Krabi, Surga Pemanjat Tebing di Thailand

P_20170819_175054_vHDR_OnMengunjungi Krabi sudah lama jadi impian. Tempat di Thailand Selatan yang konon memiliki banyak jalur pemanjatan dan pantai yang indah. Saat mencari tahu di internet, tempat itu langsung membuatku terpana dan jatuh cinta. Jadilah Krabi menjadi tujuan liburan di tanggal merah perayaan hari Kemerdekaan Indonesia kemarin. Long weekend hari kejepit. Tiket penerbangan di pesan, resort tempat menginap di book. Railay Beach, pantai dengan hamparan pasir putih dan tebing-tebing berjejer menjadi tempat tujuan utama.

P_20170816_092300_BFBerangkat usai jam kantor dari Airport Soekarno-Hatta, terlebih dahulu aku harus transit di Bandara Changi, Singapura. Ada 2 orang rekan dari Bandung yang bergabung sudah menunggu di sana. Mereka berangkat lebih awal. Melewatkan malam sambil nge-gembel di Changi selama 10 jam, akhirnya tibalah hari keberangkatan ke Krabi. Rasa senang dan excited dicampur rasa ngantuk, aku pun tertidur pulas di kursi pesawat. Baru terbangun saat pesawat yang kami tumpangi touch down di Krabi International Airport. Meskipun hanya kota kecil, namun  kota yang cukup banyak di kunjungi turis menjadikan Krabi memiliki airport berskala International.

P_20170817_141341_vHDR_OnSetelah melewati pemeriksaan imigrasi yang tanpa ribet, kami sudah berada di atas bus yang akan mengantar hingga ke Ao Nang Mao Pier. Dermaga tempat long tail boat bersandar membawa tamu ke Railay Beach. Kenapa harus naik perahu? Railay Beach terletak di pulau? Tentu saja…tidak. Railay Beach terletak di ujung peninsula (semenanjung) yang ada di Laut Andaman. Masih nyambung sama Krabi. Namun sayangnya akses ke Railay Beach terhalang oleh pegunungan bebatuan. Oleh pemerintah Krabi di biarkan seperti itu. Jadilah turis harus menggunakan Long Tail Boat (Perahu ekor panjang) untuk ke Railay Beach. Dikatakan perahu ekor panjang, karena perahu itu menggunakan mesin berbaling-baling dengan tungkai panjang yang bergerak untuk mengarahkan perahu. Mirip ekor yang bergerak ke sana kemari. Jadilah perahu itu di sebut perahu ekor panjang. Itu sok tahunya aku saja seh… hehehe…

Berselang 20 menit diiringi ombak cukup ganas di siang menjelang sore itu, kami tiba di dermaga Railay Beach. Beberapa turis terlihat sedang melakukan pemanjatan. Kami masih harus mencari resort yang telah kami pesan lewat situs internet. Aku dan 2 rekan lainnya, Deden dan Palah tinggal di resort terpisah. Artinya malam ini aku akan tidur sendiri di negeri yang terkenal dengan mahluk-mahluk manisnya. Hmmmm….

Turis hilir mudik menyambut kami di sekitar dermaga. Tampaknya cuaca panas membuat para turis di sini merasa kepanasan. Busana minim yang …. udahlah gak usah di ceritain…entar pada ngelamun jorok!

Usai beristirahat sejenak, kami mulai melakukan orientasi. Tanpa peta, kami hanya berjalan mengikuti kemana kaki melangkah. Tak sulit melakukan orientasi dan mencari jalur pemanjatan di tempat ini. Hampir setiap sudut terlihat climbers yang sedang melata di di dinding tebing. Bahkan di halaman resort tempat aku menginap pun terdapat tebing yang memiliki jalur pemanjatan.

Kami tiba di East Beach, sisi timur Railay. Karena terlatak di semenanjung, antara east and west beach hanya dibatasi gunung dengan tebing menjulang. Sore itu cukup banyak turis yang melakukan pemanjatan. Tak heran, East Beach dengan grade bervariasi dari 4 – 6 menjadi tempat favorit bagi para climbers pemula untuk melakukan pengenalan. Karena baru saja tiba, apalagi semalam begadang di Changi Airport di Singapura, kami belum melakukan pemanjatan. Lebih ke orientasi lapangan. Kami hanya menyaksikan para turis yang melakukan pemanjatan dipandu oleh pemanjat lokal yang bertugas sebagai belayer.

