaku. Kami kenalan. Mereka berasal dari Bekasi. Kholik, Agus dan Galuh. Galuh sudah pernah ke Puncak Cikuray lewat jalur pemancar, 2 rekan lainnya baru pertama kali. Baru kali ini mereka lewat jalur Bayongbong ini. Kami berjalan beriringan.

Jalan setapak beton nan panjang menjadi tantangan awal. Motor pengangkut pupuk, sayur dan rumput adalah tantangan lainnya. Kami harus menyingkir setiap mereka melintas. Lagi-lagi kami bertemu dengan rombongan Open Trip (OT) beranggotakan pendaki remaja. Mereka berasal dari Bandung dan daerah lain di Jawa Barat.

Nafas mulai naik turun dan tersengal. Tak jarang kami berhenti di pinggir jalur. Lagi-lagi, ini tantangan lewat Jalur bayongbong ini. Tak ada basa-basi, tak ada bonus, tanjakan panjang harus di jalani sejak awal.

Berselang sejam berjalan, kami tiba di pertigaan. Terdapat tanda penunjuk jalur ke arah kiri. Artinya jalur sudah berubah. Awalnya jalur berbelok ke kanan. Arah yang akan membawa pendaki ke pos 1 yang dari kejauhan terlihat tak terawat. Jika ambil jalur kiri, itu jalur yang dulu di gunakan saat turun. Jalurnya akan langsung menuju kebun kopi dan melewati kebun penduduk. Berita buruknya, sudah benar-benar tak ada bonus. Di jalur lama, masih ada beberapa meter jalan menurun saat pendaki harus menuruni saluran air menyerupai sungai kecil. Namun saat ini sudah tak lewat situ lagi.

Jalur yang awalnya beton pengerasan berganti tanah liat yang masih basah sisa hujan kemarin. Rombongan Agi dari Jakarta bergabung. Sebagian timnya nampak berhenti mengatur nafas. Kebun penduduk yang ditanami kentang, kol dan daun bawang terlihat segar usai dibasahi embun pagi. Kami harus melangkah berhati-hati agar tak menginjak lahan yang jadi sumber kehidupan warga Bayongbong itu. Puncak Cikuray terlihat dari kejauhan. Sesekali bersembunyi di balik gumpalan kabut tebal yang tak menciutkan nyali. Suasana sejuk berpayung mendung melindungi tubuh dari sengatan surya. Lumayan menjaga stamina. Meski demikian, tak ayal sebagian pendaki berhenti untuk mengatur nafas.

Jalur menanjak di medan dengan kemiringan bervariasi dari 20 – 30 derajat terus dijalani. Tak ada medan datar. Tanah yang basah dan licin di beberapa bagian membuat kami harus berhati-hati. Salah langkah bisa menginjak kebun warga. Bukan sekedar kebun, lahan itu mata pencaharian penduduk setempat, hidup mereka.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10. kami sudah berjalan 2 jam. Areal kebun kopi berseling pohon pinus dan kayu putih menjadi tempat persinggahan. Belum ada tanda-tanda akan tiba di pos 2. Aku hanya mengingat pos 2 itu rumah kayu bertingkat yang ada teras di bagian atas. Akhirnya aku terpaksa menebak-nebak dari kejauhan. Tebakan itulah yang menjadi pedoman. Sesekali kami berempat berhenti untuk bercengkerama sambil sebat (merokok).

Tanjakan panjang sepanjang tanjakan nagrek mulai bikin emosi. Aku yang seenaknya menunjuk bangunan rumah kayu mirip pos 2  bikin emosi. Dikira udah dekat ternyata masih jauh. Terik surya menyengat berganti kabut dengan sangat cepat. Inilah yang aku sebut di awal, meski Cikuray tergolong cetek berketinggian di bawah 3000 mdpl tapi tantangan lahir dan bathinnya mantap. Ujian kesabaran. Tanjakan seperti tak ada habisnya. Yang lebih menyebalkan lagi, Puncak Cikuray terlihat sangat dekat. Jauh di kaki tapi brooo….

Kami baru tiba di pos 2 menjelang jam 12 siang, artinya membutuhkan waktu 4 jam lebih dari basecamp. Cukup lama. Panas berganti kabut dengan cepat menemani suasana istirahat siang kami. Rombongan Agi sedang makan siang sementara peserta OT lainnya sudah berangkat duluan. Usia memang tak bisa bohong. Jangan under estimate pendaki pemula apalagi masih muda. Tenaga mereka masih kuat. Beda dengan kalian yang sudah berumur. Catat ya, kalian… Hahahaha

Usai menikmati makan siang, tumbler kosong diisi dari sumber air yang mengalir di belakang pos 2. Bersiaplah memanggul carrier yang lebih berat setelah diisi air. Beratnya sekitar 25 – 30 kg. Mantap.

