Misteri Jalak Gading dan Pasar Setan di Pendakian Lintas Gunung Lawu

Akhirnya kesampaian juga niatku mendaki Gunung Lawu, gunung berketinggian 3265 meter di atas permukaan laut (mdpl). Beberapa waktu lalu, usai mendaki Gunung Semeru, aku ingin melanjutkan pendakian ke gunung ini. Namun Nawir, rekan yang saat itu bersamaku mendaki Semeru menyatakan tak sanggup karena masih kelelahan. Akhirnya aku mengurungkan niat. Aku yang menjemput Nawir di rumahnya di daerah Guci, Tegal, maka aku harus mengantarnya pulang. Tak mungkin memintanya pulang sendiri. Apalagi memintanya menunggu di basecamp saat aku sedang mendaki.

Untungnya, di saat tak jadi mendaki, saat itulah terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan sebagian jalur pendakian, bahkan menelan korban jiwa. Yah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Hanya DIA yang menentukan takdir lah yang maha mengetahui segalanya.

Ada banyak alasan kenapa aku sangat ingin mendaki Gunung Lawu. Selain karena pesona keindahannya, gunung ini juga terkenal dengan aroma mistisnya. Setidaknya begitu yang aku dengar. Gunung yang disebut sebagai paku pulau Jawa ini diceritakan menyimpan banyak misteri. Mulai dari cerita zaman Raja Brawijaya, hingga informasi yang menyebutkan bahwa banyak pejabat atau petinggi negara kerap datang ke gunung itu untuk semedi atau melakukan acara ritual. Entah benar atau tidak, wallahu a’lam bissawab.

Usai acara Ngopi Buku di Warung Pejalan di bilangan Jebres Surakarta Solo, aku dan Iin, keponakanku segera kembali ke hotel di Jalan Rajiman. Mama menunggu seorang diri di kamar hotel saat aku harus mengisi acara yang sudah di jadwalkan. Moment libur akhir pekan natal nan panjang ini memang aku gunakan untuk melakukan road show ke Jogja dan Solo. Liburan itu sekaligus dimanfaatkan membawa Mama dan ponakan jalan-jalan. Masih dalam rangka memperkenalkan buku yang baru di luncurkan awal November silam. Kilimanjaro, Menapak Atap Afrika. Informasinya bisa di baca di postingan sebelumnya.

Tiba di hotel saat jam menunjukkan pukul 00.30. Untungnya sebagian besar peralatan mendaki sudah aku masukkan ke dalam carrier 60 liter saat masih di Jakarta. Sisanya hanya perlu memasukkan baju dan celana cadangan. Di dera lelah teramat sangat, aku memutuskan istirahat. Sudah jam 1 dinihari.

Jam 6 pagi, aku membangunkan Mama yang tidur bersama Iin di kamar sebelah untuk berpamitan. Aku sudah janjian dengan Ramsol (nama aslinya Rahmat Soleh) untuk bertemu sebelum jam 7 pagi. Ramsol di rekomendasikan oleh Sidiq, pemilik dan pengelola Warung Pejalan untuk menemaniku mendaki Gunung Lawu. Ramsol termasuk akamsi (anak kampung sini) alias asli penduduk Lawu. Dia sudah sering mengantar pendaki ke puncak Lawu.

Melalui whatsapp, Ramsol sudah mengirimkan lokasi tempat dia menunggu. Tanpa sarapan, aku membelah dingin pagi Kota Solo menuju tempat yang ditunjukkan GPS di handphone. Kota Solo masih sepi. Jalanan hanya di isi beberapa motor dan mobil melintas sesekali. Toko-toko masih banyak yang tutup. Terlihat beberapa mas-mas becak nongkrong di beberapa sudut jalan. Ahh.. Solo. Kota yang aku cintai. Kota yang hampir pernah membuatku memutuskan untuk jadi orang Solo. Namun apa daya, Long Distance Relationship (LDR) Jakarta – Solo tak sanggup membuat kami bertahan.

“Mas-mas, ini mau ngomongin pendakian ke Lawu loh ya, bukan mau bahas mantan kamu!” Sebagian sisi hatiku mulai nyinyir. “Ok, lanjut!

