Di Terjang Badai dan Bisikan Misterius di Gunung Cikuray

P_20180114_074037[1]

Untuk kesekian kalinya aku mendaki Gunung Cikuray. Berketinggian 2821 meter di atas permukaan laut (mdpl), gunung Cikuray terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sejak tahun 2015 aku hampir tiap tahun mendaki ke sana. Kali ini adalah kali ke 4. Jalurnya pun tetap sama, Pamalayan Kecamatan Bayongbong. Meski ada beberapa jalur untuk mendaki hingga ke puncak, diantaranya jalur pemancar dan cinta nagara, namun bagiku Jalur Bayongbong tetap the best, tanjakannya! Hampir setiap pendakian di tahun berbeda aku mendaki dengan orang yang berbeda. Bahkan tahun lalu aku mendaki seorang diri. Uniknya, setiap pendakian memiliki cerita dan nuansa yang berbeda. Seperti pendakian akhir pekan kemarin, ceritanya bahkan paling seru dan ‘sedikit’ menyeramkan. Begini kisahnya…

Usai menyelesaikan semua pekerjaan kantor di hari Jumat, aku langsung melesat meninggalkan kebisingan dan hiruk pikuk ibukota melewati beberapa ruas jalan tol. Waktu menunjukkan pukul 5.30 sore saat aku meninggalkan kantor di bilangan Pondok Indah. Seperti biasa, kemacetan lalu lintas ibukota senantiasa mengawal. Aku cuek aja, tetap semangat. Mungkin karena sudah lama tak pernah merasakan naik gunung, setahun lebih. Rasanya sudah seperti berabad-abad… Makanya aku semangat sekalliiii…

Usai berjibaku dengan mobil-mobil pribadi dan para TG (Truk Gandeng) di toll Jorr dan Cikampek, aku tiba di rest area km 57 Karawang tepat jam 8 malam. Kebayang kan, jarak 60 km dari Pondok Indah ke Karawang ditempuh dalam waktu 2,5 jam! Bete? Nggak juga. Itu tadi, semangaaattt… Setahun lebih baru nanjak lagi cuyyyy….. Rasanya sudah seperti ingin ketemu gebetan aja.. Halahh..

Eat, Pray dan Isben (isi bensin) adalah aktifitas rutin saat mampir di rest area manapun. Demikian juga malam itu. Tak lupa top up e toll card agar tak menemui kendala saat keluar tol nanti. Berselang 1 jam, Aku sudah kembali menyusuri kelamnya jalanan malam di toll Cikampek sebelum belok kiri ke Tol Cipularang. Aku seperti merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa yang menghadirkan aliran semangat hidup bak aliran lava letusan gunung berapi. Begitu menggebu dan bergejolak. Betapa tidak, setahun lebih belakangan ini aku hanya berkutat dengan pekerjaan bahkan di akhir pekan. Berada di belakang kemudi di jalan-jalan pedesaan tengah malam seperti saat ini adalah moment yang sangat aku rindukan. Aku merasakan diri menikmati kebebasan yang mengalirkan arus adrenalin ke seluruh relung pembuluh darah. “Ini baru namanya hidup!”

Pukul 12 malam aku tiba di Kota Garut. Hawa dingin menyergap saat perlahan aku buka kaca mobil. Nikmat, udara AC nan sejuk yang kunikmati setiap saat di Jakarta tak ada apa-apanya. Aku langsung menuju rumah Aldi, kawan asli Garut yang akan ikut mendaki bersamaku. Biasa, Akamsi! (Anak Kampung Sini). Aldi yang sudah terlelap menungguku muncul dengan wajah yang amburadul. Sehari-harinya memang begitu tampangnya. Meski ancur begitu, dia atlit Kota Garut loh, atlit lompat jauh. Dalam kejurnas terakhir yang dia ikuti, dia merebut medali perunggu. Prestasi kan? Tanpa banyak ngomong Aldi menaikkan barang-barangnya ke bagasi mobil. Kami langsung melesat menembus kabut dingin kota Garut yang perlahan mulai terkulai, lemah dalam keremangan malam menjelang pagi. Pamalayan Kecamatan Bayongbong, titik awal pendakian adalah tujuan kami.