Hujan datang mengiringi kabut yang semakin tebal. Kami istirahat sejenak. Tak lama. Kabut tebal masih menggelayut. sudah hampir jam 1. Aku mengajak Kholik, Agus dan Galuh melanjutkan perjalanan. Seorang remaja yang tak kukenal namanya ikut berjalan bersama kami . Dia salah seorang anggota OT lokal yang konon tinggal di daerah pemancar.

Selepas Pos 2, jalur semakin menanjak. Salah satu tanda penunjuk menuliskan ‘Tanjakan Tiada Guna‘ membuatku tertawa. Ternyata tanjakan itu sudah diberi nama. Tanjakan yang sangat menyebalkan. berkemiringan sekitar 40 derajat dan panjang mirip tanjakan Nagreg. Ujung tanjakan adalah batas antara kebun dan hutan vegetasi. Tak ayal kami harus berhenti berkali-kali mengatur nafas. Baru berselang beberapa menit, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Aku mengajak Kholik dan rekan-rekannya berhenti di salah satu rumah kebun untuk berteduh sambil mempersiapkan jas hujan.

Hujan semakin deras dan Galuh tak bawa jas hujan. Apa boleh buat, kami harus menunggu hujan reda. Kesempatan itu kami gunakan untuk tidur. Aku duduk bersandar di atas balai bambu, yang lainnya mencari posisi masing-masing. Aku tak terlalu mengantuk, semalam tidur cukup. Namun hembusan angin sepoi dan suara hujan tak ayal membuatku terbang ke alam mimpi beberapa jenak.

Waktu menunjukkan pukul 2 siang saat aku terbangun. Aku membangunkan yang lainnya untuk segera berangkat, hujan sudah reda. Meski demikian aku menyarankan mereka tetap menggunakan jas hujan. Hujan bisa saja kembali turun.

Pendakian mulai memasuki kawasan hutan bercampur semak dan perdu. Jalur pendakian yang basah dan licin semakin menyiksa. Hujan yang masih menetes dari pepohonan menambah berat carrier yang mulai basah meski rain cover sudah terpasang. Tawa dan canda yang tadi sering terdengar berganti desah nafas memburu. Kami semakin sering berhenti. Aku berjalan paling belakang. Di depanku, Kholik sering berhenti mengatur nafas.

Kadang terselip keinginan untuk berjalan di depan. Namun Agus dan Galuh sudah berjalan jauh di depan. Kholik yang berjalan paling belakang tak sanggup mengikuti langkah 2 rekannya. Aku memutuskan mengekor di belakangnya. Meskipun sebenarnya berat. Aku yang sudah berjalan dengan prinsip 2 S (Slow and Steady, pelan dan stabil) tak jarang harus sering berhenti karena Kholik berjalan lambat.

Terjadi pertarungan dalam diri. Jika menuruti ego, aku bisa berjalan di depan. Namun firasat mengatakan  Kholik kesulitan berjalan. Dia sering berhenti mengatur nafas. Rasa dingin akibat terpaan hujan semakin membuatnya menggigil. Aku kuatir Kholik bakal terkena Hypothermia. Gejalanya sudah terlihat.

Hypothermia adalah gejala di mana suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh normal. Penyebabnya adalah suhu lingkungan sekitar. Di saat seperti itu, jantung tak dapat bekerja normal. Seseorang yang terkena gejala Hypo, demikian orang sering menyebutnya, akan merasa mengantuk, lapar dan kadang tak terkontrol. Saat berjalan, dia akan sering berhenti karena detak jantungnya tak normal. Disitulah letak ironisnya. Saat kedinginan, apalagi dalam kondisi hujan dan pakaian basah, hypo akan lebih mudah menyerang. Baju basah akan memicu suhu tubuh semakin drop dan hypo akan menyerang dengan mudah. Langkah yang harus dilakukan adalah menjaga badan  terus bergerak agar badan tetap panas dan suhu tubuh stabil. Hal ini yang terkadang tak diperhatikan pendaki. Rasa mengantuk terjadi karena semalam sebelumnya kurang tidur serta organ tubuh tak berfungsi normal.