Cemoro Kandang

Singkat kata, aku bertemu Ramsol. Aku segera melajukan Qashwa menuju daerah Tawangmangu. Hujan gerimis nan rintik-rintik seperti mengiringi. Aku dan Ramsol mulai terlibat pembicaraan perkenalan. Ini hal penting, teman sejalan harus saling mengenal. Masalah saling memahami biarkan berjalan secara alami. Entah mengapa, sejenak aku terkenang Ang Dorji Sherpa, sahabat sherpa yang menemaniku melakukan pendakian ke Himalaya hingga Everest Base Camp dan Gunung Kalapattar. Dorji, demikian aku memanggilnya. Dia sangat baik. Tak mau meninggalkanku jika aku kelelahan dan harus berhenti di pinggir jalur. Dorji yang selalu tertawa jika aku mengeluh. Dorji yang selalu mengambil gambar dan tertawa senang jika aku memuji hasil fotonya. Dorji yang sudah beristirahat tenang di Himalaya. Dorji yang terkubur badai longsoran salju di Gunung Annapurna saat menemani pendaki dari Jerman. Dorji yang…. “RIP in Himalaya, my best sherpa friend..”

Ramsol akan menemani sekaligus membantu membawakan carrier dan perlengkapan. Aku sendiri tetap akan bawa daypack berisi kamera dan perlengkapan emergency. Ini hal penting dalam pendakian. Meskipun sudah ditemani dan dibantu oleh guide atau porter, beberapa perlengkapan tetap harus di bawa sendiri. Khususnya perlengkapan emergency. Peralatan P3K, snack dan minum, headlamp, senter, jaket, jika perlu sleeping bag, harus tetap di bawa. Kenapa? Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selama pendakian. Naudzubillah, andai ada kejadian tak terduga semisal gempa atau harus terpisah, setidaknya kita masih memiliki sesuatu untuk bertahan beberapa jam dan hari.

Hal ini biasanya terjadi juga bagi sebagian pendaki yang mendaki bersama pasangannya. Baik itu suami/istri, pacar atau gebetan. Karena ingin menunjukkan kasih sayang dan tanda cinta, sang pacar biasanya akan dibiarkan melenggang tanpa membawa apa-apa. Ini hal yang perlu diperhatikan. Sayang dan cinta tak harus di tunjukkan dengan (pura-pura) menjadi orang kuat. Harus dipikirkan keselamatannya jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Kira-kira begitu.

Kabut di Tawangmangu

Berselang 1 jam perjalanan, kami mulai disambut kabut putih tipis. Jalanan menanjak berbalut udara dingin menusuk tulang mulai menggoda. Hawa sejuk khas pegunungan, sesuatu yang sangat aku inginkan selama 2 tahun terakhir ini. Yah, sudah hampir 2 tahun sejak kali terakhir aku mendaki Gunung Jbel Toubkal di Pegunungan Atlas Maroko. Tepatnya awal tahun 2017. Sejak itu tak pernah mendaki gunung lagi. Tak heran jika pendakian kali ini aku sangat excited. Perasaan seperti perantau yang sudah lama tak pulang kampung. Rumah. Yah gunung adalah rumah keduaku. Rumah yang selalu membuatku ingin pulang.

Setiba di depan basecamp Cemoro Sewu, kami memarkir Qashwa di lapangan tenis di bawah menara pemancar. Selanjutnya menuju warung dekat basecamp untuk sarapan. Sekalian mengisi kotak makan siang untuk bekal. Kami kembali menuju basecamp untuk packing ulang. Ramsol menggabungkan barang-barang bawaannya ke dalam carrier. Tenda, Sleeping bag, kompor, flysheet beserta perlengkapan lainnya segera memenuhi carrier berukuran 60 liter itu. Aku sendiri membawa daypack berisi kamera, peralatan P3K, snack dan tumbler. Tak adil sih sebenarnya. Tapi kan aku dah lama gak nanjak, jadi bawaannya gak boleh berat-berat. Hehehe…..

Cemoro Sewu

Ramsol melakukan pendaftaran dengan mengisi lembar biodata dan membayar retribusi simaksi (Surat Ijin Masuk Lokasi) sebesar 15 ribu rupiah. Pos dipenuhi kerumunan pendaki dari berbagai daerah asal. Carrier di punggung dengan rain cover warna-warni terlihat kontras dengan warna puluhan mungkin ratusan motor di parkiran yang juga warna-warni. Kabut tipis sesekali gerimis setia menemani. Hawa dingin terbawa tiupan angin tak ayal membuatku harus merapatkan jaket yang tak terlalu tebal.

