Tips : Traveling dan Berpetualang di Bulan Ramadhan

Ramdhan
Sunset di Ngurah Rai Airport, Bali (Foto : Koleksi Pribadi)

Bulan Ramadhan sebentar lagi. Umat muslim sedunia sedang mempersiapkan diri memasuki bulan suci penuh berkah itu. Persiapan diri secara fisik dan juga bathin untuk menahan lapar, dahaga dan hawa nafsu.  Meski demikian,  puasa sebulan penuh selama Bulan Ramadhan bukan berarti tak melakukan apapun termasuk traveling. Perlu diingat bahwa selain karena perintah Allah, puasa juga bertujuan untuk melatih kepedulian dan kepekaan sosial. Dengan berpuasa kita bisa ikut merasakan hal yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Bukan hanya selama Ramadhan, di bulan-bulan lainnya pun mereka terkadang bahkan mungkin hampir setiap hari harus menahan lapar dan dahaga karena keterbatasan ekonomi. Jadi tak perlu membatasi gerak selama puasa, tetap melakukan aktifitas seperti di luar bulan Ramadhan sebagaimana layaknya apa yang saudara-saudara kita alami. Dengan demikian kita akan memahami makna yang terkandung dalam puasa.

Melakukan traveling selama berpuasa pada dasarnya hampir sama saat melakukannya di luar Ramadhan. Di dalam Islam diajarkan bahwa orang yang sedang melakukan perjalanan jauh atau musafir tak wajib melaksanakan puasa namun harus menggantinya di hari lain di luar bulan Ramadhan. Namun jika merasa mampu menjalaninya, tak ada salahnya tetap melaksanakannya. Meski demikian, mengingat kondisi tubuh yang sedang menahan lapar, haus dahaga, emosi serta hal lainnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya:

Mesjid di New Delhi, India (Foto Koleksi Pribadi)

1. Cari tahu jadwal imsak dan berbuka puasa

Melakukan perjalanan di Indonesia tentu tak terlalu sulit mengingat hampir seluruh daerah di tanah air memiliki umat muslim meskipun dalam jumlah yang berbeda. Meski demikian negeri kita memiliki 3 zona waktu berbeda yakni Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Timur (WIT). Ini ada hubungannya dengan jadwal imsak dan berbuka. Cobalah cari tahu kedua jadwal itu sebelum memulai perjalanan jadi bisa memasukkannya dalam penyusunan jadwal atau schedule (Itinerary. Begitu pula jika melakukan perjalanan keluar negeri, tetap perlu mencari tahu jadwal Imsak dan buka puasa daerah atau negara tujuan. Semua tersedia di internet baik dalam bentuk artikel, blog. Anda bisa bertanya di komunitas traveler yang jumlahnya cukup banyak.

Cari tahu pula di daerah mana terdapat mesjid. Biasanya kawasan sekitar mesjid adalah tempat tinggal kaum muslim dan tak jarang ada hotel atau penginapan. Selain mudah mendapatkan makanan halal saat sahur dan berbuka juga bisa berinteraksi dengan sesama muslim dari lain daerah atau negara. Melaksanakan ibadah Ramadhan khususnya shalat tarawih pastinya akan memberikan kenangan tersendiri selama perjalanan anda.

Mesjid Negara, Malaysia (Foto Koleksi Pribadi)

2. Hindari berpergian di awal dan akhir puasa (kecuali mudik), jika memungkinkan.

Hal ini berhubungan dengan kondisi tubuh untuk perjalanan di awal puasa, dan berhubungan dengan arus mudik (di Indonesia) saat menjelang akhir Ramadhan. Berpuasa pada dasarnya adalah lebih ke faktor kebiasaan. Di awal puasa, tubuh sedang melakukan adaptasi dan perlu beberapa hari (biasanya 2-3 hari) untuk menyesuaikan diri dengan jam makan, minum dan tidur. Di saat itu juga kita akan merasakan badan sedikit lemah terkadang pusing atau beberapa gangguan lainnya. Tapi itu hanya sementara. Setelah terbiasa maka akan hilang dengan sendirinya.

Di akhir puasa khususnya di Indonesia dan beberapa negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei juga mengenal budaya mudik saat lebaran. Kalau untuk Indonesia tak perlu di ceritakan, pasti semua sudah paham bagaimana kondisi jalanan di akhir Ramadhan atau menjelang lebaran. Kemacetan bahkan kesemrawutan melanda dimana-mana khususnya di daerah-daerah yang berpenduduk mayoritas muslim. Beberapa negara lain juga mengalami hal yang sama meski tak persis seperti yang terjadi di Indonesia. Selain masalah mudik, ada beberapa negara juga menutup tempat-tempat wisatanya menjelang lebaran. Salah satunya yang pernah aku alami saat melaksanakan puasa dan lebaran di Kashmir, India. Mencari tahu situasi yang terjadi saat kita nanti sedang berada di tempat tujuan adalah cara terbaik. Bisa melalui internet atau melakukan korespondensi dengan teman atau kenalan di sana.

