Antara Jakarta – Mahameru

IMG_9204

Perjalanan berkendara menempuh jarak 2300 km route Jakarta – Ranupane – Jakarta, lanjut mendaki Semeru hingga Puncak Mahameru. Bermalam di Kota Wali Demak, melintasi  makam Sunan Kalijaga serta makam 3 mantan Presiden Indonesia hingga menyaksikan kebakaran Gunung Lawu di Magetan. Sempat ‘nyasar’ di jalan buntu akibat ulah Google Maps di dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ikuti kisah panjangnya..

Jam menunjukkan pukul 12 siang saat aku mulai bergerak meninggalkan Jakarta menyusuri toll JORR. Ditemani Qashwa, tunggangan sekaligus sahabat sejatiku dalam bertualang, aku akan menyetir sejauh lebih 1150 km membelah Pulau Jawa. Tujuan akhirnya hanya satu, Semeru!

Sebelum ke Ranupane, terlebih dahulu aku harus mampir di Tegal menjemput rekan yang akan mendampingi perjalanan kali ini. Namanya Nawir. Kami bertemu di pinggir jalan poros pantura lalu melanjutkan perjalanan. Untungnya kami bisa mengobrol sepanjang jalan untuk menghalau kejenuhan dengan kemacetan jalur pantura.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jam menunjukkan pukul 12 malam saat kami tiba di depan Masjid Agung Demak. Usai memarkir Qashwa di dekat alun-alun, kami menghampiri penjual wedang ronde. Lumayan buat mengusir lelah dan dingin. Kantuk mulai menyerang. Awalnya kami berencana ‘menggelandang’ di sekitar masjid untuk melewatkan malam.  Namun mengingat keesokan harinya masih harus menyusuri setengah perjalanan, kami memutuskan mencari penginapan. Kamar penginapan sederhana seharga Rp.100 ribu permalam menjadi tempat istirahat kami di malam menjelang pagi itu. Letaknya tepat di sisi Mesjid Agung Demak. Kamarnya hanya berisi kasur, bantal dan kipas angin  Karena kelelahan, kami langsung tertidur. Kumandang adzan subuh dari masjid yang dibangun oleh Wali Songo membuyarkan mimpi. Kami pun menyempatkan diri melaksanakan shalat subuh di Mesjid Agung Demak.

Jam 6 pagi kami kembali bergerak meninggalkan kota Demak. Awalnya ingin langsung menuju Kudus menyusuri jalur pantura. Namun route itu sudah berulang kali aku lewati. Akhirnya kupilih membawa Qashwa ke arah kanan menuju Purwodadi yang terletak di bagian tengah Jawa. Ini kali pertama aku akan melewati jalan ini. Tepatnya di kawasan dimana terdapat makam Sunan Kalijaga.

Karena serasa berada di in the middle of nowhere, aku berinisiatif menyalakan aplikasi Google Maps di handphone. Selanjutnya kuserahkan sepenuhnya pada aplikasi itu.  Sambil menikmati music, kami menurut saja saat GPS membelokkan kami ke arah jalanan berbatu dan sepi. Pemandangan pedesaan di kiri kanan jalan dengan tanah retak akibat kemarau panjang membawa kami ke sebuah…. jembatan kayu!  Apa yang aneh dengan jembatan kayu itu? Tak ada yang aneh, hanya saja jembatan kayu itu tak bisa dilewati mobil! Hanya motor, sepeda dan pejalan kaki yang bisa melintasi jembatan itu! Mobil silahkan cari jembatan lain!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Aku memundurkan Qashwa, mencoba mencari jalan lain sesuai tuntunan mr.Google, namun hasilnya nihil. Malah menemui jalanan buntu. Akhirnya kami terpaksa mundur dan kembali ke jalan raya. Google maps aku matikan dan mulai kembali mengandalkan cara lama saat berpetualang ke tempat baru, pakai insting dan bertanya!