Langkah mulai terayun menyusuri jalanan berbatu. Terlihat beberapa tenda yang juga warna-warni di kiri kanan jalur.

“Mereka datang hanya untuk kemping dan sekedar jalan-jalan” Ramsol menjelaskan.

Aku manggut-manggut. Sebenarnya terselip rasa ragu. Apakah aku mampu mendaki hingga ke puncak mengingat selama 2 tahun tak pernah mendaki dan olah raga? satu-satunya latihanku 4 bulan terakhir ini adalah naik turun tangga kosan di lantai 4 yang memang tak ada lift.

Yah, sejak 4 bulan terakhir, sejak pindah kerja di daerah Slipi Jakarta Barat, aku memilih kos di belakang kantor. Jarak cibubur Jakarta Timur, tempat aku tinggal, dengan Slipi lumayan jauh. Di perparah lagi dengan aturan ganjil genap yang bikin sengsara. Qashwa yang berplat genap tak bisa di pakai ke kantor saat tanggal ganjil. Sebagai gantinya aku pakai Qishwa (motor). Namun banyaknya titik macet parah sangat menguras tenaga. Tiba di kantor sudah mandi keringat. Hilang sudah semua semangat kerja. Akhirnya aku memutuskan kos di belakang kantor. Hanya perlu jalan kaki selama 5 menit ke kantor, hitung-hitung latihan.

Aku mengajak Ramsol berhenti sejenak untuk berdoa. Al Fatihah terbaca dalam hati mengiringi pendakian ke Gunung Lawu kali ini. Selain berdoa, aku juga menjelaskan kondisiku ke Ramsol. Andai tak sanggup melanjutkan perjalanan, kami berdua akan turun. Ramsol meyakinkanku bisa mencapai puncak. Perlu aku sampaikan bahwa pendakian perlu persiapan fisik dan mental tentu saja. Tak peduli sudah berapa banyak gunung yang di daki, sudah setinggi apa, tetap selalu dibutuhkan persiapan fisik khususnya. Setiap gunung memiliki karakter dan tingkat kesulitan tersendiri. Setidaknya itu yang aku pelajari selama mendaki beberapa gunung baik di Indonesia maupun di negara lain. Intinya, jangan pernah memandang remeh gunung manapun. It is about respect!

Perjalanan diawali dengan menyusur jalur bebatuan yang mirip jalan di beberapa taman kota. Langkah awal pendakian berjalan mulus. Yang tak mulus hanya detak jantung di dada. Degupnya semakin kencang. Apakah ini yang dikatakan cinta? Hahahaha…. lebayyyyy…

Sesekali aku berhenti mengatur nafas. Ramsol akan berhenti di depan. Pendaki yang sedang turun dan menyapa menjadi hiburan dan semangat. Mayoritas mereka masih muda. Yaaah, seumuran lahhh….ama ponakanku. Hehehe.. Sesekali kami bertukar sapa meski tak saling mengenal. Kerap pula aku melontarkan candaan yang ditimpali dengan tawa renyah khas remaja.

Suasana itulah yang aku dambakan. Suasana di jalur pendakian. Suasana natural, alami. Senyum tulus tanpa kemunafikan. Bukan senyum yang selama ini aku temukan di Jakarta. Senyum yang….ah sudahlah…

Pos Bayangan

Berselang 15 menit jalan, kami tiba di pos bayangan. Pos sederhana dari kayu. Kami mampir istirahat menetralkan denyut jantung. Bisa juga untuk sebatang dua batang. asal jangan berbatang-batang. Nanti nafasnya susah. Beberapa pendaki yang ternyata dari Surabaya terlihat sedang rehat. Kami saling melempar canda.

Perjalanan di lanjutkan kembali. Nafas semakin tersengal menyusul semakin bertambahnya ketinggian. Barisan pepohonan dan semak seperti berbaris menyemangati. Gak ngaruh. Tetap aja ngos-ngosan. Aku semakin sering berhenti. Namun aku tak mengeluh. Ini hukuman buatku. Selama 2 tahun sibuk kerja sampai melupakan ‘rumah’. Jarang olah raga, rokok jalan terus. Sekarang? Rasain!

