Pasrah di Atap Sumatra, Gunung Kerinci

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ingin merasakan adrenalin mendaki atap Sumatra tanpa tidur semalam sebelumnya? Bagaimana rasanya mendaki dibayang-bayangi kekuatiran akan kehadiran Harimau Sumatra? Ikuti kisah perjalanannya…

Keinginan mendaki Gunung Kerinci, atap Pulau Sumatra sudah lama ada di benakku. Foto-foto dan cerita berseliweran di blog sangat menantang adrenalin. Berbagai cerita baik yang masuk akal maupun yang beraroma mistis berhembus. Yang paling ‘seram’ adalah rumor atau cerita harimau Sumatra yang konon berkeliaran di dalam Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), lokasi Gunung Kerinci berada. Benarkah? Setelah mengumpulkan keberanian, aku mematangkan rencana untuk mendaki gunung berketinggian 3805 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Aku mulai mencari tahu siapa yang bisa dihubungi untuk mendapatkan akses ke gunung berapi tertinggi di Indonesia itu. Seperti biasa, aku akan melakukan perjalanan seorang diri. Dari pencarian di laman Facebook, aku menemukan kawan yang tergabung dalam komunitas Jelajah Kerinci, namanya Johan. Aku segera mengirim pesan lewat FB messenger dan telepon. Singkat kata dan cerita, Johan akan mengatur semua perjalananku sejak tiba di Padang. Dia akan memesan mobil yang dari Airport Minangkabau ke Desa Kersik Tuo, tempat Jelajah Kerinci bermarkas.

Tiket pesawat Jakarta – Padang – Jakarta sudah di tangan.  Stamina, fisik dan peralatan sudah dipersiapkan.  Suatu hari salah seorang rekan menghubungi. DIa menanyakan kemana jadwal nanjak selanjutnya. Aku jelaskan kalau aku akan ke Gunung Kerinci. Syawal, teman beberapa perjalananan selama ini ingin bergabung. Karena aku sudah beberapa kali nge-trip bareng dan cukup mengenalnya, aku setuju. Aku meminta dia segera mengatur keberangkatannya. Termasuk mengambil cuti satu hari di hari Senin serta menyiapkan tiket pesawat. Syawal menyiapkan segalanya hingga tiba hari keberangkatan tanpa kendala berarti.

Hari jumat sore Aku dan Syawal menuju Airport Soekarno Hatta. Pesawat yang akan kami tumpangi berbeda. Syawal akan berangkat dua jam lebih awal. Kami akan bertemu kembali di Airport Minangkabau di Padang. Mobil charteran yang sudah dipesan Johan rencananya akan stand by di Airport. Sesuai jadwal yang tertera di tiket pesawat aku akan mendarat di Padang pukul 21.30 malam.

Apa mau dikata, pesawat ‘Singa Udara’ yang aku tumpangi ternyata delay selama 3 jam! Pesawat baru mendarat di Bandara Minangkabau pukul 00.30 dinihari.  Kelar mengambil bagasi, aku keluar bandara menemui Syawal yang pastinya sudah menunggu. Waktu menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Kami langsung bergerak meninggalkan airport menuju ke Kersik Tuo.  Namun sebelumnya terlebih dahulu mampir di Kota Padang untuk menjemput teman Johan bernama Yoga yang juga akan ikut serta. Setelahnya mobil langsung melesat meninggalkan Kota Padang dengan kecepatan tinggi.

Aku duduk di depan di samping supir mulai mencari posisi untuk tidur. Besok pagi akan langsung melakukan pendakian.

“Lumayan masih bisa tidur beberapa jam,” begitu pikirku.

Namun sepertinya aku harus berhenti berpikir dan berharap. Sesaat setelah memejamkan mata, aku harus terbangun karena kepalaku terantuk. Supir yang membawa kami sepertinya ‘mantan’ pembalap F1, super ngebut namun akan mengerem mendadak saat berpapasan dengan mobil atau kendaraan lainnya. Begitu seterusnya hingga tanpa terasa… aku tak mengantuk lagi. Dalam kegelapan subuh perjalanan ke Kersik Tuo, aku hanya bisa berdoa agar tak terjadi apa-apa selama dalam perjalanan. Syawal dan Yoga yang duduk di bangku belakang aku pikir tidur terlelap namun ternyata mereka berdua juga mengalami ‘nasib’ yang sama sepertiku. Stress!

P1160711

Singkat kata, kami tiba di Kersik Tuo pukul 7 pagi tanpa pernah semenit pun memejamkan mata dari semalam. Kami menemui Johan yang pagi itu ditemani salah seorang rekan yang juga dari Team Jelajah Kerinci yang juga akan mendampingi kami, namanya Yuda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah sarapan dan mandi di Basecamp Jelajah Kerinci, kami bersiap-siap. Barang dibongkar dan di-packing ulang. Johan sudah menyiapkan mobil pick up yang akan mengantar kami ke Pintu Rimba, titik awal pendakian. Tepat pukul 9, kami sudah meninggalkan basecamp Jelajah Kerinci menuju pintu rimba melewati simpang macan. Terlebih dahulu kami mampir ke kantor Seksi Pengelolaan TNKS Wilayah 1. Johan masuk melakukan registrasi sementara kami menunggu di luar sambil… foto-foto tentunya! Beberapa pendaki sepertinya juga sedang melakukan registrasi. Sesaat kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Pintu Rimba yang terletak di ketinggian 1800 mdpl.

