Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (6)

Part#6. “Hakuna Matata”

Jpeg
Kilimanjaro dilihat dari Roof Top Hotel

“Kriiiingggg….kriiinggg…kriinnnggg” Suara berisik telepon seperti menggetarkan dinding kamar. Aku mengeluarkan wajah dari balik selimut. Masih setengah sadar, kulirik jam tangan. Hampir jam 6 sore. Di luar masih terang.  Mirip orang linglung, kuraih gagang telepon.

“Halo.” Masih suara serak-serak becek beraroma bantal.

“Halo, sir. Are you sleeping?” Suara wanita dengan pertanyaan sangat ‘aneh’. Kalo aku sleeping ya pastinya tak bisa talking to you lahh…

“Nooo.. I’m talking to you now. What’s up?” Suaraku masih tetap serak setengah mendesah.

“Mr. Richard is waiting for you in the restaurant now. “

“Ok, please ask him to wait. Gimme 10 minutes. “

“Ok, thank you, Sir!”

“Karibu*” Kataku sambil menutup telepon. *(Bahasa Swahili/Afrika yang artinya Sama-sama atau you’re welcome).

Dengan langkah malas, aku masuk kamar mandi. Aku masih belum sadar betul, mirip orang teler. Sehari semalam baru tidur 2 jam. Kini harus terbangun kaget karena suara telepon. Tapi, entar dulu, aku tiba-tiba tersadar. Sekarang kan sudah di Afrika. Hari ini aku harus ketemu Richard serta guide dan team dari Safari Heroes. Besok pagi akan mendaki Kilimanjaro. Yeahhhh!!! Seperti api di siram bensin, semangat langsung membara. Mandi buru-buru, ganti baju dan lari keluar kamar. Richard sudah menunggu di restaurant hotel. Dia bersama Alex, salah seorang managernya. Basa-basi dikit, langsung ke pokok permasalahan. Pembayaran uang trekking sebesar 50% atau sekitar USD 605 harus dilunasi sekarang sesuai kesepakatan. Setengahnya sudah pernah di transfer saat masih di Jakarta. Richard info jika sebentar lagi aku akan bertemu dengan guide dan anggota team yang akan mendampingi ke Kilimanjaro. Selain guide dan porter, seorang pendaki asal Taiwan juga akan ikut dalam rombongan kami. Jadinya kami akan berdua. Rencananya akan bawa guide 2 orang, cooker (tukang masak) 2 orang, dan porter 6 orang. Jumlah totalnya 10 orang, masing-masing pendaki akan di kawal 5 orang. Itulah aturan di Kilimanjaro. Pendaki harus didampingi guide bersertifikat. Tukang masak wajib di bawa mengingat kami akan menginap selama 6 hari 5 malam. Porter minimal 3 orang, 1 orang membawa carrier atau tas milik pendaki, 1 orang membawa tenda plus kursi dan meja lipat, 1 orang membawa logistik termasuk kompor dan tabung gas! Ingat, ini keperluan 6 hari perjalanan.

Sesaat setelah Richard dan Alex pergi, aku naik ke roof top di lantai 6.  Hari sudah mulai gelap. Jam menunjukkan hampir pukul 7. Dari kejauhan samar-samar terdengar azan maghrib. Yah, maghrib di Moshi (Afrika pada umumnya) jam 7 lewat. Andai langit cerah, Puncak Kilimanjaro bisa terlihat, begitu info dari salah satu petugas hotel. Namun sayang senja itu langit agak mendung. Lampu-lampu di rumah penduduk sudah mulai menyala saat aku memutuskan untuk turun. Angin berhembus kencang menyisipkan rasa dingin menggigil hingga ke tulang sumsum.

