“Ini Afrika, Bung” – Part 2

IMG_1540Jam 4 pagi waktu Tanzania. Kusingkap kelambu dan beranjak ke kamar mandi. Dingin masih menyergap. Kenji yang tidur di ranjang sebelah masih asyik dengan buaian mimpinya. Aku tak tahu jam berapa dia balik ke tenda semalam. Kunyalakan kran air panas, lumayan menghalau dingin. Aliran air wudhu seperti mengembalikan seluruh tenaga dan rasa yang beberapa jam lalu seperti melayang di telan mimpi. Tiba-tiba aku teringat kalau hari ini adalah hari baru dan tahun baru, 2017. Aku melewatkan pergantian tahun dalam buaian mimpi di bumi Afrika, meskipun aku tak mengingat mimpi apa yang kualami semalam.

Masih dalam keremangan waktu yang nyaris subuh, aku menghadapkan wajah dan telapak tangan ke hadirat-Nya. Mensyukuri segala hal yang telah aku jalani dan raih hingga saat ini.  Tak terungkap kata akan segala nikmat yang telah kurasakan hingga sanggup menjejakkan kaki di benua yang terbentang jarak ribuan kilometer dari tanah tempat lahirku, Indonesia.

JpegDalam gerakan sangat pelan, aku melangkah ke teras. Aku tak ingin mengganggu tidur Kenji. Berbalut selimut bermotif khas Afrika, aku menikmati kesunyian subuh. Tenda-tenda lain masih diam terpaku, entah dengan penghuninya yang semuanya turis asing. Terdiam, hanya itu yang aku lakukan. Suara hewan berpadu hawa dingin menghadirkan suasana syahdu yang takkan terlupakan. Kesunyian, kesenyapan dalam balutan alam bebas adalah hal yang selalu menyelipkan secercah rasa bahagia. Kebahagiaan itu sungguh sederhana.

Aku dan Kenji sudah kembali duduk manis di restaurant. Semoga pagi ini kami sudah bisa kebagian sarapan tanpa harus ada ‘ketegangan’ seperti semalam. Hari ini hari terakhir Kenji, dia akan segera ke Arusha usai bersafari. Sementara aku masih akan tinggal semalam lagi. Entah akan kemana aku hari ini. Karena awalnya aku hanya akan bersafari selama 2 hari. Saat itu sudah sepakat dengan Richard untuk tujuannya yaitu Taman Nasional Manyara dan Ngorongoro crater. Namun karena ada penambahan hari di last minute, aku tak tahu kemana tujuan tambahannya. Ikuti sajalah kemana mereka akan membawaku, toh tak ada bedanya. Yang penting bersafari.  Uniknya lagi di camp site pun tak ada briefing semalam sebelumnya. Biasanya akan diumumkan groupnya saat akan naik ke jeep usai sarapan, seperti kemarin. Jadi peserta baru akan mengetahui rekan group beserta tujuannya sesaat sebelum naik jeep. Ini Afrika, Bung!

Usai sarapan, kami semua keluar ke tempat parkir. Terlihat kesibukan para pegawai hotel dan supir jeep. Mereka sibuk mengatur lunch box di masing-masing jeep. Kami para tamu hanya berdiri sambil bercakap-cakap, sesekali bertanya ke petugas yang mondar mandir mengenai jadwal keberangkatan. Akhirnya seseorang yang lebih mirip mandor mendatangi kami satu persatu dan menunjukkan jeep yang harus di naiki. Ternyata aku masih 1 group dengan Kenji plus tambahan 1 peserta, Philip warga negara perancis. Kami segera naik jeep setelah berkenalan dengan supirnya. Tak pakai lama, jeep segera meninggalkan camp site.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tujuan kami hari itu adalah Tarangire National Park. Taman nasional yang di dirikan di tahun 1970 itu memiliki luas 2850 kilometer persegi. Taman nasional itu terkenal juga dengan julukan Home of Elephant. Ya, tentu saja karena taman nasional itu di huni oleh ribuan gajah.  Berbeda dengan Ngorongoro Concervation Area yang hanya butuh 30 menit dari camp site, kali ini perjalanan akan lebih lama. Butuh waktu berkendara 2 jam untuk mencapai TN Tarangire. Lumayanlah bisa menambah wawasan mengenai Tanzania. Itu niat baiknya. Kenyataannya, sepanjang perjalanan di pakai untuk….tidur! Hahahaha.

