Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (10)

Part #10. Kwaheri Kilimanjaro

img_0867

Angin bertiup sepoi mengibarkan sang dwi warna di titik tertinggi Benua Afrika. Tempat tertinggi yang pernah aku pijak. Tempat yang awalnya hanya angan dan mimpi. Menggapainya penuh tetesan keringat, air mata dan pengorbanan, meski sejauh ini semua berjalan lancar dan sesuai rencana.

Perlahan aku melangkah meninggalkan papan trianggulasi. Pendaki lain sedang menunggu giliran untuk berfoto. Sudah menjadi tradisi di hampir semua gunung. Mencapai puncaknya berarti harus berdiri di titik trianggulasi atau titik tertingginya dan berfoto. Tanpa itu, sulit membuktikan jika seorang pendaki telah sukses mencapai puncak. Meski tak semua pencapaian ke puncak harus di buktikan . Itu hanyalah buat kenangan andai rasa rindu kembali menggoda. Begitulah puncak gunung apalagi yang berpanorama indah, suka menggoda dengan genit! Mirip kamu! Hahahaha

Aku bergabung dengan Amir, Daniel dan Chin. Kembali kujabat tangan mereka sebagai ungkapan terima kasih. Usai istirahat sejenak, kami melangkah turun. Banyak pendaki lain yang baru tiba. Gantian kami yang memberi selamat. Begitulah dunia pendakian. Tak perlu saling mengenal untuk mengucapkan selamat atau saling membantu andai seseorang membutuhkan pertolongan. Tanpa perlu bertanya dari negara mana atau agamanya apa!

img_0996Langkah demi langkah terayun menuruni jalur yang tak lagi tertutup salju. Terik mentari telah membuat butiran putih salju meleleh membasahi jalur. Langkah tetap harus terjaga. Selain licin, trek dengan kemiringan terjal siap menjugkal andai berjalan tergesa-gesa. Samudera awan dan bentangan glacier yang mengkilap membuat perjalanan terasa sangat indah. Namun kami harus bergegas. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Berdasarkan pengalaman Amir, Jam 10 ke atas Uhuru Peak akan berselimut kabut dan awan tebal beriringan angin kencang.

Lelah teramat sangat membalut sekujur tubuh, di bumbui rasa ngantuk yang mulai menggelitik. Langkah tak lagi pole-pole.  Matahari semakin meninggi, panas semakin menyengat. Terasa nikmat karena udara dingin khas gunung salju senantiasa menyelimuti. Jalur menurun berpasir lepas mengingatkanku pada jalur dari puncak Rinjani, Semeru dan puncak-puncak gunung berapi lain di Indonesia.

Kami tiba di tenda saat waktu menunjukkan pukul 1 siang. Perjalanan turun membutuhkan waktu 4 jam. Cukup lama. Para porter sudah berkumpul di depan tenda. Mereka memberi selamat sambil memeluk. Agak sedikit sesak nafas. Saat dipeluk kencang banget, aku melakukannya sambil menahan nafas! Kenapa? Ada dehhh…Hahaha…

Aku dan Chin segera berhambur ke tenda makan. Potongan buah dan semangkuk bubur plus termos air sudah tersaji di atas meja. Bak orang berhari-hari belum makan, semua makanan ludes dalam sekejap. Amir dan Daniel masuk ke tenda. Kami berdiskusi mengenai rencana kepulangan dan akan nge-camp di mana. Ada 2 camp yang bisa di gunakan untuk menginap malam itu. High Camp di ketinggian 3820 mdpl waktu tempuh 2 jam dan Mweka Camp 3100 mdpl dengan waktu tempuh 5 jam dari Barafu Camp. Awalnya aku meminta agar kami nge-camp di High Camp mengingat masih lelah dan mengantuk. Sayangnya, Chin harus terbang ke Zanzibar pukul 5 sore keesokan harinya. Jika kami menginap di High Camp, masih butuh waktu 6-7 jam untuk tiba di Mweka Gate. Dari Mweka Gate masih butuh waktu 1 jam untuk ke Kilimanjaro Airport. Belum lagi harus mampir ke hotel terlebih dahulu untuk mengambil barang yang dititip. Jika menginap di Mweka Camp, hanya butuh waktu 4 jam ke Mweka Gate. Artinya masih punya waktu cukup untuk tiba di Airport sebelum ke Zanzibar. Akhirnya kami sepakat untuk nge-camp di Mweka Camp. Artinya hari itu masih harus jalan kaki lagi selama 5 jam! Cakepppppp…. Mulai semalam hanya tidur 2 jam, trus muncak 7 jam, turun 4 jam, lalu masih harus jalan lagi 5 jam! Jangan dibayangkan…. sedihhhh!

