Gua Tsur, Saksi Sejarah Tahun Baru Islam – Catatan Perjalanan

JpegPerjalanan ke Gua Tsur menghadirkan rasa yang tak terungkap kata. Mengenang perjuangan Rasulullah SAW saat hijrah laksana skenario perjuangan yang mustahil terjadi tanpa campur tangan-Nya. Seperti apa Gua Tsur yang memegang peranan penting dalam proses hijrah? Ikuti catatan perjalanannya…

Dikisahkan Rasulullah SAW bersama sahabat setia beliau, Abu Bakar Ash Siddiq meninggalkan Kota Mekkah di tengah malam buta. Semua atas petunjuk Allah SWT untuk hijrah ke Kota Yastrib (Medinah). Seluruh penduduk muslim Mekkah sudah terlebih dahulu berada di Yastrib. Kecuali Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Meskipun Yastrib terletak dibagian utara Mekkah, Rasulullah SAW dan Abu Bakar berjalan ke arah selatan. Itu skenario agar terhindar dari kejaran Kaum Kafir Quraisy. Namun malang tak dapat ditolak, kaum Quraisy bisa mengikuti jejak beliau. Saat terdesak, beliau dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur. Kaum Quraisy yang mengejar mereka berhasil menyusul hingga ke mulut gua. Saat Kaum Quraisy mencoba masuk, mereka mendapati sarang laba-laba dan burung merpati sedang bertelur di mulut gua. Akhirnya mereka mengurungkan niat untuk melihat ke dalam. Mereka berpikiran bahwa gua itu tidak mungkin pernah di masuki siapapun karena adanya sarang laba-laba. Kaum Quraisy lalu kembali ke Mekkah untuk mengabarkan kegagalan mereka. Rasulullah Muhammad SAW dan Abu Bakar bersembunyi di dalam gua selama 3 hari dan baru keluar setelah yakin situasi aman. Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Kota Yastrib menemui Umat Islam yang sudah menunggu mereka. Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Kota Yastrib menjadi titik awal perhitungan Tahun Hijriyah dalam Kalender Islam.

Demikian sepenggal sejarah perjalanan hijrah Rasulullah SAW dari Mekkah ke Medinah (Yatrib). Perjalanan yang menjelaskan arti penting Gua Tsur dalam sejarah Islam, khususnya berhubungan dengan tahun baru Hijriah. Aku mendapat kesempatan mengunjungi Gua Tsur beberapa waktu lalu. Berikut kisahnya

Usai shalat Azhar di Masjidil Haram, aku bergegas menuju tempat pemberhentian taksi. Sebelumnya aku mampir mengisi water bag yang aku bawa dengan air Zam-Zam. Untuk bekal di jalan. Tak perlu menunggu lama, sebuah taksi berhenti di depanku. Aku menyebutkan tujuanku ke Jabal Tsur, Sang supir mengangkat 2 jari tangan. Artinya biayanya 20 Saudi Riyal (SR), setara 75 ribu rupiah. Aku setuju.

Aku duduk di samping supir Arab berkewarganegaraan Yaman, namanya Abdul Munir. Sayangnya dia tak bisa berbahasa Inggris apalagi Bahasa Indonesia. Aku mencoba bertanya menggunakan bahasa tarzan (bahasa tubuh) menanyakan seberapa jauh Jabal Tsur. Tetap saja Munir tak bisa menjawab. Ya sudahlah, akhirnya aku hanya duduk menikmati perjalanan yang mulai diwarnai hujan rintik-rintik. Sesekali aku meminta Munir menyalakan wiper agar bisa mengambil foto. Taksi yang dikemudikan Munir tergolong mobil mewah jika di Indonesia. Jenis mobil itu digunakan sebagai mobil dinas menteri dan pejabat penting negara. Di Mekkah dijadikan taksi!