P_20170817_105228_vHDR_OnMalam tiba, kegelapan menyelimuti Pantai Railay di Krabi. Ini malam pertama kami. Kami hanya melewatkan malam sambil memandangi hamparan laut yang sesekali beriak. Turis-turis bule terlihat hilir mudik. Sepertinya mereka sedang mencari makan malam di warung-warung dan cafe yang terlihat sederhana berjejer di pinggir pantai. Ada yang menarik dari tempat ini. Seperti yang selalu aku sampaikan ke Deden dan Palah bahwa tempat ini mengingatkanku pada Pantai Kuta di Bali dan Gili Trawangan di Lombok beberapa tahun yang lalu. Semuanya terlihat sederhana. Cafe-cafe, minimarket, biro travel, money changer, dan tentu saja tempat pijat (sudah tahu kan bagaimana rasanya Thai Massage yang banyak bertebaran di Indonesia?). Semuanya berjejer bersama Resort dan penginapan mulai dari yang mewah hingga kelas melati. Sungguh sebuah pemandangan dan suasana romantis.  Tak ada keriuhan pedagang asongan atau tawaran dari orang lokal yang kerap ‘menghiasi’ tempat wisata pantai. Disini semuanya berjalan pelan dan santai.

Kami memilih salah satu warung tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Menunya ikan bakar. Pedagangnya warga lokal muslim. Beberapa tulisan halal dan kaligrafi menghiasi dinding. Seekor ikan kakap merah menjadi pilihan bersama. Kami menggunakan malam itu untuk berdiskusi mengenai rencana keesokan hari. Tak banyak karena memang tujuan utama kami ke sini hanya untuk melakukan panjat tebing. Seekor ikan bakar besar siap tersantap saat diskusi kami usai. Tak pakai lama, seluruh yang terhidang di meja sudah ludes akibat rasa lapar yang teramat sangat. Kami belum makan sejak siang. Hanya diisi cemilan. Usai makan malam, kami kembali ke hotel untuk istirahat. Tenaga dan tubuh yang fit akan sangat diperlukan keesokan harinya. Tubuh masih sedikit jetlag usai menempuh perjalanan panjang. Tidur adalah aktifitas paling tepat. Nggak panggil Thai Massage dulu? Ahh nggak usah diceritain…. Hahaha

P_20170819_070950_vHDR_On

Pagi menjelang. Semburat warna merah menyeringai dari ufuk timur nun jauh di horison Railay Beach. Resort yang berada di ketinggian menjadi pilihanku menginap kali ini. Dari hasil testimoni di beberapa situs penyedia jasa hotel, Railay Puthawan Resort, hotel tempatku menginap adalah tempat dengan view terbaik yang ada di Railay. Berada di ketinggian dengan horison laut terlihat jelas dari teras plus gugusan tebing berada di kiri kanan menjadikan tempat itu laksana surga. Tepat di hadapan teras kamar, sebuah kolam renang berukuran sedang seperti menggoda. Suasana masih sepi, tamu lain tampaknya masih tertidur pulas. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, aku mengambil handuk dan langsung menuju kolam renang. Sejuknya air berpadu panorama pagi menjadikan suasana pagi nan hening itu terasa sangat indah. Ahhh… maka nikmat manalagi yang harus aku dustakan?

P_20170816_152014_vHDR_OnUsai sarapan, Deden dan Palah tiba. Kami melakukan pengecekan alat dan perlengkapan. Hari ini tanggal 17 Agustus, hari ulang tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia. Meski terpisah jarak ribuan kilometer, kami akan tetap melakukan perayaan dan upacara pengibaran bendera Merah Putih di salah satu tebing yang ada di negeri Gajah Putih, Thailand.

