Syahdunya Shalat di Gua Hira

p-20160101-063836-ll-5768f352157b6151131cd829

Malam ini malam 17 Ramadhan, Malam Nuzulul Qur’an, Malam turunnya Al-Qur’an. Bertempat di Gua Hira, Muhammad bin Abdullah sekaligus dilantik menjadi nabi dan Rasul terakhir. Ingin tahu seperti apa rasanya berada di tempat sakral di puncak Jabal Nur itu? Apa yang terjadi saat aku melakukan shalat di dini hari buta seorang diri? Ikuti catatan perjalanan spiritual saat berkunjung ke sana beberapa waktu lalu…

Coba lihat gunung di depan, itulah Jabal Nur atau Mount Light. Gunung yang senantiasa memancarkan cahaya, “ Supir taksi menunjuk ke arah puncak gunung yang tampak terang benderang. Waktu menunjukkan hampir pukul 1 dinihari. Aku terkesima. Yah, Jabal Nur  terlihat terang benderang. Gunung batu dengan tebing datar di dindingnya begitu menakjubkan.

Setelah melewati jalan kecil berkelok di kawasan perumahan, taksi yang mengantarku tiba di kaki Jabal Nur. “Silahkan jalan terus ke atas dan jangan berbelok, itulah rute menuju Gua Hira,” kata sang supir saat aku memberikan lembaran 25 riyal. Aku mengucapkan terima kasih dan mulai menapaki jalan aspal menanjak.

Jam menunjukkan pukul 1 dinihari saat Aku mulai menapaki tangga-tangga yang terbuat dari semen. Anak tangga berukuran panjang 1,5 meter itu mirip tangga yang akan kita lalui saat mendaki kawah Gunung Kelimutu di Ende. Berbelok-belok dan di beberapa bagian terdapat pegangan atau railing. Sesekali aku mampir mengambil foto sekalian mengatur nafas yang mulai tersengal. Cuaca tak terlalu dingin. Meskipun masih pukul 1 pagi, aku tak memerlukan senter atau headlamp untuk melihat trek atau jalurnya. Penyebabnya yah itu tadi, cahaya yang berasal dari gunung membuat jalur dan anak tangga itu terang benderang.

Sejarah menjelaskan Gua Hira di Puncak Jabal Nur adalah tempat turunnya surah Al-Alaq, ayat dan surah pertama Al-Quran yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW. Di tempat itu pulalah, Muhammad bin Abdullah di lantik menjadi Nabi dan Rasul terakhir. Sebelum diangkat menjadi Rasul, Muhammad SAW sering menyepi ke Gua Hira dimana beliau bisa menyaksikan Ka’bah dan Kota Mekkah dari kejauhan. Hal itu beliau lakukan karena sudah sangat ‘gerah’ dengan tingkah laku penduduk Mekkah menyembah berhala yang disimpan di dalam dan sekitar Ka’bah.

Aku kembali menapaki anak-anak tangga. Beberapa orang yang sedang tidur di pinggir tangga terbangun saat mendengar langkah kaki. Mereka meminta sumbangan. Disamping mereka terdapat sekop dan anak tangga hasil cor-an yang terlihat masih basah. Ternyata begitulah cara mereka menarik simpati dan sumbangan pengunjung. Jumlahnya cukup banyak. Dari awal ‘pendakian’ hingga puncak jumlahnya mencapai puluhan orang. Sesekali aku menoleh ke belakang menyaksikan Kota Mekkah dari kejauhan yang dipenuhi lampu-lampu kota.

Setelah mendaki hampir 1 jam, aku tiba di puncak Jabal Nur. Sebuah warung yang menjual makanan, minuman dan souvenir terlihat di sana, namun penjualnya entah kemana. Tampaknya sedang tertidur. Aku lanjut menyusuri jalur yang ada dan tiba di suatu tempat lapang. Sepertinya tempat itu sering difungsikan sebagai tempat shalat. Terlihat beberapa sajadah terhampar di sana. Tak ada satupun orang di tempat itu. Aku berhenti sejenak dan terpesona melihat panorama alam terhampar di bawah sana. Kota Mekkah berhias lampu, di kejauhan terlihat Menara Zam-Zam yang merupakan menara jam tertinggi di dunia. Angin bertiup sepoi-sepoi menyisipkan rasa dingin menembus jaket tebal yang aku kenakan.