Tepat pukul 1 dinihari, kami tiba di depan basecamp pendakian. Tak ada siapa-siapa di sana. Sepi. Hanya suara gesekan daun bambu yang terdengar. Banyak perubahan terjadi sejak kedatanganku setahun sebelumnya. Basecamp bambu yang bisa digunakan pendaki yang kemaleman untuk menginap kini tak ada lagi, sudah berganti bangunan permanen. Bapak dan Ibu penjaga warung yang biasa aku tumpangi untuk parkir mobil sepertinya sudah terlelap. Aku berjalan ke arah basecamp, sepi. Dari jendela tanpa tirai bisa terlihat seseorang sedang tidur dengan lelapnya di atas sofa panjang. Aku tak enak hati mengetuk pintu dan membangunkannya. Aku kembali ke Aldi yang menunggu dekat mobil. Aku mengajaknya mendirikan tenda sambil menurunkan carrier dari mobil. Dalam balutan dingin, aku dan Aldi mendirikan tenda. Usai memasukkan barang-barang, kami ngobrol sejenak sambil menikmati potongan martabak manis yang kami beli di perjalanan tadi. Tak lama, Aldi mengambil posisi tidur dalam balutan sleeping bag. Aku melakukan hal yang sama. Aku mencoba memejamkan mata. Aku berharap bisa segera terlelap karena kelelahan usai bekerja seharian dilanjutkan dengan menyetir selama hampir 6 jam dari Jakarta. Namun ternyata mata sulit terpejam. Permukaan tanah berbatu di bawah matras terasa mengganggu. Selama setahun tak tidur di dalam tenda ternyata telah mengubah tubuhku menjadi manja. Aku membolak balik badan, gelisah. Aku harus tidur malam (atau pagi?) ini, besok akan mendaki kurang lebih 6-7 jam. Badan harus dalam kondisi fit selama pendakian. Aku coba memejamkan mata, masih tetap tak bisa terlena. Hanya bolak-balik badan. Sementara Aldi sudah melayang ke alam mimpi. Sementara aku? Tak sedetik pun terlena hingga adzan subuh terdengar dari kejauhan.

Aku membangunkan Aldi untuk shalat subuh. Kami berdua melaksanakan shalat subuh di tempat yang berbeda. Aldi memilih mushalla dekat parkiran, aku berjalan sedikit agak jauh ke mesjid. Usai shalat kami kembali bertemu di tenda. Aku kembali mencoba memejamkan mata, tak kupedulikan Aldi yang mencoba ngajak ngobrol. Akhirnya aku bisa terlena.

Aku terbangun jam 6.30 pagi. Hari mulai terang. Kusingkap sleeping bag. Kusapa pagi dingin nan mendung menggelayut di langit Garut. Aku keluar tenda dan berjalan ke arah warung. Tampak Ibu warung sedang sibuk menggelar dagangannya.

“Assalamu alaikum, Ibu. Apa kabar? Masih ingat saya?” Sapaku.

“Waalaikum salam, Nak. Alhamdulillah baik. Masih nak. Yang datang ke sini tahun lalu kan? Ibu ingat mobilnya” Ingatan Ibu warung yang tak aku tahu namanya ternyata masih tajam.

“Bagaimana kabar bapak, Bu?”

Si Ibu terdiam. Aku menatap wajahnya yang seketika berubah. Aku merasa ada sesuatu dari raut wajah beliau. Ibu masih terdiam hingga akhirnya,

“Bapak sudah meninggal, Nak. Tiga bulan lalu.” Nada sedih tertangkap dari bait-bait kalimatnya.

“Innalillahi wainna ilaiihi roojiunnn.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Gantian aku yang terdiam. Ingatanku melayang mengenang sosok almarhum bapak. Beliau yang selalu menyambutku setiap tahun, beliau yang selalu menyiapkan sajadah saat aku akan shalat. Beliau yang menurut ibu, selalu melihat ke jendela melihat mobilku yang aku tinggal di halaman rumah saat aku sedang mendaki ke puncak. Kali ini beliau sudah tiada, menghadap ke pangkuan Sang Khalik.

“Sakit apa, bu?” Aku mencoba mencairkan kebisuan setelah mampu menguasai perasaan.

“Mungkin karena bapak sudah tua, nak.”

“Yang sabar ya bu. Insya Allah bapak mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT. “ Aku mencoba menghibur si Ibu.

