Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (5)

Part#5. Jambo Kilimanjaro

Jpeg

Jumat 23 Desember 2016, the day for Afrika. Hari keberangkatan ke Kilimanjaro akhirnya tiba. Penantian panjang menghitung hari sudah berakhir. Saatnya menyatakan mimpi yang sudah terpendam selama 2.5 tahun. Berbagai penggalan kisah membuatnya nyaris terkubur. Namun jika Sang Khalik sudah berkehendak, kun fayakun.

Semua perlengkapan sudah terpacking. Carrier 85 liter  plus 1 daypack sudah terisi penuh. Mengingat akan ‘berkelana’ selama 3 minggu ke 2 gunung, isinya sebagian besar peralatan trekking. Jadi tak perlu menyewa. Ditambah lagi saat itu adalah musim dingin (winter) yang membutuhkan jaket tebal beberapa lapis.

Sesuai jadwal, pesawat yang akan aku tumpangi ke Kuala Lumpur akan terbang sekitar pukul 5 sore. Usai shalat jumat, taxi online yang aku pesan meluncur ke bandara. Hujan rintik-rintik mengiringi hati dan perasaan yang bercampur aduk. Gembira tentu saja, exciting, dan sedikit rasa was-was. Ini kali pertama aku akan meninggalkan Benua Asia. Perjalanan panjang sudah terhampar di hadapan. Akankah aku berhasil menggapai mimpi? Pertanyaan itu yang berputar-putar mirip bintang-bintang di kepala orang yang sedang pusing. “Que sera-sera, yang mau terjadi, terjadilah”. Kupejamkan mata mencoba tidur. Beberapa jam ke depan entah aku bisa memejamkan mata atau tidak. Supir taxi mencoba membuka percakapan. Aku hanya jawab seadanya. Aku tertidur.

“Mau kemana, Mas?” Maksudnya terminal 1, 2 atau 3?” Tanya sang supir saat melihat aku mulai ‘siuman.’

“Kalau Garuda masih di terminal 2 atau sudah pindah ke Terminal 3 Ultimate yak?” Aku balik bertanya.

“Setahu aku sudah di Terminal Ultimate, Mas”

“Ok, kita ke sana!”

“Mas mau kemana?”

“Mau ke Afrika, Bang”

“Liburan apa kerja?”

Kepo juga neh supir. Atau mungkin dia mencoba membuka percakapan biar aku tidak tidur yang bisa memancing dia ngantuk juga? “Liburan Bang. Mo naik gunung”

“Naik gunungnya jauh amat, Mas. Di sini kan juga banyak gunung.”

“Iya seh Bang. Pengen nyobain yang lain aja. Buat nambah pengalaman juga.”

“Udah bosan kali ya Mas? Hehehe”

“Gak juga. Aku gak pernah bosan naik gunung karena udah panggilan jiwa, bukan sekedar trend atau gagah-gagahan”

“Kenapa milih Afrika?”

“Karena gunung yang ingin aku daki ada di Afrika.”

“Bakal habis biaya berapa kalau naik gunung di luar negeri seperti itu , Mas?

“Yaa, lumayanlah.”

Untungnya mobil tiba di Bandara. Aku bisa terbebas dari ‘interview’ sang sopir. Tapi tak mengapa, siapa tahu dia tertarik nyobain naik gunung juga. Terus yang jadi sopir taxi siapa?

Aku turun dan mengambil trolley. Ini kali pertama aku ke Terminal ultimate sejak beroperasi beberapa bulan silam. Dengan percaya diri aku masuk ke check in counter mengikuti papan petunjuk untuk keberangkatan international. Tapiii… kok tidak ada counter yak. Celingak-celinguk sebentar. Akhirnya bertanya ke petugas bandara,

“Mas, check in counter untuk international sebelah mana yak?”

“Bapak naik apa?”

“Garuda.”

