Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (4)

Part#4. Visa oh Visa

JpegHari demi hari berlalu. Penantian menggapai sang Atap Afrika sangat menguras pikiran dan waktu. Komunikasi dengan Richard dari Safari Heroes tetap terjalin. Terkadang dia tak membalas email atau WA-ku berhari-hari. Lumayan membuat ketar-ketir. Meski akhirnya dia balas dan minta maaf karena sangat sibuk mengurusi beberapa klien.

Tersisa 2 bulan lagi. Aku mulai melihat-lihat tiket penerbangan. Hmmmm… harganya lumayan bikin keder. Apalagi jarak Jakarta di Asia Tenggara dan Tanzania di Afrika Timur cukup jauh. Tak ada direct flight (penerbangan langsung), harus transit di beberapa negara. Belum lagi harus membeli 3 tiket, Jakarta – Tanzania, Tanzania – Maroko dan Maroko – Jakarta. Semuanya long haul connection. Harganya berkisar USD 600 – 800 per tiket. Artinya 3 tiket butuh dana maksimal USD 2400 atau sekitar 32 juta! Itu uang semua! Kabar buruk 1 lagi, tak ada budget airlines (penerbangan murah) yang beroperasi ke Afrika dari Jakarta ataupun Kuala Lumpur. Jika mau bisa saja tapi harus nyambung-nyambung pesawat hingga ke eropa. Tentunya butuh waktu lama dan visa, jika negara transit mengharuskan. “Nyambung-nyambung pesawat? Kayak angkot yak… Hehehe”

Hampir setiap hari setiap waktu setiap saat aku membuka beberapa situs pemesanan tiket untuk melihat apakah ada tiket promo atau harganya lebih murah. Setiap airlines pasti punya masa dimana harga tiket mereka sedang rendah. Hal ini berhubungan dengan musim dan hari penerbangan. Untuk mengantisipasi harus membayar tiket sekaligus, aku punya trik. Beli tiketnya jangan bersamaan. Tersisa 2 bulan artinya masih punya waktu untuk mencicil waktu pembelian tiket.

Singkat cerita, tiket route Jakarta – Kilimanjaro dapat. Kilimanjaro bukan airport utama di Tanzania. Ibukota negara itu adalah Dar Es Salam. Jaraknya sekitar 460 km atau 6 – 7 jam naik bus, 1 jam jika naik pesawat. Pertimbangan itu yang menjadi pilihan untuk terbang langsung ke Kilimanjaro International Airport di Arusha, Tanzania. Tak ada penerbangan langsung. Perjalanan akan di tempuh selama 24 jam, 17 jam terbang plus 7 jam transit di 3 airport dan negara. Kuala Lumpur di Malaysia, Bangkok di Thailand dan Addis Ababa di Ethiopia. “Fuihhh bisa terbayang betapa gempornya badan.” Tak ada masalah dengan Visa. Semua negara transit adalah negara bebas visa untuk pemegang paspor Indonesia, kecuali Ethiopia. Namun tak masalah karena transit hanya 3 jam, menggunakan airlines dan terminal yang sama.

Sebulan sebelum hari keberangkatan, aku memesan tiket ke 2 untuk route Kilimanjaro – Maroko. Masalah mulai muncul (lagi). Mungkin karena terlalu fokus ke tiket murah, aku kurang memperhatikan negara transit.  Kebetulan hari itu tampaknya harga tiket sedang murah dibanding hari-hari sebelumnya, sekitar USD 450. Sesaat setelah confirmed tiket, baru tersadar kalau ternyata tiket itu menggunakan connecting flight. Aku Harus stop over di salah satu negara di Eropa, Madrid Spanyol. Dari Tanzania menggunakan Ethiopia Airlines hingga ke Madrid, connect menggunakan Iberia Airlines (budget airlines) ke Casablanca Maroko.  Aku mengirim email ke situs penjual tiketnya copy ke  Ethiopia Airlines untuk menanyakan apakah perlu visa transit di Barajas (baca : Barakas) International Airport di Madrid. Waktu transit hanya 2 jam. Untuk benar- benar yakin, aku juga menelepon ke Kedutaan Besar Spanyol yang ada di Jakarta. Jawabannya, “Jika harus melewati imigrasi maka memerlukan visa, jika tidak maka tak perlu visa” Itu sih jawaban standard. Poinnya, balasan email dari Airlines dan situs penjual tiketnya harus memberikan jawaban, apakah akan melewati imigrasi atau tidak selama stop over.

Balasan email dari Ethiopia Airlines tiba 2 hari berselang. Jawabannya, tak perlu visa. “Ahhhh….lega!” Namun masih sedikit kuatir karena jawaban itu di buat hanya berdasarkan system. Di tambah lagi, kantor Ethiopia Airlines yang di Jakarta hanya agent, bukan kantor cabang. Kebetulan aku memiliki sedikit pengetahuan tentang dunia airlines dan kedirgantaraan. Karena KTT (Kepo Tingkat Tinggi), aku mencari langsung jawabannya di internet. Sungguh mengejutkan. Stop over dan connecting flight akan dilakukan di terminal berbeda. Berdasarkan penelusuran, jarak ke 2 terminal itu cukup jauh, membutuhkan waktu tempuh 20 menit naik bus airport. Biasanya jika pindah terminal dan menggunakan airlines berbeda maka harus melewati imigrasi. Aku jadi gelisah.

