Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (3)

Part #3. Let it beOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Tersisa 3 bulan sebelum keberangkatan. Jadwal sudah fix. Aku akan mengambil cuti panjang selama 3 minggu di akhir 2016 dan awal tahun 2017. Komunikasi dengan Philip (trekking provider) terjalin cukup intens. Baik via FB messenger atau whatsapp. Dia selalu memborbardir dengan banyak pertanyaan khususnya mengenai keseriusanku ke Kilimanjaro. Sejak awal dia sudah memintaku untuk transfer Down Payment (DP) sebesar USD 100. Sisanya sebesar USD 1100 akan dibayar tunai setelah aku tiba di Tanzania. Berulang kali pula aku infokan bahwa aku tak akan melakukan pembayaran apapun sebelum semuanya fix. Masih banyak hal yang harus di pastikan sebelum mulai melakukan pembayaran. Selain masalah budget, itinerary dan yang tak kalah pentingnya adalah approval cuti dari atasan di kantor.

Setelah yakin masalah budget sudah teratasi, rencana mulai tersusun. Selain mendaki Kilimanjaro, bersafari di beberapa taman nasional di Tanzania juga masuk dalam daftar. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Afrika terkenal dengan kehidupan satwa alam liarnya. Taman nasional yang menyajikan suguhan kehidupan satwa liar cukup banyak. Sayang kalau tidak sekalian di kunjungi.

Permohonan cuti 3 minggu diajukan dan approved.  Untuk pendakian ke Kilimanjaro akan membutuhkan waktu 5 hari 4 malam via Marangu Route. Jalur ini sengaja aku pilih mengingat medannya tidak terlalu sulit. Selain itu, trekker juga akan menginap di hut (gubuk), istilah di Kilimanjaro untuk penginapan atau lodge. Lanjut rencana safari selama 2 hari di 2 Taman Nasional. Setelahnya, aku akan langsung terbang ke Maroko untuk explore Pegunungan Atlas dengan puncak Jbel Toubkal-nya dan Gurun Sahara. Waktu 3 minggu kira-kira cukuplah, setidaknya begitu itinerary yang telah tersusun.

Aku segera mengabarkan hal itu ke Philip. Dia segera meminta transfer DP. Hari itu juga aku langsung transfer. Awalnya sempat ragu karena dia meminta untuk langsung transfer lewat Western Union (WU). Saat aku minta rekening bank-nya, dia meminta untuk tetap transfer via WU. Pertimbangannya jika lewat bank akan lama prosesnya sementara dia membutuhkan dana tersebut untuk segera melakukan reservasi. Meski setengah ragu karena sudah percaya dan tidak mau berprasangka buruk, aku tetap melakukan transfer. Untuk meyakinkan, dia info bahwa akan ada team dari Nepal sejumlah 12 orang yang bergabung dengan team kami nantinya. Jadi perjalanan itu akan dijadikan ekspedisi 3 negara menyambut tahun baru. Mendengar hal itu aku jadi lega dan berbunga-bunga. Lagi-lagi karena sangat percaya padanya.