“Ibu tolong siapkan sarapan dan teh hangat manis ya. Sekalian siapkan bekal buat aku bawa untuk makan siang. Aku mau pinjam kamar mandi sebelum sarapan.” Pintaku.

“Iya Nak, silahkan.”

Aku berlalu ke mobil. Pikiranku masih mengenang bapak penjaga warung yang tadinya aku bayangkan akan bertemu, namun takdir menentukan lain.

Usai mandi dan sarapan, aku mulai mengambil barang dagangan Ibu untuk logistik. Sudah menjadi kebiasaan setiap pendakian, aku selalu membeli kebutuhan logistik di warung penduduk. Tujuannya untuk membantu perekonomian masyarakat lokal. Mie instant, snack, susu sachet, jahe wangi, air mineral dan kebutuhan lainnya aku tumpuk di atas meja. Aku meminta Ibu mencatatnya agar tak salah hitung. Aku tak peduli berapa harganya. Usai dicatat, aku membagi logistik itu ke carrier yang Aku dan Aldi akan bawa.

Saat sedang packing, seseorang mendatangi kami. Ternyata petugas basecamp. Dia meminta kami mendaftar terlebih dahulu plus membayar biaya registrasi sebesar 25 ribu rupiah per orang. Lagi-lagi hal berbeda. Tahun lalu, pembayaran simaksi dan registrasi jalur Bayongbong ini dilakukan di Pos 1. Bahkan 2 tahun berturut-turut sebelumnya, pendaftaran dilakukan di buku yang disimpan almarhum bapak. Karena aturannya begitu, tak ada pilihan lain selain mematuhinya.

P_20180113_073011_BF[1]

Kelar membayar simaksi, Aku dan Aldi bersiap-siap. Seperti biasa, Aku memimpin doa agar perjalanan kami di lindungi dan diberikan keselamatan. Bait-bait Al-Fatihah menutup doa kami. Pendakian dimulai dengan melewati sela-sela rumah penduduk. Jalanan setapak menanjak membawa langkah-langkah kami menyusuri kebun penduduk. Masih tetap sama, suara deru mesin motor pertanda kami harus menyingkir ke pematang atau pinggir kebun. Jalan setapak yang kami lewati memang hanya pas untuk 1 orang atau motor. Jadi jika ada motor masyarakat yang mengangkut pupuk atau hasil kebun, kami harus menyingkir.

Setapak menanjak membawa kami melintasi kebun penduduk yang nampaknya semakin meluas. Pertama kali datang 4 tahun lalu, kebun penduduk belum seluas saat ini. Batas antara kebun penduduk, kebun kopi dan pinus masih terlihat dengan jelas. Namun saat ini, tuntutan hidup seperti memaksa areal lahan yang harusnya bisa menjadi penopang lingkungan dan pelindung Kota Garut dari bahaya banjir mulai berubah fungsi. Padahal masih teringat beberapa waktu lalu Kota Garut pernah berduka karena dihantam banjir bandang akibat tanggul jebol. Semoga kejadian itu tak terulang, karena kejadian itu menelan banyak korban jiwa dan melumpuhkan kota dodol ini beberapa waktu.

Cuaca mendung, pertanda baik. Andai cerah, kami akan tersengat panas matahari yang biasanya sangat menyengat tanpa adanya pepohonan sebagai pelindung. Puncak Cikurai terlihat malu-malu sesekali bersembunyi di balik kabut tebal. Aldi berjalan jauh di depan meninggalkanku di belakang. Maklum, atlit perunggu. Terbiasa berkompetisi. Aku mah nyantai aja, kayak di pantai. Sesekali terdengar teriakan Aldi dari kejauhan,

“Bang, kiri apa kanan?” Tanpa melihat dan menjawab sekenanya aku berteriak balik, “Kanaaann.”

Semakin lama berjalan, feelingku mengatakan bahwa kami salah jalur. Seharusnya kami sudah melewati pos 1 dan biasanya pos 2 akan terlihat dari kejauhan. Namun kali ini, kami malah berada di tengah-tengah rimbunan pepohonan. Meskipun tak merasa kuatir tersesat karena terlihat penduduk yang sibuk mengerjakan kebun mereka di kiri kanan jalan. Aku cuman kuatir kalau kami mengambil jalur yang salah dan akhirnya akan muter-muter. Di penghujung jalan terdapat belokan, Aldi terlihat duduk beristirahat.