Usai shalat maghrib, telepon kamar kembali berdering. Menurut receptionist ada orang di lobby ingin bertemu. Aku menduga mungkin inilah team yang akan mendampingi. Aku minta mereka ke roof top di lantai 6. Ternyata benar, ada 4 orang yang datang. Amir dan Daniel, ke-2 guide kami, Ibrahim dan Huka masing-masing tukang masak. Kami lalu berkenalan. Amir, dipanggilnya Emiri, akan jadi guide-ku sementara Daniel akan jadi guide si wanita Taiwan yang belum muncul juga. Amir dan Daniel banyak bertanya soal kesiapanku mendaki khususnya kesiapan fisik dan peralatan. Amir memberikan briefing singkat mengenai rencana keberangkatan esok hari. Belum terlalu detail karena besok harus diulang lagi setelah si Wanita Taiwan bergabung. Rencananya kami akan meninggalkan hotel jam 8 pagi. Rombongan akan langsung menuju Machame Gate, tempat registrasi sekaligus titik awal pendakian. Amir meminta agar peralatan yang tidak dibutuhkan selama pendakian dititipkan di hotel. Seluruh bawaan kecuali barang personal semisal kamera dan dompet, semuanya akan di masukkan ke dalam carrier besar untuk dibawa porter. Peralatan personal lainnya semisal obat-obatan, jas hujan, jaket dan sarung tangan tetap di bawa ke dalam daypack. Seperti di gunung-gunung lain, biasanya porter akan berjalan terlebih dahulu agar bisa tiba lebih awal. Tujuannya untuk mempersiapkan semua peralatan sebelum trekker tiba. Salah satunya, mendirikan tenda!

Aku menyampaikan rasa kuatir ke Amir dan Daniel. Mengingat persiapan fisikku sangat minim, hanya 3 bulan. Ditambah lagi sempat sakit flu beberapa minggu sebelum berangkat karena cuaca di Jakarta yang kurang bersahabat. Amir meyakinkan semuanya akan baik-baik saja. “Hakuna matata!” Kata Amir yang artinya “Jangan kuatir!” 

Kelar briefing, Amir dan rekan-rekan lainnya berpamitan untuk mempersiapkan keberangkatan keesokan harinya. Mereka akan datang lagi besok pagi jam 8. Target meninggalkan hotel jam 9 tepat. Aku kembali ke kamar untuk re-packing. Barang-barang yang tidak akan dibutuhkan di Kilimanjaro dipisahkan. Untungnya aku sudah membawa travel bag lipat. Semua barang-barang itu dimasukkan ke travel bag yang akan di titipkan di concierge hotel. Kamera, dompet, power bank, jaket, rain coat, sarung tangan, trekking pole, headlamp, camel bag, tas P3K kecil plus beberapa cemilan dimasukkan ke dalam daypack.

Peralatan lainnya seperti sleeping bag, celana, baju, jaket, sweater, P3K, dan beberapa logistik aku masukkan ke carrier yang akan di bawa porter. Cukup berat, mengingat aku membawa beberapa perlengkapan cadangan. Hal itu untuk mengantisipasi udara dingin nan ekstrim. Mending lebih dari pada kurang. Tidak ingin pendakian ini gagal hanya karena kurang persiapan dan peralatan kan?

Menjelang jam 10 malam, packing baru kelar. Rasa lapar mendorongku keluar hotel mencari makan. Karena kota kecil, tak banyak warung makan yang ‘proper’ di Moshi. Ada juga warung makan di pinggir jalan. Aku masih was-was mencobanya mengingat aku belum terbiasa dengan makanan lokal. Andai ada makanan yang familiar semisal bakso, nasi goreng, sate padang, somay atau makanan lainnya. Tapi nampaknya sampai lebaran kuda juga gak bakalan ketemu. “Mimpi kali yeeee…Hehehe…” Aku hanya mampir ke salah satu kios membeli beberapa snack, buah dan air mineral. Eh busyet, makanannya sehat amat. Hanya itu buat makan malam? Sepertinya iya, pastinya setelah memakan 1 porsi besar ayam dan kentang goreng pesanan di room service restaurant hotel!

Perut kenyang ditambah hawa dingin, kombinasi suasana yang sangat pas buat terbang ke alam mimpi. Apalagi mata masih sayup-sayup sendu laksana wulan merindu. Malam ini harus beristirahat yang cukup. Besok akan memulai perjalanan panjang dan melelahkan hingga 6 hari ke depan. Baru saja akan mendarat di kasur, eitssss… hampir lupa…minum Diamox! Tak lupa aku meminum beberapa vitamin yang dibawa dari Jakarta. Faktor kesehatan dan stamina adalah hal utama yang harus di jaga selama perjalanan panjang.

