Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (8)

Part #8. Acute Mountain Sickness?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Aku melangkah keluar tenda sambil berjuang melawan hawa dingin. Badan sudah ditempel jaket 3 lapis, glove (sarung tangan) 2 lapis dan kupluk. Di luar masih gelap. Hanya cahaya headlamp yang menerangi jalanku. Aku masih penasaran dengan suara mirip pasir yang dihamburkan di atas tenda. Sesaat setelah berdiri di depan tenda, aku seperti terhipnotis. Pemandangan di hadapanku luar biasa indahnya. Dalam keremangan subuh, bayangan Gunung Kilimanjaro terlihat begitu mempesona. Langit biru bermandikan cahaya bulan sepenggalan dari sisi kiri. Taburan bintang pagi berkelap-kelip. Lelehan glacier warna putih terlihat samar-samar. Untuk pertama kalinya aku melihat Gunung Kilimanjaro dari jarak dekat. Sungguh indah, kawan. Teramat indah sambutan lukisan pagi karunia Ilahi nan Maha Rahman. Aku gemetar oleh rasa takjub.

Jpeg

Pemandangan menawan nan penuh pesona aku abadikan lewat bidikan kamera. Sejenak aku termangu. Langit berubah warna menjadi jingga lembut. Sunyi, sepi. Angin seperti tak bergerak. Tak ada suara. Pendaki lain sepertinya masih asyik meringkuk di dalam tenda. Tenda porter mulai menggeliat. Lampu mereka mulai menyala. Aku menikmati keheningan pagi dalam balutan dingin. “Arghhh…kalimat syukur sepertinya takkan pernah cukup untuk ungkapan terima kasih atas indahnya karunia-Mu pagi ini.”

Hari mulai terang. Aku teringat tujuan utamaku keluar dari tenda. Penasaran dengan suara pasir. Aku membalik badan. Setelah melihat ke atas tenda, ahhaaaa ternyata suara mirip hamburan pasir itu adalah suara es yang membeku. Sesaat sebelum shalat subuh kepalaku menyentuh tenda, di saat itulah pecahan es berjatuhan. Begitu juga saat pintu tenda di buka. “Pantas aja dingin, aku tidur di bawah es!”Pikirku.

Jpeg

Shira Camp mulai ramai. Pendaki lain sudah keluar tenda. Beberapa diantaranya menyelesaikan urusan dengan toilet. Gunung Kilimajaro terlihat dengan sempurna. Di sisi berseberangan, Gunung Meru (4562 mdpl), gunung tertinggi ke-5 di Afrika juga berdiri dengan anggunnya berbalut samudera awan. Cahaya jingga merona membuatnya terlihat sangat rupawan. Suara burung gagak beterbangan. Kicau burung bersahutan semakin membuat Shira Camp laksana nirwana elok penuh pesona. Aku berkeliling mengambil gambar. Beberapa porter dan pendaki yang kukenal menyapa. Chin, Amir dan Daniel terlihat di depan tenda dapur. Sekelompok porter bernyanyi Jambo Bwana sambil menari bersama tamu-tamu mereka. Sungguh damai. Sungguh indah kehidupan ini.

Seperti biasa, Aku melakukan ritual ‘mandi’ di dalam tenda. Lanjut sarapan setelahnya. Di hari ke-3 ini, Aku dan Chin masih merasa fit. Kami berdua mengkonsumsi Diamox. Perjalanan tersisa 4 hari 3 malam, tantangan terberat dalam pendakian ini sebentar lagi akan menyambut. Usai sarapan, kami bersiap-siap. Tujuan berikutnya adalah Barranco Camp di ketinggian 3984 mdpl. Hanya beda ketinggian 137 meter di banding Shira Camp ya? Mudah banget ya? Entar dulu. Sebelum ke Barranco Camp, terlebih dahulu kami harus melewati Lava Tower di ketinggian 4642 mdpl! Hufffttt, ampun kan?

Jpeg

Jarak Shira Camp ke Barranco Camp 10.7 km dan akan di tempuh dalam waktu normal 7-8 jam. Jika terjadi hujan deras atau badai, perkiraan waktu tempuh bisa meleset. Jaket, jas hujan, bekal makanan dan minuman serta obat-obatan yang cukup semua harus dimasukkan ke dalam daypack. Jika dalam kondisi terpaksa dan tak mampu membawa daypack, kami bisa memberikan ke guide. Begitu pengarahan Amir dan Daniel sesaat usai sarapan. Agak deg-degan juga mendengar pengarahannya. Seperti apa medan jalur yang akan dihadapi? Bagaimana jika…. berbagai pikiran negatif kembali menghampiri. Aku menepisnya dengan menyibukkan diri membenahi peralatan.