Aku menelepon kantor cabang Ethiopia Airlines yang ada di Kuala Lumpur. Jawabannya sungguh membuat lemas. Intinya aku harus memiliki Visa Transit Schengen di Madrid. Alasannya karena Ethiopia Airlines dan Iberia bukan 1 alliance atau afiliasi dan akan menggunakan terminal berbeda. Aku masih belum puas juga. Aku kembali mengirim email ke kantor pusat Ethiopia Airlines di Addis Ababa Ethiopia dan Iberia Airlines di Madrid Spanyol. Jawaban dari Ethiopia Airlines berbelit-belit, ribet dan tidak pasti. Jawaban Iberia Airlines simple, harus menggunakan Transit Visa karena akan melewati imigrasi.

Aku kembali mencari tahu cara pembuatan Visa Schengen di internet. Perlu banyak dokumen, waktu pembuatan maximal 14 hari dan biaya hampir 1 juta. “Hufffttt…. masalah belum kelar juga. Cobaan…cobaaan… Sabarrr…sabaaarrr.” Aku menyemangati diri sendiri.

Situs penjual tiketnya aku hubungi untuk menanyakan kemungkinan pembatalan tiket. Sebenarnya tiket itu adalah tiket promo, tak bisa di refund ataupun cancel. Namun karena pertimbangan ada kesalahan pihak penjual tiket dan airlines-nya maka refund bisa dilakukan. Tentunya akan dikenakan biaya administrasi sebesar hampir 1 juta! “Hahahaha…” Aku menertawai diri sendiri. Maksud hati membeli tiket karena harga murah, ujung-ujungnya jadi mahal juga. Untungnya bisa di refund. Kalau tidak, uang melayang atau harus mengurus Visa Transit Schengen, padahal waktu transit hanya 2 jam. “Sudahlah tak usah mikirin harga lagi, ribet!” Begitu pikirku saat itu.

Singkat kata, tiket di cancel dan menggantinya dengan tiket dan route lain. Kali ini tak akan melewati Eropa namun akan transit  8 jam di Kairo, Mesir. Visa transit tak dibutuhkan jika transit kurang dari 24 jam selama bisa menunjukkan boarding pas. Untungnya, Ethiopia Airlines dan Egypt Air berada dalam 1 afiliasi jadi boarding pass akan di cetak di airport keberangkatan awal. Harga tiketnya? Lebih mahal dikit tak apa yang penting 1 masalah teratasi.

Pembelian tiket ke 3 route Maroko – Jakarta tak menemui kendala berarti. Aku akan menggunakan Emirate airlines sejak dari Maroko hingga Jakarta. Pesawat akan transit di Dubai selama 18 jam. Tiket dan visa transit secara online di urus 2 minggu sebelum keberangkatan. Semuanya lancar jaya.

Seminggu sebelum keberangkatan adalah masa-masa yang cukup menegangkan. Berbagai kekuatiran berputar-putar dalam benak dan pikiran. Sejujurnya aku agak sedikit excited. Afrika akan menjadi tempat terjauh yang akan aku datangi. Kilimanajaro akan menjadi gunung tertinggi yang akan aku daki. Dalam selang 10 hari akan mendaki 2 gunung tinggi di 2 negara berbeda. “Bagaimana jika aku tak sanggup? Bagaimana jika aku sakit? Bagaimana jika terjadi apa-apa di sana? Bagaimana jika aku diterkam singa?” Lagi-lagi kekuatiran hinggap dan menghantui. Namun di saat-saat seperti itu, kembali teringat suatu tempat yang paling mujarab untuk menghilangkan segala kekuatiran. Sajadah! Setelah berwudhu dan shalat di 2/3 malam, kembali aku memohon pertolongan dan perlindungan-Nya.  Aku bisa kembali tenang menunggu masanya tiba.

Ada hal menarik. Beberapa hari sebelum keberangkatan, Richard mengirim email mengingatkan jadwal trekking yang sudah di siapkan. Dia juga menanyakan kesiapan baik dari sisi fisik maupun peralatan. Andai tak punya, mereka bisa menyiapkan, tentu saja harus di bayar dengan biaya sewa yang cukup mahal. Untungnya aku memiliki hampir semua peralatan yang dibutuhkan. Richard menyampaikan bahwa setiba di Kilimanjaro Airport, aku cukup mencari seseorang dengan secarik kertas bertuliskan nama lengkapku. Entah mengapa, tiba-tiba aku kepikiran Philip. Bagaimana jika dia juga ada di airport saat bersamaan dan membaca namaku? Meskipun waktu komunikasi kami sudah terputus cukup lama namun dia sudah tahu jika aku akan tiba di Tanzania tanggal 23 December. Aku malas berurusan dengannya. Akhirnya terlintas ide untuk mengganti nama yang akan ditulis di kertas. Namun siapa? Hmmm… akhirnya aku memilih nama Dio, berasal dari bahasa Swahili (Afrika), Ndio yang artinya Iya.

Tersisa beberapa hari lagi, bisa terhitung dengan sebelah jari tangan. Semua persiapan sudah matang, jiwa, raga dan tentunya…budget. Hujan deras yang turun di penghujung tahun seakan memberi kesempatan untuk beradaptasi dengan cuaca dingin. Waktu berlalu. Tanpa terasa tersisa beberapa jam lagi hingga keberangkatan membelah cakrawala dan akan berujung di…Puncak Afrika, Kilimanjaro! (Bersambung)

Jpeg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s