Kembali aku melangkah menyusuri jalur dan anak tangga yang membawaku turun ke sisi punggung gunung. Tak lama berselang, aku tiba di mulut gua. Sebuah tulisan berbahasa arab dan tanda panah tertera di dinding batu. Sebuah celah sempit aku masuki dengan bantuan cahaya handphone. Aku sama sekali tak membawa senter atau headlamp. Celah batu itu sangat sempit. Aku harus sedikit ber-manuver karena daypack yang aku bawa terasa tersangkut di batu. Gua itu hanya berukuran panjang sekitar 2 meter. Gua dan celah itu masih bukan Gua Hira yang sebenarnya. Gua Hira tidaklah seperti gua yang selama ini aku bayangkan. Gua Hira bukan sebuah lubang yang ada di perut bumi ataupun di dalam gunung seperti gua-gua yang ada di Indonesia. Gua itu hanya berupa tumpukan batu dan terdapat celah di dalamnya.

Selepas gua pertama, terdapat ruang terbuka beratap langit. Disampingnya terdapat gua. Itulah Gua Hira yang sesungguhnya. Lagi-lagi hanya berupa tumpukan batu yang dibawahnya terdapat celah yang hanya muat 1 orang. Aku sempat terkejut.  Ada seseorang yang baru saja usai melakukan shalat. Kami berkenalan. Dia berkewarganegaraan Malaysia dan sudah berada di sana sejak pukul 11 malam. Dia sengaja menunggu hingga tempat itu sepi. Pemuda itu mempersilahkanku shalat di sana sebelum ramai. Dia sendiri akan langsung pulang. Tinggallah aku sendiri di tempat itu.

Sepi, teramat sepi. Dalam balutan dingin yang mulai menyergap, aku mengambil air wudhu dari botol air yang aku bawa. Aku menyimpan daypack dan mulai berdiri di atas sajadah yang ada di dalam gua. Sejenak aku terhenyak. Tanah yang kupijak ini pernah menjadi pijakan Rasulullah SAW melewatkan malam dan hari. Beliau menghindarkan diri dari pengaruh Jahiliyah kota Mekkah dengan bertafakur seorang diri. Dari tempat bertafakur, ada sebuah celah kecil yang membuat Kota Mekkah. Bahkan andai saat ini tak tertutup gedung-gedung pencakar langit, Ka’bah bisa terlihat.

Aku melaksanakan Shalat Sunnah 2 rakaat. Saat akan mengucapkan takbir, aku merasakan badan dan lututku bergetar. Dada bergemuruh hingga akhirnya tak kuasa menahan haru. Air mata menetes mengiringi isak tangis yang pecah di dini hari nan dingin itu. Betapa tidak, di tempat aku berdiri itulah ribuan tahun lalu pernah berdiri seorang manusia mulia yang telah diangkat menjadi Rasul, Muhammad SAW. Kubaca surah Al-Alaq setelah surah Al-Fatihah membuat air mataku semakin mengalir dengan derasnya. Surah pertama Al-Quran yang diturunkan Sang Khalik di tempat itu membuatku tak mampu menguasai perasaan. Aku membayangkan Rasulullah SAW junjunganku yang buta huruf itu mengatakan “Aku tidak bisa membaca” kepada Malaikat Jibril yang memintanya untuk “Iqra’ (Bacalah)”.

Allahumma Salli Alaaa Muhammad….

Usai shalat Sunnah 2 rakaat, aku berhenti sejenak. Aku menyeka air mata dan cairan yang menyumbat hidung dengan sorban yang melilit di leher. Suasana masih sepi, hanya aku seorang diri. Tiba-tiba hidungku menangkap bau wangi semerbak. Aku tidak ingin berlebihan, mungkin saja itu bau minyak wangi yang sudah diusapkan seseorang di batu atau sajadah. Yang jelas saat itu aku merasakan ketenangan jiwa dan bathin yang sulit diungkapkan kata dan kalimat.