Pos 1

Dengan penuh perjuangan, aku bisa mencapai pos 1 setelah berjalan selama hampir 30 menit dari pos bayangan. Normalnya jalur itu bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari basecamp. Makanya…..

Usai pos 1, jalur berbatuan membentuk anak tangga semakin menanjak, menanjak dan menanjak. Rintik hujan terkadang mencoba menghibur, masih gak ngaruh juga. Ramsol coba mengajak diskusi. Dia tetap berjalan santai. Tak beda jauh denganku yang berjalan… ngos-ngosan. Sesekali aku menjawab pertanyaannya. lebih banyak nggak-nya. Ramsol tetap sabar. Sesekali aku tebarkan pandangan ke sekeliling. Pohon pinus dan pohon perdu berdaun hijau segar sedikit menghibur. Barisan pendaki yang turun dan menyapa menghadirkan kenikmatan tersendiri. Pantas saja tadi di parkiran motor sangat banyak. Mirip parkiran motor di mall saking banyaknya. Ternyata memang banyak pendaki baik yang baru naik atau sudah usai. Saat itu memang libur panjang Natal. Aku sengaja naik hari senin mengharapkan agar di atas tidak terlalu ramai. eh apa tadi? Di atas? Memang bisa nyampe? Jalan aja dulu, baru juga pos 2.

Pos 2 Watu Gedheg

Gorengan di warung Pos 2 segera habis sesaat setelah aku meletakkan daypack di tanah. Aku kelaparan. Mungkin pengaruh cuaca dingin. Hujan rintik-rintik tak aku pedulikan. Segelas teh panas juga menghilang dalam sekejap. Banyak pendaki berkumpul di Pos 2. Dari berbagai daerah. Madiun, Ngawi, Surabaya, Magetan, Solo, Jakarta dan masih banyak lagi. Meski tak saling kenal, kami bisa menjalin percakapan. Begitulah pendaki. Tak perlu kenal untuk saling menyapa dan bercanda.

Beberapa pendaki bercerita jika semalam terjadi hujan dan badai. Nampaknga mereka dalam perjalanan turun. Mereka hanya bisa sampai pos 3 karena salah seorang rekan mereka sakit. Hal inilah yang perlu diperhatikan saat mendaki. Kesiapan fisik dan kondisi cuaca. Meski tak ada larangan mendaki saat musim hujan, namun lagi-lagi perlu persiapan yang matang. Fisik dan perlengkapan. Agak miris rasanya melihat pendaki-pendaki yang masih muda hanya mengenakan jeans, celana pendek hingga sarung, sandal jepit untuk mendaki. Tak bermaksud sombong dan menggurui, hal ini bisa berakibat fatal. Hal yang terlihat sepele. Namun akibatnya tak sesepele yang dibayangkan bahkan mungkin tak pernah di pikirkan. Prihatin….

Perjalanan ke Pos 3 berlanjut. Menurut Ramsol, ini jadi akan rute terpanjang. Bisa mencapai 1.5 jam. Kaki, betis dan dengkul masih sanggup. Hanya detak jantung yang suka debar-debar manja. Hayuk lanjut.

Perjalanan ke pos 3 sungguh menguras tenaga. Jalur menanjak membuatku harus sering berhenti mengatur nafas. Di saat-saat berhenti di jalur itulah terlihat satu jenis satwa yang bertengger manja di dahan pohon. Bulu abu-abu kehitaman dengan paruh kuning gading.

” Itu Jalak Lawu,” Bisik Ramsol

“Dia sangat jinak dan kerap memandu pendaki jika ada yang tersesat. Konon burung itu jelmaan dari abdi Prabu Brawijaya. Dia suka mendekati pendaki dan memakan sisa makanannya ” Lanjutnya.