Singkat cerita, setelah melewati Sragen, Ngawi, mampir shalat Jumat di Nganjuk, Kediri, melintasi makam Bung Karno di Blitar hingga akhirnya tiba di Kepanjen. Kami mampir makan malam di daerah Tumpang sebelum kembali melanjutkan perjalanan menembus kegelapan malam.  Selanjutnya kami melewati Gubuk Klakah, Ngadas dan belok kanan di daerah Jemplang hingga akhirnya tiba di Ranupane jam 9 malam.

IMG_9133

Kami mencari warung yang siapa tahu bisa digunakan sebagai tempat menginap semalam. Hanya ada 1 warung makan yang buka di Ranupane di malam nan dingin menggigil itu. Sepertinya tak ada area untuk menginap. Usai makan malam, kami ke mushala untuk melakukan shalat Maghrib dan Isya secara Jama’.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kami masih berusaha mencari tahu dimana kami bisa menginap malam itu.  Hawa dingin semakin menusuk tulang. Akhirnya karena tak menemukan tempat menginap, kami memutuskan untuk nge – camp di pinggir Danau Ranu Regulo. Letaknya tepat di sebelah parkiran. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, badan semakin menggigil. Aku mulai merasakan kebekuan di jari tangan dan kaki. Badan gemetar. Dengan bersusah payah aku dan Nawir mendirikan tenda di bibir danau. Sesaat setelah tenda berdiri, kami menyempatkan membuat susu hangat dan menikmati pemandangan malam di pinggir danau yang sangat sepi dan dingin malam.

Kami terbangun jam 5 pagi. Hari mulai terang, dingin menusuk tulang. Saat membuka pintu tenda, Ya Allah Ya Rabbi, pemandangan di depan kami membuat hati dan badan tergetar. Lukisan pagi di Ranu Regulo pagi itu sangat indah. Air danau menguap diterpa cahaya pagi mengintip dari balik celah-celah pepohonan. Menciptakan refleksi di air danau yang sungguh mempesona. Aku keluar dari tenda dan mengabadikan lukisan pagi yang indah nan cantik itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai sarapan seadanya, kami packing dan bergegas menuju pos pendaftaran. Sudah banyak rombongan yang tiba di sana. Beberapa di antaranya tiba dengan truk dan jeep. Di dekat pos, kami bertemu dengan 2 orang pendaki asal Mojokerto, Rudi dan Oki, yang memutuskan bergabung. Jadilah kami berempat akan mendaki bersama hingga ke Puncak Mahameru. Rudi dan Oki terlebih dahulu harus mengurus surat keterangan sehat di salah satu Puskesmas di Tumpang. Salah satu persyaratan pendakian. Sebelum melakukan pendakian, seluruh pengunjung harus mengikuti briefing yang dibawakan oleh salah satu komunitas sukarelawan. Tujuannya untuk memberikan gambaran kepada pendaki atau wisatawan yang akan berkunjung ke Semeru. Baik yang hanya sekedar berwisata ke Ranu Kumbolo ataupun mereka yang akan mendaki hingga ke Mahameru.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai briefing dilakukan pemeriksaan barang bawaan. Dengan biaya Rp.115 ribu untuk 2 orang selama 2 malam, tiket menuju ‘Puncak Para Dewa’ sudah di tangan. Aku dan Nawir harus menunggu Rudi dan Oki yang mengikuti briefing sesi ke 3.

Tepat jam 12 siang, kami sudah berkumpul dengan carrier bawaan masing-masing. Aku memimpin doa sebelum mulai bergerak. Langkah awal menyusuri jalan setapak ke pintu gerbang pendakian pun terayun. Banyaknya pengunjung membuat kami harus sering berhenti karena antri di jalur.

