Aku Dikepung Tentara Israel di Kompleks Mesjid Al-Aqsha, Jerussalem

IMG_3493Traveling tak harus selalu berisi foto dan kenangan indah. Beberapa kenangan ‘tak menyenangkan’ juga kerap terjadi di tengah perjalanan. Meski hal itu takkan pernah menyurutkan passion untuk terus berkelana. Setelah sekian lama aku menceritakan hal-hal indah dan menyenangkan, kali ini aku akan mengungkapkan pengalaman yang sedikit ‘mengerikan’ dan takkan pernah terlupakan. Salah satunya saat dikepung tentara Israel yang sedang berganti shift di kompleks  Masjid Al-Aqsha di Jerussalem, Palestina. Begini kisahnya.

Allenby Bridge, Perbatasan Jordan dan Jerussalem

Jerussalem, Palestina menjadi salah satu tujuan dalam rangkaian umroh plus beberapa waktu lalu. Setelah mendarat di Bandara Internasional Queen Alia di Amman, Jordania, aku dan rombongan langsung bergerak menuju Jerussalem dengan bus besar. Kami tiba di Kota Jerussalem  malam hari. Pemeriksaan yang sangat rumit dan lama di Security Check Point di Allenby King Hussein Bridge berlangsung sekitar 4 jam. Jembatan yang memisahkan antara Jordania dan Jerussalem itu adalah salah satu akses untuk bisa memasuki Kota Jerussalem.

Check point di Allenby Bridge dari sisi Jordania.

Kami memasuki Kota Jerussalem sekitar jam 9 malam setelah meninggalkan Jordan sekitar jam 1 siang. Rombongan langsung bergerak menuju hotel yang terletak di jantung Kota Jerussalem.

Hotel National Jerussalem

Tiba di hotel National Jerussalem sekitar jam 11 malam, kami hanya sempat makan malam dan langsung menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Kami sudah kelelahan menempuh perjalanan panjang sejak dari Kota Mekkah. Aku sekamar sama Mama. Pukul 3.30 pagi, kami semua sudah berkumpul di lobby hotel. Tujuannya adalah akan melaksanakan shalat subuh pertama kalinya di Mesjid Al-Aqsha. Kami semua merasa excited. Betapa tidak, ini pertama kalinya kami akan menginjakkan kaki di mesjid suci yang pernah menjadi kiblat Umat Islam seluruh dunia. Mesjid tempat persinggahan terakhir Rasulullah Muhammad SAW  di bumi sebelum terbang menuju Sidratul Muntaha saat peristiwa Mi’raj untuk menerima perintah shalat 5 waktu langsung dari Allah SWT. Mesjid yang berada di tengah-tengah kawasan konflik berkepanjangan.

Subuh di tengah Kota Jerussalem

Rombongan bergegas meninggalkan hotel menuju Masjid Al-Aqsha yang letaknya sekitar 300 meter dari hotel. Anggota rombongan yang mayoritas ibu-ibu berjalan cepat bahkan nyaris berlari agar bisa segera tiba di masjid. Sementara seorang dokter yang kami panggil Pak Dokter yang sudah berusia lanjut terlihat berjalan pelan. Sebenarnya beliau datang bersama istrinya namun istrinya sudah berjalan di depan. Jemaah lelaki lainnya juga sudah berjalan jauh di depan. Mereka semua sudah tak sabar ingin segera tiba di Al- Aqsha. Tinggallah Pak Dokter yang berjalan perlahan seorang diri di belakang. Karena merasa tak tega, akhirnya aku menemani beliau menyusuri jalanan sepi di jantung Kota Jerussalem di subuh nan dingin.

Herod’s Gate, Gerbang menuju Kota Tua Jerussalem, Lokasi Mesjid Al-Aqsha

Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami tiba di depan gerbang Herod’s Gate. Sekedar informasi bahwa kompleks Mesjid Al-Aqsha atau dikenal  juga dengan Al-Haram Al-Sharif terletak di dalam bangunan Old City yang dipagari tembok tinggi layaknya benteng. Untuk memasukinya ada 14 pintu, salah satunya adalah Gate Herod yang terletak  tak jauh dari Hotel National tempat kami menginap. Setelah melewati gate, kami harus melewati lorong-lorong dan terowongan yang gelap karena beberapa penghuninya masih terlelap. Hanya beberapa sudut saja yang diterangi lampu jalan. Lorong-lorong itu bercabang-cabang. Karena berjalan pelan akhirnya kami tertinggal dari rombongan. Jadilah aku kebingungan harus melewati jalan yang mana sementara Pak Dokter hanya mengikuti sambil menggenggam tanganku. Di beberapa ruas terdapat tangga naik turun.

Terowongan di dalam Kota Tua Jerussalem

Masih dalam kegelapan, kami mencoba mengikuti jalur yang ada. Beberapa Tentara Israel terlihat hilir mudik dengan senjara laras panjang tergenggam di tangan. Ada sedikit rasa was-was. Apalagi jika mengingat kabar yang selama ini beredar di media akan perlakuan mereka terhadap kaum muslim di Palestina. Kami sudah cukup jauh berjalan dan satupun anggota rombongan tak terlihat termasuk mamaku yang ikut bersama rombongan ibu-ibu lainnya. Kami tetap berjalan hingga akhirnya merasa bahwa kami sudah terlewat. Aku mendengar suara azan semakin sayup-sayup. Namun aku tak menyampaikan kebingunganku kepada pak Dokter. Aku terus berjalan dan sesekali berpapasan dengan mobil yang melintas berlawanan.

