“Ini Afrika, Bung” – Part 1

IMG_1346Usai perjalanan menjejakkan kaki di Kilimanjaro, masih ada 1 agenda utama yang wajib di lakukan saat mengunjungi Benua Afrika, Safari! Semua sudah aku arrange sebelum meninggalkan Indonesia. Tersisa waktu 4 hari 3 malam di Tanzania usai pendakian Kilimanjaro sebelum terbang ke Maroko. Rencana awal akan bersafari 2 hari 1 malam dengan meng-eksplore 2 Taman Nasional. Sehari akan diluangkan untuk mengeksplore Kota Moshi. Namun setelah melihat kondisi Kota Moshi yang tak begitu ‘menantang’, rencana dirubah. Aku memilih bersafari selama 3 hari 2 malam dan hanya istirahat semalam di Moshi. Aku segera mengabari Richard via telepon. Sudah kuduga, dia meminta tambahan pembayaran sebesar USD 200. Aku menawar USD 150, Richard setuju. Pembayaran sebesar USD 350 sudah ditransfer saat masih di Jakarta. Jadi total pembayaran untuk bersafari plus menginap 2 malam di tengah hutan Afrika sebesar USD 500 atau sekitar 7 Juta rupiah. Lumayan mahal seh, tapi mumpung sudah di Afrika. Pengalaman memang ber – ‘harga’, bukan? Anggap saja kado buat diri sendiri untuk kerja keras selama ini.

“Kita akan berangkat besok jam 6 pagi. Silahkan istirahat!” Richard mengakhiri percakapan telepon kami. Sesaat setelah tiba di kamar, semua isi carrier dan daypack aku keluarkan. Beberapa diantaranya masih basah. Lantai kamar, sofa, TV hingga jendela dalam sekejap berubah jadi jemuran. Hanya kasur yang dibiarkan kosong.

Ritual selanjutnya adalah mandi! Aktifitas yang selama seminggu tak pernah di lakoni. Guyuran air hangat dari shower laksana siraman air di tengah sabana. Aku mirip anak kecil yang sedang main hujan-hujanan. Girang banget bisa mandi.

Waktu menunjukkan pukul 6 sore. Berbekal segelas orange juice, aku naik ke roof top hotel di lantai 6. Aku ingin menunggu waktu Shalat Maghrib lalu makan malam dan tidur. Masih ada waktu untuk menyaksikan senja di Kota Moshi. Sayang sekali Gunung Kilimanjaro tak nampak karena tertutup awan. Tak mengapa, toh aku sudah bertemu langsung. Hembusan semilir angin seperti membuai. Rasa kantuk sudah menyerang dengan ganasnya namun kutahan. Kata orang tua tak baik tidur menjelang maghrib, pamali! Untungnya sayup-sayup suara adzan terdengar dari kejauhan. Aku bergegas kembali ke kamar.

Usai shalat Maghrib di jama’ Shalat Isya, aku turun ke restoran di lantai 2. Berbagai makanan aku pesan. Balas dendam. Selama seminggu ini aku sudah bosan makan roti dan sup melulu. Saatnya perbaikan gizi. Tak pakai lama, semua makanan di atas meja sudah berpindah tempat ke dalam perut. Aku baru bersiap untuk naik ke kamar saat tiba-tiba pundakku di tepuk seseorang dari belakang. Richard. Perasaan ku jadi gak enak neh, kayaknya mau di tagih..hehehe. Kami berbasa-basi sejenak, hingga akhirnya,

“Dio, I’m so sorry. We have to leave to Arusha tonight!”

“What?? You told me that we’ll leave tomorrow morning!”

“Yes, but I just got a call from the agent in Arusha that they will leave to the camp site at 6 am. If you stay here, it means that you must leave at 3 early morning as it will takes 2 or 3 hours from here to Arusha.”

“But I’m not sleep yet, Richard. I’m so tired and sleepy now.”

“You can sleep in the car and hotel in Arusha.”

“Ok, what time will we leave?”