Dalam tempo 25 menit, kami sudah tiba di pos 1 di daerah Landengan Dowo di ketinggian 2300 MDPL. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati beberapa potong semangka yang dijual di pos itu. Cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Jalur masih dipenuhi pengunjung lain yang mengakibatkan antrian panjang membuat kami harus berhenti beberapa kali. Beberapa jalur yang terlihat pernah longsor membuat kami harus berjalan ekstra hati-hati. Butuh waktu 1,5 jam untuk tiba di pos 2.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perjalanan ke Pos 3 kembali diwarnai dengan jalur yang naik turun dengan kemiringan bervariasi meski tak ada yang terlalu ekstrim. Beberapa trek terdapat tanah bekas longsor yang mengharuskan kami berhati-hati apalagi jika berpapasan dengan pendaki lain. Trek dari Pos 2 ke Pos 3 adalah trek terpanjang dan terlama. Butuh waktu 2.5 jam untuk mencapai Pos 3. Sebuah pondok di pinggir trek menjadi tempat persinggahan pendaki melepaskan lelah. Cuaca mendung dan udara dingin membuat kami tak ingin berlama-lama istirahat. Semakin lama beristirahat, hawa dingin semakin menusuk tulang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selepas Pos 3, tanjakan dengan kemiringan 45 derajat menyambut. Beberapa pendaki tampak bersusah payah melewatinya, meskipun treknya tak terlalu panjang. Selepas tanjakan itu, kami tiba di tempat di mana bisa menyaksikan Ranu Kumbolo dari ketinggian. Tampak air danau yang tenang dan puluhan tenda warna-warni terlihat dari kejauhan. Sayang sekali cuaca mendung hingga tak bisa menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo dari ketinggian dengan sempurna. Ada sedikit rasa kecewa.

Sambil terus berjalan menyaksikan Ranu Kumbolo kami tiba di sebuah pondok yang ternyata adalah Pos 4. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba seberkas cahaya menerobos sebuah lubang awan dan menciptakan sebuah pemandangan yang sangat spektakuler. Seberkas cahaya mirip lampu sorot raksasa menerangi sabana di punggung bukit dan menciptakan sebingkai lukisan alam yang sangat indah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tiba di Ranu Kumbolo kami langsung mendirikan tenda. Kami mendapat tempat  di pinggir yang langsung menghadap danau. Seperti biasa, perlengkapan dapur segera dikeluarkan untuk membuat minuman hangat pengusir rasa dingin yang mulai ‘menggelitik’. Beberapa pengunjung terlihat bermain di sekitar danau.

Seiring turunnya senja, hari mulai gelap. Hawa dingin semakin menusuk tulang. Jaket dan celana tebal aku kenakan untuk mengusir dingin. Pendaki lain terus berdatangan. Usai menikmati makan malam, aku memilih tidur untuk mengistirahatkan badan yang sudah terasa sangat lelah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Terbangun jam 5 pagi, lagi-lagi kami dihadapkan dengan pemandangan indah Ranu Kumbolo. Langit temaram menyiratkan cahaya dan bayangan pagi di atas permukaan air danau yang dipenuhi uap air. Saat aku keluar tenda, aku mendapati butiran-butiran Kristal embun yang masih melekat. Artinya suhu udara hampir mendekati minus. Segera aku ambil kamera dan berjalan mengambil beberapa foto.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai menikmati teh jahe hangat dan sarapan pagi berupa mie instant, kami mulai membongkar tenda. Perjalanan ke Kalimati yang merupakan pos terakhir sebelum muncak akan kembali dilanjutkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tanjakan Cinta yang berkemiringan hampir 45 derajat adalah trek pertama yang harus dilalui selepas Ranu Kumbolo. Pasti semua sudah tahu tentang mitos dari tanjakan cinta ini. Konon jika bisa melewatinya tanpa menoleh maka akan segera bertemu jodoh. Aku yang tak pernah percaya dengan hal seperti itu sama sekali tak tergoda membuktikannya. Usai melangkah beberapa langkah, aku selalu menoleh ke belakang. Keindahan danau berair tenang berbatas bukit dengan taburan tenda warna-warni adalah pemandangan indah yang tak boleh dilewatkan. Jodoh diatur oleh Allah, bukan tanjakan ini.

