Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (7)

Part #7. Pole-pole

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Langkah pertama menyusuri jalan setapak di kaki Kilimanjaro sudah terayun. Tak ada lagi keraguan, yang ada hanya semangat membara. Usai berdoa bersama, langkah demi langkah bergerak meninggalkan Machame Gate. Sebuah tanda bertuliskan Starting Point Machame Camp, Wishing You a Good Climbing menjadi tempat persinggahan pertama untuk selfie. Buat foto stock saja dan tidak bisa di upload di sosmed. Sim Card yang dibeli kemarin belum bisa online padahal sudah lewat 24 jam.

Jpeg

Jalanan beraspal nan landai menjadi trek pembuka. Kami berempat, Aku, Daniel, Amir dan Chin berjalan beriringan. Mungkin karena terlalu semangat, Chin berjalan sangat cepat. Amir beberapa kali mengingatkan Chin untuk berjalan pelan. “Pole-pole!” yang artinya pelan-pelan. Beberapa porter yang melewati kami ikut menimpali. Aku sibuk sendiri mengambil gambar sambil sesekali ikut berteriak.

Machame Camp, tujuan akhir kami kami hari itu berjarak  11 km yang bisa di tempuh dalam waktu 4 – 5 jam. Saat itu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Diperkirakan kami akan tiba di camp sekitar jam 6 – 7 sore. Selang 1 jam perjalanan, trek beraspal mulai berganti tanah pengerasan. Sepanjang jalan sangat teduh berpayung pohon-pohon tinggi. Beberapa diantaranya berusia ratusan tahun. Kawanan monyet berbagai rupa terlihat bercengkerama di sela-sela dahan. Keringat mulai mengucur membasahi badan. Aku berjalan pelan. Amir sepertinya tahu penyebabnya,

“Are you hungry?” Tanya Amir. Aku mengangguk.

“Let’s take a break and you can have your lunch!” Lanjutnya.

“Ok. Thanks.” Kataku sambil mencari posisi di bawah pohon.

Amir berteriak meminta Daniel dan Chin yang ada di depan untuk berhenti. Aku membuka lunch box dan mulai memakan sandwich yang sudah mulai mengeras. Meski rasanya aneh, tak ada pilihan lain. Harus tetap di makan. Hal yang selalu menjadi penderitaan utama setiap kali aku traveling ke luar Indonesia, faktor makanan. Mungkin karena terlalu sayang dengan makanan Indonesia jadi agak-agak sulit pindah ke lain hati. Halahhh…

Kami lanjut berjalan. Selain karena sudah kenyang, istirahat lama-lama membuat badan yang sudah basah oleh keringat menjadi lebih dingin. Beberapa pendaki melewati kami. Ucapan “jambo” yang berarti “halo” senantiasa terucap. Beberapa kelompok porter berhenti dan mengatur kembali barang bawaan mereka. Sebagian porter tetap berjalan tergopoh-gopoh membawa beban. Ada yang menyimpan beban di pundak, di punggung hingga di kepala. Aku teringat para sherpa yang ada di Himalaya. Mereka sangat mirip. Manusia-manusia hebat dan perkasa.

Langkah tetap terayun. Medan sudah mulai berubah. Jalan setapak mulai berganti punggung gunung di beberapa titik. Nafas mulai tersengal. Aku mulai sering berhenti mengambil nafas. Treknya mirip trek ke Rinjani via Senaru. Suara desir angin berpadu dahan bergesek sangat menyejukkan menjadi penghibur. Meski lelah dan nafas tersengal, kami tak bisa beristirahat berlama-lama. Itu tadi, dingiiinn…

Kami sudah berjalan hampir 3 jam. Menurut Amir sudah setengah perjalanan. “What??? Sudah berjalan 3 jam baru setengah perjalanan?” Aku protes. Amir menjelaskan bahwa waktu tempuh dari Machame Gate ke tempat itu memang lumayan lama karena treknya menanjak. Mendekati Machame Camp akan diselingi dengan trek menurun. “Woww, it is bonus!” aku menjelaskan kalau di Indonesia, trek menurun atau mendatar itu diistilahkan dengan bonus. Mereka tertawa.

Jpeg

Kami beristirahat di salah satu pos yang ada toiletnya.Rasa lelah kembali menerpa. Trek awal di Kilimanjaro ini sangat bersih. Hampir tak ditemui sampah sedikit pun termasuk area sekitar toilet. Tak ada bau menyengat. Toiletnya bangunan kayu dengan atap seng dilengkapi cerobong untuk membuang bau ke atas. Pengguna harus tetap menggunakan tissue basah yang harus dibuang ke dalam lubang pembuangan. Jadi tak ada tissue yang tercecer di sekitar toilet, apalagi botol air minum berisi cairan berwarna kuning. Seperti di salah satu gunung di Jawa Barat. Lelah hilang, perjalanan kembali dilanjutkan. Pendaki dari berbagai belahan dunia terlihat banyak yang masih istirahat di pinggir jalur. “Sepertinya mereka masih lelah.”