Berat memang. Namun rasa gembira karena berhasil menggapai puncak masih mengalir dalam pembuluh darah. Tak ada rasa sulit menempuh perjalanan seberat apapun. Jalanin aja. Apalagi dilakukan demi orang lain. Aku meminta izin tidur sampai jam 2, meski saat itu sudah jam 1.30! Setidaknya aku beristirahat sejenak.Lumayan 30 menit buat sleeping chicken… Maksudnya tidur-tidur ayam…hehehe..

Aku terbangun karena teriakan dari luar tenda. Daniel membangunkan, sudah jam 2. Meski belum loading dengan sempurna, aku harus bergegas. Tak enak bikin team menunggu. Segera kukemas seluruh barang ke dalam carrier dan daypack. Tak sempat lagi memikirkan metode packing dengan benar, pokoknya masuk. Mungkin beginilah gaya hidup para nomaden yang selalu berpindah tempat. Tak ada tempat pasti untuk menetap lama. Apakah itu yang di sebut petualangan? Selalu berpindah dari 1 tempat ke tempat lain? Entahlah, yang jelas aku sangat menikmatinya. Bahkan berniat suatu saat akan menjalani dunia seperti itu hingga akhir hayat.

Chin, Daniel dan Amir sudah menanti di depan tenda. Kami segera melangkah meninggalkan Barafu Camp. Sekali lagi kutatap Puncak Uhuru Peak untuk terakhir kalinya dari jarak dekat. “Kwaheri Uhuru Peak. Kwaheri Kilimanjaro. I’m gonna miss you.” Aku berlari menyusul team yang sudah jauh di depan. Baru saja berlari beberapa detik, aku tiba-tiba berhenti. Dada terasa sangat sesak. Seperti mau meledak. Ternyata aku lupa kalau aku masih berada di ketinggian 4600 mdpl. Harus tetap bergerak pelan untuk penyesuaian ketinggian.

“Dio, Pole-pole!” Terdengar teriakan Daniel dari kejauhan. Mereka bertiga berhenti menunggu. Langkah kembali terayun meskipun pelan. Jalur menurun didominasi pasir vulkanis lepas. Batuan vulkanis sebesar bola terhampar dimana-mana. Kami harus berhati-hati melangkah mengingat di bawah banyak pendaki lain. Salah melangkah, akibatnya bisa terjungkal dan mencederai orang lain. Salah satu pelajaran saat mendaki gunung, jangan egois dan pikirkan hidup orang lain!

Panas menyengat, perut kosong, ngantuk masih bertengger di pelupuk mata serta rasa lelah teramat sangat seperti beban berton-ton di hujamkan ke pundak. Keindahan pemandangan dari kejauhan tak lagi menarik minat. Kamera sudah tersimpan rapat di dalam daypack, tak ada niat untuk mengambil gambar lagi. Dalam kondisi seperti itu, rasio tak lagi bisa berjalan dengan normal. Keinginan dalam sanubari hanya 1, segera tiba di Mweka Camp dan istirahat. Namun masih memerlukan perjalanan panjang untuk itu. Kesabaran dan ketabahan sangat diperlukan. Itulah seninya naik gunung. Mood, semangat dan stamina harus tetap terjaga hingga tiba kembali di titik awal pendakian. Meskipun 90% stamina sudah habis terkuras untuk mencapai puncak.

Kami beristirahat sejenak di High Camp. Aku merasa sesuatu yang aneh di perutku. Tak heran, perut kosong namun tak ada selera makan membuat stamina semakin drop. Aku meminta bantuan Amir untuk mencarikan air hangat. Minuman orang pintar yang kubawa dari Jakarta sudah habis. Amir datang dengan segelas kecil air hangat. Lumayan membuat nyaman. Perjalanan kembali dilanjutkan. Daniel dan Chin sudah jauh di depan. Sudah jam 5 sore. Harusnya kita bisa nge-camp di High Camp ini, namun mengingat besok Chin harus mengejar pesawat ke Zanzibar, kami setuju untuk nge-camp di Mweka.