“it’s around 9.” Sekarang sudah jam 7.45 malam. Artinya tersisa 1 jam 15 menit lagi.

“Ok, I’ll go up stair to repack my stuffs” Terbayang harus mengumpulkan ‘jemuran’ dan memasukkannya ke dalam carrier dalam tempo 1 jam.

“Don’t forget to pay the remaining safari cost” Richard mengingatkan.

“No worries, I’ll pay it later.” Ujarku seraya bergegas ke kamar.

Huffttt, mata mengantuk dan perut kekenyangan namun harus dipaksa packing. Peralatan yang berantakan segera kukumpulkan dan memasukkannya ke dalam carrier. Semua dimasukkan asal-asalan. Perlengkapan pendakian yang tak dibutuhkan lagi dimasukkan ke dalam tas terpisah untuk dititip ke hotel. Yah, usai safari aku akan kembali menginap di hotel ini. Kurang 5 menit jam 9, carrier sudah kembali berada di punggung dan daypack di dada. Aku menunggu Richard di lobby hotel yang baru tiba menjelang jam 10. Jam karet!

Sesaat setelah menghempaskan badan di jok belakang mobil , aku tak ingat apa-apa lagi. Aku tak mempedulikan Richard yang mencoba ngajak ngobrol. Rasa ngantuk yang menyerang sudah tingkat dewa. Aku baru siuman saat mendengar bunyi klakson berulang-ulang. Masih setengah waras, kulirik jam tangan, pukul setengah 1 dinihari. Masih dalam posisi wuenak, kulayangkan pandangan lewat kaca mobil. Sepi di luar. Sesaat terlihat seseorang membuka gerbang dalam keremangan malam. Sebuah kompleks bangunan mirip losmen menjadi tempat pemberhentian pagi buta itu. Aku hanya mengikuti Richard  berjalan menapaki anak tangga ke lantai 2. Ternyata itulah hotel tempat aku akan menginap malam itu. Sebagian besar ruangan sudah gelap. Hanya ada seorang receptionist menunggu. Aku duduk termangu setengah teler di lobby sementara Richard berbicara dengan receptionist. Tak berselang lama, receptionist tadi mengajakku ke kamar yang ada di lantai 3. Richard sudah pamit untuk kembali ke Moshi. Sejujurnya aku cukup terkesan dengan pelayanan Richard. Dia cukup bertanggung jawab bahkan rela bersusah payah mengantar ke Arusha. Padahal dia bisa saja menugaskan salah seorang staffnya. Mungkin karena ada perubahan rencana jadi dia yang langsung mengambil alih.

Please meet me in the restaurant at 5.30 am as you will leave to the camp site at 6. Have a nice dream, Sir.” Demikian pesan sang receptionist yang mengantarku hingga ke kamar yang kujawab dengan anggukan. Aku belum loading sepenuhnya, masih melayang-layang. Kuhempaskan carrier dan daypack ke lantai kamar lalu bergegas ke kamar mandi. Kamarnya berinterior super jadul lengkap dengan kelambu. beberapa bagian dinding yang wallpapernya sudah mengelupas membuat kamar ini terasa agak ‘spooky’. But who cares? Aku masih mengantuk dan segera membentangkan kelambu lalu masuk ke dalamnya. Tidur!

Suara alarm jam 4.30 membangunkan. Kuseret langkah ke kamar mandi setelah keluar dari kelambu. Mencoba menyalakan air hangat, tak berfungsi. Rasa dingin lumayan bikin gemetar. Namun aku tetap memaksakan diri mengambil air wudhu. Masih sempat Shalat malam mengingat subuh di Afrika baru masuk saat jam 6 pagi.

