Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (9)

Part #9. Merah Putih di Puncak Afrika

img_1003Teriakan kami membahana membelah cakrawala Barafu Camp. Amir dan Daniel tertawa. Adrenalin dan rasa gembira seakan mengalir ke dalam pembuluh darah. Kobaran semangat memenuhi segenap sendi dan relung jiwa. Mimpi yang sekian lama terpendam beberapa jam ke depan akan menjadi nyata.

“Persiapkan diri dengan tidur dan istirahat yang cukup. Kita akan berangkat jam 12 malam ini. Semua perlengkapan yang dibutuhkan selama di puncak harap di bawa.” Daniel ikut angkat bicara.

“Jam 11 malam, team akan menyiapkan makanan di tenda makan sebelum kita berangkat. Silahkan di isi termosnya dan bawa pembekalan secukupnya. Daypack akan kami bawa.” Amir menambahkan.

Aku dan Chin hanya mendengarkan. Sesekali aku melirik ke arah Uhuru Peak yang terlihat begitu dekat. Lelehan glacier-nya seperti bisa di sentuh dari tempat kami berdiri. Cuaca cerah. Langit biru berseling awan tipis. Dingin masih terasa namun tersamarkan oleh terik matahari.

“Perjalanan ke puncak akan memakan waktu 6-7 jam, tergantung cara kita berjalan. Tetap diingat cara ‘pole-pole’. Jika ada yang merasa kurang fit dan perlu istirahat, jangan malu untuk mengungkapkannya. Are you ready?” Tanya Amir.

“Yessss…!” Mirip paduan suara, Aku dan Chin kembali berteriak.

“Ok, now enjoy your time. Kita ketemu kembali saat makan malam!” Amir menutup briefing.

Sekali lagi aku pandangi Puncak Kilimanjaro. Sejenak berdiri terpaku dalam diam. Angin bertiup sepoi. Sinar mentari seakan menusuk ke celah-celah pori kulit. Aku biarkan. Pandangan tetap tertuju ke Uhuru Peak.

img_0873“Sampai ketemu besok pagi, Insya Allah,” Aku berbisik lirih.

Barafu Camp mulai ramai. Pendaki lain sudah tiba. Jam menujukkan pukul 5 sore. Aku mengambil kamera dan mulai berjalan melewati sela-sela tenda. Pemandangan sore itu sangat indah, sayang jika tidak di abadikan. Samudera awan bergulung, penggalan langit biru mengintip dari baliknya.  Dari 2 arah berlawanan, 2 buah puncak gunung seakan bersaing menunjukkan keelokan mereka. Gunung Mawensi dengan puncak berketinggian 5149 mdpl di sisi timur dan Gunung Meru berketinggian 4562 di Arusha dari sisi barat. Angin sepoi-sepoi sesekali berhembus, dinginnya seakan menggelitik setiap desah nafas. Ahhh, seakan hilang semua lelah yang menerpa selama 4 hari perjalanan. Meski Uhuru Peak yang menjadi tujuan utama belum tercapai, pemandangan di Barafu Camp laksana hidangan pembuka nan lezat.

img_0909Pukul 7 malam, cuaca dingin seakan tak memberi ampun. T-shirt 2 lapis, down jacket, wind stopper dan jaket tebal seperti tak berdaya menahan terpaannya. Waktu makan malam tiba. Aku hanya menikmati semangkuk sup, Chin mencicipi buah. Nafsu makan hilang entah kemana. Sebuah dilema, nafsu makan hilang saat tubuh membutuhkan asupan kalori yang cukup sebagai bekal tenaga untuk summit. Tak ada pilihan lain, harus dipaksa. Biskuit bekal buat summit akhirnya menjadi solusi, di iringi 2 cangkir teh jahe. Hidangan penutupnya, vitamin dan Diamox!

Usai makan malam dan shalat, tidur menjadi pilihan tepat. Waktu tersisa 4 jam lagi untuk menggapai mimpi. Saat yang sudah di nanti-nantikan. Tak ada lagi keraguan dan kegelisahan, bukan waktunya. Lebih baik fokus siapkan fisik mental jiwa dan raga plus campuran doa. Itu jauh lebih bermakna. Udara dingin mengantar aku melanglang buana ke alam mimpi di dalam sleeping bag.

Jpeg

Pukul 11 lewat 15 menit. Alarm di HP berdering nyaring. Aku membuka sleeping bag. Dinginnya tak sanggup di ungkapkan kata dan kalimat. Cuaca di luar entah minus berapa. Aku tak memikirkannya. Di kepala dan pikiranku hanya satu, waktunya summit! Aku kembali memeriksa daypack dan tas kecil yang akan dibawa. Snack, termos, P3K dan power bank sudah ada di dalam. Di sisi luar terselip 2 trekking pole. Tas kecil berisi kamera, snack dan personal stuff juga diperiksa, lengkap. Headlamp sudah terpasang. Aku membuka pintu tenda. Brrrr….. rasanya seperti di siram air es. Salju sudah menghampar dimana-mana hingga menutupi tenda. Aku berlari keluar menuju tenda makan. Di sana sudah tersedia termos berisi air panas. Secangkir teh jahe kembali menjadi penawar dingin. Lumayan menghangatkan. Tak lama berselang, Chin muncul. Kami bersama-sama menikmati teh dan sebungkus biscuit.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. Beberapa menit lagi pergantian hari dan titik awal puncak perjuangan menuju puncak Benua Afrika. Amir dan Daniel muncul di depan tenda. Aku dan Chin bergabung.