Jas hujan dan jaket tebal yang harus digunakan saat hujan bukan hanya berfungsi melindungi badan dari hujan tapi lebih agar menjaga suhu tubuh tetap normal. Perlengkapan standard pendakian harus dimiliki, tak ada negosiasi. Ini menyangkut nyawa, bukan sekedar gaya-gayaan.


Pos demi pos terlewati dengan sangat lambat. Trek licin mengharuskan kami memanjat dan bergantung di akar dan dahan pohon. Di beberapa titik, kami harus berhati-hati karena tanah yang rentan bisa runtuh dan membuat kami terjatuh. Beban di punggung semakin berat karena ditambah oleh air hujan.

Hari semakin gelap. Kami baru tiba di pos 5. Masih ada 2 pos tersisa. Inilah jalur Cikuray sebenarnya. Aku menyebutnya jalur 2D, dagu dan dengkul ketemu. Jalur favoritku di Cikuray. Mirip jalur pendakian di Gunung Kerinci dan Gunung Ciremai. Jalur licin oleh air hujan yang mengalir membuat pendakian semakin seru. Namun tidak dengan Kholik yang berjalan semakin pelan dan lambat. Hanya melangkah selangkah dia akan kembali berhenti. Aku yang berjalan di belakangnya harus ikut berhenti. Beban carrier di punggung telah menorehkan luka baret yang perih. Namun aku tak ingin meninggalkan Kholik sendiri. Galuh dan Agus sudah berjalan jauh di depan. Sesekali mereka berhenti menunggu, selebihnya akan kembali berjalan. Galuh yang tak bawa jas hujan sepertinya ingin segera tiba di puncak. Aku sudah menyarankan agar mereka berhenti jika ada tempat yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Namun situasi yang mulai gelap dan rasa lelah teramat sangat membuat logika tak lagi bicara.

Aku benar-benar sudah kelelahan. Jam sudah menunjukkan pukul 6 maghrib. Kami masih berada di antara pos 7 dan puncak. Rombongan Agi dari Jakarta sudah terlihat nge-camp di pos 6. Agus dan Galuh terus berjalan. Ini waktu terlama yang aku jalani selama pendakian ke Cikuray. Biasanya aku akan tiba di puncak jam 4 sore paling lambat atau sekitar 8 jam pendakian. Namun kali ini sudah hampir 10 jam. Aku tak tega juga meninggalkan Kholik sendirian. Aku selalu menegurnya jika dia berhenti lama bahkan tertidur. Hal itu akan semakin membuat hypo menyerangnya. Akibatnya bisa fatal.

“Bro, kamu harus terus gerak dan jalan. Aku tak ada kewajiban untuk menemani tapi tak tega meninggalkanmu sendirian. Hayo jalan…”

“Tapi aku sangat mengantuk dan lapar bang” Jawab Khalik lirih.

“Kamu harus lawan. Jangan menyerah. Kita harus segera tiba di pos, lalu kamu bisa ganti baju, makan dan tidur. Hayo sebentar lagi” Aku terus menyemangati Kholik.

Timbul pergolakan bathin. Di satu sisi aku sudah sangat kelelahan. Beberapa kali terpeleset, carrier sempat meluncur turun ke jalur sedalam 5 meter dan aku harus kembali turun mengambilnya, perih di bahu akibat tergesek tali carrier semakin perih. Tapi sudah tanggung, tahan saja hingga tiba di camp. Aku dan Kholik baru berkenalan beberapa jam lalu, namun rasa solidaritas sesama pendaki membuatku tak tega meninggalkannya.

Aku memperhatikan setiap geraknya yang hanya beberapa depa di depan. Jika melihat dia tertidur, aku akan menegur dan memintanya melanjutkan perjalanan. Tak jarang aku PHP ala pendaki, puncak sudah dekat padahal masih jauh. Aku mulai menyiapkan contigency plan andai Kholik sudah tak sanggup berjalan. Solusinya adalah mendirikan tenda dimanapun, mengganti bajunya dengan baju kering dan membungkusnya dengan sleeping bag atau thermal blanket yang selalu aku bawa. Cara lainnya adalah memasak air panas dan meminta penderita segera meminumnya. Itu cara penanggulangan hypo di saat kritis. Namun aku melihat kholik masih berusaha bertahan. Dia terus melangkah meski sangat pelan.