Tak banyak yang aku lakukan usai shalat selain mengumpulkan gadget yang sedang di charge. Jam masih menunjukkan pukul 5.15. Gelap dan dingin masih berasyik masyuk dalam balutan sepi di ranah Afrika. Aku putuskan untuk turun ke restaurant 15 menit sebelum waktu penjemputan. Dalam keremangan restaurant samar-samar terlihat seseorang sedang duduk. Aku baru akan meletakkan carrier dan daypack saat tiba-tiba sang receptionist menyambangi dan memperkenalkanku pada orang yang sedang duduk tadi. Ternyata dia adalah supir yang akan membawaku ke campsite. Tanpa basa-basi kami segera bergegas menuruni anak tangga. Sebuah mobil mirip Alphard sudah parkir di depan pintu masuk. Saat hendak masuk ke dalam mobil ternyata ada tamu lain yang sedang tidur pulas di kursi depan. Sang supir langsung melesat meninggalkan hotel menembus kegelapan pagi buta Arusha.

Ingin rasanya menyambung mimpi yang terputus namun aku harus tetap terjaga agar tak terlewat shalat subuh. Aku melakukan shalat sambil duduk, untungnya tadi sudah ambil air wudhu sebelum berangkat. Cahaya pagi mulai terlihat menyapa dalam kesunyian sepanjang perjalanan. Gugusan perbukitan berpadu hamparan padang rumput mulai terlihat jelas. Sesekali kami berpapasan dengan mobil bus atau mobil 4 wheel drive yang mulai lalu lalang. Tamu yang tertidur di kursi depan seperti masih asyik bercengkerama dengan mimpinya. Aku mencoba memejamkan mata. Bayangan akan hutan Afrika yang selama ini aku khayalkan beberapa saat lagi akan kusaksikan. Namun mengapa aku harus membayangkannya? Saat ini aku sedang berada di bumi waka-waka, Afrika.

Pagi sudah menyapa dengan ramahnya, terang hadir menghempaskan kegelapan. Panorama ranah Afrika yang di dominasi padang tandus dan siluet pegunungan dari kejauhan menemani. Sesekali terlihat penduduk asli dengan jubah warna orange berjalan sambil membawa tongkat. Itulah Suku Masaay, suku asli Afrika yang terkenal dengan gaya hidup nomadennya. Mereka adalah suku penggembala yang menghabiskan hidupnya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka menyerahkan hidupnya kepada alam semesta.

OLYMPUS DIGITAL CAMERASetelah melewatkan waktu hampir 2 jam, mobil berbelok kanan di sebuah pertigaan. Aku laksana berada di in the middle of nowhere. Bentangan padang rumput nan maha luas tersaji di kiri kanan jalan. Sekilas ingatan melayang ke Taman Nasional Baluran yang terkenal dengan sebutan Africa van Java. Tapi Baluran hanya laksana secuil dibanding hamparan padang rumput yang ada di Afrika ini. Sebenarnya lebih mirip beberapa area di Flores yang bertopogrofi berbukit.  Namun di sini padang rumputnya datar dan luaaaasss pake banget.

Sesaat kemudian mobil berbelok ke sebuah jalan yang lebih kecil melewati perumahan penduduk hingga akhirnya kami tiba di pelataran parkir sebuah tempat di dalam rimbunan pepohonan. Itulah Sun Bright Camp Site, penginapanku selama bersafari. Camp site ini terletak di pinggiran Taman Nasional Manyara, salah satu taman nasional di Tanzania yang terkenal dengan danaunya yang luas. Tamu yang tertidur di kursi depan akhirnya siuman. Namanya Kenji, guru salah satu SMP di Osaka, Jepang.

JpegKami lalu di minta masuk ke dalam tempat yang mirip restaurant namun masih kosong. Jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang 10 menit. Tak ada siapapun di restaurant itu. Beberapa deretan meja dan kursi terlihat kosong. Aku memutuskan keluar setelah meletakkan carrier dan daypack di salah satu meja. Beberapa orang terlihat sibuk di salah satu tenda yang mirip dapur umum. Mobil-mobil jeep terlihat berjejer di halaman parkir. Mobil itulah nanti yang akan aku gunakan selama bersafari. Mobil jeep biasa namun bagian atasnya bisa di angkat. Gunanya untuk memberikan kesempatan bagi tamu untuk melihat dengan jelas kehidupan satwa Afrika di habitat aslinya. Tentu saja dengan batasan dan aturan. Apa saja? Nanti ajalah yaa… baca aja dulu.