Sesaat setelah meninggalkan Shira Camp, kami langsung disambut tanjakan nan panjang. Kabut datang dan pergi sesuka hatinya dalam hitungan detik. Sinar mentari yang timbul tenggelam oleh awan seperti bekerja sama untuk menempa mental dan fisik kami. Belum setengah jam perjalanan, beberapa pendaki sudah istirahat di pinggir jalur. Terkadang tak nampak karena tertutup kabut tebal. Aku masih berjalan ala pole-pole di belakang Amir. Chin dan Daniel sudah berjalan di depan. Seiring bertambahnya ketinggian semakin bertambah lambat pula kami berjalan. Aku merasakan Amir berjalan di depanku sangat lambat. Lebih mirip jalan ala slow motion. Aku yang hanya berjarak kurang dari 1 meter di belakangnya merasa terganggu. “Pole-pole seh pole-pole tapi gak sellow kayak gitu juga keleeusss!” Aku menggerutu. Terkadang aku sengaja istirahat lama untuk memberikan kesempatan Amir berjalan cukup jauh. Namun dia kembali berhenti menunggu. Dia baru lanjut berjalan setelah aku sangat dekat dengannya. Kembali dia berjalan sangat pelan. Aku jadi emosi. Aku memilih jalur berbeda dengannya meski harus melangkah diantara hamparan batu-batu besar.

“Why you don’t follow me?” Tanya Amir ketika melihat aku mengambil jalur berbeda.

“Why must I follow you?” Jawabku sengit. Dia menatapku sekilas.

“Just walk slowly, ok?”

“Yeah, but You walk too slow. Let me do what I want, ok?” Aku hampir tak bisa menahan diri. Entah, aku seperti kehilangan kontrol diri. Pengaruh ketinggian atau karena sudah sangat lelah?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Perjalanan kembali di lanjutkan. Kabut tebal kembali menyerang sesekali diiringi angin. Meski tak terlalu kencang, cukup membuat badan menggigil dan gemetar. Beberapa pendaki memilih membuka makan siang di celah bebatuan. Aku masih terus berjalan meski sangat pelan. Aku tidak merasakan sakit apapun kecuali nafas yang tersengal. Gerimis dan hujan bergantian. Kami terus berjalan namun beban sudah terasa sangat berat terkena air hujan. Amir tak henti-hentinya bertanya, “Are You ok?” yang terkadang aku jawab hanya dengan mengangkat jempol. Berada di ketinggian diatas 4000 mdpl dalam terpaan kabut dan angin membuatku tak mampu berpikir. Aku melangkahkan kaki meskipun hanya bergerak maju beberapa sentimeter saja. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kami sudah berjalan selama 4 jam.

“Amir, I’m hungry!” 

“Do You want to have your lunch now or after reach Lava Tower?”

“How long it will take?”

“Within 1 hour”

“I want to have it now!”

Amir segera meletakkan carrier-nya dan mencarikan tempat untuk aku duduk. Tak lama dia kembali dan mengambil daypack-ku lalu berjalan ke arah sebuah batu besar. Aku mengambil posisi berlindung sambil membuka lunch box. Di dalamnya berisi roti, ayam goreng, telur, pisang, jeruk dan juice box. Meskipun lapar namun makanan tak bisa masuk. Aku harus memaksanya dengan metode makan minum. Makan sesuap, minum berteguh-teguk. Sepertinya aku mulai kehilangan nafsu makan. Heyyy.. itu salah satu gejala….AMS! Mengingat hal itu, aku memaksakan diri menghabiskan makanan. Aku tak boleh terkena AMS. Sekali AMS menyerang, usailah sudah semua mimpi. Pilihannya hanya 1, turun!

Usai makan siang, kami kembali bergegas. Kabut mulai menipis. Beberapa rombongan pendaki melintas. Kami bergabung menyusuri hamparan bebatuan di sebelah kanan, sementara di sebelah kiri tampak seperti jurang. Tak terlihat dengan jelas karena tertutup kabut. Aku terus melangkah. Amir masih terus di depanku dengan langkahnya yang sangat lambat. Aku sudah tak peduli. Saat ini aku hanya bisa mengangkat kaki dan memindahkannya ke depan. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Apakah mau jauh atau dekat, itu tak penting, yang penting bergerak maju. Hal lain yang aku inginkan adalah segera tiba di Barranco Camp dan isitrahat.