Langit mendung. Kondisi jalur berganti pemandangan. Jika sebelumnya trek didominasi hamparan batu dan pasir vulkanis, selepas High Camp sudah didominasi pepohonan. Lumayan melindungi badan dari tiupan angin. Kaki terus melangkah menuruni jalur dengan mengandalkan sisa-sisa tenaga. Karena sudah berada di bawah 3000 mdpl, kami sudah bisa berjalan lumayan cepat. Meski dipaksa, langkah kaki menurun cepat mengikuti kontur jalur.

Sebuah suara berisik terdengar di belakang kami. Saat menoleh, serombongan orang sedang mendorong gerobak yang diatasnya ada orang berbaring. Itulah gerobak rescue. Jika pendaki merasa tak sanggup berjalan turun, mereka dapat menggunakan gerobak rescue yang akan di dorong oleh 4- 6 orang hingga ke camp terdekat. Modelnya seperti gerobak penjual air tapi lebih panjang. Gerobak ini tersedia di hampir semua camp utamanya di sekitar camp saat turun. Tentu saja ‘sang penderita’ harus membayar sejumlah uang. Jika kondisinya sangat parah dan butuh pertolongan medis, team ranger akan memesan helicopter. Hampir semua camp di Kilimanjaro memiliki helipad. Tak heran jika salah satu syarat pendakian adalah memiliki asuransi. Kecuali jika mampu membayar semua biaya helicopter dari kantong pribadi.

Hari mulai gelap. Langkah demi langkah masih terseret. Jalur mulai landai. Dari kejauhan terdengar suara riuh orang tertawa. Pertanda Mweka Camp sudah dekat. Jam menunjukkan hampir jam 7 malam. Beberapa pendaki tampak berdiri ngobrol di pinggir jalur. Ternyata sudah sampai di Mweka Camp. Kami masih terus berjalan.

“Amir, Where is our tent?” Aku mulai protes saat sudah melewati banyak tenda tapi masih terus berjalan.

“Di depan lagi. Sepertinya team sengaja memilih tempat di ujung agar besok kita tidak terlalu antri saat turun!” Demikian penjelasan Amir.

img_1010“Ok, Got it!” Aku sudah tak sanggup komentar banyak. Rasa mules karena masuk angin semakin menderaku. Langkah semakin gontai, nyaris mirip orang teler. Untungnya kami segera tiba di tenda. Aku tak mempedulikan sapaan Chin, aku langsung menghambur ke tenda. Daypack di lempar begitu saja dan aku merebahkan badan di atas matras. Pandanganku berkunang-kunang dan bumi seperti berputar. Isi perut seperti mau keluar semua. Aku membuka pintu tenda belakang dan merasa ingin muntah. Namun yang keluar hanya angin. Amir segera meminta porter menyiapkan air hangat. Segelas air hangat dan sebungkus biskuit di sodorkan Amir. Segera kulahap. Setelah agak mendingan, aku keluar tenda untuk ke toilet.

Saat kembali ke tenda, seorang pendaki bule menghampiri. Sepertinya dia tetangga tendaku.

“Are you ok?” Tanyanya. Aku tak sempat menanyakan namanya karena masih setengah ‘teler’.

“Not so well.”

“Headache?”

“No. I think I just restless and still lost my appetite. My stomach is full with air now.” Bahasa gampangnya, “Gua masuk angin om!”

“Oh, if you’re headache, I have medicine. Quite good, yesterday i drank it and my headache is gone.” Dia menunjukkan obat berwarna merah. Aku memaksakan diri tersenyum. Kenapa?

“Oh thank you. That’s the medicine that I gave to the porter in Barranco Camp. He said that his guess is having headache and need medicine”

“Ohh, this is from you?”

Aku mengangguk.

“Thank you very much, it was really helpful.” Si bule terlihat malu-malu.