Jalak Gading

Soal jinak itu sudah aku buktikan. Saat aku mendekat untuk mengambil fotonya, sang jalak hanya terdiam memainkan kepala dan ekornya. Sesekali aku merasa matanya menatapku. Terlepas apakah burung itu jelmaan atau bukan, yang jelas satwa cantik itu adalah penghuni Gunung Lawu. Sama dengan satwa penghuni lainnya. Gunung Lawu adalah rumahnya, para pendaki adalah tamu. Tentu saja tamu yang datang tak boleh mengganggu rumah sang pemilik. Anda tentu tak ingin jika ada tamu berkunjung ke rumah anda lalu merusak barang milik atau bahkan anda kan?

Mengenai burung itu bisa menuntun pendaki, itu bisa saja berupa suggesti sang pendaki saja. Populasi Jalak Lawu (sering juga di namai Jalak Gading) cukup banyak. Bentuknya pun hampir mirip. Bisa saja pendaki melihat burung yang berbeda dan mengikutinya. Mereka menyangka hanya satu burung yang menuntunnya mengikuti jalur. Jalur Cemoro Sewu terlihat jelas karena sudah di beri pengerasan dengan batu. Kemungkinan tersesat kecil selama tidak keluar jalur.

Benar kata Ramsol. Jalur dari pos 2 ke pos 3 terasa sangat panjang dan melelahkan. Kabut yang sesekali menyapa membawa hawa dingin menggetarkan badan. Rintik hujan gerimis semakin melengkapi penderitaan. Namun Tekad sudah bulat untuk terus berjalan. Daypack sudah di bungkus rain cover. Ramsol sudah terbungkus jas hujan. Jalan ala pole-pole (pelan-pelan) senantiasa terayun. Hingga akhirnya, tibalah kami di pos 3 yang sudah fully booked.

Pos 3

Baru saja meletakkan daypack ke lantai pos yang setengah permanen, hujan turun dengan derasnya. Untung sudah tiba. Kami mengeluarkan bekal setelah duduk menumpang di matras yang sudah terbentang. Pendaki lain mengeluarkan kompor. Ramsol mengeluarkan bekal dari dalam carrier. Waktunya makan siang. Waktu sudah menunjukkan jam setengah 2. Kelar makan siang, hujan belum juga reda. Kami bercengkerama dengan sesama pendaki. Sebagian memilih melanjutkan perjalanan ke pos 4 menembus hujan. Ramsol memandangku. Aku tahu artinya. Apakah kita akan ikut berjalan menembus hujan? Aku menggeleng. Kita tak perlu terburu-buru. Keselamatan dan kesehatan tetap menjadi hal terpenting. Andai harus berjalan malam atau bahkan menginap di pos 3 juga tak apa. Santai aja bro….

Untungnya hujan reda. Bahkan menyapu kabut yang menghalangi pandangan. Terlihat gugusan perbukitan dari kejauhan. Cerah. Meski sekejap namun cukup menghibur.

Kami melanjutkan perjalanan. Tujuannya pasti pos 4. Konon waktu tempuhnya tak selama pos 2 ke pos 3. Pos akan di tandai dengan adanya railing (pegangan dari besi) yang menandakan pos 4 sudah dekat. Jalur menanjak berbatu membentuk anak tangga tetap mendominasi. Seperti biasa, nafas tetap tersengal. Bukan sesekali lagi, tapi banyak kali aku harus berhenti. Ramsol pun kembali berhenti saat aku isitrahat, meskipun tak mendekat. Persis seperti Ang Dorji lakukan.

Pos 4 Watu Kapu

Setelah bersusah payah menaiki anak tangga, kami tiba di pos 4 atau dikenal juga dengan nama pos Watu Kapu. Mungkin artinya batu kapur karena terdapat dinding batu berwarna putih menyerupai batu kapur. Kami hanya istirahat sejenak. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Perjalanan ke Pos 5 dilanjutkan.

Selepas pos 4, masih harus menanjak beberapa menit. Setelahnya kami tiba di jalur landai. Pertanda pos 5 sudah dekat. Kabut gelap kembali menyelimuti. Tak pakai lama, kami tiba di pos 5. Segera kami menuju warung berterpal orange. Dalam keremangan warung (tapi bukan warung remang-remang) terlihat beberapa orang sedang istirahat. Aku dan Ramsol mengambil tempat dan memesan teh hangat. Nah inilah untungnya mendaki Gunung Lawu. Sebenarnya kita tak perlu membawa kebutuhan logistik. Banyak warung buat tempat makan dan minum. Hampir setiap pos.