“Di, kayaknya kita salah jalur. Harusnya kita sudah sampai di Pos 2. Setidaknya pos 2 bisa terlihat. lha ini…?”

“Pos 2 tuh ada di sebelah kiri Bang. Lha tadi abang bilang ke kanan.” Aldi protes.

“Lha terus kenapa lu nurut? Yang akamsi kan elu, bukan gua” Aku mencoba bercanda dan gak mau kalah meski sudah sadar salah. Manusia! “Ya udah, nanti kalau ketemu orang nanya aja. Hayo jalan, ngantuk neh”

Yah, kantuk mulai menyerang. Hembusan semilir angin seperti mengelus-elus pelupuk mata. Pemandangan indah Gunung Papandayan dan Gunung Galunggung dari kejauhan membuatku serasa di nirwana. Bawaannya pengen tidur aja. Tapi jangan dulu, ini kita lagi nyasar neh. Kami kembali berjalan. Seperti biasa, Aldi kembali berjalan jauh di depan. Seperti biasa juga, aku tetap jalan slow and steady. Prinsip trekking!

Benar adanya, kami salah jalur. Meskipun kata akang-akang itu, “Gak bakal salah jalan, mau lewat manapun akan sampai di puncak.”

P_20180113_100254[1]

Ternyata Pos 2 ada di jalur sebelah kiri. Kami harus menyeberangi lembah kecil jalur air untuk menuju pos 2. Dari kejauhan terlihat rumah kayu 2 lantai yang digunakan sebagai pos 2. Aku berjalan tersengal memanggul carrier seberat hampir 15 kg di pundak. Aku ingin segera tiba di pos 2, mau tidur!

“Jangan lupa isi botol ya Di.” Kataku seraya menghempaskan carrier sambil nyari posisi. Mau tidur.

“Nggak mau ngopi, Bang?” Tanya Aldi dengan cerewetnya.

“Nggak, aku mau tidur!” Balasku dengan bawel.

Sesaat kemudian, hembusan sepoi-sepoi sang bayu Cikuray membawaku terlelap di teras pos 2.

“Bang, bangun. hayo kita jalan. Udah siang neh.”

“Jalan aja duluan, entar aku nyusul” Jawabku setengah tak sadarkan diri. Sejenak aku mendengar suara orang berbicara. Tampaknya ada pendaki lain. Saat terbangun aku melihat Aldi bercakap-cakap dengan 2 orang pendaki lainnya. Ternyata mereka juga akan ke puncak. Pendaki dari Purwakarta dan Palembang. Beberapa saat berselang, muncul beberapa anak muda yang tampaknya mau turun.

“Abis dari puncak, dek?” Tanyaku saat salah seorang duduk di sampingku.

“Iya Bang.”

“Kalian dari mana?”

“Garut Bang”

“Ramai nggak di atas?”

“Nggak Bang, hanya ada 3 tenda pendaki yang lewat cilawu.”

“Ohhh… Gimana cuaca di atas?”

“Kurang bagus bang. Semalam kami kena badai!” Si adek nyerocos aja. Aku bangun.

“Badai? Kalian tidak apa-apa?”

“Tidak Bang. Tenda sama fly sheet aja pada diterbangin angin”

“Eh busyet.”

Aku segera bersiap-siap. Aldi dan 2 orang teman barunya sudah berjalan di depan. Saat bersiap-siap memanggul carrier,

Nggak ngopi dulu bang?”

“Makasih dek, Simpenin aja, besok aku turun baru aku minum, “ Jawabku sambil becanda. Mereka cekikikan, aku berlalu. “Assalamu alaikummm…”

“Waaalaikum salammm” Jawab adek-adek itu mirip paduan suara.

Kembali langkah kaki menapak tanjakan tanah liat. Kebun kol di kiri kanan jalur masih menemani dengan aromanya. Dari kejauhan sudah tampak pucuk-pucuk pinus seperti berebut bergesek berdetas berjalin tangan. Ini mah lagunya Ebiet G.Ade…. Hahahaha

Setelah berjalan dengan pola 1-5, 1 kali melangkah 5 menit istirahat, akhirnya aku mulai memasuki kawasan hutan pinus. Aldi dan 2 orang kenalan barunya sudah tak terdengar suaranya. Aku sendiri. Jalur yang menanjak dan menanjak seperti tak memberi ampun. Namun inilah karakter jalur Bayongbong ini, pelit bonus! Langkah kembali terseret, tak jarang harus bergantung di akar-akar pohon. Beberapa ranting perdu berduri sempat memberikan goresan tanda mata di tanganku. Perih sesaat, abis itu biasa aja.