Pemandangan kiri kanan jalur masih tetap sama. Pohon, pohon dan pohon. Cukup membosankan. Untungnya ada 1 hal yang menjadi pengusir kebosanan. Para pendaki bule yang lewat. Lucu-lucu… hehehe

Jam menunjukkan pukul 6.15 sore saat kami tiba di Machame Camp di ketinggian 2835 mdpl. Hari masih terang namun kabut sudah mulai turun. Kami terlebih dahulu harus melapor ke ranger (petugas) yang ada di hut (pondok). Beberapa tenda warna warni sudah memenuhi area sekitar hut dan papan camp. Tempat itu merupakan posisi terbaik untuk bisa melihat Kilimanjaro. Namun sayang sore itu Kilimanjaro sedang bersembunyi di balik awan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai melapor kami menuju tenda yang sudah berdiri tegak. Ada 6 tenda. Tenda kami  ber-2, tenda guide, tenda dapur, tenda porter dan tenda makan. Aku dan Chin menempati tenda berbeda. Berdampingan dengan tenda makan. Aku menuju tenda yang mereka siapkan untukku. Carrier sudah berada di dalam beserta kasur matras. Aku menyimpan daypack dan berjalan mengecek tenda makan. Sebuah meja dan 2 buah kursi lipat sudah berada di dalam lengkap dengan termos air panas dan jejeran teh, kopi, gula dan susu. Aku menyeduh teh panas dan menikmatinya di luar tenda. Senja mulai turun, malam tiba, gelap menyelimuti dan dingin menyergap. Tempat terbaik adalah masuk ke tenda.

Aku sedang baring-baring manja di atas matras saat seseorang memanggilku dari luar tenda. Aku pikir dipanggil buat makan malam. Ternyata mereka membawa sebaskom air hangat dan sabun kecil. Perlengkapan mandi! Yah, begitulah cara kami akan mandi hingga 6 hari ke depan. Sebaskom kecil air hangat plus sabun. Aku bergegas mengambil baskom itu dan memasukkan ke dalam tenda. Harus cepat, kalau tidak air akan dingin dalam hitungan menit. Dengan handuk hangat aku mulai menggosok badan. Baju tidak di buka? Ya di bukalah…. tapi masak aku ceritakan di sini setiap detilnya. Ini kan cerita perjalanan, bukan cerita roman picisan. Entar kalian ngebayangin, kan repot!! Hahahaha..

Usai ‘mandi’, aku bergegas Shalat Maghrib di jama’ Shalat Isya. Mumpung masih belum terlalu dingin. Dari penunjuk suhu yang aku bawa, suhu berada di kisaran 12 derajat. Lumayan dingin. Jaket berlapis, kupluk, sarung tangan mulai bertugas. Makan malam menjelang. Terdengar teriakan dari luar tenda, “Dinner is ready now!”

Jpeg

Aku bergegas keluar tenda. Brrrr….. dingin seperti menampar. Kurapatkan jaket dan segera melompat masuk ke dalam tenda makan. Chin sudah menunggu. Di atas meja sudah ada semangkuk besar sup dan roti plus cangkir dan termos air. “Hanya ini?” Pikirku. Semangkuk sup gurih segera mengisi kekosongan kampung tengah nan hampa. Chin nampaknya tak terlalu suka, “Too salty!” Aku malah nambah. Rasanya mirip-mirip sup jagung. Aku pikir makan malam kami hanya itu jadi aku berusaha makan banyak.

Huka kemudian masuk ke dalam tenda. Dia membereskan meja. Aku ngobrol bareng Chin. Tak lama Huka kemudian datang lagi membawa mampan besar berisi kentang dan ayam goreng sambil berkata, “Main course, enjoy your dinner!” Ahhhaaaaa, ternyata sup yang tadi itu baru makanan pembuka. Deuhh nyesel makan sup sampai 2 mangkuk. Perutku sudah hampir penuh. Namun karena udara dingin, makanan hangat itu jadi cepat habis. Rupanya Chin juga sangat lapar. Kami berdua makan sambil ngobrol. Tak terasa makanan di atas meja sudah hampir habis. Huka kembali masuk dan membawa jeruk dan pisang. Makanan penutup! Huffttt, sungguh lengkap makan malam pertama kami di Kilimanjaro.

