Ini Afrika Bung – Part 3

IMG_1549

Pagi menjelang. Sinar kemerahan mewarnai pagi terakhir di camp site. Yah,  ini hari  terakhir aku akan bersafari sebelum kembali ke Moshi. Masih tersisa 1 taman nasional lagi yang akan dikunjungi, Taman Nasional Manyara Lake. Taman Nasional seluas 330 km2 mencakup 2 wilayah, Arusha dan Manyara. Letaknya tak jauh. Camp site yang aku tempati menginap selama bersafari ini terletak tepat di pinggir taman nasional. Tak heran jika malam-malam sering mendengar suara raungan hewan liar dari dalam taman nasional.

Setelah membereskan semua barang bawaan, aku menuju area restoran. Sudah banyak tamu lain di sana. Lagi-lagi, semua tamu belum tahu dengan siapa mereka akan bergabung. Seperti 2 safari sebelumnya, tamu baru mengetahui rekan rombongannya sesaat sebelum naik  jeep.

JpegAku mengambil bangku di salah satu meja. Tak berselang lama, sarapan untukku terhidang. seperti biasa, 2 helai roti bakar dengan bermacam selai dalam botol mengelilingi. Kusantap sarapan itu tanpa semangat. Tiba-tiba kangen nasi uduk, sarapan rutin saat di Indonesia. Aku hanya bisa menelan ludah mengingat gurihnya nasi uduk. Beda dengan jenis makanan yang tersaji kaku di hadapanku saat itu.

Sarapan usai, kami sudah berkumpul di luar restoran, tepatnya di parkiran. Tampak jeep berjejer. Kesibukan masih mewarnai camp site. Petugas yang akan mengawal safari terlihat mondar-mandir antara dapur dan jeep. Tampaknya mereka sedang mengurus bekal makan siang. Para supir asyik memanasi jeep-nya sambil sesekali bercanda. Saat sedang berdiri seorang diri, tiba-tiba seorang pemuda berkulit hitam menghampiri,

“Hi. I heard you will check out today.”

“Yes, I will.”

“Where will you go?”

“I’ll be back to Moshi after Safari to Manyara Lake.”

“Did you enjoy your stay here?”

“Yeah, I did. “

“How about the food, did you like it?”

“Hmmmm.. yeah.” Aku tak bilang kalau aku menderita karena makanannya aneh. Belum lagi pengalaman di malam pertama dimana harus terlambat makan malam karena ada mis-kordinasi. Tapi, sudahlah. Setidaknya untuk menyenangkan hati mereka.

“If you like the food, then you must give me tip! I am chief here”

“What? Why must i give you tip? I already put my tip into the tip box in the restaurant.” Di dalam restaurant ada kotak untuk menerima tip dari tamu. Aku sudah memasukkan beberapa lembar Tanzania Shilling (TZS) ke dalam kotak itu untuk tip para waiter.

“It’s different. That’s for waiter, not for me and my friends who are in the kitchen”

“Must I give the tip to all people and staffs here?”

“This is Africa, man. You come here for vacation. You must be very happy.  Are you happy?” Dia masih nyerocos.

“Yeah, I’m happy.”

“But, I’m not happy because you don’t give me money!”

“I can’t take responsibility for your happiness, brother. I must take mine!” Aku menatapnya.

Dia balik menatap. Lama. Aku diam saja. Akhirnya dia pergi kembali ke dapur. Dari kejauhan aku melihat mereka sepertinya membicarakanku. Aku pura-pura cuek dan pindah tempat. Bukannya pelit, selama ini aku belum pernah memberikan tip kepada petugas dapur, kecuali ke room boy yang biasa mengantar room service. Tapi di sini, di Afrika, seorang chief mendatangi untuk meminta tip.

Belum ada tanda-tanda keberangkatan. Kesibukan masih sama. Aku kembali ke dalam restoran. Saat di dalam restoran itulah Bobby, supir yang mengantar bersafari kemarin mendatangi.