Di sebuah perempatan kami tiba di sekumpulan tentara Israel. Sepertinya mereka sedang berganti shift karena tampak beberapa tentara turun dari mobil dengan membawa tas besar sementara tentara yang lainnya tampak bersiap-siap mengemasi barang-barangnya. Jumlah mereka sekitar 10 orang. Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi dan sayup-sayup terdengar kumandang suara adzan dari kejauhan. Benar dugaanku bahwa kami sudah terlewat.

Aku mengajak pak dokter berhenti persis di samping kumpulan tentara Israel tadi. Aku tak dapat lagi menyembunyikan kebingungan kepada pak Dokter. Kumandang adzan menandakan shalat subuh segera di mulai sementara kami masih belum tiba di masjid. Parahnya lagi kami tak tahu jalan menuju mesjid.

Setapak Menuju Mesjid Al-Aqsha setelah melewati pintu gerbang

Tak ada pilihan lain, aku harus bertanya. Namun ke siapa? Sekeliling masih gelap. Satu-satunya tempatku bertanya adalah rombongan tentara Israel tadi. Aku meminta pak Dokter berdiri di pinggir tembok dan aku segera menghampiri kerumunan tentara tadi dan bertanya ke salah seorang dari mereka.  Aku berusaha menguasai diri dan,

Maaf , aku ingin bertanya jalan ke Mesjid Al-Aqsha

Tentara lainnya langsung mengerubungi di sekelilingku, aku di tengah seorang diri. Kecemasan menghampiri, aku berdoa dalam hati memohon perlindungan-Nya.

Kamu dari mana?” Tanya seorang tentara dengan nada dingin.

Indonesia!” Aku masih berusaha tenang.

Kalian hanya berdua dari Indonesia?” Tanya seorang lagi sambil menoleh ke Pak Dokter.

Kami rombongan tapi terpisah karena bapak itu (sambil menunjuk Pak Dokter) tak bisa berjalan cepat

Mereka berbicara satu sama lain dalam bahasa Israel yang tak kumengerti.

“Maaf, bisa segera info karena waktu shalat sebentar lagi?” Tanyaku sambil menatap salah satu dari mereka. Terlihat mereka saling berpandangan hingga akhirnya seseorang angkat bicara,

Kalian sudah terlewat. Kembali ke jalan itu (sambil menunjuk jalan di belakang ku) dan bertemu jalan ke kiri, kalian lewat situ. Ikuti jalan itu nanti akan terlihat pintu berwarna hijau, masuklah dari sana”

“Oh ok, terima kasih” Jawabku sambil berbalik ke tempat Pak Dokter berdiri.

Begitulah sekelumit percakapan kami. Aku kembali menggandeng tangan Pak Dokter menuju jalan yang ditunjuk tentara tadi. Aku bisa merasakan pandangan tentara-tentara itu mengawasi kami dari belakang.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami tiba di pintu berwarna hijau yang dimaksud. Pintu yang hanya terbuka sedikit itu adalah akses masuk ke dalam kompleks Al-Haram Al Sharif. Tampaklah masjid As Sakhrah atau Dome of the Rock. Mesjid berkubah emas icon Kota Jerussalem dan Palestina. Mesjid indah itu membuatku merinding dan mengajak Pak Dokter berhenti sejenak. Ini pertama kali aku melihat mesjid ini secara langsung. Jaraknya hanya beberapa langkah di depanku. Aku masih tertegun gemetar. Selama ini aku hanya melihat foto dan gambarnya. Adzan subuh sudah berakhir sementara kami masih harus lanjut berjalan. Mesjid Al-Aqsha masih berada di bagian bawah dan harus menuruni tangga yang cukup tinggi. Aku kembali menuntun tangan Pak Dokter melangkah menuruni anak tangga yang akhirnya membawa kami ke pelataran Masjid Al-Aqsha dan segera masuk untuk shalat subuh. Bagaimana rasanya melakukan shalat di dalam masjid yang sangat bersejarah bagi Umat Islam itu? Bagaimana pula rasanya melihat dan menyentuh batu yang pernah diinjak oleh Rasulullah Muhammad SAW di dalam Dome of the Rock? Aku akan ceritakan lain kali, lengkap dengan foto-foto eksklusif-nya. Setiap kali ada pemeriksaan di pintu masuk, aku selalu mendapat ‘perlakuan khusus’. Mungkin karena tampangku yang mirip teroris.  Penasaran kan seperti apa pengalaman ‘untold story’ saat diinterogasi tentara Israel? Stay tune terus.

 

Inti cerita ini adalah, jika menemui hal yang menurut insting kamu adalah hal yang berbahaya, jangan panik. Tetap tenang, hadapi, pasrah dan berdoa dalam hati. Insya Allah Dia yang Maha melindungi akan bersamamu. Aamiinnn

*Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s