Warung Pos 5

Usai istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Ramsol mengajak nge-camp (mendirikan tenda) di puncak. Namun mengingat situasi cuaca yang kurang bersahabat aku meminta kita tidur di Mbok Yem aja. Meski belum kenal, cerita tentang beliau sudah beredar luas di kalangan pendaki. Aku ingin bertemu dan berkenalan langsung dengan beliau. Sekaligus ingin merasakan sensasi tidur di dalam warungnya.

Gelap mulai turun, waktu menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit. Balutan kabut seperti enggan beranjak beradu tetesan gerimis. Aku sudah berbalut jas hujan. Celana yang basah sudah mulai membuatku menggigil. Meski sudah pernah berjalan dalam situasi lebih dingin dari pada itu. lagi-lagi kita tak boleh memandang remeh kondisi alam dan cuaca. Aku tetap harus berhati-hati.

Tak lama berselang kami tiba di warung Mbok Yem. Ramsol segera masuk untuk survey lokasi. Jika masih ada tempat, kami akan menginap di dalam. Namun jika sudah penuh, kita akan coba warung lain. Jika masih penuh juga, kami akan mendirikan tenda. Itulah pertimbangan dalam pendakian. Kita harus selalu siap dengan kondisi terburuk. Jangan mau merepotkan orang lain. Segala perlengkapan harus di siapkan. Prinsipnya, lebih baik perlengkapan itu tidak terpakai namun tersedia dari pada kita butuh tapi tak ada. Jangan pula meminjam milik orang lain. Bukan tak mungkin mereka juga butuh.

Tiba di dalam warung, Mbok Yem terlihat sibuk. Ramsol mengambil tempat buat aku. Karena letih yang mendera, aku segera masuk ke dalam sleeping bag usai melepas jas hujan. Kepala agak sakit. Tadi di jalur aku sempat menghirup bau belerang dan merasakan sakit kepala setelahnya. Apesnya, aku lupa memeriksa tas P3K sebelum berangkat. Ternyata tak ada obat sakit kepala. Ramsol membantu mencarikan ke Mbok Yem. Aku lalu tertidur usai menenggak obat.

Aku baru terbangun saat Ramsol membangunkan untuk makan malam. Masih setengah teler, aku memaksa diri untuk makan. Nasi, sup kentang dan rempeyek yang sudah hancur lebur. Itu pun sudah terasa sangat nikmat. Setelahnya aku lanjut tidur. Beberapa orang yang terlibat pembicaraan di sebelah tak menghalangiku untuk terbang ke alam mimpi.

Jam 5 aku terbangun. Ramsol yang melihatku terbangun ikutan bangun.

“Mo muncak jam berapa, bang?” Tanyanya.

“Jam 5.30 ya” Jawabku.

Ramsol bangun dan melipat sleeping bag. Aku mengeluarkan dry bag yang akan dibawa untuk menyimpan kamera dan beberapa cemilan serta air minum. Perjalanan ke Puncak Hargo Dumilah, demikian nama puncak Gunung Lawu akan ditempuh dalam waktu 30 menit. Tak terlalu lama, pikirku.

Kami mulai membelah kegelapan subuh berbalut kabut. Masih belum banyak yang bergerak. Hanya aku dan Ramsol di jalur ke puncak. Benar adanya, berselang 30 menit kami sudah tiba di puncak Hargo Dumilah, Puncak Gunung Lawu di ketinggian 3265 mdpl. Seperti biasa aku sujud syukur. Akhirnya aku bisa menjejakkan kaki di puncak Gunung yang sudah lama ingin aku daki.

Puncak Lawu 3265 mdpl


Beberapa pendaki terlihat di sana. Tugu batu berwarna hitam sebagai penanda titik triangulasi puncak lawu berdiri dengan gagah. Aku bergantian Ramsol berfoto. Tak banyak yang bisa kami lihat selain tugu dan papan penanda puncak. Kabut menutupi seluruh area seputar puncak. Tak ada sunrise apalagi samudera awan. Namun aku tak mengharapkan itu lagi. Mendaki gunung bagiku saat ini adalah bagaimana bisa mencapai puncak. Puncak adalah target dan tujuanku. Selama masih memungkinkan aku akan selalu berusaha untuk bisa mencapainya. Pemandangan indah hanyalah bonus semata. Aku tak akan kecewa meski puncak berselimut kabut dan hujan badai sekalipun. Prinsip seperti ini mungkin berbeda bagi sebagian pendaki. Tak apalah, selama prinsip itu tidak saling mengganggu dan membuat kita terpecah. Apalagi sampai membahayakan jiwa orang lain. Mencapai puncak memang tak mudah. Hujan, angin dan badai senantiasa mengintai. Itulah tantangan. Kita perlu persiapan matang dan fisik yang kuat dan prima. Yang terpenting cara menghadapi dan melewati tantangan itu. Bukankah hidup juga seperti itu?