Kenapa aku yakin itu obat yang aku berikan? Karena merek-nya pana*ol dan obat itu aku berikan 2 tablet. Satu tempat tabletnya sudah kosong, tersisa 1 tablet lagi.  Jadi ceritanya obat itu mau balik lagi padaku. Hehehe…

Aku masuk ke dalam tenda. Hari sudah gelap, dingin sudah kembali menerpa. Meskipun tak sedingin malam-malam sebelumnya. Aku rapatkan jaket dan kembali keluar tenda untuk makan malam. Tak banyak yang Aku dan Chin bicarakan malam itu. Kami hanya melahap sup yang tersedia. Roti dan ayam goreng sama sekali tak tersentuh. Nafsu makan masih bersembunyi entah dimana. Malam dingin mengantar kami segera melayang ke alam mimpi.

img_1021Jam 6 pagi. Aku terbangun, suasana masih sepi. Sepertinya semua masih terlelap dan enggan berpisah dengan mimpi indahnya. Aku merasa agak segar. Setidaknya sudah bisa tersenyum menyambut pagi. Kicau burung terdengar merdu di sela-sela kabut pagi. Aku membangunkan Chin. Bukan apa, kami harus bergegas turun hari ini karena dia harus segera ke airport. Waktu tempuh dari Mweka Camp ke Mweka Gate di ketinggian 1653 mdpl masih membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam. Kami masih membutuhkan waktu kembali ke hotel dan Chin sudah harus berada di airport paling lambat jam 3 sore. Pesawat yang akan membawanya ke Zanzibar akan terbang jam 5 sore. Waktunya mepet. Kami segera menghabiskan sarapan yang sengaja aku setting di luar tenda.

img_1030Usai sarapan, para porter, cooker dan guide beramai-ramai menyanyikan sebuah lagu perpisahan buat kami. Lagu porter yang merupakan ‘lagu wajib’ sesaat sebelum mengakhiri pendakian di Kilimanjaro. Judulnya Jambo Bwana. Kami semua bergembira ditutup dengan sesi foto bersama.

Kami segera berbenah dan langsung berjalan beriringan pendaki lain yang melintas. Trek ke Mweka Gate lumayan landai. Sepanjang jalur ditumbuhi pohon-pohon besar dengan ratusan monyet bergelantungan. Sesekali kami bercanda dengan pendaki lain yang melewati diiringi gelak tawa. Berselang 4 jam, kami sudah tiba di Mweka Gate. Puluhan kendaraan sudah menanti. Amir mengajak Aku dan Chin melapor ke posko. Selain melapor, kami juga akan memperoleh sertifikat yang di tanda tangani Dirjen Taman Nasional Gunung Kilimanjaro. Antrian panjang cukup lama sebelum kami menggenggam selembar bukti kalau kami sudah berhasil menjejakkan kaki di Puncak Kilimanjaro, gunung tertinggi di Benua Afrika.

JpegPerlahan mobil membawa kami meninggalkan Mweka Gate. Kami harus mampir ke salah satu tempat untuk membereskan pembayaran Tip. Ini yang sangat perlu di ketahui. Meskipun namanya tip, tapi hal itu bukan pilihan. Itu wajib. Aku tak tahu apa yang terjadi jika seorang pendaki menolak memberikan tip atau memberikan tip tak sesuai yang diharapkan. Berapa besar tip yang aku berikan? Nanti ajalah bahasnya di buku. Pada beli yaaa, kalau udah jadi… hehehe

Video singkat mengenai perjalanan ini bisa di lihat di Kilimanjaro Video

Perjalanan kembali ke hotel aku isi dengan tidur. Daniel mencoba menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati selama perjalanan pulang namun aku tak tertarik lagi. Di kepalaku hanya satu, tiba di hotel lalu mandi air panas dan tidur sampai pagi. Tapi benarkah ‘angan-angan’ itu bisa terjadi? Bukan petualangan namanya kalau hal itu bisa terjadi dengan mudah. Ada apa lagi? (Tamat)

————————————————————————–

Ikuti kisah petualangan selanjutnya saat membelah negeri Afrika saat bersafari. Penuh tantangan dan intrik plus sedikit drama menegangkan. Ikuti ceritanya dalam sekuel.. “Ini Afrika, Bung!”

img_1034

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s