Jam 8.15, denyut nadi kehidupan mulai terasa. Tamu-tamu yang baru bangun langsung mengambil tempat di beberapa meja yang tersedia. Aku semeja dengan Kenji, Bryan, pemuda asli Philipina berkebangsaan Amerika, dan Andy bersama pacarnya yang asli Belanda. Tampaknya Bryan dan Andy sudah saling mengenal. Mereka asyik bercerita tentang pengalaman bersafari sehari sebelumnya. Nampaknya mereka cukup paham dengan kehidupan satwa. Aku yang hanya sesekali menyaksikan kehidupan satwa Afrika lewat layar kaca dalam acara TV hanya bisa mendengarkan. Meski demikian, aku juga sudah pernah melihat langsung hewan-hewan liar yang mereka diskusikan. Dimana? Ragunan! Hahaha

Usai sarapan, kami diminta bergegas ke halaman parkir. Aku dan Kenji diminta menitipkan bawaan ke salah satu ruangan. Kami lalu bergabung dengan tamu-tamu lain yang akan bersafari yang dibagi dalam group. Aku 1 group bersama Kenji, Andi dan pacarnya. Seorang tamu lain akan di jemput di campsite berbeda. Jam 9 tepat, kami mulai meninggalkan pelataran parkir untuk bersafari. Excited dan happy tentu saja!

IMG_1122Ngorongoro Concervation Area, demikian nama tempat yang menjadi tujuan safari di hari pertama. Lahan konservasi seluas 8292 km persegi dihuni berbagai macam satwa Afrika. Sebut saja singa, zebra, gajah, banteng, badak dan jutaan species satwa lainnya yang ada di dalam area konservasi Ngorongoro. Letaknya bersebelahan dengan Taman Nasional Manyara, tempat aku menginap. Hanya butuh waktu 30 menit dari campsite untuk tiba di pintu gerbang utama. Puluhan jeep sudah antri untuk melakukan registrasi. Kami hanya diminta menunggu, boleh menunggu di mobil ataupun turun. Hanya diingatkan untuk selalu menutup pintu dan kaca jendela mobil karena Baboon (kera besar dan jelek) selalu mengintai.

Berselang setengah jam, kami sudah mendapatkan tiket, jeep segera meluncur masuk ke dalam Ngorongoro melewati pintu gerbang. Pemberhentian pertama di salah satu view point. Dari atas kita bisa melihat Ngorongoro crater yang konon terbesar dan terluas di dunia. Sebuah tempat yang jutaan tahun lampau merupakan kawah gunung berapi. Bahkan menurut cerita penduduk asli, di kawah inilah pertama kali Siti Hawa alaihi salam tiba saat diturunkan ke bumi sebelum dipertemukan dengan Nabi Adam alaihi salam di Jabal Rahmah. Entah benar atau tidak, Wallaahu a’lam bissawab…

IMG_1177Pemandangan di kawah Ngorongoro sangat indah. Tempat itu laksana cawan raksasa yang dikelilingi pegunungan. Dari kejauhan tampak satwa liar laksana titik bergerak di dasar kawah yang sudah tidak aktif lagi. Usai berfoto, kami dipanggil untuk naik ke jeep. Perjalanan akan di lanjutkan ke dasar kawah. Wahh tambah excited. Jeep lainnya sudah melesat di depan.

Kami di sambut rombongan zebra yang sedang merumput. sesekali terlihat mereka berkejaran dan bercengkerama. Hewan mirip kuda dengan strip hitam putih di sekujur tubuhnya. Zebra sih biasa aja, di Indonesia juga banyak khususnya di jalan raya, Zebra Cross! Hehehe..

IMG_1178Kami berputar-putar kawah mirip orang sedang ngabuburit. Tak jelas arah dan tujuannya. Terkadang jika ada kerumunan mobil jeep, supir kami akan segera melesat menuju ke arah itu. Begitulah trik bersafari. Kami tak tahu di mana satwa-satwa liar itu berada. Jadi harus di cari dengan cara ya itu tadi, mutar-mutar. Mobil jeep berseliweran laksana ajang slalom test. Aku dan Andy yang duduk di belakang mulai membuka kap atas mobil. Kami bisa menyaksikan suasana Ngorongoro dengan leluasa. Sesekali dadah-dadahan dengan peserta safari lainnya saat berpapasan.