P_20170817_112939_vHDR_OnKami berjalan menuju East Beach, lokasi pemanjatan yang sudah kami survey sehari sebelumnya. Hari masih pagi, belum banyak pengunjung saat kami tiba di sana. Tali, harness, carabiner, chalk bag, sepatu panjat, runner dan berbagai peralatan panjat lain yang kami bawa dari Indonesia di gelar di atas kain hammock. Menggunakan seragam berwarna merah putih menjadikan kami terlihat unik bagi pemanjat lainnya. No wonder, pemanjat lainnya masih dengan baju yang super minim, laki dan perempuan.

Jalur sudah ditetapkan, peralatan safety sudah terpasang. Terlebih dahulu aku memberikan briefing kepada Deden dan Palah mengenai run down acara pengibaran bendera pagi itu. Mengenai teknis, aku tak perlu jelaskan karena Deden dan Palah yang merupakan instruktur di Sekolah Panjat Tebing Merah Putih jauh lebih paham. Pemajatan pertama dimulai. Deden yang melakukan pemanjatan pertama, di belay oleh Palah. Aku sendiri yang memantau sambil mengambil gambar. Tak pakai lama, Deden sudah berada di puncak pemanjatan berketinggian 25 meter. Bendera Merah Putih berkibar di dinding tebing Krabi di Thailand. Penghormatan dan lagu Indonesia Raya berkumandang meskipun secara sederhana. Beberapa pengunjung malah ikutan mengambil gambar aktifitas kami. Aku sempat menjelaskan ke mereka bahwa hari itu adalah hari bersejarah bagi kami rakyat Indonesia.

P_20170817_103746_vHDR_OnUsai deden, berganti Palah yang mencoba jalur dan aku yang bertindak sebagai belayer. sama seperti Deden, Palah pun tak memiliki kesulitan untuk mencapai puncak jalur. Palah ikut mengibarkan bendera Merah Putih di puncak jalur sebagai tanda penghormatan. Save the best for last, akhirnya tiba giliranku. Tak seperti kedua rekanku sebelumnya yang bisa memanjat dengan mudah, kali ini aku harus tertatih meniti jalur yang terlihat sangat mudah. Roof yang ada di awal jalur terasa begitu berat. Aku harus mencoba beberapa kali namun tak berhasil juga. Namun maaf saudara-saudara, menyerah bukan bakatku. Aku mengerahkan segenap tenaga untuk melewati roof yang sangat menyebalkan itu. Mana banyak pemanjat lain dari berbagai belahan dunia pula. Malu kan kalo mereka lihat kalau aku hanya menang di gaya doang… Hahaha…

Setelah berusaha dengan susah payah, akhirnyaaa….. aku tetap gagal! Karena memanjat tebing tak sekedar butuh bakat dan niat bro, tapi juga butuh power atau kekuatan tenaga. Apakah aku akhirnya menyerah? Jiaahh…  udah dibilang menyerah bukan bakatku. Dengan cerdiknya (preeet), aku menggunakan metode lain, ascending! Naik dengan teknik Single Rope Technique dengan bantuan ascender dan stair up. Nahh, kalo yang ini aku cukup jago (Dah bego, sombong pula. Enaknya yang nulis ini diapain yak!).

Tanpa halangan berarti akhirnya aku bisa meraih puncak jalur. Segera kukeluarkan bendera yang sudah terpasang di trekking pole. Dada terasa sesak dan bergemuruh. Bulu kuduk berdiri. Perasaan yang sama setiap akan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di rantau negeri orang. Ku usap sang dwi warna, lambang negeri yang selalu menghadirkan getar setiap melihatnya berkibar. Bendera yang dikibarkan pertama kali 72 tahun yang lalu dengan aliran darah dan nyawa para pejuang. Aku menahan nafas. Kali ini tak lagi dapat terbendung. Air bening dan hangat mulai membasahi pelupuk mata. Perlahan kucium bendera kesayangan sebelum akhirnya berteriak, “Indonesiaaaaaaaaaa !” Sang Saka Merah Putih kembali berkibar berlatar langit biru Negeri Gajah Putih yang indah.