“How are you, guys. Are you ready?” Tanya Amir

“Yess..” Aku dan Chin menjawab bersamaan.

Daypack sudah berada di punggung Amir dan Daniel pertanda pendakian akan segera dimulai. Sekali lagi aku mengajak mereka berdoa bersama. Tak berlama-lama karena dingin sudah merayap hingga ke tulang sumsum. Tepat jam 12 malam, kami mulai melangkah meninggalkan tenda. Beberapa pendaki lain mengikuti. Dari kejauhan terlihat cahaya beriringan pertanda beberapa pendaki sudah mulai summit duluan.

Langkah demi langkah membawa kami semakin menjauh dari tenda. Trek menanjak kemiringan 70 derajat langsung menghadang. Prinsip pole-pole tetap menjadi acuan utama. Sesekali tiupan angin menggetarkan tubuh yang mulai basah oleh keringat, namun tak menggetarkan semangat nan membara. Inilah perjuangan yang sebenarnya. Perjuangan menaklukkan ketakutan, perjuangan memotivasi diri untuk bisa meraih hal yang terlihat tak mungkin. Perjuangan bagi orang biasa sepertiku untuk melakukan hal luar biasa. Hidup adalah perjuangan, mendaki ke puncak gunung salah satu jalannya.

Kami beriringan pendaki lain yang mulai berjalan pelan. Beberapa diantaranya beristirahat di pinggir jalur. Pendakian sudah memakan waktu 1 jam. Cuaca masih saja dingin. Salju di pinggir jalur semakin tebal. Amir masih tetap berjalan di depanku persis seperti kemarin, tetap lambat. Aku tak lagi protes. Meskipun dia berjalan cepat aku sudah tidak sanggup mengejarnya. Ada beberapa titik dimana aku mempercepat langkah, di saat itu aku merasa dada seperti mau meledak. Nafas pendek karena udara tipis menjadi penyebabnya. Ironisnya, saat merasa kelelahan kami tak bisa beristirahat lama karena hawa dingin serta merta menyergap. Tak ada pilihan lain, langkah harus tetap terayun meskipun hanya bergeser beberapa sentimeter saja. Bisa melangkah saja sudah luar biasa.

Pemandangan di depan hanya berupa berkas cahaya dari headlamp pendaki. Saat berbalik, dari kejauhan terlihat pemandangan lampu Kota Moshi dan Arusha. Bayangan Uhuru peak dengan glacier-nya sudah di depan mata. Seperti hanya tersisa beberapa langkah saja. Tampaknya seh…… tapi kenyataannya jauh!

OLYMPUS DIGITAL CAMERAAku tak mengeluarkan sepatah katapun. Jangankan berbicara, bernafas saja sudah susah. Langkah tetap terseret, bukan lagi terayun. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Ketinggian kira-kira sudah berada di atas 5000 mdpl. Rombongan lain tampak mulai bertumbangan. Beberapa terduduk di pinggir bahkan di tengah jalur di kelilingi rekan-rekannya. Jika sudah begitu, kami hanya bisa melipir mencari jalur lain. Pendaki lain yang berangkat duluan sudah mulai melambat.

Langit berubah warna di ufuk timur. Sudah hampir jam 6. Artinya aku harus segera shalat subuh. Di salah satu pinggir jalur terdapat batu berbalut salju, aku meminta Amir berhenti. Daniel dan Chin ikut berhenti. Dalam balutan dingin nan membeku di atas 5000 mdpl, kuhadapkan wajahku pada-Nya. Sepenggal doa kuhaturkan keharibaan Sang Maha Kuasa. Aku lanjut berjalan diiringi rekan-rekan lainnya.

img_0926Jam 6.30 kami tiba di Stella Point ketinggian 5756 mdpl, titik pertemuan antara Machame Route dan Marangu Route. Sebuah papan dari kayu bertuliskan ‘Congratulation You are now at Stella Point’ menjadi tempat terbaik untuk berfoto. Cahaya keemasan memberikan sedikit kehangatan. Tersisa 200 meter lagi untuk mencapai puncak. Kami beristirahat sejenak sambil mengeluarkan snack. Saat akan meminum air dari selang Camel Bag, ternyata airnya tak bisa keluar. Sudah membeku pemirsaahhh…

Menurut Amir, perjuangan berat sudah terlewati. Trek ke Uhuru Peak lebih landai. Kami kembali melanjutkan pendakian. Benar kata Amir, trek sudah landai dengan kemiringan sekitar 40 derajat. Namun itu tidak berarti kami bisa berjalan lebih cepat. Tetap saja kami berjalan ala slow motion. Lelah teramat sangat yang sudah menerpa di tambah semakin tipisnya oksigen. Langkah kembali terseret.

