Jerussalem : Antara Mesjid Al-Aqsha, Via Dolorossa dan Sinagoge

IMG_3316

Kali ini kita akan menjelajah setiap sudut Kota Jerussalem. Kota suci 3 agama samawi yang akhir-akhir ini kembali bergolak. Meskipun selama masih di bawah authoritas zionis Israel, sepertinya kota ini takkan pernah dinaungi kedamaian.

Di dalam Mesjid Al-Aqsha
Langkah pertama memasuki Masjid Al-Aqsha terayun dengan menginjakkan kaki di hamparan karpet tebal berwarna merah. Suasana sunyi, sesekali terdengar bisikan lirih suara orang berzikir. Beberapa Jemaah terlihat khusyu menghadapkan wajahnya ke Sang Khalik. Termasuk rombongan dari Indonesia yang sudah tiba lebih awal. Mereka menyambut aku dan Pak Dokter dengan sukacita dan terharu karena was-was saat kami terlambat tiba di masjid.

Saat berada dalam posisi siap untuk shalat Tahiyyatul Masjid, aku merasakan badan bergetar. Bulu kuduk di seluruh tubuh merinding. Akhirnya aku bisa melaksanakan shalat pertamaku di mesjid nan sarat sejarah ini. Mesjid yang saat ini terselubung duka dan nestapa mendalam.  Aku menghela nafas panjang, berusaha menenangkan emosi yang bergejolak. Teringat derita dan nyawa yang sudah banyak melayang demi memperjuangkan agar tempat ini tetap berdiri tegak. Mereka, para syuhada.

Saat mulai membaca niat dan melakukan Takbiratul Ihram sambil mengucapkan “Allaaaahu Akbar”, air mata mulai mengambang di pelupuk mata. Butiran hangat menetes melewati pipi lalu membasahi pergelangan tangan dan jatuh ke atas sajadah. Rasa haru tak dapat lagi aku bendung dan tahan. Bait demi bait bacaan shalat mengalir dalam suara lirih setengah merintih. Bisikan lirih suara dzikir dari jemaah lain ibarat teriakan warga Palestina yang teraniaya. Mereka menjerit agar bisa diizinkan masuk ke dalam mesjid mulia ini. Aku hampir tak percaya bisa melakukan shalat di salah satu masjid tersuci  umat Islam ini. Tangis pun pecah tak tertahankan. Hawa dingin dan syahdu semakin membawaku larut dalam khusyu. Aku seperti sedang berhadapan langsung dengan-Nya. Saat ruku’ dan sujud, aku seperti tersungkur tak berdaya di atas sajadah. Seluruh tulang dan sendi seperti tak bertenaga. Air mata terus menerus mengalir hingga aku mengucapkan salam di akhir shalat penghormatan kepada Masjid AL-Aqsha. Selanjutnya bersama jamaah lainnya aku akan melaksanakan shalat subuh secara berjamaah.

“Ohhh Palestina…”

Saat shalat subuh nan penuh khidmat, rasa haru semakin terasa. Suara syahdu sang Imam terdengar begitu menyayat hati di subuh yang dingin itu. Sesekali terdengar suara isak tangis tertahan dari jemaah lainnya. Yah, hampir seluruh menangis dalam shalat saat itu. Bukan hanya suara tangis dari rombongan Jemaah Indonesia tapi juga dari penduduk asli Palestina yang melakukan shalat subuh di sana. Terbayang penderitaan dan perjuangan rakyat Palestina untuk bisa masuk ke mesjid ini. Beberapa aturan ketat diterapkan oleh pemerintah Israel sebagai pemegang authoritas  Jerussalem. Tak jarang mereka di aniaya dan disiksa jika dianggap membahayakan pemerintah Zionis. Saat itu zionis Israel memberlakukan aturan hanya penduduk berusia 40 tahun ke atas yang boleh masuk untuk shalat di dalam Al-Aqsha, kebijakan yang sangat biadab.