Berselang 15 menit setelah menempuh jarak 6 km, taksi berbelok ke kawasan perumahan. Kami melewati lorong-lorong kecil hingga tiba di kaki Jabal Tsur. Masih dengan bahasa tubuh, Munir menunjukkan jalan menuju puncak. Sebelum turun dia mengingatkanku untuk membawa air dengan memberi kode seperti orang minum. Aku menjawabnya dengan senyum sambil menepuk daypack yang aku bawa. Artinya, “Gua udah bawa bro, syukron.”

Langit mendung diwarnai gerimis saat aku mulai menapaki jalur menuju Puncak Jabal Tsur. Sebuah papan besar berisi himbauan pemerintah Arab Saudi agar pengunjung tak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasul. Misalnya mengusap batu dengan niat tertentu, mengikat pohon, mengambil tanah dan bebatuan serta hal-hal yang berbau bid’ah (menyalahi Sunnah Rasulullah SAW) lainnya. Tak terbersit di pikiranku untuk melakukan hal-hal seperti itu. Tujuanku hanya ingin naik gunung dan melihat Gua Tsur itu seperti apa. Mungkin setelah melihat langsung tempatnya aku bisa membayangkan kejadian saat Rasulullah di sana seperti apa. Hal itu akan semakin menambah kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW junjunganku. Itu saja.

Jalur berpasir dengan kemiringan bervariasi antara 30–50 derajat mewarnai perjalanan awal menuju puncak Jabal Tsur di ketinggian 1650 meter di atas Permukaan Laut (Mdpl). Jalur berliku melewati punggung gunung tak ayal membuatku beberapa kali harus berhenti mengatur nafas. Beberapa orang turun dari puncak sesekali berpapasan denganku. Kami saling memberikan dan menjawab salam.

Setelah berjalan menanjak selama 30 menit, aku tiba di salah satu warung yang menjual makanan ringan dan minuman panas. Aku mampir istirahat sejenak. Jam sudah menunjukkan pukul 4.30 sore. Aku ingin segera tiba di puncak dengan harapan bisa menyaksikan sunset. Meskipun harapan itu nyaris mustahil mengingat mendung tebal masih menggelayut di langit Mekkah. Beberapa orang Pakistan yang baru turun mengabarkan bahwa masih butuh waktu 1 jam lagi untuk tiba di Puncak dan di Gua Tsur.

Sebelum lanjut, aku berhenti sejenak mengamati jalur yang akan dilalui sampai puncak. Sepertinya jalur itu berbelok membentuk huruf C. Jika aku bisa mengambil jalan pintas, mungkin bisa tiba lebih cepat. Puncak persis berada di depanku sejajar garis lurus. Artinya harus potong jalur jika ingin tiba lebih cepat, begitu pikirku. Resikonya aku harus merangkak di beberapa tebing dengan kemiringan 80 hingga 90 derajat. Ok, mari kita coba.

Aku mengambil jalur persis di belakang warung. Batu-batu besar saling bertumpuk melintang di jalur pendakian. Tak jarang aku harus memanjat. Beberapa putri malu dan tanaman berduri tumbuh di beberapa tempat. Setelah mendaki beberapa menit, aku berhenti sejenak. Aku mengingat beberapa literature yang pernah aku baca, saat Rasulullah Muhammad SAW mendaki Jabal Tsur, kaki beliau terluka. Saat tak mampu lagi berjalan, beliau digendong oleh Abu Bakar hingga tiba di dalam Gua Tsur. Apakah luka itu disebabkan karena sulitnya medan pendakian dan tusukan tanaman berduri itu? Shalawat dan salam terkirim untukmu wahai Rasulullah…

Aku kembali melanjutkan pendakian, tepatnya pemanjatan. Baru beberapa saat memanjat, tiba-tiba hujan turun. Aku mencari tempat berlindung. Untungnya ada sebuah batu yang didalamnya terdapat lubang menyerupai gua. Aku masuk ke dalam lubang itu sambil mengeluarkan jas hujan dari dalam daypack. Sekaligus memanfaatkan waktu untuk menikmati cemilan dan minum air Zam-Zam yang aku bawa.