Traveling di Bulan Ramadhan ke Pulau Sempu, Malang (Foto : Koleksi Pribadi)

3. Persiapkan bekal

Hal ini sangat penting. Khususnya jika berpergian jauh dan akan melaksanakan buka puasa atau sahur di perjalanan atau di atas pesawat. Perhatikan jadwal perjalanan anda. Jika keluar negeri, perhitungkan dan pertimbangkan pula waktu saat harus melewati imigrasi negara tujuan. Sebuah pengalaman saat transit di Kalkuta dalam perjalanan ke Kashmir bulan puasa tahun lalu, aku harus melewatkan waktu selama 5 jam di Imigrasi untuk pengurusan Visa on Arrival (VoA). Landing di Airport Kalkuta jam 1 pagi, aku baru bisa meninggalkan imigrasi menjelang pukul 6 pagi untuk mendapatkan selembar Voa. Jadilah aku harus sahur di depan counter imigrasi dan tidak bisa kemana-mana. Untungnya aku sudah membawa beberapa roti dan sebotol air mineral untuk sahur.

Perlu diperhatikan bahwa ada beberapa airport yang tidak mengijinkan penumpang membawa air minum ke cabin pesawat. Sampaikan ke petugas airport bahwa anda sedang berpuasa dan membutuhkan air untuk berbuka atau sahur. Jika mereka tetap menolak, tak ada pilihan lain selain membeli air minum di atas pesawat yang harganya pastinya sangat mahal. Siapkan uang anda di tas atau dompet yang anda bawa ke tempat duduk. Bukan di simpan di tempat tas yang diletakkan di Kompartemen cabin di atas. Hal itu akan menyulitkan saat akan melakukan pembayaran. Beberapa airlines terkadang memberikan air minum dan makanan untuk sahur dan berbuka tapi tak semua seperti itu. Jadi lebih baik jaga-jaga. Harus diingat bahwa buka puasa dan sahur adalah hal yang sangat penting untuk menjaga stamina anda selama perjalanan.

Trekking di Pulau Sempu, Malang saat Ramadhan (Foto : Koleksi Pribadi)

4. Kenali ketahanan fisik dan tubuh

Aktifitas seperti naik gunung, panjat tebing, mountain bike, off road, caving bisa saja dilakukan selama yakin dengan kemampuan akan ketahanan tubuh dan fisik. Jangan memaksakan diri. Tapi untuk aktifitas yang dianggap membahayakan ‘kelangsungan’ puasa jika memungkinkan bisa di tangguhkan dulu hingga usai Ramadhan. Contohnya menyelam, rafting, bungy jumping khususnya aktifitas di air lainnya. Beberapa teman kerap melakukan hiking saat bulan puasa. Sejauh ini mereka baik-baik saja demikian juga dengan puasanya, meski ada beberapa yang terpaksa membatalkannya. Bersama seorang rekan, Aku pernah melakukan Caving di goa jomblang dan camping di pantai Indrayanti saat bulan puasa beberapa waktu lalu. Pernah juga melakukan solo traveling ke Pulau Sempu dan Balekambang di Malang. Saat itu aku ditemani salah seorang Jagawana Pulau Sempu harus melakukan trekking membelah cagar alam pulau sempu selama 4 jam dalam kondisi berpuasa. Alhamdulillah puasa kami lancar-lancar saja.

Caving di Goa Jomblang saat puasa Ramadhan (Foto : Koleksi Pribadi)
Traveling selama Ramadhan takkan mengalami kendala berarti selama tahu kemampuan serta ketahanan fisik diri dan tubuh. Jika merasa tak sanggup dan hal itu akan menggangu puasa, lebih baik istirahat hingga waktu berbuka tiba. Perlu diingat bahwa puasa adalah kewajiban sementara traveling dengan segala rangkaian aktifitasnya hanyalah sebuah hobby.

5. Sahur di Hotel

Jika traveling di Indonesia, hal ini bukan suatu kendala. Hampir semua hotel menyiapkan sahur bahkan ada beberapa yang memberikan ta’jil gratis saat berbuka puasa. Kendala akan terasa saat  traveling di luar negeri khususnya di negara yang penduduknya bukan mayoritas muslim. Saat menginap di hotel atau penginapan yang menyediakan sarapan, silahkan tanya ke receptionist-nya apakah bisa mendapatkan sarapan anda di jam sahur. Jika jawabannya tidak, maka tak ada pilihan lain kecuali menyiapkan sendiri sahurnya. Belilah makanan di malam hari sesaat sebelum balik ke hotel. Seperti dianjurkan, perbanyak minum air putih dan makan buah-buahan untuk menjaga stamina.

Penduduk Kashmir shalat di atas Batu (Foto: Koleksi Pribadi)

6. Manfaatkan waktu luang

Meskipun sedang traveling tak berarti harus mengurangi nilai ibadah Ramadhan. Banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang bisa menambah pahala puasa. Silahkan download aplikasi Al-Quran yang banyak tersedia di smartphone. Anda bisa membacanya saat sedang di perjalanan semisal di pesawat atau bis ataupun sedang beristirahat. Usahakan untuk bisa melakukan shalat setiap menemukan mesjid meskipun hanya shalat sunat. Design dan interior mesjid yang berbeda dengan mesjid yang selama ini anda jumpai di tempat asal bisa menghadirkan kesan tersendiri.

Traveling di bulan Ramadhan sangat menyenangkan dan memiliki beberapa kelebihan dibanding traveling di hari-hari biasa. Tempat wisata yang sepi karena tak banyak pengunjung, biaya hotel dan penginapan yang lebih murah serta pemandangan alam yang tetap menakjubkan. Aku lebih memilih menikmati sunset sambil menunggu bedug maghrib dibanding hanya duduk di depan TV ataupun menunggu saat berbuka di mall yang sudah aku lakukan bertahun-tahun.

Selamat melaksanakan puasa Ramadhan dan have a nice trip jika sedang melakukan traveling.

 

Advertisements

4 thoughts on “Tips : Traveling dan Berpetualang di Bulan Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s