Aku baru bangun saat Kenji menepuk pundakku.

“Hadi san, Hadi san, wake up. We already arrived!”

“Aku masih ngantuk, dodol!” Ujarku seraya menepis tangannya. Oh ya meskipun aku dan Kenji baru berkenalan sehari sebelumnya, namun kami sudah sangat akrab. Dia sudah mengajarkan aku origami, seni melipat kertas ala Jepang. Sementara aku mengajarkannya Bahasa Indonesia! Jadilah aku sering berbahasa Indonesia yang selalu di balas Kenji dengan wajah kebingungan hingga akhirnya tertawa. Mata sipitnya jadi hilang kalau sudah tertawa.  Benar saja, sesaat aku mendengar suara Kenji tertawa karena aku menjawab tepukannya dengan bahasa Indonesia.

JpegPuluhan jeep sudah berjejer di area parkir sambil menunggu sang supir melakukan registrasi. Berbeda dengan Ngorongoro Crater kemarin, kali ini cukup banyak pengunjung warga lokal . Bahkan diperbolehkan menggunakan mobil pribadi untuk masuk ke kawasan taman nasional. Jeep turis dibuatkan jalur khusus untuk proses registrasi agar lebih cepat. Tentu saja biaya entrance fee-nya lebih mahal. Sembari menunggu sang supir mengurus registrasi, aku dan Kenji memilih jalan-jalan di sekitar area parkir sambil foto-foto. Philip sendiri memilih duduk di bawah pohon sambil utak atik kamera. Sebenarnya tak ada yang menarik di sekitar area parkir. Hanya ada beberapa bangunan mirip kios yang menjual souvenir. Sebuah tugu berisikan nama taman nasional ini menjadi tempat nampang aku dan Kenji. Untungnya tak pakai lama, sang supir kelar melakujan registrasi, kami bertiga naik ke jeep.

DSC01427Memasuki kawasan TN Tarangire, nuansa kegersangan Afrika mulai terasa. Berbeda saat kemarin di Ngorongoro yang lebih sejuk (mungkin karena mendung dan hujan) dan hijau. Debu dan rumput mengering bersela pepohonan menghiasi padang yang terbentang luas. Rombongan monyet menyambut kami. Kenji terlihat antusias membidikkan kameranya. Sementara aku dan Philip cuek bebek. Monyet mah di Indonesia juga banyak, entah di Jepang. Mobil berhenti sejenak. Sang supirt terdengar berbicara di radio. Sama seperti di Ngorongoro kemarin, para supir saling bertukar informasi tentang keberadaan satwa liar. Jeep kembali mutar-mutar tak tentu arah. Mungkin karena sehari sebelumnya sudah melihat beberapa satwa liar, hari ini tidak terlalu excited lagi. Jeep melewati tanjakan dan turunan dengan pemandangan padang rumput nan gersang berhias pepohonan. Biasa saja. Sesekali aku bersandar di kursi sambil memejamkan mata dan menghilangkan ingatan alias tidur. Kenji dan Philip terlihat asyik jepret sana sini.

Aku sedang asyik terbang menjelajah angkasa Afrika di alam mimpi saat aku merasakan jeep sedang bermanuver. Mirip dalam adegan film, jeep memacu kecepatan meninggalkan gumpalan debu.

“Aya naon?” Tanyaku kepada Philip.

“Leopard!” Philip hanya menjawab singkat sambil sibuk dengan kameranya. Wahh, aku jadi semangat, rasa ngantuk hilang. Segera kupersiapkan kamera. aku belum pernah melihat leopard, macan bertotol yang sering nangkring di pohon. Jeep masih melaju cepat seperti dikejar leopard.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAKami tiba di sebuah jalan yang sudah dipenuhi dengan kumpulan rombongan jeep. Ada sekitar 10 jeep. Aku menebarkan pandangan ke sekeliling. “Leopard-nya mana?” Tanyaku ke Philip yang dijawab dengan gelengan kepala. Aku mengarahkan pandangan ke titik fokus dimana semua orang menatap. Hanya ada sebatang pohon. Kuarahkan kamera ke batang pohon dengan menggunakan zoom hingga 50x.  Masih tak nampak juga sang leopard. Philip melakukan hal sama, demikian pula Kenji.