Kabut tebal kembali menerpa. Kali ini diiringi hujan gerimis terkadang deras disertai angin. “Dio, Keep walking!” Aku mendengar teriakan Amir di sela-sela kabut. Jarak pandang hanya sekitar 3 meter. Aku paham maksudnya. Berhenti berjalan saat cuaca seperti itu bukan pilihan tepat. Rasa dingin akan menyergap dan membuat tubuh membeku. Tak ada tempat berlindung. Hanya hamparan batu-batu vulkanik bertebaran. Aku terus berjalan. Dalam guyuran hujan, aku teringat saat basah kuyup kehujanan pulang pergi kantor beberapa saat sebelum terbang ke Afrika. Mungkin inilah tujuannya, agar aku terbiasa dalam cuaca buruk. Sempat teringat masa-masa perjuangan untuk mewujudkan mimpi. Air hujan bercampur air mata hangat mengalir. Kugumamkan do’a memohon perlindungan-Nya nan Maha Rahim. Aku terus berjalan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kami tiba di Lava Tower nan berbalut kabut tipis. Berada di ketinggian 4642 mdpl, beberapa pendaki menjadikannya sebagai tempat nge-camp. Terlihat dari beberapa tenda berdiri di bawah gundukan bekas lava berbentuk menjulang menyerupai menara (tower). Tak banyak orang terlihat berseliweran. Sepertinya mereka sedang berlindung di dalam kehangatan tenda.

Usai mengambil beberapa gambar, Amir mengajakku melanjutkan perjalanan. Menurutnya, medan jalur tak akan sesulit sebelumnya. Jalur akan didominasi trek menurun. Meskipun ada beberapa yang harus menanjak. Huffttt…lagi-lagi jalur roller coaster. Kembali kaki melangkah menuruni dinding gunung lava. Meski tak seberat di awal tapi tetap harus berhati-hati. Salah melangkah bisa menggelinding ke bawah bersama bebatuan.

Jam menunjukkan pukul 3 sore. Hujan sudah reda, kabut pun sudah menghilang. Sinar mentari sesekali memberikan kehangatan dan keringat. Langkah sudah mulai ringan. Jam 4.30 sore, kami tiba di Barranco Camp. Area camping menyerupai lapangan luas mirip di Shira Camp. Usai melapor, Aku meminta Amir segera menemukan tenda kami. Rasa lelah sudah tak tertahankan. Perjuangan hari ini sangat menguras tenaga.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai beristirahat sejenak, aku berjalan-jalan mengitari kawasan Barranco Camp. Dari kejauhan tampak Barranco Wall dan di atasnya terlihat Uhuru Peak, Puncak Kilimanjaro. Cuaca sore itu cukup bersahabat meski sesekali di selingi kabut dalam tempo yang sangat cepat. Saat kembali ke tenda, seorang porter mendatangi.

“Apakah kamu punya paracetamol?” Tanya sang porter.

“Ada. Untuk siapa?” Aku bertanya balik.

“Tamuku. Dia sakit kepala”

“Ok, tunggu sebentar!”

Aku masuk ke dalam tenda dan mencari tas P3K. Aku ambil 2 pil berwarna merah dan memberikannya ke porter tadi.

“Berikan dia banyak minum dan minta dia langsung tidur sesudah minum obat ini. Kalau dia masih sakit kepala juga saat bangun, segera cari dokter atau bawa turun!” Aku memberikan instruksi, sang porter mengangguk. Hmmm… Sakit kepala adalah gejala awal dari AMS. Timbul karena tubuh belum bisa beradaptasi dengan beda ketinggian. Penanggulangan awalnya sebenarnya mudah. Perbanyak minum air, segera istirahat dan jika masih sakit kepala juga, silahkan cari tempat yang lebih rendah untuk istirahat. Begitu yang aku baca di internet. Hehehehe…

Makan malam menjelang, aku dan Chin kembali melanjutkan diskusi. Masih seputar pertanyaan dia mengenai Indonesia. Aku masih menjawab dengan antusias sambil sesekali bertanya mengenai aktifitas dia di Taiwan. Kami terus berdiskusi hingga jam menunjukkan pukul 8 malam. Waktunya minum Diamox dan tidur. Hari nan sangat melelahkan baru saja kami lalui. Tantangan berat sudah menanti keesokan hari. Tetap semangat!