P1160721

Usai berdoa bersama di depan Pintu Rimba, melangkahkan kaki menyusuri titik awal pendakian. Beberapa pendaki lain ikut bersama kami memasuki kawasan hutan. Kawasan yang ditumbuhi pohon-pohon besar dan rimbun tak ayal memunculkan kembali kekuatiran akan kehadiran si ‘Sumateran Tiger’. Namun aku tak menampakkan kekuatiran itu ke rekan lainnya. Hanya saja aku mengantisipasinya dengan lebih banyak berjalan di tengah barisan. Berselang 30 menit usai melewati rimbunan pepohonan di medan yang masih landai, kami tiba di pos 1 berketinggian 1900 mdpl. Ada sebuah pondok berdiri di bawah pohon. Kami beristirahat sejenak dan mengeluarkan makanan dan minuman ringan. Hawa sejuk dan hembusan semilir angin mulai membuat mata sesekali terpejam, namun perjalanan harus kembali dilanjutkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kondisi trek menuju ke Pos 2 lumayan landai. Kiri-kanan jalur ditumbuhi pohon tinggi namun tak terlalu rapat. Jadi suasana tak seram-seram amat. Meski demikian, bayangan akan kehadiran si ‘kucing raksasa’ tetap bermain-main dalam pikiran. Di Pos 2 yang berada di ketinggian 2000 mdpl, kami hanya berhenti selama 5 menit karena waktu tempuh yang hanya 45 menit tak terlalu melelahkan. Langkah kembali terayun usai menikmati seteguk air dan sekeping biscuit.

P1160742

Trek menuju pos 3 mulai berbeda dengan 2 pos sebelumnya. Medan trek mulai bervariasi dan mulai menanjak dan di beberapa titik terdapat trek yang curam dan terjal. Syawal yang sudah lama tak melakukan trekking sering berhenti mengatur nafas. Johan, Yudha dan Yoga terlihat masih santai karena sudah terbiasa melewati trek itu. Sementara aku? Mulai terserang rasa ngantuk.  Langkah tetap terayun meski terseret. Berselang 1 jam akhirnya kami tiba di pos 3. Aku menyarankan agar kita makan siang di tempat itu mengingat jam sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Johan menolak. Dia memberitahukan bahwa di Gunung Kerinci ini diusahakan untuk menghindari beristirahat dalam waktu yang lama sebelum shelter 1. Apalagi sampai membuka makanan khususnya daging atau makanan berbau lainnya. Hal itu bisa memancing kehadiran sang raja hutan.

“Widihhhh… buruan jalan ah, makan siangnya di shelter 1 aja, jika perlu di puncak aja sekalian…. Ancaman Johan serem dan sadis euyyyy…!”

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kami segera bergegas melangkah menuju shelter 1. Perjuangan sesungguhnya baru dimulai. Kami memasuki hutan yang cukup rapat dan medan jalan yang terjal. Beberapa kali kami harus bergantungan di akar pepohonan untuk bisa bergerak ke atas. Tak jarang harus saling menarik di trek terjal sambil bergantung di akar pohon. Butuh waktu 2 jam dari pos 3 untuk tiba di Shelter 1 di ketinggian 2500 MDPL. Aku segera menghempaskan carrier dan meluruskan badan karena kelelahan. Johan, Yoga dan Yudha menyiapkan makan siang yang sudah kami bungkus dari basecamp. Usai shalat Dhuhur, kami segera menyantap makan siang yang terasa sangat nikmat akibat kelaparan dan kelelahan.

P1160754

Perut sudah terisi, hawa sejuk diiringi angin sepoi-sepoi membuat mata yang sudah terasa sangat lelah.  Kantuk tak tertahankan lagi. Aku berbaring di atas tanah dan meminta waktu 15 menit untuk tidur sejenak.  Meskipun masih dibayangi kekuatiran akan kehadiran sang Raja Hutan, aku tak lagi peduli. Sebelum terlena, aku hanya bisa berdoa agar senantiasa dilindungi oleh–Nya dan saat terbangun nanti, aku masih di tempat yang sama. Aku pun  terbang melayang ke alam mimpi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Suara Syawal membangunkan untuk kembali berjalan. Perjalanan ke Shelter 2 semakin memprihatinkan dan menyesakkan dada. Jalan terjal, licin dan terkadang harus memanjat di sela-sela jalur air yang mirip tebing. Kami bergantian saling menarik. Nafas tersengal menghasilkan nada tak beraturan. Meski berada di tengah hutan nan rimbun, keringat jatuh membasahi badan. Untungnya stamina sudah mendapat tambahan tenaga setelah tidur dan beristirahat selama… 15 menit!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah berjibaku dengan trek yang sungguh tak mengerti akan kondisi badan kami yang kelelahan selama 3 jam, akhirnya kami tiba di shelter 2 di ketinggian 2950 MDPL. Tak terkatakan rasa lelah yang menerpa. Kembali kami mengeluarkan makanan dan ringan dan minuman. Meski terasa sangat lelah, kami tak bisa berlama-lama istirahat. Masih tersisa 1 shelter lagi di mana kami akan mendirikan tenda.