Tiba di puncak tanjakan cinta kami langsung dihadapkan dengan pemandangan sabana Oro-oro Ombo yang terkenal itu. Tadinya sabana itu didominasi oleh hamparan warna ungu Bunga Verbena brasiliensis, namun kebakaran telah menjadikannya sangat ‘eksotis’ dengan warna coklat kering.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selepas Oro-oro Ombo, kami tiba di Cemoro Kandang berketinggian 2500 MDPL. Seorang pedagang semangka telah menunggu dengan potongan semangka-nya yang terlihat begitu ‘menggairahkan’. Tak pakai lama, kami langsung menyerbunya. Sungguh segar dan nikmat memakan semangka dalam udara panas menyengat. Tak terasa 3 potong semangka telah habis ludes.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dahaga terobati, lelah berkurang, saatnya kembali memanggul carrier melanjutkan perjalanan. Kali ini pos tujuan kami adalah Jambangan yang berada di ketinggian 2600 MDPL.  Trek yang naik turun ditambah panas menyengat membuat tubuh terasa cepat lelah dan sering berhenti istirahat. Beberapa pendaki lain tampak melepas lelah di bawah pohon yang tak terlalu rindang. Aku tetap berjalan pelan dengan beban di punggung hampir 20 kg. Demikian juga dengan Nawir, Rudi dan Oki. Sesekali kami bercanda untuk menghilangkan kebosanan. Puncak Semeru sesekali terlihat dari balik awan dan pepohonan.

Setelah berjalan 1.5 jam, akhirnya kami tiba di Pos Jambangan, pos terakhir sebelum Pos Kalimati tempat kami akan mendirikan tenda. Seperti di Cemoro Kandang, di Jambangan pun terdapat pedagang semangka maupun minuman dingin. Hawa panas menyengat, keringat meleleh sebesar biji jagung ditawarin semangka merah nan ranum, siapa yang tak tergoda? Iris demi iris semangka yang dijual Rp.2.500 per irisnya pun hilang ditelan haus yang menerpa. Hal yang sama juga dilakukan pendaki lain yang ada di Pos Jambangan itu. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, Mas-mas Semangka kembali harus menambah stock irisan di atas mampan yang ludes dalam sekejap.

Usai rehat dan berfoto di papan tanda Pos Jambangan, kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Kali ini trek dan jalurnya sudah sangat ‘santai’. Menurut Mas-mas Semangka, perjalanan hanya membutuhkan waktu 15 – 20 menit untuk tiba di Kalimati dengan trek datar dan menurun. Carrier segera kami panggul dan bersiap-siap melangkah..tapi, ”eitssss…. semangkanya bayar dulu dong!” Teriak si Mas-nya. Oh iya hampir lupa… Hehehe

IMG_9210

Hanya berselang 20 menit kami tiba di Pos Kalimati di ketinggian 2700 MDPL. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Pos di mana kami akan mendirikan tenda sebelum memulai perjuangan menuju puncak di dini harinya.  Aku mendirikan tenda, Nawir dan rekan lainnya mengambil air yang terletak sekitar 1 km dari lokasi nge-camp. Inilah salah satu alasan mengapa hampir semua pendaki yang akan melakukan pendakian ke Puncak Mahameru menjadikan Pos Kalimati ini sebagai lokasi nge-camp. Sumber Mani, satu-satunya sumber mata air setelah Ranu Kumbolo yang terus mengucurkan air meskipun musim kemarau. Hanya saja saat mengambil air di sana, kami harus mengantri karena pancuran yang tersedia hanya satu. Jika anda kelelahan dan tak punya tenaga berjalan selama 15 menit ke sana, anda bisa membeli air yang dijajakan porter dengan harga Rp.10.000 per-botol air mineral besar.

Sorenya aku hunting foto dengan objek Puncak Mahameru dengan Wedus Gembelnya yang terlihat kalem sore itu. Jam 7 malam kami semua beristirahat karena akan mulai berangkat menuju ke ‘Sebuah Legenda Tersisa’, Mahameru tepat jam 12 tengah malam.

Aku terbangun jam 23.45 dan segera membangunkan Nawir. Rudi dan Oki di tenda sebelah sepertinya masih tertidur pulas. Kami bangun memasak air untuk membuat minuman hangat dan memakan beberapa cemilan untuk mengganjal perut. Target berangkat jam 12 sepertinya tak terkejar. Usai makan dan memasukkan semua perlengkapan ke dalam tenda.  Aku kembali memimpin doa sebelum bergerak menuju puncak Mahameru.