Usai foto-foto, kami beranjak turun seiring semakin banyaknya pendaki yang tiba di puncak. Jalur turun yang mulai licin mewarnai perjalanan kami ke warung Mbok Yem. Tak berselang lama, kami sudah berada di dalam warung.

Rencana awalnya kami ingin sarapan. Namun apa daya, pop mie yang ingin kami pesan sudah habis. Akhirnya kami hanya mengunyah beberapa cemilan di iringi segelas teh manis. Pagi ini Ramsol akan mengajakku explore area sekitar. Tujuan utama kami awalnya hanya Pasar Dieng atau lebih dikenal dengan Pasar Setan. Mitosnya, di kawasan itulah sering terdengar suara keramaian mirip pasar. Bahkan ada yang mengatakan bahwa jika melintas daerah itu, si pelintas harus meletakkan barang sebagai tanda pasar. Entah benar atau tidak. Aku ingin sekedar melihatnya saja.

Segelas teh manis lumayan menghangatkan, kami meninggalkan warung Mbok Yem. Ramsol mengajakku berputar melewati Hargo Dalem yang konon merupakan tempat petilasan atau pertapaan. Selain Hargo Dalem, di sebelah atas juga ada semacam pendopo yang konon sering digunakan untuk tempat acara atau upacara ritual. Khususnya di malam tanggal 1 Suro, tempat itu akan penuh sesak oleh penduduk lokal.

Kabut masih menyelimuti saat kami melangkah turun menyusuri jalur. Sebenarnya jalur itu merupakan salah satu jalur pendakian dari Candi Cetho. Salah satu jalur favorit karena tingkat kesulitan yang cukup tinggi.

Pasar Dieng atau Pasar Setan

Tak berapa lama, kami tiba di kawasan Pasar Dieng atau Pasar Setan. Sebuah papan bertuliskan ‘Pasar Dieng’ aku singgahi untuk mengambil gambar. Kawasan landai yang dipenuhi ilalang dan bebatuan dikelilingi pepohonan. Tak ada bisikan yang menunjukkan keramaian atau apapun. Saat itu hanya aku dan Ramsol yang ada di sana. Tak ada apa-apa. Hanya terlihat beberapa batu tersusun menyerupai pagoda mini. Meski demikian aku tak mengucap sepatah katapun. Bagiku, dimana bumi dipijak, di situ langit di junjung. Tempat ini pasti berpenghuni dan merekalah pemilik kawasan itu. Sama seperti burung Jalak Lawu. Kita wajib menghargai kearifan lokal dan pemilik tempat. Tak peduli apakah pemiliknya manusia atau bukan. Pastinya ada aturan-aturan yang harus di patuhi. Hanyalah aturan standard yang bisa saja berlaku di seluruh tempat, bukan hanya di Lawu atau Pasar Dieng ini. Hal itu aku percayai.

“Boleh kita nge-camp di sini?” Tanyaku ke Ramsol

“Boleh aja asal berani” jawabnya sambil tersenyum.

kami melanjutkan perjalanan. Ramsol bermaksud mengajakku ke suatu tempat yang menurut dia indah. Aku hanya ikut saja. Jalur yang dilewati semakin menurun dan licin di beberapa titik. Aku hanya mmeikirkan bagaimana nanti naiknya. Tapi sudahlah jalani saja. Semoga keindahan tempat yang akan didatangi sepadan. Sesekali kami berpapasan dengan pendaki yang memilih jalur Candi Cetho dan akan muncak. Seperti biasa, kami bertegur sapa.