Jam menunjukkan pukul 8 malam. Aku dan Chin masuk ke tenda masing-masing. Udara dingin begitu menusuk. Pendaki lainnya juga tak ada suara. Hanya suara beberapa porter yang terdengar dalam bahasa Swahili. Tak ada suara berisik orang ngobrol atau teriak-teriak, tak ada suara musik apalagi suara gitar. Begitulah suasana malam di Kilimanjaro. Waktu di malam hari lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat memulihkan tenaga. Usai menenggak Diamox, aku pun terbang mengarungi cakrawala malam pertama di Kilimanjaro. Tidur!

Rasa dingin membangunkanku. Ternyata sleeping bag tak tertutup rapat. Iseng-iseng kulihat jam, 04.30 subuh. Kurapatkan sleeping bag mencoba tidur kembali. Tak bisa. Mungkin karena aku tidur sudah cukup lama,  8 jam. Shalat subuh masih satu setengah jam lagi. Aku melawan rasa dingin dan mencoba bangun. Sepi di luar. Aku mengambil termos berharap air di dalamnya masih hangat. Ternyata sudah sedingin air kulkas. Aku mencari sesuatu dari dalam daypack. Sesuatu yang aku bawa dari Jakarta yang biasa diminum oleh orang pintar biar tak masuk angin. Lumayan, rasa jahe-nya memberikan sedikit kehangatan. Hanya sedikit.

Usai shalat subuh, kurapikan barang-barang ke dalam carrier dan daypack. Di hari ke dua ini rencananya kami akan menginggalkan Machame Camp menuju camp selanjutnya usai sarapan jam 8. Semua beres, aku mengambil kamera dan tripod dan membuka tenda. Dinginnya membuatku gemetar. Aku melangkah keluar tenda. Belum banyak yang bangun. Hanya terdengar suara orang dari dalam tenda dapur. Tampaknya cooker sedang mempersiapkan sarapan. Aku berjalan mengitari camp. Langit perlahan berubah warna. Puncak Kilimanjaro nampak dari kejauhan meski hanya sepenggal. Aku mengambil gambar dan video. Pendaki lain mulai siuman. Beberapa nampak sibuk dengan kameranya, sama denganku. Machame Camp masih dikelilingi pohon khas hutan hujan tropis, mirip di Indonesia. Tenda didirikan di sela-sela pohon.

Sudah jam 7. Chin sudah bangun, demikian juga dengan Amir dan Daniel. Aku sudah ‘mandi’ dan stand by di depan tenda makan. Secangkir teh menemani. Tak berselang lama, sarapan sudah tersaji. Roti Sandwich dan semangkuk cereal. Lumayan buat bekal jalan. Hari ini tujuan kami adalah Shira Cave Camp atau lebih dikenal dengan Shira Camp di ketinggian 3847 mdpl. Meskipun hanya berjarak 5 km, namun akan ditempuh dalam waktu 6-7 jam. “Treknya sudah mulai naik turun.” Begitu penjelasan Amir saat briefing usai sarapan. Kami diwanti-wanti untuk mempersiapkan jas hujan dan jaket.

Usai sarapan, kami meninggalkan Machame Camp melewati pondok ranger. Pendaki lain sudah berjalan duluan diikuti porter dengan bawaan mirip orang mengungsi. Biasanya untuk pendaki rombongan. Bawaan mereka tentu banyak. Tak heran, ada yang tenda makannya mirip tenda sirkus. Tergantung seberapa mahal dollar yang dibayar ke provider.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Berbeda dengan perjalanan kemarin, hari ini sudah mulai terasa melelahkan. Selain karena medan yang mulai naik turun, antrian di jalur pendakian terkadang harus disikapi dengan bijak. Jika di belakang ada porter, pendaki harus mengalah. Terkadang juga ada rombongan pendaki yang berjalan cepat, kami memilih memberikan jalan. Prinsip ‘pole-pole’ tetap jadi pedoman utama. Tak perlu buru-buru, toh kita bukan bajaj atau angkot!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Meski melelahkan, pemandangan selama perjalanan sudah mulai menampakkan keindahan. Berbeda dengan kemarin yang didominasi pohon, kali ini sudah mulai lebih terbuka. Gugusan perbukitan dari kejauhan lumayan menjadi pelipur lara di kala dada mulai tersengal. Vegetasi diselingi bebatuan mendominasi jalur di hari kedua itu. Mirip-mirip jalur di Rinjani saat turun dari Pelawangan Senaru menuju Segara anak. Terkadang harus melewati celah bebatuan besar peninggalan letusan gunung berapi ini jutaan tahun silam. Sudah tahu kan kalau Gunung Kilimajaro adalah gunung berapi tertinggi dunia yang pernah meletus jutaan tahun lalu?