Suara alarm dari HP membangunkanku saat jam menunjukkan pukul 5 pagi. Tidurku sangat nyenyak. Masih terasa dingin namun aku mulai terbiasa. Sudah hari ke 4 aku di Kilimanjaro. Barang dan peralatan yang berserakan di dalam tenda kembali di rapihkan. Aku bersiap-siap Shalat subuh. Tentunya shalat sambil duduk. Seperti biasa aku ber- tayammum. Tepat pukul 6, aku mulai shalat. Suasana tenang dan dingin membuatku merasa sangat damai. Sebait doa terpanjat kehadirat Sang Maha Mengabulkan doa. Doa utama pastinya agar aku diberi kekuatan hingga bisa menyelesaikan pendakian ini. Doa lainnya terkirim untuk Ibuku. Tiba-tiba aku merasa sebuah kerinduan yang mendalam. Aku sangat yakin doa dari beliau senantiasa terkirim untukku dari tanah Sulawesi di belahan benua lain. “Ma, Anakmu rindu. Doakan agar aku sehat dan selamat yaa!” Sajadah dilipat, air mata di hapus.

Hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan. Hari yang akan menguji ketahanan fisik, kekuatan mental dan gelegar semangat. Semangat adalah harga mati! Yah, hari ini kami akan kembali bergerak menuju Barafu Camp di ketinggian 4673 mdpl. Camp terakhir sebelum menuju Uhuru Peak, Puncak Kilimanjaro. Membayangkan hal itu, aku seperti mendapat energi luar biasa. “Yessss, Today is the day, the day for Kilimanjaro!!”

Aku keluar dari tenda. “Ya Allah ya Rabbi,” lagi-lagi pemandangan indah tersuguh di hadapanku. Barranco Camp berselimut kabut tipis diantara tenda-tenda, Puncak Kilimanjaro terlihat begitu dekat. Lelehan glacier-nya seperti menetes membasahi Barranco Wall di bawahnya. Yah, itulah Barranco Wall, dinding yang harus kami panjat untuk menuju Barafu Camp.

Jpeg

Huka mengantar termos berisi air panas ke tenda makan. “Menikmati pemandangan dengan secangkir teh jahe kayaknya asyik neh,” Aku kembali ke tenda mengambil teh jahe sachet yang dibawa dari Jakarta. Usai menyeduh teh, aku duduk di atas batu dekat tenda. “Sungguh nikmat yang luar biasa, kawan.” Huka yang bolak balik ke tenda makan mengantar sarapan aku minta mengambil fotoku. Dia pun melakukannya sambil tertawa.

Usai sarapan, kami bergerak meninggalkan Barranco Camp. Saat briefing di tengah sarapan, Amir meminta kami mempersiapkan fisik dengan makan yang banyak. Hari ini akan menjadi perjalanan panjang. Jarak yang akan kami tempuh sepanjang 9.5 km dan normalnya akan ditempuh dalam waktu 8 jam. Treknya masih naik turun dan lebih ekstrim dari jalur kemarin. Kami akan melakukan free climbing di Barranco Wall, lalu turun ke sungai yang merupakan pertemuan 2 bukit. Selanjutnya akan menyeberangi 3 bukit sebelum terakhir setengah memanjat untuk mencapai Barafu Camp. Kami akan mampir sejenak di Karanga Camp di ketinggian 4040 mdpl untuk makan siang. Selebihnya akan menempuh trek mendaki. Aku dan Chin berpandangan sambil tertawa.