IMG_9247

Jalan beriringan dengan hanya diterangi cahaya headlamp di pagi buta nan dingin membuat kami tak bisa saling mengenali. Aku hanya berjalan mengikuti langkah orang di depan. Setelah berjalan sekitar 1 jam lamanya, tiba-tiba terdengar suara, “ Woee, salah jalur! Ini jalur lama!” Beberapa orang di belakangku berhenti. Rombongan yang berjalan di depanku terus berjalan. Aku jadi galau, apakah ikut berhenti atau tetap berjalan. Akhirnya aku putuskan untuk tetap berjalan. Sebenarnya saat di-briefing di Pos Ranupane juga sudah diinfo bahwa jalur ke Arcopodo saat ini ada 2 yakni jalur lama dan jalur baru. Karena jalur lama pernah mengalami longsor lalu dibuatlah jalur baru. Kedua jalur itu masih bisa dilaluin namun khusus untuk jalur lama membutuhkan kehati-hatian ekstra karena masih rawan longsor.

IMG_9234

Memang benar, di jalur itu kami terkadang harus merangkak dan melangkah dengan sangat hati-hati karena beberapa jalur yang kami injak seperti rawan longsor. Kami sering berteriak mengingatkan pendaki lain yang berada di belakang untuk berhati-hati. Seperti itulah kami para pendaki jika berada di gunung. Tak perlu saling mengenal untuk saling membantu dan mengingatkan. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama.

Jam baru menunjukkan pukul 3 subuh namun tak terhitung sudah berapa kali aku harus berhenti mengatur nafas. Meskipun berhentinya tak bisa terlalu lama karena rasa dan hawa dingin akan segera menyergap. Sementara trek berpasir yang kami lalui seperti tak memberi ampun. Hanya ada 2 pilihan, kobarkan semangat untuk terus mendaki punggungan pasir atau kembali ke Kalimati tanpa hasil apa-apa alias menyerah.

Langkah demi langkah terus terayun, meskipun terkadang langkah yang terayun harus kembali ke posisinya semula karena diturunkan oleh pasir. Aku tak mau menyerah. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa puncak bukanlah tujuan utama namun bagiku puncak adalah sebuah target dan tujuan setiap pendakian. Mencapai puncak ibarat sebuah hadiah untuk sebuah perjuangan serta semangat pantang menyerah. Aku harus ke puncak selama alam dan kondisi tubuh masih mengijinkan.

Langit mulai terang saat jam masih menunjukkan pukul 4.30 pagi. Beberapa pendaki yang berada di depan terlihat beristirahat. Bahkan ada yang tertidur di trek. Saat menoleh ke bawah juga tampak pemandangan yang sama. Aku berhenti sejenak di atas sebuah batu dan melepas jaket. Aku harus shalat subuh namun terlebih dahulu harus bertayammum. Lagi-lagi sebuah rasa haru bersemayam di dalam hati saat shalat di punggung gunung tanpa beralaskan sajadah. Kedekatan dengan Sang Maha Pencipta semakin terasa. Setitik air bening hangat pun meleleh…

Usai shalat pendakian kembali dilanjutkan. Tenaga yang masih tersisa dikeluarkan meski terasa semakin berat. Untuk mendaki ke puncak Mahameru memang alangkah baiknya dilakukan saat masih gelap di mana trek tak kelihatan. Saat mendaki dalam keadaan terang, faktor emosi sudah sangat berperan. Melihat puncak yang sudah semakin dekat namun saat dijalani terasa sangat jauh. Tanjakan pasir di Semeru tak ubahnya tanjakan Pemberi Harapan Palsu (PHP). Jarak yang terlihat dekat namun saat dijalani masih sangat jauh dan kembali menghempaskan semangat ke titik paling rendah.