Kami membuka bekal saat jam menunjukkan pukul 12.30 siang. Kata Amir, kami sudah setengah perjalanan. Keringat bercampur gerimis sudah membasahi badan. Sepotong roti, ayam goreng, pisang dan juice kotak lumayan memulihkan stamina. Pemandangan di kejauhan cukup indah. Hamparan batu vulkanik diselingi pohon Senecio Kilimanjari, pohon khas Kilimanjaro tumbuh. Bentuknya yang unik dan sangat menipu. Kenapa? Nanti sajalah di ceritakan di bukunya yaaa….

Jalur roller coaster yang naik turun akhirnya berakhir di sebuah lapangan yang sangat luas. Itulah Shira Camp. Puluhan tenda sudah berdiri. Seperti di Machame Camp Kemarin, kami harus melapor terlebih dahulu di Ranger Hut alias pondok ranger. Surat Pendakian di tunjukkan, nama dan nomer passport di catat di buku, begitulah prosesi pelaporan. Kami lalu mencari tenda diantara puluhan tenda yang ada. Aku segera menghempaskan tubuh di atas matras saat memasuki tenda yang sudah disiapkan porter tercinta. Nyaris terlelap, aku melompat bangun saat melihat jam. Sudah lewat jam 4 sore, waktunya shalat sebelum senja dan dingin menyergap.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai shalat, aku keluar tenda. Sayang kan jauh-jauh ke Kilimanjaro hanya nongkrong di dalam tenda. Aku mau JJS (Jalan-jalan Sore) melihat-lihat tenda pendaki lain. Kali aja bisa ‘Assalamu alaikum’ terus disuruh mampir dan disuguhi pisang goreng dan teh jahe. Kan lumayan…Ngarep!! Hahaha.

Sedang asyik-asyiknya jalan-jalan ganteng, tiba-tiba area camping berselimut kabut tebal. Jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Dinginnya sampai ke ubun-ubun. Aku bergegas kembali ke tenda. Terlebih dahulu aku mampir ke tenda makan untuk membuat secangkir teh dan mengisi termos. Aku menggigil padahal sudah memakai jaket 2 lapis. Kukeluarkan sleeping bag dan mulai membungkus badan. Ahhh..lumayan hangat. Aku hanya berdiam diri di tenda hingga panggilan makan malam tiba.

Saat makan malam, Chin banyak bertanya padaku tentang Indonesia. Dia pernah membaca bahwa Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia. Dia banyak bertanya tentang keberagaman banyak hal mulai dari suku, agama dan budaya. Mirip seorang tour guide, aku bercerita banyak hal tentang Indonesia.

Tak banyak kejadian usai makan malam, lagi-lagi aku langsung menyepi di dalam tenda. Ingin berdiri di luar menikmati pemandangan malam, cuaca dingin disertai angin tak mengijinkan. Padahal malam itu cukup cerah. Namun apa mau dikata, dari pada menggigil mending cari kehangatan bersama… sleeping bag. Hari kedua di Kilimajaro pun berakhir di jam 8 malam saat aku menjelajah ke alam mimpi.

Kembali aku terjaga oleh rasa dingin yang teramat sangat saat jam menunjukkan pukul 4 pagi. Aku bangun mengambil 1 sachet minuman orang pintar. Sleeping bag masih memelukku erat-erat. Tanpa sengaja kepalaku menyentuh tenda dan terdengar bunyi gemerisik. Seperti suara tenda di hambur pasir. Siapa yang iseng melempar pasir di subuh buta begini? Ingin menengok keluar tapi tak sanggup menahan dingin. Aku tahan rasa penasaran. Nanti sajalah kalau sudah terang. Aku mulai membereskan barang-barang kembali ke dalam carrier dan daypack sambil menunggu waktu shalat subuh. Rasa dingin menimbulkan rasa lapar. Sebungkus coklat dan biskuit menjadi penawar.

Usai shalat subuh, aku membuka tenda, masih penasaran dengan suara mirip pasir berhamburan tadi. Ketika pintu tenda terkuak, suara itu kembali terdengar malah semakin keras. Saat melangkah keluar, aku melihat sesuatu yang membuatku tak sanggup berkata dan berbuat apa-apa. Aku gemetar. Bibirku tak mampu berkata sepatah kata pun. Ada apa? Di ceritakannya di episode berikutnya yaaaa…. (Bersambung)

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
@ Shira Camp

*Jangan takut berjalan perlahan-lahan; takutlah berdiri diam-diam (Pepatah Cina)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s