IMG_1263Saat sedang asyiknya mutar-mutar tiba-tiba hujan turun. Yahhhh, kami dengan sigap menutup kap mobil. Apes deh, lagi safari tiba-tiba hujan, tentu saja satwanya jadi malas keluar, takut flu!

“Kayaknya binatang malas keluar kalau hujan begini, mereka memilih tinggal di sarangnya sambil minum kopi panas!” Aku bercanda ke Andy.

“Sambil nonton Animal Planet di Discovery Channel!” Andy menimpali, kami semua tertawa.

Untungnya hujan gak pakai lama. Meski tak terlalu cerah, cuaca cukup mendukung untuk kami ngecengin para satwa. Dari kejauhan terlihat kerumunan mobil. Aku menunjuk ke arah itu dan meminta supir yang merangkap tour guide untuk segera tancap gas. Ternyata oh ternyata, seekor singa jantan sedang duduk dengan santainya sambil kibas-kibas ekor. Santai banget seperti tak terganggu dengan puluhan anak-anak adam yang mengerubunginya dari kejauhan. Suara jepret-jepret kamera seperti beradu padu.

IMG_1379“Jangan ganggu dan jangan memberikan makanan ke satwa!” itu aturan yang wajib dipatuhi oleh siapapun. Tamu hanya boleh menikmatinya dalam diam dan diusahakan tidak berisik karena itu akan mengganggu sang raja. Bisa saja dia beranjak pergi. Iya kalau pergi, kalau tiba-tiba nyamperin, bisa runyam urusannya. Akhirnya kami hanya mampu memandanginya dari kejauhan. Itupun hati sudah senang dan berbunga-bunga. Ini memandang singa apa memandang gebetan yak! Tiba-tiba sang gebetan eh maksudnya sang singa mengaum. Bikin merinding. Dia lalu beranjak dan sesaat kemudian melenggang dengan acuhnya. Tak ada yang bergerak, semua diam. Sang Singa berjalan perlahan ke arah mobil jeep yang berjejer. Suara jepretan kamera terdengar mengabadikan setiap langkah sang singa yang berlenggak lenggok laksana peragawan diatas catwalk. Perlahan melewati celah jeep, menyeberang jalan hingga akhirnya berjalan ke tengah padang rumput yang ditumbuhi ilalang. Mirip rombongan penonton drive in, semua jeep segera bergegas meninggalkan lokasi saat sang raja sudah menghilang di balik ilalang. Salah satu dari anggota the Big Five sudah disaksikan. Oh ya, bagi penggemar kehidupan satwa liar, ada 5 jenis satwa besar yang wajib dilihat saat bersafari di Afrika. Kelima satwa itu adalah Singa, Gajah, Banteng, Badak dan Macan. Apakah aku bisa melihat kelompok the Big Five selama safari ini?

Mendung masih menggelayut di langit Ngorongoro. Jeep safari masih berseliweran. Sesekali jeep berhenti saat berpapasan. Tampaknya para driver merangkap tour guide itu saling bertukar informasi. Meskipun di Ngorongoro crater hal itu tak sulit untuk mencari tahu karena tempatnya luas dan datar. Dari kejauhan bisa terlihat jika ada kerumunan jeep.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Jeep segera melesat menuju ke sebuah danau yang akan kami tempati berisitirahat makan siang dengan bekal lunch box yang sudah disiapkan. Puluhan jeep sudah berjejer mengelilingi danau saat kami tiba. Beberapa bangunan kecil yang tak lain adalah toilet menjadi tujuan utama favorit para peserta safari. Aku dan Andy mengambil lunch box usai urusan toilet kelar, sementara Kenji asyik berburu photo.