Rentetan sejarah panjang yang berdarah-darah juga sepintas terlintas dalam ingatan. Catatan sejarah yang menorehkan luka di atas tanah suci bagi ranah 3 agama ini. Andai negeri indah dan suci ini bisa dikembalikan ke masa saat Umar Bin Khattab, khalifah Islam ke dua yang pernah berkuasa. Di masa 3 agama itu hidup berdampingan dengan damai. Suara adzan, lonceng gereja dan Sinagoge (tempat ibadah orang Yahudi) berpadu membentuk harmoni alam saat pagi menyapa.  Semoga perdamaian abadi itu bisa terjadi suatu hari nanti di negeri suci Baitul Maqdis ini, Aminnn..

Cahaya Sunrise di dalam Kompleks Al-Aqsha
Usai shalat subuh, kami berjalan-jalan di sekitar kompleks Al-Aqsha sambil menunggu sinar mentari pagi. Mesjid As-Shakhrah atau Dome of the Rock dengan kubah emasnya masih tertutup. Di pelataran mesjid yang terdapat beberapa mihrab (ruang shalat), tampak beberapa ekor burung merpati putih asyik bercengkerama.  Ada hal yang perlu digaris bawahi mengenai mesjid Al-Aqsha. Ini penting untuk menghindari kesalah pahaman selama ini. Mesjid dengan kubah emas itu bukanlah Mesjid Al-Aqsha. Mesjid itu adalah Mesjid As-shakhrah atau Dome of the Rock. Kenapa di katakan ‘kubah batu’?

Dome of the Rock atau Mesjid As – Shakhrah dibangun di abad ke 7 oleh khalifah Abdul Al Malik. Mesjid berbentuk hexagonal ini sudah beberapa kali mengalami perubahan fungsi diantaranya pernah dijadikan gereja dan kantor. Di katakan kubah batu, karena di bawah kubah berwarna kuning emas itulah terdapat batu tempat berpijak Rasulullah Muhammad SAW sebelum diterbangkan ke Sidratul Muntaha. Oleh sebagian orang di sebut batu melayang atau batu terbang. Menurut riwayat saat Rasulullah akan diterbangkan untuk bertemu Allah SWT di surga, batu itu ingin ‘ikut’. Benarkah? Teruslah membaca hingga habis.

Mesjid Al-Aqsha sendiri ada di sampingnya tepatnya di sebelah selatan Masjid As-Shakhrah. Jika As-Shakhrah memiliki kubah dari emas, maka kubah Mesjid Al-Aqsha berwarna abu-abu tembaga. Karena keunikan arsitekturnya, Masjid As-Shakhrah lebih sering menjadi landmark atau icon kota Jerussalem atau Palestina. Konon dome of the rock adalah bangunan dengan arsitek terindah di dunia.

Gerbang di dalam komplek Al-Aqsha
Sinar keemasan mentari pagi berpendar menerangi langit biru berpadu sinar keemasan yang dari pancaran kubah Dome of the Rock. Bisa terbayang kan betapa indahnya? Aku merinding menyaksikannya. Hamparan halaman yang ditumbuhi pohon zaitun mulai terlihat dengan jelas.  Dari kejauhan terlihat pemandangan Mount Olive atau Gunung Zaitun yang mulai bergeliat menyambut hari baru. Indah, teramat indah dan rupawan wajahmu wahai Baitul Maqdis….

Kami kembali menyusuri  lorong-lorong dan terowongan di dalam Old City atau Kota Lama menuju Gerbang Herod, tempat kami masuk tadi. Beberapa aktifitas sudah mulai terlihat. Anak-anak yang berangkat ke sekolah, tentara Israel yang senantiasa mengawasi setiap sudut dan beberapa pedagang sudah mulai membuka tokonya. Kami kembali ke hotel untuk menikmati sarapan untuk selanjutnya menikmati City Tour untuk ke Mount Olive, kembali ke Mesjid Al-Aqsha dan Dome of the Rock! Aku sangat penasaran ingin membuktikan fenomena batu terbang yang sempat beredar di media massa beberapa waktu lalu.