Matahari sudah bersinar dengan garangnya. Meski tak sedingin tadi subuh, tetap saja tak bisa berhenti lama-lama untuk istirahat. Tak heran, gunung-gunung glacier dimana-mana. Di beberapa titik kami harus menghindari salju yang sudah mengeras menjadi es balok. Salju seperti itu akan licin. Apalagi tak memakai crampon (Sepatu es).

Nafas tersengal berselang seling seretan langkah. Kami berpapasan dengan pendaki yang sudah berhasil menyentuh titik triangulasi. Tak jarang mereka memberikan semangat jika melihat kami hanya berdiri mematung karena kelelahan. Hal itu semakin membakar semangat, meski antara semangat dan tenaga terkadang gak nyambung. Tapi kami tak menyerah. Uniknya, beberapa pendaki sampai di papah beberapa rekannya untuk berjalan meski sangat pelan menuju puncak. Jadi kalau ada anggapan puncak bukan segalanya, itu tak berlaku bagi semua pendaki, termasuk aku. Puncak adalah target dan tujuan. Puncak adalah penanda kesuksesan dan perjuangan. Puncak memang hanya diperuntukkan oleh orang-orang yang pantang menyerah. Tentunya semua itu perlu perhitungan. Kalau tak bisa sekarang, lain kali adalah wajib! Itu prinsip!

img_0943Aku semakin tak berdaya. Daniel dan Chin sudah berjalan di depan. Amir tetap setia mendampingi. Saat aku memintanya berjalan duluan, dia menjawab, ”I’ll never leave you alone! C’mon you can do it!” Di beri semangat seperti itu aku kembali bersemangat. Meskipun lagi-lagi semangat itu di hempaskan oleh tenaga dan nafas yang kebut-kebutan. Lagi-lagi Amir berhenti menunggu.

“Amir, I can’t!”

“No, You can. We’ll reach Uhuru Peak within 10 minutes. Keep walking, Dio!” Amir tak mau kalah.

“I’m very tired.” Aku terduduk di atas batu. Tak ada tenaga tersisa.

“Don’t give up. Now stand up and take your step. Give me your bag. “

Aku memberikan tas yang aku selempang ke Amir. Dia seperti menarik jaketku untuk berdiri (setelah aku konfirmasi dia mengatakan tak melakukannya). Perlahan aku melangkah dengan bantuan trekking pole. Papan Triangulasi Uhuru Peak sudah terlihat. Aku berhenti sejenak. Kupandangi papan triangulasi itu dari kejauhan. Tampak para pendaki berkerubung menunggu antrian untuk berfoto. Aku bisa merasakan kegembiraan mereka. Ibarat api disiram bensin, semangat langsung membara. Aku harus tiba di sana walau harus merangkak sekalipun. Butuh perjuangan panjang untuk hari ini, tak ingin aku sia-siakan dengan menyerah begitu saja. Aku terus melangkah sambil mata tetap menatap papan Uhuru Peak. Gigiku gemeretak menahan nyeri di sekujur tubuhku. Selangkah demi selangkah, akhirnya…. “Yeahhhhhhhhhhhhhhhh….. Alhamdulilaaaaahhhhh!” Suaraku membahana membelah cakrawala Benua Afrika

“You did it, bro. Congratulation!” Amir memelukku. Daniel dan Chin datang memberikan ucapan selamat. Beberapa pendaki yang tak ku kenal ikutan memberi selamat dan memeluk. Aku tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa berdiri mengacungkan kedua tangan ke angkasa sebelum kedua lutut menyentuh tanah. Sujud syukur.  Amir menyodorkan air. Kureguk air yang sudah bercampur air mata yang mengalir deras. Aku tak peduli. Menggapai mimpi itu rasanya luar biasa, kawan! Tak terungkap kata-kata.

Sesaat setelah bisa menguasai diri, aku meminta daypack dari Amir. Aku mengeluarkan sebuah kantong kecil berisi benda pusaka yang sudah beberapa tahun menemani di setiap pendakian. Merah Putih. Bendera bangsa tercinta. Kuambil trekking pole dan kusangkutkan bendera di ujung-ujungnya. Setelah giliran tiba, aku melangkah menuju papan trianggulasi bertuliskan Uhuru Peak. Amir bersiap mengambil foto. Sesaat kucium sang saka merah putih lalu mengangkat tongkat ke angkasa. Dwi warna kembali berkibar dengan gagahnya tertiup angin di atap Afrika. Tanpa mempedulikan orang-orang di depan yang antri untuk berfoto, aku berteriak sekuat tenaga, “Indonesiaaaaaaaaaa!!” (Bersambung)

img_1002

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s