IMG_9352

Setelah berjibaku dengan trek pasir dan emosi yang terobrak-abrik karena kelelahan, akhirnya tiba jualah kami di puncak Mahameru. Jam menunjukkan pukul 7 pagi. Aku bergabung bersama 3 rekan lainnya yang tiba beberapa menit lebih awal. Sejenak kami melepaskan lelah sambil menikmati pemandangan sekitar setelah berjuang selama 6 jam 15 menit dari Pos Kalimati.  Pemandangan cerah dari puncak Mahameru yang sesekali diwarnai hembusan Wedus Gembel seolah melepaskan semua rasa lelah. Terbayarlah sudah perjuangan panjang sejak meninggalkan Jakarta hingga ke atap pulau jawa di ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut ini. Aku dan Nawir saling berjabat tangan tanda kesuksesan sebuah perjalanan panjang dan obsesi. Juga dengan 2 rekan baru kami, Rudi dan Oki. Kami lalu bersama-sama menuju titik triangulasi untuk berfoto. Selain kami, ada sekitar 30-an pendaki lain yang ada di Puncak Mahameru pagi itu.

Usai berfoto kami sepakat untuk segera turun. Matahari semakin tinggi, cuaca bertambah panas. Seperti disarankan saat briefing, batas maksimal untuk berada di puncak adalah pukul 10 pagi. Selepas jam itu biasanya angin akan datang. Asap belerang  yang tertiup angin bisa terhirup. Asap belerang Gunung Semeru ini diketahui beracun dan sering meminta korban. Saat berjalan turun pun pendaki harus berhati-hati. Jalur yang dilewati masih sama. Pendaki disarankan berjalan santai dan tidak berlari. Mengingat masih banyak pendaki lain yang sedang nanjak, juga dikuatirkan batu atau pasir yang merosot turun bisa mengenai dan melukai mereka. Karena cuaca sangat cerah kami tak menemui masalah melewati jalur meskipun harus berjibaku dengan debu pasir yang menghalangi pandangan dan pernafasan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kami tiba kembali di Pos Kalimati berselang 40 menit kemudian. Nawir menyiapkan sarapan ditemani Rudi dan Oki. Aku memilih tidur dan baru terbangun setelah Nawir membangunkan karena harus segera packing. Sleeping bag digulung, tenda dibongkar dan semuanya dimasukkan kembali ke dalam carrier. Jam 11 siang kami mulai bergerak turun melewati jalur yang sama. Mampir sejenak di Ranu Kumbolo melepas lelah dan mendapatkan makan siang gratis dari pedagang makanan di pos yang sudah akan pulang. Meskipun hari itu hari senin, tampak beberapa tenda terlihat di sana. Selain banyak pengunjung yang menikmati liburannya di sana, terkadang beberapa pendaki juga suka melewatkan waktunya beristirahat semalam di Ranu Kumbolo usai muncak. Namun kami memilih untuk langsung ke Ranu Pane.

Hari mulai gelap saat kami tiba di Ranupane. Kami mampir ke sebuah warung makan dan harus kembali mengambil KTP.Aku dan Nawir berpisah dengan Rudi dan Oki yang memilih pulang duluan ke Mojokerto.  Aku dan Nawir terlebih dahulu makan malam. Setelah menikmati makan malam, kami berdua meninggalkan Ranu Pane kembali melewati kegelapan malam menuju Malang dan menginap di sana.

Selepas Malam dan Surabaya, kami mengambil arah Madiun dan mampir ke Danau Sarangan di Magetan untuk melepaskan lelah. Perjalanan berlanjut  melewati perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah di daerah Tawang Mangu. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Perjalanan kami lanjutkan hingga berhenti sejenak untuk makan malam di salah satu rumah makan di Kota Solo untuk selanjutnya kembali ke Guci di Tegal.

Aku menginap semalam di Guci dan paginya menyempatkan diri mandi di permandian air panas. Usai berendam aku segera bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Aku akan kembali menyetir seorang diri. Setelah pamit dengan Nawir dan rekan-rekan dari Kompak, komunitas pencinta alam di Guci, aku kembali menyusuri Jalur Pantura. Tiba di Jakarta saat malam mulai menyelimuti ibukota tercinta. Usailah sudah perjalanan menyusuri Tanah Jawa hingga ke puncak tertinggi sekaligus atas pulau ini, Mahameru.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

 

Advertisements

One thought on “Antara Jakarta – Mahameru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s