Jerussalem dilihat dari view point Bukit Zaitun (Mount Olive)
Menumpang sebuah bis besar, rombongan kami bergerak meninggalkan hotel usai sarapan. Tujuan pertama kami adalah mengunjungi Mount Olive (Gunung Zaitun) untuk berziarah ke Makam salah satu sahabat Rasulullah Muhammad SAW, Salman Al Farizi. Setiba di Mount Olive, terlihat sudah banyak turis ataupun pesiarah yang tiba di sana. Bukan hanya umat muslim tapi juga umat Kristen dan Yahudi. Usai berziarah ke Makam Salman Al Farizi, kami menuju ke view point. Dari tempat itu pengunjung bisa menyaksikan Old City dari kejauhan termasuk sang primadona, Dome of the Rock. Bangunan bersejarah nan cantik itu berdiri dengan anggunnya di tengah-tengah jejeran bangunan lainnya. 
Lions Gate, salah satu Gate Akses ke Kota Tua (Mesjid Al-Aqsha)
Tujuan berikutnya adalah kembali ke Al-Aqsha. Kali ini kami akan melewati route yang berbeda dengan jalan yang kami lewati saat shalat subuh tadi. Kami akan masuk dari arah Lion’s Gate di Jericho Road di mana terdapat Via Dolorosa yang berarti Jalan Kesengsaraan atau Jalan Penderitaan.  Tempat yang juga dikenal dengan nama Jalan Salib ini sangat bersejarah bagi umat Kristiani. Menurut catatan sejarah,  di tempat inilah Yesus berjalan sambil memanggul salib menuju tempat terakhir di makam kudus. Jalannya menanjak khas perbukitan dan di sisi kanannya terdapat dinding kota lama Jerussalem.
Via Dolorossa yang juga merupakan salah satu gerbang akses ke Mesjid Al-Aqsha
Kami melewati  Lion’s Gate dengan pemeriksaan ketat tentara Israel yang memeriksa seluruh barang bawaan pengunjung.  Aku sempat ‘disisihkan’ ke special area untuk pemeriksaan lanjutan. Setelah di cek ternyata di dalam daypack yang aku bawa berisi phone tablet. Jadilah aku harus di-interview oleh tentara Israel meskipun tak terlalu lama. Aku hanya ditanya alasan membawa tablet. Dengan tenang aku jawab bahwa aku mencatat seluruh detail perjalananku di tablet itu. Sang tentara pun manggut-manggut dan membiarkanku lewat. Entah mereka paham atau tidak. 
Dibawah Kubah Emas

Setelah melewati jejeran lorong berisi penjual di dalam bazaar, akhirnya kami tiba kembali di kompleks Al-Aqsha. Beberapa anak sekolah terlihat berbaris di depan pintu Mesjid As-Shakhrah. Mereka mengantri untuk masuk ke dalam mesjid, sementara kami para peziarah memasuki pintu berbeda. Setiba di dalam mesjid, tampaklah ornamen-ornamen mesjid yang sangat indah.  Dinding dan tiang marmer berpadu dengan ornamen di lengkungan atap menjadikan mesjid ini terasa sangat sakral. Aku terus mencari benda yang selama ini membuatku penasaran, batu terbang. Menurut catatan sejarah, sebelum terbang ke Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Allah SWT untuk menerima perintah shalat 5 waktu, Rasulullah memijak sebuah batu yang berada pas di bawah kubah Dome of the Rock. Sayang sekali saat itu di lokasi batu itu sedang direnovasi dan ditutupi kain, jadi tak terlihat. Di sini aku jelaskan bahwa batu terbang itu hanyalah hoax atau rumor. Batu tempat berpijak Rasullullah Muhammad SAW itu tepat berada di bawah kubah emas. Menurut penjelasan pemandu kami, saat tidak direnovasi batu itu bisa terlihat dengan jelas karena hanya dibatasi kayu mahoni  setinggi 1 meter.