Jpeg

Sesaat setelah meninggalkan Barranco Camp, kami sudah tiba di pinggir Barranco Wall. Pendaki lain sudah mulai memanjat, juga porter-porter mereka. Kemiringan dinding sekitar 70-80 derajat. Beberapa pijakan berupa teras-teras kecil terdapat di beberapa bagian dinding. Pendaki harus mengantri atau memilih jalur lain. Saat tiba di kaki tebing, aku istirahat dan membiarkan porter memanjat terlebih dahulu. Aku tak sanggup melihat mereka antri berlama-lama dengan beban di punggung dan kepala. Sungguh sebuah perjuangan berat dalam mencari nafkah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pendaki lain terus berdatangan. Mereka langsung memanjat. Chin dan Daniel sudah memanjat terlebih dahulu. Pendaki dan porter trus mengalir berdatangan. Aku dan Amir masih menunggu hingga sepi. Akhirnya aku meminta ke Amir untuk mencoba jalur lain. Meskipun jarang kejadian, namun aku agak kuatir jika harus berjalan di bawah porter dengan bawaan besar dan berat seperti itu. Awalnya Amir keberatan. Aku meyakinkannya bahwa aku sedikit paham ilmu rock climbing. Aku sudah belajar teknik-nya meskipun masih sedikit. Akhirnya Amir mengijinkanku dengan syarat  bahwa dia akan menunjukkanku jalurnya dan harus berhati-hati. Aku setuju. Mulailah aku bergeser ke sebelah kiri. Tak ada pendaki maupun porter yang menggunakan jalur itu. Selain cukup terjal dengan kemiringan hampir 90 derajat, pijakan atau teras pun terbatas. Aku mulai memanjat. Amir mengambil gambar dari bawah. Sesekali dia memintaku ke kanan atau ke kiri, persis seorang belayer saat melakukan rock climbing. “Akhirnya tahu kan kenapa sebelum berangkat aku memasukkan aktifitas rock climbing ke dalam training camp schedule? Hehehe…”

Jpeg

Setelah berjibaku dengan susah payah akhirnya aku bisa tiba di puncak Barranco Wall. Amir menyusul di belakangku. Kami berdua istirahat sejenak menikmati pemandangan yang cukup indah di bawah teriknya matahari. Barranco Camp terlihat dari kejauhan. Perjalanan kembali di lanjutkan. Kali ini treknya menurun dengan jalur tanah kering dan berdebu. Sungai dengan air jernih dan dingin mengalir menjadi penanda kalau trek menurun sudah usai. Kami kembali beristirahat sejenak sebelum kembali mendaki trek dengan kemiringan sekitar 70 derajat. Begitu seterusnya. Trek naik turun silih berganti. Cuaca cerah cnderung terik mengiringi langkah kami. Semakin menyebalkan karena kami bisa melihat pendaki lain yang sudah berjalan di depan terlihat sangat kecil. Artinya kami tertinggal sangat jauh.

Jam menunjukkan pukul 12 siang saat kami tiba di Karanga Camp. Beberapa tenda sudah berdiri. Tenda itu hanya sementara untuk digunakan para cooker dan porter untuk istirahat dan memasak. Makan siang kembali tersaji di dalam tenda. Meski lelah dan lapar, aku sudah mulai kehilangan selera makan. Diperparah lagi dengan aroma tubuh kami yang sudah 4 hari tak mandi. Semakin menghilangkan selera makan. Aku hanya makan sup dan buah-buahan untuk menjaga stamina agar tetap fit. Tentunya aku mengkonsumsi banyak vitamin.

Usai makan siang, perjalanan menyusuri trek yang sangat melelahkan kembali di lanjutkan. Panas terik senantiasa menemani menjalani trek yang bervariasi. Naik turun bukit, lembah dan hamparan padang gersang menjadikan perjalanan siang itu terasa sangat menyedihkan. Fisik dan mental benar-benar di tempa menghadapi jalur yang tak kenal ampun. Lagi-lagi semangat adalah harga mati, kawan!

Trek terakhir pun tiba. Kami harus melewati jalur dengan dinding reruntuhan batu vulkanik. Atap pondok ranger terlihat dari bawah. Dengan sisa-sisa tenaga kami berusaha untuk melangkah dan merayap di dinding batu. Di ujung kelelahan teramat sangat akhirnya kami tiba di Barafu Camp di ketinggian 4673 mdpl. Entah para porter terbang atau berlari, tenda sudah berdiri tegak dengan barang-barang kami di dalamnya. Aku menghempaskan diri ke atas matras. Jaket dan seluruh baju yang sudah basah dengan keringat dibuka. Matahari bersinar dengan teriknya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Aku bergegas keluar tenda saat Daniel memanggilku. Amir dan Chin sudah menunggu di luar. Sesaat Amir mulai berbicara,

“Ok Guys. Both of you were did a very good job. Now we’re in Barafu Camp. But this is not the end of our journey for today. Please prepare your self as tonight both of You will make Your dream come true to….” Amir sengaja berhenti berbicara. Aku dan Chin langsung menyambungnya dengan berteriak sambil mengacungkan kedua tangan, “Uhuru Peak……Yeahhhhhh” (Bersambung)

*Tak ada keindahan yang bisa dicapai kecuali oleh mereka yang berani percaya bahwa sesuatu di dalam diri mereka lebih unggul daripada keadaan (Bruce Barton)

Advertisements

2 thoughts on “Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s