Perjalanan ke shelter 3 atau shelter terakhir semakin terlaaaaalu! Tanjakan terjal dan curam. Diperparah kondisi hutan yang mulai terbuka dan beberapa pohon tumbang dan semak belukar semakin melengkapi ‘perjuangan’ (bukan penderitaan karena saat naik gunung kami tak pernah menderita) kami. Meski demikian, kami tetap bersemangat karena ini adalah perjalanan terakhir sebelum menuju puncak keesokan harinya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jarak dari Shelter 2 ke Shelter 3 kami tempuh dalam waktu kurang dari 2 jam. Sesaat setelah menurunkan carrier dari punggung, aku menebarkan pandangan ke sekeliling. Subhanallah, luar biasa pemandangan dari shelter 3. Lautan awan laksana gulungan ombak di tengah samudera membuat seluruh rasa lelah seperti menguap bersama debu pasir gunung yang beterbangan. Cuaca tak begitu cerah sehingga kami tak bisa menyaksikan Danau Gunung Tujuh dari ketinggian 3200 MDPL ini. Meski demikian, pemandangan lautan awan sudah cukup menghiburku.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah puas mengambil gambar, aku kembali ke tenda bergabung dengan rekan-rekan yang sedang menyiapkan makan malam. Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat. Kami segera menghabiskan makan malam yang hanya terdiri dari mie instan dan lauk ala kadarnya. Setelahnya, tanpa basa-basi, aku dan Syawal segera menggelar sleeping bag dan langsung terlelap. Setelah terjaga selama lebih dari 36 jam dan hanya istirahat selama 15 menit, sudah waktunya tubuh diistirahatkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kami terbangun pukul 3 subuh. Rencananya kami akan menyaksikan sunrise di puncak gunung tertinggi di Pulau Sumatera itu. Setelah menikmati segelas teh hangat dan sekeping biskuit, kami segera mengayun langkah menuju puncak. Medan berbatu dan berpasir sepintas mirip trek yang ada di Gunung Slamet atapun Gunung Rinjani. Aku harus berhenti beberapa kali untuk mengatur nafas yang saling memburu. Sesekali memutar badan untuk menyaksikan langit yang secara perlahan mulai terlihat terang. Kami belum sempat mencapai puncak saat warna keemasan mulai menghiasi langit. Sang mentari sudah mulai menampakkan wujudnya pertanda tugasnya mengawal siang sudah dimulai. Aku terduduk sejenak menyaksikan pemandangan pagi yang selalu aku rindukan. Matahari terbit dari lautan awan.

P1160779

Pukul 7 pagi kami tiba di puncak, saat beberapa pendaki lain sudah terlebih dahulu tiba di sana. Pemandangan dari atas puncak atap Sumatra ini sungguh luar biasa dan spektakuler. lautan awan berpadu langit biru di terpa sinar kuning keemasan sang mentari… arghhh hati bergetar menatap sketsa alam negeri indah bumi Sriwijaya dari ketinggian 3805 MDPL. Indah… sangat indah… Hilanglah sudah semua letih dan lelah serta semua ‘perjuangan’ pun terbayar sudah….

IMG_8970

Kami secara bergantian mengambil foto dan sempat membuat video. Lautan awan masih terhampar sesekali diselingi oleh asap yang berasal dari kawah Kerinci. Usai berfoto saat mentari mulai meninggi, kami bergerak turun untuk kembali ke tenda. Saat perjalanan turun, Yuda menunjukkan sebuah tebing vertikal yang memiliki tekstur yang cukup untuk dipanjat. Aku berbelok arah ditemani Yuda dan Syawal untuk mencoba melakukan free climbing. Aku harus berhati-hati karena tak menggunakan alat pengaman sama sekali. Yuda bertugas untuk mengambil gambar dari kejauhan.

IMG_9007

Setiba di tenda kami segera menyiapkan sarapan dan bersiap-siap untuk turun. Matahari semakin tinggi dan panas mulai menyengat. Pukul 10 kami mulai meninggalkan shelter 3 kembali menyusuri jalur yang sama. Karena sudah beristirahat cukup semalaman, perjalanan turun terasa lebih segar dan penuh semangat. Hanya membutuhkan waktu 5 jam, kami sudah tiba kembali di pintu rimba di mana mobil yang kami charter sudah menunggu. Kami kembali ke basecamp Jelajah kerinci dan tiba di sana pukul 15.30. Kami segera istirahat makan siang lalu mandi. Setelahnya kami kembali bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Danau Gunung Tujuh! Nantikan ceritanya.

IMG_9016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s