DSC01547Aku mengambil beberapa foto dari atas sementara Deden mengambil foto dari bawah. Aku harus segera turun. Usailah sudah acara utama kunjungan ke Krabi kali ini. Saatnya bersenang-senang dengan berlatih di beberapa tebing. Kami ingin mencoba jalur lain yang jumlahnya puluhan di East Beach ini. Baru saja aku turun, seorang pemuda bule menghampiri kami. Ian, pemuda berdarah Australia berkewarganegaraan Amerika menanyakan beberapa jalur yang dilihatnya di buku panduannya. Kami berkenalan. Selain Ian ada pula Louis dan salah satu rekannya (aku lupa namanya). Kami ngobrol-ngobrol lalu akhirnya bertukar jalur dan saling meminjam alat. Begitulah indahnya berkelana di negeri orang. Pertemanan teramat mudah tercipta. Apalagi jika memiliki hobby yang sama. Cerita bahkan ledekan bisa mengalir begitu saja seperti kami sudah lama saling mengenal.

P_20170817_133649_vHDR_OnWaktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah jam 3 sore. Kami belum makan siang. Segera kami bereskan alat. Ian dan Louis sudah pergi duluan. Kami meninggalkan East Beach dengan mengambil jalan ke arah West Beach. Rencananya usai makan siang (atau sore) kami akan melakukan pemanjatan sambil menunggu sunset. Begitu rencana awalnya. Semangkuk Tom Yam di warung Adam (siapa dia? adddda dehhhhhhh) menjadi pengobat rasa lapar sore itu. Tom Yam Mama Adam sungguh Tom Yam terlezat yang pernah aku rasakan. Suerrr, harganya pun relatif murah. Hanya sekitar 80 Bath, atau sekitar 32 ribu rupiah semangkuk besar. Kalau nambah nasi harganya jadi 100 bath atau sekitar 40 ribu. Eh kok jadi omongin Tom Yam Adam yak…. (Maaf ya Den…. Hahahahaha)

P_20170817_154655_vHDR_OnSekitar jam 5 sore, kami menuju ke West Beach. Melihat kumpulan awan di ufuk barat sepertinya sore ini tak  akan ada sunset. Kami hanya berjalan menikmati pasir pantai yang terasa sangat halus di kaki. Sesekali melewati turis-turis yang sedang berjemur, tentu saja kami hanya bisa melirik sambil beristigfar. Hufffttt… udahlah gak usah diceritain… Coba bayangin, turis-turis itu ber…. eh udah dibilang nggak usah diceritain….

Kami memutuskan untuk bermain-main dengan ombak. Bak anak kecil, kami bertiga bermain-main dengan ombak. Ceritanya mau main surfing gitu, yang ada beberapa kali kami harus terseret ke bibir pantai. Ingat umur woeee….

DSC01583Malam kembali turun. Sang raja siang sudah bertukar tugas dengan ratu malam. Kami bergegas meninggalkan West Beach. Saat melewati barisan cafe dan toko-toko, mataku tertuju pada salah satu toko. Langkahku seperti terhenti. Aku masuk ke dalam. Seorang petugas melayani dan menjawab semua pertanyaanku. Toko apa sehhh? Dive Center! Kebetulan besok akan ada group yang akan melakukan penyelaman. Setelah berdiskusi dengan Deden, akhirnya aku memutuskan untuk ikut diving keesokan harinya. Pembayaran sebesar 2700 bath atau sekitar 1,1 juta untuk 2 spot diving pun aku selesaikan. Aku akan diving ikut group sementara Deden dan Palah akan tetap melakukan pemanjatan ke beberapa rute dan spot. Cerita tentang divingnya di sesi lain saja yak, kalau cerita di sini juga entar kepanjangan. Nanti aktifitas kalian terganggu. Aku yakin kalian gak akan berhenti membacanya sebelum selesai kalau aku ceritakan. Hahaha…

Kami kembali ke hotel masing-masing untuk mandi dan beristirahat sejenak. Jam 9 malam, kami sudah kembali menyusuri lorong-lorong yang ada di Railay Beach. Kami tak tahu harus makan malam di mana. karena bingung akhirnya pilihan kami jatuh ke….. warung Adam! yak, makan Tom Yam lagi… tentu saja sambil menikmati senyum malu-malu dan lirikan mata si Adam. Hahaha….