“Ohh, kalau Garuda International di terminal 2 pak, kalau di sini hanya penerbangan domestik saja.”

“Belum pindah ke sini?”

“Belum pak.”

“Oh ok, Terima kasih ya mas.” Ujarku seraya mendorong trolley ke luar. Aku segera menuju ke shelter untuk menunggu shuttle bus ke terminal 2. “Cakeppp, belum apa-apa sudah di kasih cobaan”

Singkat kata, aku meninggalkan Jakarta menuju Kuala Lumpur di senja hari nan sendu. Pesawat delay hampir 1 jam. Tak banyak yang bisa diceritakan selama perjalanan ke KL. Semuanya biasa saja. Tiba di KL jam 8 waktu setempat, aku tak perlu ngapa-ngapain. Bagasi sudah diurus oleh airlines. Karena hanya transit 2.5 jam, aku tak perlu keluar melewati imigrasi. Hanya mencari makan malam di salah satu resto di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) 1.

Jam 11 malam, pesawat Ethiopia Airlines yang aku tumpangi terbang meninggalkan KL. Airport berikutnya adalah Suvarnabhumi International Airport di Bangkok, Thailand. Transit hanya 1 jam, penumpang diberikan pilihan mau turun ke airport atau tetap tinggal di pesawat. Aku memilih tinggal di pesawat. Lumayan bisa bobo-bobo ganteng 1 jam. Tapi gak bisa juga. Petugas kebersihan pesawat cukup berisik ngomong pake Bahasa Thai. Saat seorang petugas pembersih wanita Thailand lumayan cantik membersihkan kursi di sebelahku, aku iseng-iseng mengamati lehernya. Jangan-jangannnn….. Hahahaha….

Tengah malam waktu Bangkok, pesawat terbang membelah kegelapan malam menuju Addis Ababa, Ethiopia. Perjalanan akan memakan waktu 6 jam. Waktu di Ethiopia lebih lambat 4 jam dari Jakarta, jadi akan tiba di Ethiopia sekitar jam 4 subuh. Aku mencoba memejamkan mata. Baru mencoba tidur beberapa jenak, aku dibangunkan pramugari untuk makan. “Waduuhhhh ini mah kayak di bangunkan sahur.” Aku menggerutu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tiba di Addis Ababa Ethiopia subuh hari, cuaca dingin menyambut. Terlihat dari display yang ada di airport, suhu saat itu 9 derajat.  Brrrrr… Airport masih sepi. Terlihat beberapa turis sedang tidur. Airport di Addis Ababa cukup unik. Saking uniknya, aku akan ceritakan di tulisan lainnya. Panjang kalau di ceritakan di sini. Nanti malah gak cerita-cerita soal Kilimajaro. Itu yang kalian tunggu kan?

Jam 10 pagi waktu Ethiopia, pesawat take off menuju Kilimanjaro International Airport di Tanzania. Waktu terbang 3 jam. Aku mulai merasakan dada berdegup kencang. Jantung berpacu, resah dan gelisah. Mirip ABG sedang menunggu gebetan di sudut sekolah. Betapa tidak, 3 jam lagi aku akan menginjakkan kaki di negeri impian.

Suara pilot di pengeras suara menggema. Dia mengabarkan kalau di sebelah kiri pesawat ada sebuah pemandangan indah, Puncak Kilimanjaro! Aku hampir melompat dari kursi pesawat. Untung seat belt terpasang. Segera kucari kamera di tas. Karena duduk di kursi bagian gang, aku izin ke sepasang bule yang duduk di tengah dan samping jendela. Untungnya mereka sangat baik memberiku kesempatan mengambil foto. Ya Allah ya Rabbi Penguasa Semesta Alam, aku gemetar. Puncak Kilimanjaro dengan balutan salju putih di beberapa bagian terlihat begitu mempesona. Tampak malu-malu di balik samudera awan. Berpadu dengan langit biru yang nyaris tanpa awan. Dada bergemuruh, sesak. Aku merinding. Bulu kuduk berdiri. Darah seperti berhenti mengalir. Mataku menatap Kilimanjaro tanpa berkedip. Sesuatu yang sedari tadi tertahan akhirnya tak sanggup lagi terbendung. Air mata. Hanya kalimat syukur dan hamdalah untuk-Nya tergumam lirih dari bibir yang masih bergetar.