P_20180114_090027[1]

Menjelang pos 3, tampaklah pemandangan miris pilu nan menyayat hati. Hutan bekas kebakaran. Puluhan tonggak pohon kering dan berwarna hitam arang berbaris laksana hutan mati. Yah, inilah sisa-sisa kebakaran september tahun lalu. Pohon-pohon rindang pelindung pendaki dari panas terik hanya menyisakan ranting-ranting kering. Aku berhenti sejenak. Aku terus mendaki mencari tempat untuk berteduh. Dulu saat pos 2 belum dibangun, pos 3 ini adalah tempat favorit untuk istirahat dan makan siang. Tempatnya teduh. Pertama kali mendaki Cikuray, aku membuka bekal makan siang ku di pos 3 ini. Namun sekarang… semua tinggal kenangan bersama retasan arang yang membalut tanah. Sedih.

Aku beristirahat di atas pos 3. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 siang. Aku sudah berjalan selama 4 jam lebih. Rasa lapar mulai menyerang. Akhirnya aku memutuskan membuka bekal yang sudah disiapkan Ibu Warung dalam tupperware. Aku mencoba makan beberapa sendok dan kembali menutupnya. Rasa lapar menyerang namun tak ada nafsu makan. Aku teringat almarhum bapak warung. Semoga beliau tenang beristirahat di alam sana. Aku kembali memanggul carrier menapaki tanjakan yang semakin tak mengenal peri kependakian. Tega!

Tak berselang lama, aku mendengar suara orang bercakap-cakap. Ternyata Aldi. Terlihat 2 orang pendaki tadi bersamanya. Mereka sedang memasak air.

“Mau makan, Bang?” Aldi membuka carriernya.

“Nggak, Di. Aku udah makan tadi di bawah. Aku mau tidur aja. “

dan ..plek… aku rebahan di atas tanah dan sesaat kemudian terbang ke alam mimpi. Baru terbangun saat Aldi membangunkanku. Aku meminta mereka jalan duluan. Aku mau ‘loading’ dulu. Tidurku barusan teramat sangat nyenyak. Setelah merasa segar kembali, aku melanjutkan perjalanan. Seorang diri, tak ada siapapun. Aldi dan 2 rekan lainnya sudah jauh di depan.

Pos 4 dan 5 terlewati dengan susah payah. Aku merasa tubuhku semakin lelah. Selain habis diistirahatkan setahun tak pernah nanjak, faktor kurang tidur dan asupan makanan juga menjadi penyebab. Cuaca mulai gelap. Sesekali tertiup angin kencang. Aku mengeluarkan jaket dari dalam carrier. Jam sudah menunjukkan pukul 4 lewat. Aku sudah berjalan selama hampir 7 jam. Perjalanan masih jauh. Masih tersisa 2 pos sebelum mendaki tanjakan sesungguhnya sebelum puncak.

Pendakian dilanjutkan kembali. Langkah kaki terasa semakin berat. Trek menanjak berkemiringan sekitar 70 derajat tak memberi ampun apalagi bonus. Harus dijalani, itulah tantangan dan perjuangannya. Meski terseok, aku bisa tiba di pos 6. Aku bersandar di sebatang pohon. Gelap mulai turun, hampir jam 5. Saat bersandar, angin kencang tiba-tiba datang. Aku merapatkan jaket yang sempat kubuka karena tadinya kepanasan. Suara gesekan dahan dan ranting pohon mirip suara deru air laut. Inikah badai yang dimaksud si adek tadi? Aku melihat sekeliling, sepi. Tak ada siapapun. Aku seorang diri. Aldi sudah sangat jauh di depan. Tiba-tiba sepi, angin kencang berganti sepoi-sepoi. Gumpalan kabut menyelimuti. Aku mulai memejamkan mata, terbawa hembusan angin yang terasa seperti menina bobokkan pelupuk mata. Baru saja aku memejamkan mata saat,

“Ssst….ssst”