Entah karena faktor jet lag, pukul 4 pagi aku terbangun. Artinya di Jakarta sudah jam 8 pagi. Udara dingin menusuk tulang padahal AC off. Aku bangkit dari kasur, melongok keluar jendela. Sepi di luar. Tak ada orang lalu lalang di bawah sana. Aku menyalakan HP mencari tahu shalat subuh jam berapa. Sim card lokal yang aku beli kemarin belum aktif juga. Untungnya wi-fi hotel lancar jaya karena belum ada yang pakai. Penghuni hotel masih pada tepar. Kemarin sore saat pertama mencobanya, lambatnya mirip kemacetan di Jakarta.

Melalui aplikasi android, aku bisa tahu kalau shalat subuh di Moshi itu …jam 6 pagi! Artinya masih tersisa 2 jam sebelum pagi atau masih 2/3 malam. Saat yang tepat untuk ‘melapor, curhat dan memohon’ pada-Nya. Usai wudhu, aku mulai shalat tahajjud. Sepi, hening, tak ada suara. Aku bisa merasa dan mendengar degup jantung seiring denyut nadi. Iramanya laksana membawaku terbang ke awan. Kubaca ayat demi ayat secara perlahan. Kulantunkan kalam Ilahi seperti aku paham artinya. Aku merasa sedang berbicara pada-Nya. Aku merasa sedang berhadapan langsung dengan Sang Khalik nan Maha Agung. Aku yang merasa kecil tak berdaya, bersimpuh di ujung Arsy-Nya nan suci. Tak ada suara dan rasa tertahan. Semuanya aku biarkan keluar dan mengalir laksana sungai mencari ujung muara. Sepi masih menggenggam sanubari. Balutan dingin beraroma embun laksana semerbak nirwana. Tetesan air bening nan hangat mengucur ibarat hujan membasahi tanah gersang berlantai dosa. Tangis penyesalan dan kepasrahan mendalam tanpa tara berpadu isakan lirih. Aku bukan siapa-siapa dan tak memiliki siapa-siapa di ranah ini. Nafas, nasib, hidup dan matiku selalu dan hanya bergantung pada-Nya. Kuangkat kedua tangan dan menengadahkan wajah,

“Ya Allah, Ya Rabbi, Ya Rahman Ya Rahim. Hamba sedang sendiri di benua ini, mohon perlindungan-Mu. Hanya Engkaulah satu-satunya tempat hamba bergantung. Hamba ke sini atas izin-Mu maka lindungilah hamba. Hari ini hamba akan mendaki Gunung Kilimanjaro sesuai pintaku di depan rumah-Mu. Berilah hamba kekuatan, kesehatan, keselamatan dan kesuksesan. Semua hanya bisa terjadi atas ridho-Mu. Perkenankan hamba menjejakkan kaki di Uhuru Peak untuk menyaksikan keagungan alam ciptaan-Mu. Amin ya rabbal alaminnn ” 

Suara adzan subuh terdengar dari kejauhan. Sekali lagi aku berdiri untuk shalat subuh. Masih penuh khidmat dalam kesunyian Kota Moshi di sepenggal belahan kecil Benua Afrika. Usai shalat subuh, sarung dan sajadah dilipat dan kumasukkan ke dalam daypack. Secangkir teh jahe hangat aku seduh dari cerek listrik di kamar.  Kuambil kamera dan tripod lalu naik ke lantai 6. Kota Moshi mulai menggeliat. Orang-orang mulai terlihat beraktifitas. Seberkas cahaya sumringah di ufuk timur mulai menyirat. Nun jauh di sisi lainnya, terlihat Gunung Kilimanjaro berdiri dengan gagah meski dalam balutan samar-samar kegelapan. Tak ada awan. Warna putih lelehan salju mempercantik gunung berketinggian 5895 mdpl itu. Kilimanjaro, Puncak tertinggi di Benua Afrika kini berdiri di hadapanku. Kicau burung menjadikan subuh nan dingin itu terasa sangat syahdu. Sesaat berselang, sang mentari mulai menabur sinar kuning keemasannya. Pertanda pagi mulai menyapa. Guratan cahaya menyorot Kilimanjaro di sisi utara. Indah, teramat indah kawan. Sungguh sebuah lukisan pagi yang sangat rupawan.  “Arghh…Kilimanjaro. Cantik nian dikau pagi ini,” Bisikku. Usai mengambil beberapa foto, kusimpan kamera di atas meja. Aku ingin duduk menikmati lukisan pagi nan sempurna itu. Mataku menatap tajam ke arah Kilimanjaro. Secangkir teh jahe yang tak lagi hangat menemani. “Maka nikmat mana lagi yang harus aku dustakan, kawan?”