P_20170818_153407_vHDR_OnUsai diving keesokan harinya, aku menuju ke East Beach, meeting point yang sudah kami sepakati. Namun ternyata Deden dan Palah tak ada di sana. Rencananya kami bertiga akan ke Hidden Lagoon yang letaknya antara East Beach dan West Beach. Karena ke 2 rekanku itu tak ada akhirnya aku memutuskan pergi sendiri. Tak sulit menemukan jalur ke laguna tersembunyi itu. Hanya berjarak 100 meter dari East Beach. Beberapa bule terlihat naik dan turun di jalur berbatu nan curam itu. Aku mulai mendaki jalur terjal berkemiringan sekitar 80 derajat itu. Jalurnya luar biasa ekstrim. Kami harus bergantung di akar pohon dan tali yang terpasang di beberapa tempat. Jalur yang licin membuat perjalanan itu terasa sangat menyiksa. Keringat mengalir dengan deras. Bahkan beberapa bule terlihat melepas pakaiannya. Yak, mereka melakukan trekking hanya dengan mengenakan bikini! Tolong jangan dibayangkan!

P_20170818_155452_vHDR_OnSetelah berjibaku dengan jalur naik turun dan melewati beberapa tangga bambu yang cukup licin, akhirnya aku tiba di laguna yang dimaksud. Hmmm, sebenarnya laguna itu biasa saja. Sebuah lubang besar berbatas tebing yang menjadi pemisah antara laguna dan laut lepas. Airnya yang nyaris kering menyisakan lumpur yang mirip kubangan. Untuk jadi spot foto pun tidak terlalu sesuatu. Padahal untuk mencapainya pengunjung harus naik turun dengan susah payah. Untungnya sepanjang perjalanan banyak ‘pemandangan’ yang cukup menjadi penyemangat. Bukaaannn, bukan bule yang pake bikini… tapi terdapat beberapa view point yang memungkinkan kita bisa memandang laut lepas. Itu pemandangan ke 2. Pemandangan pertama ya itu tadi….. bule and bikini! Hahahahaha…

Saat turun aku bertemu Deden dan Palah yang baru usai melakukan pemanjatan. Saat mereka tanya seperti apa lagunanya, aku tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya jawab, “Jalurnya gila ekstrim banget! Juga ‘pemandangan’ nya indah” (pemandangan di jalur maksudku) Hahaha. Mereka berdua akhirnya ikut memanjat menyusuri jalur ekstrim ke laguna. Aku akan menunggu mereka di cafe dekat hotel. Aku di temani Johannes, Mahasiswa Stockholm University Swedia yang sedang ikut pertukaran mahasiswa di Bangkok. Dia adalah buddy-ku saat diving tadi.  Kami lalu mengobrol hingga malam menjelang saat Deden dan Palah bergabung.

IMG_2747Di hari terakhir aku di Krabi, Aku, Deden, Palah dan seorang rekan yang baru tiba dari Jakarta sehari sebelumnya menghabiskan waktu dengan melakukan pemanjatan di beberapa jalur di Tonsai Beach. Pantai yang bersebelahan dengan West Beach. Sebuah tempat yang mirip gua menjadi tempat spot foto yang sangat indah. Spot itu yang aku dapatkan di internet hingga membuatku memutuskan untuk ke Krabi. Untungnya Deden dan Palah bisa mendapatkan spot itu saat melakukan pemanjatan saat aku sedang diving. Fotonya seperti ini.

P_20170819_162846_vHDR_OnWaktu liburan di Krabi sudah usai. Akhirnya aku harus meninggalkan tempat yang indahnya luar biasa itu. Aku tak ingin membandingkannya dengan pantai-pantai di Indonesia. Semua tempat memiliki keindahannya sendiri-sendiri. Keindahan itu untuk dinikmati bukan untuk dibanding-bandingkan. Dunia penuh dengan keindahan, jelajahilah. Selamat tinggal Railay Beach, Krabi. sepertinya aku akan kembali lagi untuk menikmati keindahanmu. Long Tail Boat membawaku meninggalkan dermaga Railay Beach diiringi lambaian tangan Deden yang masih akan tinggal hingga 2 hari ke depan.

See you, Krabi. ขอบคุณ

P_20170820_062734_vHDR_On

 

Advertisements

2 thoughts on “Krabi, Surga Pemanjat Tebing di Thailand

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s