IMG_1431Makan siang kelar, perburuan kembali dilanjutkan. Langit mendung di terpa angin sepoi-sepoi menghadirkan rasa ngantuk. Atap jeep kembali di buka. Aku dan Andy yang duduk di bangku belakang kembali berdiri. Dari kejauhan tampak ada kerumunan jeep. Kembali sang supir menggeber jeepnya menuju kerumunan itu. Ahaaa, ternyata sebuah tontonan menarik dan lucu tersaji di tengah-tengah padang rumput. Terlihat 2 ekor singa betina sedang tertidur pulas sementara beberapa anaknya asyik bercengkerama. Teringat akan Simba, singa kecil dalam film Lion King. Kami berhenti beberapa jenak mengamati tingkah lucu sang Simba dan induknya.

IMG_1410Usai menyaksikan tingkah polah sang Simba, kami kembali bertemu salah satu gang The Big Five, gajah! Seekor gajah berukuran besar terlihat dari kejauhan. Namun tak menarik karena dia hanya berdiri mematung. Rombongan pun segera berlalu. Sepanjang jalan kami dihibur dengan ratusan burung Onta, Kasuari, Banteng, Hyenna (mirip serigala) dan kuda nil.

IMG_1297Beruntung, kami masih diberikan suguhan seekor binatang besar yang juga merupakan anggota the Big Five, Badak! Konon, badak tergolong binatang pemalu dan hanya keluar di saat-saat tertentu. Makanya tak semua pengunjung yang melakukan safari bisa menyaksikan kehadirannya. Kami beruntung. Hari ini bisa menyaksikan 4 anggota the Big Five, Singa, Banteng, Gajah dan Badak. Tersisa 1 anggota lagi, macan. Namun hari sudah sore. Mendung masih menghias langit Ngorongoro. Supir mengarahkan jeep menuju jalan keluar kawah. Jam baru menunjukkan pukul 3 sore. Perburuan satwa harus diakhiri. Andy dan pacarnya serta seorang tamu yang serombongan dengan kami harus berangkat ke Arusha. Aku dan Kenji akan kembali ke campsite.

Jeep berhenti di pintu gerbang untuk melapor lalu kembali melanjutkan perjalanan. Drama mulai terjadi. Sang supir tiba-tiba melambatkan laju jeep. Kami saling berpandangan. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya,

“What’s wrong with our jeep?”

Sang supir menjelaskan bahwa ada kerusakan dan dia tidak bisa memacu jeep dengan cepat. Terlihat dia berbicara di telepon dalam bahasa lokal yang pastinya kami tidak mengerti. Andy terlihat gelisah. Dia dan pacarnya sudah ada janji bertemu rekannya di Arusha malam ini. Hanya Kenji yang terlihat tenang tanpa ekspresi. Jeep berjalan semakin pelan hingga akhirnya berhenti di pinggir jalan. Sang supir meminta kami turun dari jeep karena akan dijemput dengan mobil lain yang akan berangkat ke Arusha. Mobil itu akan berhenti terlebih dahulu di campsite untuk mendrop aku dan Kenji. Sebelum turun, sang supir berbasa-basi dengan 1 tujuan, meminta tip! Akhirnya kami sepakat mengumpulkan USD 10 per orang untuk diberikan ke sang supir yang langsung tersenyum sumringah.

Tak lama sebuah mobil carry datang. Tanpa di komando, kami langsung naik. Mobil segera melesat menuju campsite. Setiba di campsite, kepanikan masih berlangsung. Aku dan Kenji berusaha mencari barang bawaan yang dititip tadi pagi. Tak ada yang bisa memberikan jawaban dimana carrier dan travel bag Kenji. Petugas yang ada di sana mengatakan kalau barang-barang kami ditangani oleh pegawai hotel yang bertugas pagi. Arrrrgggghhh… padahal aku sudah kelelahan. Hari mulai gelap. Aku ingin segera mandi, makan dan tidur.