Bro, do you still have money?” Bobby duduk di sampingku.

“For what?”

“Can you give it to the chief who came to you just now? He stopping all the staffs in the kitchen because you didn’t give him money.”

“Whaaatt?” Chief gendeng! Pantas aja kita belum berangkat karena bekal makan siang belum kelar. “How much, Bob?”

“Up to you!” Jawab Bobby singkat.

Aku membuka tas. kuambil selembar 5 dollar dan memberikannya ke Bobby.

“But wait, why must i give him money? I already put my tip into that box” kataku seraya menunjuk tip box di sudut ruangan. Akhirnya Bobby bercerita. Para tukang masak itu sebenarnya bukan pegawai hotel. Mereka hanya dipanggil jika ada tamu menginap alias tukang masak lepas. Tip box itu hanya untuk petugas hotel, jadi mereka tidak akan kebagian.

“Arggghhh.. ok then. just give it to him and let’s go!”

“Thanks bro. Please wait!” Bobby berlalu.

Jeep siap, semua tamu bergegas naik ke jeep yang sudah di tunjuk. Seperti biasa, masing-masing jeep akan bergerak menuju tujuan masing-masing. Hari ini aku serombongan dengan 3 orang pemuda asal Slovenia. Thomas, Nick dan Paul. Mereka juga akan langsung berangkat menuju Arusha usai Safari.

JpegJeep bergerak meninggalkan camp site. Aku duduk di depan, sementara ketiga pmuda Slovenia itu duduk di belakang. Bahkan mereka langsung tidur. Tampaknya semalam mereka begadang sambil mabuk-mabukan. Aku yang tidur di samping tenda mereka bisa mendengarnya. Hanya berselang 10 menit, kami sudah tiba di pintu gerbang Manyara Lake National Park. jeep berhenti untuk registrasi dan membayar entrance fee. Karena cukup banyak jeep yang antri, sang supir membiarkan kita jika mau berjalan-jalan di sekitar gerbang.

Selepas pintu gerbang, kami di sambut kawanan monyet. Tak terlalu menarik. Aku biarkan. Apalagi ke -3 bocah gendeng Slovenia itu, mereka sudah tidur pulas. Tapi emang bener seh, ngapain jauh-jauh ke Afrika buat lihat monyet? Supir terdengar sibuk sendiri bicara dengan rekannya lewat radio. Tentu saja dalam bahasa Swahili (bahasa asli Afrika). Sepertinya dia membicarakan kami karena sesekali dia melirik ke arahku dan melihat ke belakang. Mungkin dia berkata, “Baru kali ini aku bawa tamu untuk safari malah pada tidur”  Lagiaannnn, liat monyet!

Jeep terus berputar-putar. sesekali terdengar pembicaraan dari bangku belakang. Kadang Bahasa Inggris, kadang Bahasa Slovenia, mirip Bahasa Rusia. Yah, Slovenia memang pecahan Uni Soviet kan?

DSC01462Pemandangan di luar sana masih biasa. Hanya terlihat puluhan zebra berkeliaran. Masih tetap tak menarik. Burung pelikan berparuh panjang juga terlihat biasa saja. Sang supir sudah kehabisan akal. Dia akan membawa kita ke view point terakhir yang cukup menarik, Kuda Nil. Nahhh kalau untuk hewan ini aku belum pernah lihat. Aku bangun mempersiapkan kamera. Ke-3 kurcaci di belakang ikutan. Mereka bangun dan membuka atap jeep. Aku ikut membuka atap bagian depan.