Masih seorang diri, aku lanjut melakukan Shalat Tahajjud. Sungguh sebuah nikmat dan rahmat dari-Nya. Mendapat kesempatan beribadah di tempat bersejarah dalam sejarah dunia sungguh suatu rasa yang takkan tergantikan. Saat akan melakukan Shalat Witir sebagai penutup, aku mendengar suara langkah kaki di belakangku. Ada pengunjung lain yang baru tiba. Usai mengucapkan salam, aku mempersilahkan mereka untuk shalat juga.Ternyata mereka TKI yang saat ini sedang bekerja di Jeddah. Aku lalu meminta izin untuk melakukan Shalat Witir (penutup) sebelum memberinya kesempatan untuk shalat di tempat itu. Mereka setuju. Seperti yang sudah aku info di atas bahwa tempat di dalam Gua Hira itu hanya muat 1 orang untuk shalat jadi harus bergantian.

Satu hal yang perlu aku ceritakan mengenai Gua Hira ini. Ternyata benar adanya, dari Gua Hira ini Rasulullah SAW bisa menyaksikan Ka’bah dan Kota Mekkah dengan jelas. Tepat di depan tempat shalat itu, terdapat sebuah lubang kecil yang memungkinkan seseorang yang berdiri atau duduk di sana dapat melihat Kota Mekkah. Saat ini sudah tak bisa lagi melihat Ka’bah karena tertutup gedung-gedung, namun masih bisa melihat Kota Mekkah atau Menara Zam-Zam dimana di bawahnya terdapat Ka’bah.

Usai shalat, aku kembali ke atas di puncak Jabal Nur. Pengunjung lain mulai berdatangan. Jam baru menunjukkan pukul 3 pagi. Aku masih akan tinggal di sana untuk menunggu sunrise. Penjaga warung sudah ada, mungkin terbangun karena banyaknya pengunjung. Aku memesan segelas teh hangat dan meminumnya di atas sebuah batu. Rasa ngantuk mulai menyerangku yang memang belum tidur sejak kemarin. Aku merebahkan diri di atas batu dan membungkus badan dengan selimut kecil yang aku bawa. Aku sempat terlena namun tak lama karena suara pengunjung yang mulai berisik membuatku tak bisa tidur.

Suara adzan dari Masjidil Haram terdengar dan disambut oleh puluhan suara adzan dari masjid-mesjid lain di sekitar Kota Mekkah. Suaranya seperti bergemuruh. Aku merinding. Aku segera mengambil handphone dan merekamnya dengan video. Link-nya bisa di lihat di Sini

Waktu demi waktu berlalu, pengunjung semakin banyak berdatangan. Termasuk 2 orang Indonesia Jemaah umroh dari Kalimantan. Kami lalu berkenalan dan bergantian saling mengambil foto. Perlahan langit mulai memerah. Namun sayang sekali kami tak bisa menyaksikan sunrise dengan sempurna. Langit Kota Mekkah tertutup awan tebal. Di bawah terlihat beberapa mobil mulai berseliweran di jalan raya. Hari itu adalah Hari Jumat yang merupakan hari libur di Arab Saudi.

Pukul 7 pagi, aku mulai bersiap-siap untuk turun. Pengunjung semakin ramai. Aku kembali menapaki anak tangga yang sudah dipenuhi oleh pengunjung lain dan..itu tadi, peminta sumbangan. Meskipun meminta sumbangan namun tak ada kesan memaksa. Mereka hanya menunjuk semen cor-an anak tangga yang masih basah pertanda sumbangan itu untuk pembuatan dan pemeliharaan anak tangga.

Hanya berselang 30 menit aku sudah tiba kembali di kaki Jabal Nur. Saat akan mencari taksi aku mendengar seseorang meneriakkan namaku. Ternyata Jemaah umroh asal Kalimantan menawarkanku untuk ikut naik taksi bersamanya. Kebetulan hotel kami terletak di daerah yang sama di sekitar Masjidil Haram. Aku pun ikut bergabung dengan mereka berdua dan kembali ke kawasan Masjidil Haram. Sebuah pengalaman berharga di Gua Hira dan Jabal Nur yang takkan terlupakan. Andai masih diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Baitullah, aku akan kembali ke tempat itu. Mungkin akan membawa tenda dan camping di sana.

 Sumber : Semua Foto Dokumen Pribadi dan bukan editan
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s