“Ahhh, gotcha!” Philip berbisik lirih. Aku segera merapatkan wajah ke kamera Philip. Dari display kamera nampak samar-samar punggung leopard dengan totol-totol khasnya. Kepalanya tak nampak bersembunyi di balik dedaunan. Nampaknya sang leopard sedang pulas. Philip mengambil kameraku dan mengarahkannya ke arah yang sudah dia tandai lalu memintaku memegangnya. Aku mengambil gambar.

IMG_1528Jeep semakin berdatangan dan mengambil posisi. Beberapa jeep mulai meninggalkan lokasi. Sang Leopard masih tak bergeming dari dahan pohon. Tak ada tanda-tanda pergerakan, akhirnya kami sepakat untuk meninggalkan sang leopard yang teramat sombong untuk menunjukkan batang hidungnya itu.

Jeep kembali berputar-putar. Beberapa hewan seperti rusa, kera dan gajah beberapa kali melintas di jalan yang akan kami lewati. Tak jarang kami harus berhenti untuk memberikan kesempatan para penguasa Afrika itu melintas. Di salah satu sudut, kembali kami berhenti saat melihat beberapa jeep parkir. Ahhhaa, pemandangan kali ini sungguh menarik. Sepasang raja dan ratu hutan tampak sedang asyik beristirahat di bawah sebatang pohon rindang.

IMG_1539“Mereka sedang berbulan madu.” Philip memberitahuku

“How could you know?”

Just wait. You will something very interesting”

Interesting apaan, ke dua ekor singa itu hanya duduk sambil diam-diaman kayak lagi marahan. Namun sesaat kemudian, singa jantan mengaum. Singa betina berdiri dan secara refleks singa jantan langsung melakukan gerakan erotis. Hanya beberapa detik saja. Setelahnya kedua hewan yang konon pengantin baru itu kembali terduduk. *Maaf aku tak bisa menceritakannya secara detail, nanti kalian yang sedang baca cerita ini pada ngelamun jorok..hahahaha…

Philip bercerita bahwa begitulah cara sang raja dan ratu rimba berbulan madu. Mereka akan melakukan hal itu hingga 7 hari 7 malam tanpa makan dan tidur. Mereka akan membuat area teritory mereka dengan air liur agar tak di ganggu oleh hewan lain. Setiap 15 menit, mereka akan melakukan ‘hubungan raja dan ratu’. Memang benar. meskipun aku tak mengukur apakah waktunya pas 15 menit, namun setiap beberapa jenak mereka akan melakukan ‘aktifitas’ itu. Setelahnya mereka akan kembali duduk ataupun berbaring. Sebenarnya adegan itu biasa aja, yang membuat unik dan lucu karena setiap kali mereka berhubungan badan, bunyi suara jepret kamera laksana musik latar yang mengiringi suasana erotis itu. Sudahlah gak usah ngobrolin itu lagi yaa….

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat 30 menit. Saatnya makan siang. Kami menuju ke sebuah tempat dimana terdapat banyak terdapat bangku dan meja. Kami akan makan siang di sana. Saat makan siang itulah adalah saat terakhir aku bersama Kenji. Usai makan siang, dia dan Philip akan langsung menuju Arusha. Aku sendiri akan ditransfer ke jeep berbeda untuk kembali ke camp site.

JpegHujan turun saat kami bergegas meninggalkan lunch area. Aku sudah berpindah jeep. Kali ini satumobil dengan turis-turis dari India dan Jerman. Aku duduk di samping pak supir yang sedang bekerja. Mengendarai mobil supaya baik jalannya…tapi gak pakai tuk tik tak tik tuk… Hahaha. (Pasti bacanya sambil nyanyi kannn). Aku kembali harus berputar-putar TN Tarangire karena rombongan itu baru tiba. Hujan deras sempat turun di tengah-tengah safari. Apes lah turis-turis yang baru memulai perjalanan safari mereka. Sementara aku? Asyik leyeh-leyeh di kursi depan sambil tiduran. Tak ada lagi yang perlu aku ceritakan. Semua yang dikunjungi sore itu sudah aku ceritakan tadi di awal.

Hari menjelang senja, kami meninggalkan Tarangire untuk kembali ke camp site. Usai sudah perjalanan Safari hari ke-2. Masih tersisa 1 taman nasional lagi yang akan dikunjungi sebelum mengakhiri kunjungan ke Tanzania. Apakah masih akan seru dan bertemu dengan hewan-hewan unik Afrika? Ada peristiwa unik, aku sempat berdebat dengan salah satu staff camp site. Apa pasal? Stay tune yaaa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s