Meskipun direnovasi, namun para pengunjung tak perlu kecewa karena masih tersedia sebuah tempat di mana pengunjung diberikan kesempatan untuk bisa memegang batu tersebut. Sebuah lubang dibuat agar pengunjung bisa memasukkan tangan untuk meraba dan menyentuhnya. Semua rombongan mencobanya termasuk aku dan mama. Ada rasa berbeda saat aku memasukkan tangan ke dalam lubang dan merasakan permukaan batu yang terasa sejuk seperti basah. Saat tangan aku keluarkan, tercium aroma wangi dari sela-sela jari. Subhanallah… 

Menyentuh Batu ‘Melayang’ di dalam Dome of the Rock
Usai shalat sunnah, kami menuju sebuah tangga yang akan membawa kami turun ke sebuah tempat berupa gua yang berada persis di bawah batu tempat berpijak tadi. Mungkin itulah menjadi penyebab batu itu dinamakan batu terbang atau melayang karena di bawah batu itu terdapat gua. Dikisahkan Rasulullah sempat melakukan shalat di tempat itu saat melakukan Isra’ Mi’raj.

Sajadah sekaligus karpet merah berada di lantai gua yang diterangi beberapa lampu bercahaya kuning. Kami semua melakukan shalat sunnah meski harus bergantian karena ruangan gua yang sempit.  Lagi-lagi terselip rasa haru dalam setiap gerakan shalat mengingat Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan kami Umat Islam pernah menunaikan shalat di tempat ini. Tetesan air bening kembali menetes membasahi sajadah yang terhampar di lantai goa.

Gua di bawah batu ‘melayang’
 Keluar dari As Shakhrah , kami kembali menyusuri beberapa situs sejarah sarat makna di tempat suci ini. Salah satunya adalah tempat yang berada di Gate Maroko. Sebuah pintu tertutup terdapat sebuah pengait besi bulat. Konon di itu adalah tempat bouraq, kendaraan kuda bersayap yang digunakan Rasulullah Muhammad SAW ditambatkan saat Rasul sedang menunaikan shalat. Kami bergantian menuruni anak tangga lingkar yang ada di tempat itu untuk menyaksikan saksi sejarah penting bagi Umat Islam dunia.
Penanda tempat menambatkan Bouraq (Besi hitam)
Waktu menjelang shalat dhuhur kami bersama-sama menuju ke Masjid Al-Aqsha untuk menunaikan shalat dhuhur.  Sebelum mengambil air wudhu, kami terlebih dahulu menuruni anak tangga yang membawa kami ke lantai bawah masjid yang berupa lorong-lorong. Tempat ini juga sering digunakan untuk shalat karena terdapat karpet sajadah berwarna merah. Kami sempat mengambil foto di ruang bawah tanah masjid ini.
Kubah Mesjid Al-Aqsha dan Dome of the Rock
Usai shalat dhuhur, kami kembali bergegas karena masih ada beberapa tempat yang akan kunjungi dalam rangkaian ziarah dan City Tour hari itu di antaranya mengunjungi Tembok Ratapan, Kota Betlehem dan menuju Al-Khalil  Hebron untuk shalat di Masjid Nabi Ibrahim. Konon di dinding masjid itu masih tersisa bekas-bekas  peluru karena serangan membabi buta seorang Zionist Israel saat umat muslim sedang melakukan shalat subuh. Ingin tahu seperti apa Masjid dan Makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishak dan Siti Sarah? Kenapa pula Israel membangun tembok tinggi laksana penjara yang membatasi antara Jerussalem dan Betlehem? Aku akan mengulasnya di tulisan berikutnya…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s