Gelap sudah menyelimuti hutan. Aku mengeluarkan headlamp. Langkah kaki semakin tak terkontrol. Yang penting terseret, terangkat dan berpindah ketinggian. Aku tak memikirkan diri lagi. Andai  sudah tak sanggup berjalan aku bisa berhenti dimana saja. Namun tidak dengan Kholik. Kedua rekannya sudah di depan. Aku pernah mengalami hal sama saat pendakian ke Gunung Sindoro bersama rekan-rekan dari Komunitas Jalan Kaki. Sebagian sudah berjalan di depan karena ingin segera tiba di puncak. Aku yang berjalan paling belakang harus menemani 2 orang rekan yang mulai menampakkan gejala hypo. Mereka sudah tak sanggup menggerakkan badan. Itu Hanya suggesti diri saja. Badan harus di paksa bergerak. Solusi lainnya adalah memberikan makanan atau minuman panas. Namun saat itu, semua perlengkapan memasak dibawa rekan yang sudah berjalan duluan. Hujan dan kabut tebal di jalur. Aku meminta mereka berdua masuk dalam sleeping bag lalu berlari mengejar rekan-rekan di depan. Ternyata mereka sudah tiba di puncak. Aku meminta bantuan rekan lain untuk menemani ke bawah dan membawa peralatan masak. Setiba di tempat kedua rekan yang kedinginan tadi, aku memasakkan mereka air panas lalu meminta mereka meminumnya. Setelahnya mereka merasa mendingan dan perjalanan ke puncak di lanjutkan. Artinya di pendakian itu aku muncak 2 kali!

Di sini kadang aku merasa sedih dan heran dalam mempertanyakan arti solidaritas di kalangan pendaki. Puncak menjadi target dan tujuan pendakian boleh-boleh saja. Tapi apakah harus melupakan kondisi teman yang membutuhkan pertolongan?

Samar-samar terdengar suara orang bercakap, pertanda puncak sudah dekat. Malam berselimut gelap. City light yang tersaji di belakang tak lagi menarik minat. Tak ada decakan kagum. yang ada hanya desah nafas.

Setelah melewati perjuangan panjang, akhirnya tiba di puncak. Kami mendirikan tenda berdampingan. Aku sudah sangat kelelahan. Sesaat setelah ganti pakaian kering dan membuat segelas susu jahe, aku langsung terbang ke alam mimpi. Tidur! Sayang jika waktu di puncak dilewatkan hanya dengan tidur? Aku lebih sayang kesehatan dan stamina. Usai pendakian aku harus kembali bekerja keras dan menabung untuk pendakian berikutnya. Kalau hanya sekedar bersosialisasi dan bercengkerama, aku tak harus ke gunung. Itu prinsipku. Mungkin saja berbeda dengan orang lain. Tak mengapa berbeda, selama tak saling mengganggu.

Pagi menjelang. Aku melangkah keluar tenda. Udara dingin menusuk tulang. Aku melangkah ke puncak berjarak beberapa meter dari tenda. kami sengaja memilih lokasi agak ke bawah agar terlindung dari angin dan badai andai datang tiba-tiba.


Pemandangan nun jauh di bawah sana sungguh mengagumkan. Barisan dan kerlip lampu membentuk city light nan memesona. Pemandangan inilah yang membuatku jatuh cinta dan mendaki Cikuray berkali-kali. Selain city light, semburat jingga pertanda sang surya akan memulai hari menyiratkan cahaya tak kalah indah. Beberapa pendaki lain berkumpul menanti sunrise yang tampaknya takkan muncul sempurna. Gumpalan awan tebal menutup arah terbitnya mentari pagi. Andai suasana menjelang pagi itu bisa dinikmati dalam kesunyian dan merekam seluruh suara alam mengantar pagi seperti saat bersama pendaki di belahan dunia lain, mungkin akan terasa lebih berkesan. Namun suara orang bercakap, cenderung berisik sambil sibuk berfoto menjadikan keinginanku hanyalah khayalan semata. Nikmati sajalah.


Pemandangan barisan gunung di kejauhan seperti ingin menghiburku yang lelah berjalan selama 12 jam sehari sebelumnya. Gunung Slamet dalam balutan cahaya jingga, Gunung Ciremai berbalut kabut tipis, Gunung Papandayan dan Gunung Guntur dengan panorama indahnya superti berlomba menghiburku. Sesekali aku mengabadikan moment yang indah dan rupawan ke dalam kamera.


Mengambil tempat di atas batu dekat shelter, mulutku menggumamkan lagu lama Zamrud Khatulistiwa milik almarhum Chrisye,

Aku bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa

Alam berseri-seri, bunga beraneka

Mahligai rama-rama, bertajuk cahya jingga

surya di cakrawala…”

Sampai bersua di pendakian berikutnya. Salam Gunung.

Rahmat Hadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s