Di pinggir danau nan luas itu, terdapat tanah lapang yang juga luas. Puluhan zebra berkeliaran. Burung-burung pelikan beterbangan menimbulkan suara gaduh. Terlihat tanda petunjuk ke arah kuda Nil. Ada danau kecil berwarna hijau. Itulah danau tempat kuda nil berendam. Meski cuaca mendung namun hawa panas tetap menyengat. Tak heran sang hippo memilih berkubang. yang terlihat hanya kepalanya saja. Apa menariknya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang. Supir menawarkan makan siang yang kami jawab serempak.

“Hi Hadi, what you did during your visit here?” Thomas, pemuda jangkung yang ternyata seorang model di Slovenia membuka percakapan denganku.

“Hmmm, before i came here, I just climbed Kilimanjaro.” jawabku

“Did you manage to the top? Via what route?”

“Yes, via Machame route”

“Oh ok. We will climb Kilimanjaro through that route as well. Did you have problem with the altitude?”

“I’m still here, rite? I took diamox”

“Where did you get it?”

” I bought it in drug store in Arusha. If you want, i still have 1 strip. I can give it to you.”

“Yes, I want!” Thomas tersenyum.

Begitulah traveler. Ada banyak hal yang bisa membina perkenalan dan keakraban. Cerita antara kami pun mengalir. Aku banyak bercerita tentang gunung-gunung di Indonesia. Mereka bercerita banyak tentang seseorang yang berasal satu kampung dengan mereka, Melania Trump! Tentang apa saja? Nggak ah, nggak enak ngomongin orang. Istri presiden lagi! Takut di sangka hoax! Hahaha

Usai makan siang, kami sepakat meninggalkan Taman Nasional Manyara Lake. Kami akan segera menuju ke Arusha. Di sana aku akan diantar ke tempat dimana Richard sudah menyiapkan mobil yang akan mengantarku kembali ke Moshi. Malam ini aku akan kembali menginap di Moshi.

Singkat kata, aku tiba kembali di hotel tempat menginap di Moshi. Richard sudah menanti di sana. Malam ini tak banyak aktifitas yang akan aku lakukan selain packing. Besok siang aku harus segera meninggalkan Tanzania. Sudah itu saja? Sebentar, masih ada 1 cerita menarik.

Barang-barang sudah aku siapkan di lobby. Richard sudah berjanji menjemputku jam 1 siang. Pesawat yang akan membawaku ke Maroko akan berangkat jam 4 sore. Sambil menunggu di lobby, Jenny sang receptionist bertanya,

“Hi Dio. What time your flight? to where?” Masih ingat kan namaku Dio? Hehehe

“I will leave at 4 pm to Ethiopia and Egypt before fly to Morocco” Jenni manggut-manggut.

Did you enjoy your vacation in Tanzania?” Perasaanku mulai tak enak.

“Yeah, I love it. I love Kilimanjaro, Safari, all the things” lagi-lagi aku basa-basi.

“Do you still have shilling in your wallet?”

“Yes, I have.”

“Will you bring it to your country?”

“Yes, I will. “ Aku sudah menebak arah pembicaraannya tapi pura-pura bego.

“Why must you bring it to your country as you can’t use it there.”

“Hmmm… You want me to give it to you?” Tanyaku seraya tersenyum.

“Yes, just give it to me as a tip” Lagi-lagi soal tip. Aku mengeluarkan selembar 1000 TZS dan memberikannya ke Jenni.  Satu shilling tanzania sama dengan 6 rupiah. Jadi aku memberikannya tip 6000 rupiah. Hehehe… aku tambahkan selembar 1000 shiling lagi. Dia tersenyum lebar. Untungnya supir Richard segera datang menjemput menuju ke Kilimanjaro Airport. Dari kejauhan terlihat Uhuru Peak berbalut salju seakan mengucapkan selamat jalan.

Selamat Tinggal Uhuru Peak, selamat tinggal Kilimanjaro, selamat tinggal Tanzania. Hakuna Matata. 

Sampai jumpa di petualangan berikutnya di…. Maroko!

IMG_0742

 

Advertisements

One thought on “Ini Afrika Bung – Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s