Jpeg

Puncak Kilimanjaro, tempat yang selama 2.5 tahun ini mengisi hari-hariku sekarang ada di depan mata. Meski hanya melihatnya lewat jendela pesawat, aku sudah sangat gembira. Aku berbisik lirih, ” Jambo (halo) Kilimanjaro, Insya Allah, tunggu aku!”

Rasa sesak di dada masih terasa saat pertama menginjakkan kaki di runway menuju terminal kedatangan. Bandaranya sederhana, meskipun bandara international. Tak ada Garbarata (pintu terowongan yang menghubungkan pesawat dengan terminal). Penumpang harus turun dari pesawat lalu berjalan di runway menuju arrival hall. Aku berhenti sesaat sebelum masuk terminal tepat dibawah tulisan Kilimanjaro Airport. Tak lain dan tak bukan, selfy!!

Tumpukan Arrival Form di sebuah meja sederhana dikerubungi penumpang. Setelah terisi lengkap, aku berjalan menuju sebuah counter berlapis kaca untuk membayar visa. Yah, pemegang paspor Indonesia bisa mendapatkan Visa on Arrival (VoA) dengan membayar USD 50 untuk masa tinggal 30 hari dan single entry. Usai membayar, petugas memberikan selembar kertas mirip kuitansi. Dia menunjukkan counter untuk mengantri. Saat sedang mengantri di deretan orang-orang yang hampir semuanya bule, tiba-tiba seorang petugas wanita menghampiri,

“Where are you from?”

“Indonesia”

“Where will you go?”

“Kilimanjaro.”

“Ok, follow me!

Dia lalu membawaku ke sebuah counter dimana tak banyak orang antri. Uniknya lagi, dia memintaku berdiri di barisan paling depan. Aku mendengar bule di belakangku saling berbisik pake bahasa planet yang aku tak paham. Sepertinya mereka komplain karena aku dianggap mendahului antrian mereka. “Bodo ah, aku kan hanya mengikuti perintah. Kalau mau complain, ngomong noh sama emak-emak tadi, kalau ente berani!” Kataku dalam hati.

Selang beberapa saat, “Welcome to Tanzania, the land of Kilimanjaro!” Aku berteriak sesaat setelah paspor kembali ke tangan. Bergegas aku menuju conveyor belt mengambil bagasi. Untungnya ada. Oh ya, ada cerita menarik. Sesaat sebelum memulai pendakian, aku berkenalan dengan salah seorang pendaki asal Singapura. Dia cerita kalau bagasinya sempat ‘dolan’ ke Kenya sebelum akhirnya kembali ke Kilimanjaro Airport sehari sebelum pendakian. Untungnya carrier-ku tidak suka dolan kemana-mana tanpa aku di sisinya. Halahh…

Aku bergegas keluar airport. Ingat, mulai hari ini namaku Dio. Hahaha… Akhirnya aku bertemu seseorang membawa kertas bertuliskan Dio. Segera kuhampiri dan langsung mengajaknya ke mobil. Kekuatiran akan bertemu Philip masih ada. Untungnya tak terjadi. Alex, supir yang menjemputku segera memacu mobil meninggalkan airport. Kami langsung menuju hotel yang sudah di booking Richard.

Aku menikmati perjalanan di siang yang cerah itu. Jam menunjukkan pukul 2 siang atau jam 6 sore waktu Jakarta. Artinya aku telah menempuh perjalanan selama 24 jam dan hampir belum pernah tidur pulas. Hanya chicken sleep alias tidur-tidur ayam. Hahaha… Namun kantuk tak juga menyerang, mungkin karena sangat excited.