img_0734

Kupandangi Puncak Kilimanjaro berbalut lelehan salju beku putih laksana manik-manik tertimpa cahaya mentari. “Uhuru Peak, puncak Kilimanjaro. Mampukah aku menyeret langkah menemuimu?” Pertanyaan itu kembali muncul di benakku.“Hakuna Matata!” Sekelebat bisikan sepertinya keluar dari hati, keyakinan dan semangat yang sudah terbakar. Laa Hauuula Walaa Quwwata Illaah Billah… Bismillaaahi Rahmaaani Rahiimm…

Usai merapikan semua barang, aku bergegas ke restaurant untuk sarapan. Ada seorang wanita bermata sipit berkulit putih sedang menikmati sarapannya. Apakah ini si wanita Taiwan yang dimaksud Richard? Aku mengajaknya berkenalan. Namanya Chin, berasal dari Taiwan. Benar, dialah wanita yang akan menjadi trekking mate-ku ke Kilimanjaro. Kami mulai saling mengakrabkan diri dengan menceritakan diri masing-masing. Chin cukup friendly.  Meskipun terkadang aku kesulitan dengan bahasa inggrisnya yang terbata-bata dan pengucapan yang kurang jelas. Tapi masih bisa dimengerti. Dia bekerja di salah satu yayasan anak di Taiwan. Meskipun terlihat seperti emak-emak namun pengalamannya di dunia hiking sudah lumayan banyak. Chin sudah mendaki beberapa gunung di Jepang dan Korea. Bahkan sudah pernah ke Machu Pichu seorang diri. Wahh solo traveler juga. Cerita pun nyambung.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Amir dan Daniel sudah datang ditemani Alex, manager Safari Heroes. Alex akan mengantar kami hingga ke Machame Gate. Amir sekali lagi memberikan briefing. Usai briefing, Aku dan Chin bergegas ke kamar mengambil carrier dan daypack. Travel bag aku titipkan ke petugas hotel. Usai pendakian aku akan kembali menginap di hotel ini.

Pukul 9 pagi hari Natal, kami sudah berkumpul di depan hotel. Sebuah mobil Colt L-300 sudah memuat barang-barang kami. Sebagian di simpan di atap mobil . Porter yang akan mendampingi sudah stand by di dalam mobil. Kami berkenalan. Mereka sangat bersahabat. Sebagian bisa berbahasa Inggris meskipun terbatas. Beda dengan Amir dan Daniel yang sudah fasih. Setelah semua lengkap mobil mulai bergerak meninggalkan hotel.

Jpeg
Wefie with Team

Perjalanan dari hotel di Kota Moshi ke Machame Gate berjarak 25 km akan ditempuh dalam waktu 30 menit perjalanan. Apalagi hari itu hari libur, umat Kristiani sedang merayakan Natal. Sebagian besar masih menghadiri misa Natal di gereja. Beberapa dari anggota team kami termasuk Daniel dan Alex sebenarnya merayakan Natal, namun mereka rela meninggalkan keluarga demi mengantar kami. “Ahhh, Aku terharu.” Sementara Amir dan Ibrahim (cooker) adalah muslim.