Untungnya seorang pegawai datang dan meminta kami duduk di restaurant. Dia akan mencari tahu dimana barang bawaan kami. Akhirnya dia datang dan menyampaikan kalau tas-tas kami sudah berada di dalam tenda. Dia mengantar Aku dan Kenji ke tenda yang dimaksud. Ahhh…lega.

JpegAku segera menghempaskan diri ke atas kasur. Rasa lelah dan ngantuk menyerang, namun tanggung jika langsung tidur. Aku dan Kenji 1 tenda. Ada 3 dipan berasalkan kasur busa dengan kelambu berjejer di dalam tenda berukuran 2 x 3 meter. Kamar mandi sekaligus toilet ada di bagian belakang tenda. Aku meminta izin Kenji untuk mandi terlebih dahulu.

Usai mandi, aku shalat Maghrib jama’ dengan shalat Isya. Aku ingin segera makan malam dan langsung tidur. Aku menuju ke restaurant. Tamu lain sudah ada di sana. Makan malam sudah terhidang. Tapi tunggu dulu, meja untuk makan malam sudah diatur berdasarkan group. Aku dan Kenji yang tak punya group mengambil tempat di sebuah meja kosong. Tamu lain sudah menikmati makan malamnya namun belum ada tanda-tanda makan malam kami berdua akan terhidang. Untuk mengisi waktu, Kenji mengajarkanku origami, seni melipat kertas ala jepang. Aku hanya mengikuti tanpa konsentrasi. Selain lapar, aku juga sudah sangat mengantuk. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Tampak tamu-tamu lain sudah selesai makan malam. Belum ada apapun terhidang di atas meja kami.

“I’m Hungry.” Ujar Kenji lirih.

“Wait here, I’ll ask the waiter” Beberapa petugas hotel yang mondar mandir membereskan piring tak ada yang bisa memberikan jawaban pasti kenapa kami tak disiapkan makan malam. Aku berinisiatif menuju dapur. Aku mencari chief-nya. Aku protes kenapa kami tak disiapkan makan malam. Jawabannya membuatku kaget.

“Both of you are not being listed in our guest list!”

“What??”

Aku segera menghubungi Richard via telepon. Richard memintaku menyerahkan telepon ke Chief-nya dan mereka berbicara dalam bahasa lokal yang tak kupahami. Meskipun tak paham, aku bisa menangkap jika mereka berdebat. Sang Chief menyerahkan handphone kepadaku saat aku dengar Richard masih berbicara. Saat aku mencoba berbicara dengan Richard, dia mematikan telepon. “Waduhh, bakal gak makan malam neh.” Pikirku. Ini di pinggir hutan dan aku tidak tahu apakah di luar sana ada restaurant atau rumah makan. Kalaupun ada, apa aku bisa memakan makanannya. Aku teringat jika aku masih punya sisa snack dari Kilimanjaro. Mungkin itu bisa mengganjal perut hingga pagi.

Aku kembali ke restaurant menemui Kenji. Dia masih asyik dengan origami-nya. Aku dan mulai lemes, antara lapar dan mengantuk. Aku jelaskan apa yang terjadi. Kenji hanya bisa membelalakkan mata sipit khas jepangnya. Untungnya tak lama, seorang pelayan datang dan membawa 2 piring berisi makanan. Entah namanya makanan apa, tapi seperti potongan kentang yang digoreng bersama telur. Mirip telur dadar berisi potongan kentang besar-besar. Aku mencoba mencicipinya, rasanya? Hancurr! Kentangnya masih terasa mentah. Penampakannya pun acak-acakan. Aku memaksakan diri memakan telurnya dan minum air banyak-banyak. Nafsu makan sudah terbang meski terasa lapar. Berbeda dengan Kenji yang terlihat asyik menyantapnya. Rasa kantuk yang sudah menyerang dengan dahsyatnya memaksaku pamit ke Kenji untuk balik ke tenda lebih dulu. Setiba di tenda, aku menurunkan kelambu dan seperti orang linglung, aku langsung merebahkan diri dan tertidur.   Berakhirlah sudah petualangan bersafari hari pertama di benua yang terkenal dengan populasi satwa liarnya.   (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s