Berselang 45 menit, aku tiba di hotel di Moshi. Namanya Hotel Selig. Seorang petugas berkulit hitam ( ya iyyalah di Afrika) menyambutku. Richard belum tiba, kata receptionist mungkin sore atau malam baru akan datang.  Aku diminta mengisi formulir dan dimintai paspor untuk di fotocopy. Singkat kata, aku sudah tiba di kamar. Usai menyimpan bawaan dan mandi, aku bergegas turun. Mau kemana? Yaahhh, explore Kota Moshi lahhh, sekalian mau cari sim card lokal. Memang tauk tempatnya? Tentu saja, tidak! Hehehe…

Moshi, kota kecil berjarak 25 km dari kaki Gunung Kilimanjaro, tepatnya Machame Gate. Route yang aku pilih. Kalau suatu saat ke Kilimanjaro, pilihlah kota ini sebagai tempat start dan bukan Arusha. Khususnya jika memilih route Machame atau Marangu. Selain lebih dekat, dari kota ini akan terlihat Gunung Kilimanjaro dengan jelas. Kotanya kecil namun tenang dan damai.

Aku berjalan menyusuri jalanan Kota Moshi. Tanpa berbekal peta, aku berjalan kemana kaki melangkah. Tak takut tersesat? Nggak juga, ini kota kecil. Hotel tempatku menginap berlantai 6 jadi bisa terlihat dari kejauhan. Di kota ini tak banyak gedung tinggi. Kalau nyasar sisa lihat ujung hotel dan cari jalan pulang. Paling apes, yaahhh nyari taxi dan tunjukkan kartu nama hotel. Beres kan?

Aku mampir ke ATM. Aku belum punya TZS atau Tanzania Shiling, mata uang Tanzania. TZS 1 sama dengan 6 rupiah. Ini mata uang Afrika pertama yang aku pegang. Aku segera melanjutkan perjalan-kakian. Sebelum mencari sim card, aku mampir ke salah satu apotik untuk membeli diamox. Ini adalah obat paling penting diminum sebelum pendakian. Sebenarnya harus diminum minimal 2 hari sebelum pendakian. Namun aku tak menemukannya di Jakarta. Diamox berfungsi mencegah AMS (Acute Mountain Sickness) serta membuat organ tubuh beradaptasi dengan ketinggian. Aku pertama mengkonsumsinya saat trekking ke Everest Base Camp 2 tahun lalu. Diamox harus diminum 2 kali sehari, usai sarapan dan makan malam.

Diamox bukan barang langka di Moshi. Petugas apotik yang lumayan bisa berbahasa Inggis langsung mengambil di etalase dan memintaku membayar di kasir. Aku membeli 3 strip atau 30 butir. Selain untuk Kilimanjaro juga buat bekal ke Jbel Toubkal di Pegunungan Atlas Maroko nantinya.

Diamox beres, aku mencari penjual sim card. Ketemunya dekat terminal bus. Tapiiii, penjualnya tak bisa Bahasa Inggris. Jadilah bahasa tubuh alias bahasa tarzan. Untungnya nyambung. Passport di foto untuk keperluan registrasi. Singkat kata, aku mendapatkan lokal sim card. Tapi belum bisa aktif karena tunggu registrasi di setujui untuk aktivasi. Berapa lama? Sehari alias 24 jam!

Aku kembali ke hotel sambil berusaha mengingat jalan yang  dilalui tadi. Dari kejauhan terlihat puncak hotel. Tak pakai nyasar, aku tiba kembali di kamar. Melihat kasur, kantuk seperti tak mau kompromi lagi. Aku tidur dulu ya, sudah ngantuk pake banget. Tunggu cerita selanjutnya, lebih seru karena pendakian sudah dimulai. Kapan? Yaah nanti kalau sudah bangun!  (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s