Rohingya dan Rumah Aung San Suu Kyi di Yangon, Myanmar

14196587011118150614

Nama Aung San Suu Kyi kembali marak di jagad berita akhir-akhir ini. Setelah partai National League for Democracy (NLD) yang dipimpinnya memenangkan pemilihan anggota parlemen di Myanmar. Kemenangan itu sekaligus menggulingkan pemerintahan junta militer yang selama ini menguasai Myanmar. Kemenangan itu dianggap sebagai kemenangan Rakyat Myanmar. Asa dan harapan untuk menjadikan Myanmar lebih baik laksana setitik cahaya terang dengan kemenangan putri Bogyoke (Jenderal) Aung San itu.

Menyebut negeri Myanmar atau sebelumnya bernama Burma tak bisa lepas dari sosok Aung San Suu Kyi. Sang ayah yang dianggap pelopor kemerdekaan Myanmar dari koloni Inggris terbunuh beberapa bulan sebelum hari kemerdekaan. Mungkin itulah salah satu faktor kenapa Aung San Suu Kyi berjuang untuk ‘membalas’ kematian sang ayah. Kemenangan partai NLD menjadi puncak perjuangan beliau. Meski demikian, jalan untuk duduk di kursi presiden terganjal undang-undang. Salah satu klausa dalam UU Myanmar menyebutkan bahwa seorang presiden tidak diperbolehkan memiliki keluarga berkewarga negaraan asing. Seperti diketahui suami Aung San Suu Kyi, DR. Michael Aris adalah seorang pria berkebangsaan Inggris. Meskipun tak jadi presiden, secara de facto ibu cantik berusia 71 tahun itu adalah pemimpin tertinggi Myanmar.

IMG_1290Rohingya, salah satu etnis penduduk Rakhine, salah satu state yang kembali mengalami kekejaman belakangan ini. Hal ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Banyak faktor terlibat, mulai dari sejarah masa lalu hingga faktor politik. Seisi dunia bereaksi dan peduli, termasuk Indonesia. Dari sudut pandang manapun tak akan pernah ada pembenaran pembantaian manusia yang dilakukan oleh sesamanya.

IMG_4701Rohingya menjadi ujian besar bagi Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin baru usai lengsernya diktator junta militer. Apalagi dengan embel-embel pemenang Nobel Perdamaian yang tersemat di dadanya. Aung San Suu Kyi harus bisa segera menyelesaikan perisitiwa memilukan itu, setidaknya dari sudut pandang kemanusiaan. Tak mudah memang karena peristiwa itu sudah berlangsung lama. Terjadinya di salah satu state yang berbatasan langsung dengan Bangladesh. Perlu di ketahui bahwa Myanmar memiliki 14 provinsi. Ada 7 yang benar-benar merupakan provinsi di bawah pemerintah pusat, dan 7 lainnya adalah state atau negara bagian. Artinya ke-7 negara bagian itu memiliki otoritas penuh dalam mengatur kehidupan bernegara mereka. Mereka memiliki tatanan dan aturan sendiri termasuk memiliki angkatan bersenjata yang terlepas dari pemerintah pusat. Inilah kendala besar Aung San Suu Kyi dalam menangani persoalan Rohingya. Tak mudah baginya untuk menembus barikade aturan ketata negaraan Rakhine. Apalagi sejak awal berkuasa, faktor rekonsiliasi nasional menjadi prioritas utamanya.

14196584661269929602

Saat masih menetap di Yangon, hampir setiap hari aku melintas di depan rumah Aung San Suu Kyi. Bangunan kuno yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kedutaan Amerika Serikat. Saat Aung San Suu Kyi masih berstatus tahanan rumah dari tahun 1989 hingga tahun 2010, jalan di depan rumahnya tak bisa di akses oleh sembarang orang. Mereka yang akan melintas harus mendapat izin dari pemerintah junta militer yang kala itu berkuasa.

Setelah menjalani tahanan rumah selama 21 tahun, Aung San Suu Kyi terbebas pada tanggal 13 November 2010. Dia kembali aktif memimpin partai NLD hingga berhasil memenangkan pemilu tahun 2015 silam. Mantan Presiden Obama pernah menyempatkan diri terbang ke Yangon hanya untuk bertemu Aung San Suu Kyi. Tak ayal kehadiran orang nomor 1 di Amerika kala itu membuat kemacetan parah setiap sudut kota Yangon. Hampir separuh jalan tak bisa di lewati untuk pengamanan. Begitu pentingnya arti seorang Aung San Suu Kyi.

Ada hal unik dari rumah Aung San Suu Kyi. Di sisi dalamnya berada di tepian Danau Inya, takkan pernah lepas dari tingkah salah seorang penggemarnya bernama John William Yettaw. Dia rela berenang mengarungi Danau Inya hanya untuk bisa bertemu dengan tokoh idola Myanmar itu pada tahun 2009. John lalu ditangkap lalu di deportase kembali ke Missouri, kampung halamannya di Amerika.

“Dau (bibi) Aung San Suu Kyi, mohon segera bebaskan penderitaan rakyat Rohingya agar engkau bisa menikmati keindahan Danau Inya dari halaman belakang rumahmu dengan tenang. “

IMG_1338

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s