Bulak Peperangan

Tak berapa lama, kami tiba di sebuah kawasan hijau yang sangat luas. Lebih mirip sabana. itulah Bulak peperangan dan Gupak Menjangan. Entah mengapa di sebut bulak peperangan. Mungkin jaman dulu kawasan itu pernah dipakai sebagai medan perang. Kalau Gupak Menjangan, secara logika bisa ditebak. Tempat itu pasti sering menjadi tempat rusa atau menjangan berkumpul dan bermain sambil mencari makan. Kawasan itu sangat indah. Dikelilingi gugusan perbukitan berpagar pepohonan menjadikan kawasan itu mirip mangkok raksasa. Tak heran jika kawasan itu sering diselimuti kabut. Kabut seperti terperangkap dalam cekungan. Namun itulah yang menjadikannya terlihat indah. Beruntung, saat di sana, terlihat gumpalan kabut seperti berhenti di tengah sabana. Tentu saja aku tak melewatkan moment itu untuk berfoto.

Gupak Menjangan

Kami terus melangkah hingga tiba di kawasan yang ditumbuhi banyak pohon pinus. dari kejauhan terlihat gugusan perkampungan dan perbukitan di balik awan dan kabut tipis. Indah. Aku berjanji ke Ramsol untuk kembali ke tempat itu suatu saat untuk sekedar kemping dan istirahat.

Puas berfoto, kami melangkah pulang menuju Warung Mbok Yem. Trek menanjak yang sudah aku perkirakan mewarnai perjalanan. Tak mengapa karena keindahan pemandangan yang aku lihat barusan sepadan dengan perjalanan menanjak yang harus dilalui untuk pulang. Kembali kami melintasi Pasar Setan. Tetap tak terdengar bisikan atau gemuruh suara apapun. Tenang.

Setiba di Mpok Yem, kami segera mengemasi carrier dan daypack. Kami akan segera meninggalkan Gunung Lawu. Jalur yang akan diambil juga berbeda. Kali ini kami akan melewati jalur Cemoro Kandang. Trek di jalur ini sangat berbeda dengan Jalur Cemoro Sewu. Kali ini treknya akan didominasi dengan tanah punggungan gunung dan bukit. Jalur yang licin menjadi tantangan tersendiri. Nah, jika melewati jalur ini, pendaki harus berhati-hati. Kemungkinan tersesat cukup besar. Banyaknya jalur air akan membingungkan. Jalur ke bawah tak semua menuju desa. Ada juga yang menuju tebing dan kawah. Itu yang membuatnya berbahaya jika tersesat apalagi dalam kondisi gelap. Lebih aman bersama orang lokal yang sudah memahami jalur dan area itu. Seperti si Ramsol ini. Hehehe

Jalur licin oleh hujan menjadikan perjalanan turun ini terasa sangat menyengsarakan. Tak jarang kita harus bergantung di dahan untuk bisa turun. Kerap kami berpapasan dengan pendaki yang baru akan naik. Tak adanya warung di semua pos melengkapi penderitaan. Tanpa sarapan, kami hanya mengunyah snack yang masih tersisa. Rintik hujan gerimis senantiasa menyertai. Namun aku suka karena bisa merasakan 2 jalur berbeda dengan karakter yang juga sangat berbeda. Ingin rasanya suatu saat mencoba jalur ini untuk naik dan turun lewat jalur Candi Cetho. Biar lengkap. Hehehe

Jam menunjukkan pukul 2 siang saat kami tiba di Basecamp Cemoro Kandang. Kami harus berjalan sekitar 300 meter menuju Basecamp Cemoro Sewu untuk makan siang dan mengambil Qashwa yang sudah terparkir sehari semalam.

Selanjutnya perjalanan ke Kota Solo melewati kemacetan di Tawangmangu mewarnai perjalanan. Setelah mengantar Ramsol, aku segera menjemput Mama yang sudah menunggu di hotel. Selanjutnya aku meninggalkan Kota Solo melewati jalan Tol Jawa yang baru usai di resmikan beberapa hari lalu. Meski lelah mendera, aku masih harus menunda istirahat dengan menyetir sejauh 540 km untuk kembali pulang ke Jakarta. Namun aku masih terus bersemangat karena salah satu keinginan lama untuk mendaki Gunung Lawu sudah tercapai. Sampai jumpa di pendakian berikutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s