Hujan mulai mereda. Aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hujan telah membasahi seluruh permukaan batu yang menyulitkanku melakukan pemanjatan. Permukaan batu yang licin membuatku harus kembali menyusuri punggung gunung melewati jalur yang sudah ada. Tak ada pilihan lain. Jam sudah menunjukkan pukul 5.15 sore.

Menjelang pukul 6, aku tiba di depan Gua Tsur. Pengunjung lain terlihat di sana. Sambil mengucap salam dan shalawat, aku menuju ke mulut gua. Sebenarnya Gua Tsur yang dimaksud bukanlah sebuah gua berupa lubang di dalam perut bumi ataupun di punggung gunung. Gua Tsur berupa tumpukan batu besar yang di bawahnya ada celah berbentuk lingkaran berdiameter 2 meter. Celah itu bisa diisi sekitar 5 orang. Saat berada di dalam gua, orang tak bisa berdiri dan hanya bisa duduk. Masuknya pun harus sambil jongkok karena atap gua cukup rendah.

Seketika ingatanku melayang saat Rasulullah berada di dalam gua itu dan Kaum Quraisy yang mengejarnya berada di depan mulut gua. Imajinasi di kepalaku mencoba merangkai situasi yang terjadi 1400 tahun silam. Sungguh besar kuasa Allah SWT saat melindungi Rasulullah SAW beserta Abu Bakar kala itu. Jika Kaum Quraisy berada tepat di mulut gua yang tertutup sarang laba-laba dan sepasang burung merpati yang sedang bertelur, artinya jarak antara Rasulullah SAW dan Abu Bakar dengan Kaum Quraisy tak lebih dari 1 meter. Suara nafas dari dalam gua pun bisa terdengar dari luar. Aku hanya terdiam seraya menggumamkan Shalawat untuk Rasulullah SAW saat tiba di dalam gua. Aku membayangkan beliau bersama sahabatnya berada di dalam gua itu selama 3 malam. Hanya bisa duduk tanpa bisa berdiri. Tak terasa ada air hangat mengambang di pelupuk mata.

Suara pengunjung lain yang akan masuk ke dalam gua membuatku keluar melewati lubang gua di sisi lain. Konon dulunya pintu itu tak ada dan tertutup batu. Namun demi menghindari penumpukan pengunjung di satu pintu, akhirnya batu yang menutup lubang itu dibuka. Begitu penjelasan yang aku dapatkan dari salah seorang pengunjung di sana.

Senja mulai turun, lampu-lampu yang menerangi Kota Mekkah terlihat di kejauhan. Aku memesan teh hangat di warung yang ada di samping gua. Penjaganya bernama Ali Husein, pria keturunan Peshawar, Pakistan. Aku bermaksud Shalat Maghrib terlebih dahulu sebelum turun dan kembali ke Mekkah.

Suara Adzan dari Masjidil Haram berkumandang. Aku mengambil wudhu dan Shalat Maghrib di tempat lapang dimana terdapat beberapa sajadah. Angin kencang dan cuaca dingin membuatku seperti membeku. Usai shalat, aku langsung turun setelah berpamitan ke Ali Husein, melewati jalur saat naik tadi. Hari sudah mulai gelap namun jalur tetap terlihat diterangi cahaya lampu kota yang terpantul di awan. Pemandangan malam Kota Mekkah terhampar di depanku selama perjalanan turun.

Saat tiba di parkiran yang nyaris kosong, tak ada lagi taksi yang ngetem. Hanya ada 1 mobil pribadi parkir. Aku baru akan melangkahkan kaki ke jalan raya saat seseorang melintas di hadapanku. Dengan Bahasa Inggris seadanya dia bertanya aku dari mana yang aku jawab dari Indonesia. Ternyata dia pernah ke Indonesia beberapa tahun yang lalu. Dia menawariku tumpangan ke Mekkah sebelum kembali ke Jeddah, kota tempat tinggalnya. Aku menerima tawaran itu dengan senang hati. “Alhamdulillah, kalau rejeki tak ke mana “

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s