Perjalanan menyusuri jalanan Kota Moshi berakhir di pintu gerbang besar bertuliskan ‘Welcome to Machame Gate’ menandakan kami sudah tiba. Aku salah sangka. Awalnya tak menyangka akan banyak pendaki ke Kilimanjaro karena hari Natal. Ternyata di sana sudah berkumpul ratusan orang. Mayoritas orang Eropa dan Amerika. Amir mengantar Aku dan Chin istirahat di Tourist Shelter yang tersedia di samping kantor registrasi. Beberapa bule sudah nongkrong di sana. Tampaknya mereka terdiri dari group-group. Hanya Aku dan Chin terlihat berdua. Chin keluar shelter untuk berkeliling mengambil gambar. Amir, Alex dan Daniel sudah antri di bagian registrasi. Antriannya cukup panjang. Aku mencoba berkenalan dengan beberapa pendaki yang duduk di dekatku. Beberapa datang dari Inggris, Rusia, Jerman, Jepang dan Amerika. Tak lama datang seseorang berwajah Asia. Dia datang sendiri dan mengambil tempat di dekatku. Kami pun berkenalan. Ahaaaa, ternyata tetangga. Namanya Ryan dari Singapura. Dia juga datang sendiri namun sudah digabungkan ke group oleh trekking provider-nya. Ryan baru tiba dari airport mengambil bagasinya yang kemarin sempat terbang ke Nairobi, Kenya. Untungnya hari ini bisa ketemu. Kalau tidak, wassalam. Semua peralatan trekkingnya ada di situ. You’re lucky, man…

Jpeg
Machame Gate

Pukul 12 siang. Daniel datang membawakan tupper ware berisi makan siang kami. Belum ada tanda-tanda bakal kelar urusan registrasi. Antrian masih tetap panjang meski terlihat Alex dan Amir sudah mendekati tempat pendaftaran. Daniel mempersilahkan kami makan siang. Pendaki lainnya terlihat menikmati makan siang mereka. Aku membuka lunch box. Isinya roti sandwich, telur, pancake, pisang dan juice kotak. Aku menutupnya kembali.

“Belum lapar” kataku ke Chin.

Chin asyik mengunyah sandwich-nya. Gantian aku yang berjalan keluar shelter. Ryan terlihat sibuk dengan guide-nya. Aku mengambil beberapa gambar.  Lokasi itu sangat bersih tertata rapih. Tak ada sampah berserakan. Pendaki yang sudah menyelesaikan makan siangnya memasukkan sisa makanan ke dalam kotak sampah yang tersebar dimana-mana. Beberapa ekor monyet terkadang menyambangi tempat sampah namun dihalau untuk menjauh. Diantara sekian banyak monyet, aku tertarik ke kawanan monyet yang memiliki ekor berwarna biru. Mereka terlihat asyik bergelantungan. Lumayan menjadi penghibur sambil menunggu proses registrasi yang sudah hampir 3 jam karena antri.

Pukul 01.30, Amir datang dan mengajak kami ke meja registrasi. Kami harus menulis sendiri data diri di ‘trekking book’ secara manual. Artinya proses registrasi sudah selesai dan izin pendakian sudah diperoleh. Kami bergegas mengambil daypack dan meninggalkan shelter. Para porter terlihat antri berjejer. “Ada apa ini?” Tanyaku ke Amir. “Oh mereka harus melalui pemeriksaan dan penimbangan barang bawaan.  Seorang porter hanya boleh membawa barang maksimal 20 kg. Pemeriksaan meliputi kecukupan barang logistik dan tidak diperkenankan membawa botol air mineral plastik.” Demikian penjelasan  Amir. Akhirnya paham kan kenapa harus membawa banyak porter?

Sebelum memulai perjalanan, aku meminta mereka semua berhenti. Sudah menjadi kebiasaan di Indonesia harus berdoa sebelum memulai pendakian. Aku jelaskan hal itu ke team dan mereka setuju. Aku memimpin doa. Usai itu kami tos-tosan sambil berteriak “Pole-pole!” Bahasa apa pula itu? Cari tahu artinya di sekuel berikutnya (Bersambung)

Advertisements

2 thoughts on “Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (6)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s