Terdengar suara seperti orang berbisik. Aku membuka mata. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Tapi suara itu terdengar sangat jelas seperti suara bisikan. “Ahh, mungkin suara gesekan angin” pikirku. Aku kembali memejamkan mata. Namun,

“Ssssstt…sssttt”

Suara itu kembali terdengar bahkan lebih jelas. Aku kembali membuka mata dan melihat sekeliling. Aku sampai mendongak ke atas barangkali si Aldi mengerjaiku. Masih tak ada siapa-siapa. Aku berkonsentrasi, barangkali suara itu terdengar kembali. Namun saat mataku terbuka, suara itu tak terdengar. Akhirnya aku memutuskan kembali mendaki. Masih seorang diri tanpa siapa-siapa. Sambil berjalan aku berpikir bahwa mungkin bisikan tadi mengingatkanku untuk tidak tertidur. Andai tertidur dan lama, aku akan kemalaman seorang diri di jalur. Waktu sudah menunjukkan pukul 5.30.

P_20180114_091254[1]

Kembali jalur berkemiringan hampir 90 derajat harus dijalani. Nafas tersengal. Keringat mengucur dari balik jaket yang kukenakan. Serba salah, saat keringatan jaket dibuka, dingin langsung menyergap. Setelah berjibaku dengan jalur vertikal, akhirnya aku tiba di puncak. Tenda sudah berdiri, Aldi sedang tidur saat aku tiba. Tanpa banyak cakap, aku langsung membuka sepatu dan masuk dalam tenda. Tiba-tiba sakit kepala menyerang dengan sangat. Hampir limbung, aku merebahkan diri di atas matras. Kembali tertidur.

Aku terbangun saat Aldi menawariku makan malam. Sakit kepala masih menyerang dengan hebatnya. Aku merogoh kantong carrier mencari tas P3K. Kuambil obat sakit kepala, meneguknya dan kembali tertidur. Tawaran makan malam dari Aldi sudah tak kuhiraukan.

Entah jam berapa, aku sudah tak bisa melihat jam lagi. Suasana sepi melingkupi Puncak Cikuray. Aku belum keluar tenda sejak tiba. Sesekali terdengar hembusan angin laksana badai menghantam tenda. Aku hanya bangun mencari sleeping bag. Suara angin menderu laksana gulungan ombak. Untungnya kami mendirikan tenda bukan di dekat shelter tanpa pelindung. Aldi memilih tempat agak di bawah jadi terlindung dari hantaman badai. Dingin tak tertahankan mendera. Kurasakan badan menggigil meski sudah menggulung di dalam sleeping bag. Beberapa jari tangan tak bisa merasakan apa-apa. Suara deru angin kembali membawaku tertidur, meski tak begitu nyenyak. Aku baru terbangun pagi harinya.

P_20180114_074437[1]

Tak ada hal menarik di pagi hari. Cuaca mendung dengan hembusan angin kencang masih saja melanda Puncak Cikuray. Aku tak tertarik mengambil gambar. Alih-alih foto-foto, aku kembali tidur usai menenggak segelas susu. Baru terbangun saat dibangunkan Aldi, sudah jam 7.30. Saatnya turun.

Dalam hitungan menit semua perlengkapan sudah masuk kembali ke carrier. Seperti kemarin, ke 3 mahluk itu berjalan duluan. Aku tetap berjalan santai sambil menyusuri trek menurun. Tak ada hal istimewa saat perjalanan turun. Saat melintas di tempat kemarin ada suara berbisik, aku hanya mengucapkan salam sambil berterima kasih. Andai kemarin tak ada suara bisikan misterius itu, entah apa yang akan terjadi denganku. Mendaki malam di tengah hutan dalam kegelepan seorang diri.

Pukul 12.30 saat adzan duhur berkumandang, kami tiba kembali di warung Ibu. Kembali aku mandi dan bersih-bersih sambil memesan makan siang. Kelar makan siang, kami berpamitan ke Ibu. Ke 2 rekan dari Purwakarta dan Palembang sudah pulang terlebih dahulu dengan motor. Jam 1 siang kami meninggalkan warung Ibu di Bayongbong. Terlebih dahulu mampir di tempat Aldi sebelum kembali aku menyusuri jalanan Kota Garut dan melewati jalan toll kembali ke Ibukota. Kembali ke dunia nyata. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

P_20180113_072929[1]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s