Selang beberapa hari tak ada komunikasi. Jika aku WA, dia lama baru membalasnya. Aku sama sekali tak ada kecurigaan. “Mungkin dia sedang sibuk mempersiapkan perjalanan yang tersisa 2 bulan lagi.” Begitu pikirku. Hingga suatu hari dia WA lagi dan meminta untuk transfer uang sebesar USD 60. Alasannya karena akhir tahun merupakan peak season dan pihak hut meminta uang DP yang lebih besar. Instingku sudak mulai bekerja. Ada sesuatu yang aneh. Awalnya kami sudah sepakat bahwa uang DP hanya sebesar USD 100 dan sisanya akan dibayar tunai setelah tiba di Tanzania. Sekarang dia meminta tambahan DP lagi. Aku menolak dan mengingatkan kesepakatan kami. Dia berdalih bahkan mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak pantas diucapkan oleh provider kepada calon client-nya. Aku jadi galau lagi. Philip tetap menghujaniku dengan permintaan transfer. Setelah memikirkan beberapa hari akhirnya aku memutuskan untuk membatalkan kesepakatan dengannya. Aku lalu mengirimkan pesan lewat WA. Mungkin dia yang juga kesal karena aku tak juga menuruti permintaannya untuk transfer hanya menjawab, “Ok. but I’ll not return your money 100%. We will only give you 50%”. Padahal berdasarkan informasi yang aku dapat dari beberapa provider, jika pembatalan dilakukan sebelum 1 bulan maka uang akan di kembalikan 100%, tentu saja potong biaya transfer. Aku berfikir jika dia hanya akan mengembalikan 50% artinya sebesar USD 50, dipotong biaya transfer sebesar USD 25, maka aku hanya akan menerima kembalian sebesar USD 25. Akhirnya aku mengatakan bahwa dia tidak perlu mengembalikan uang DP yang sudah aku bayar. Aku memintanya untuk menyumbangkannya ke yayasan atau orang yang membutuhkannya di Tanzania. Anggap saja sebagai sedekah untuk Afrika. Entah dia menyalurkannya atau tidak, itu di luar kuasaku. “Andai engkau tahu perjuanganku untuk mengumpulkan dana ke Kilimanjaro, mungkin engkau tidak akan melakukan itu, Philip.”

Aku kembali gamang. Ternyata masalah masih saja terus menghampiri. Meskipun yang terakhir aku akui terjadi karena kesalahanku mempercayai seseorang yang dikenal hanya lewat internet. Pelajaran berharga, harap berhati-hati memberikan kepercayaan kepada seseorang yang dikenal lewat internet. 

Aku sempat down beberapa hari. Awalnya ingin membatalkan rencana karena peristiwa itu. Namun aku kembali berpikir positif. Aku sudah berniat, berusaha dan berdoa. Aku tak ingin hanya karena peristiwa itu akhirnya gagal menggapai mimpi. Kembali aku melakukan pencarian lewat internet dan mengontak salah satu provider. Berdasarkan promosi yang di tayangkan dalam web site-nya, provider itu memberikan harga USD 1190 untuk trek akhir tahun. Lebih murah USD 10. Tanggalnya bisa ditentukan sendiri. Email terkirim. Hingga beberapa hari tak ada balasan. Setelah follow up beberapa kali barulah dia membalas emailku. Jawabnya singkat saja, “Please contact us once you arrive in Tanzania.”  Sudahlah, sepertinya dia tak terlalu ikhlas mencari klien.

Aku mencoba lagi. Kali ini aku menghubungi salah satu situs pencari jasa layanan trekking yang memiliki fasilitas chat. Tujuannya agar bisa langsung berkomunikasi dan mencari tahu hal-hal yang perlu aku ketahui. Mojhi.com, nama layanan pencari yang bertindak sebagai agent. Mereka melayani semua pertanyaan dengan baik, mulai dari harga hingga hal-hal teknis. Rencana route aku rubah. Route awalnya via Marangu dirubah menjadi Machame Route. Berdasarkan penelusuran di web, jalur Machame adalah jalur paling menantang dan paling indah diantara semua jalur yang ada di Kilimanjaro. Tak ada fasilitas hut atau lodge jadi trekker harus berkemah sepanjang jalur. Waktu tempuhnya pun lebih lama dari jalur Marangu, 6 hari 5 malam. Harganya pun pastinya lebih mahal. Alasan lain merubah jalur, aku tak mau bertemu Philip andai benar dia jadi berangkat di akhir tahun.

Mojhi.com memberikan harga dari beberapa trekking provider untuk dibandingkan. Setelah mencari tahu dari web site masing-masing provider, akhirnya aku memutuskan menggunakan Safari Heroes (safariheroes.tz.co). Melihat web site dan membaca beberapa testimony yang ada di sana tampaknya cukup meyakinkan. Harga yang ditawarkan sebesar USD 1310 (sekitar 17.5 juta rupiah) untuk trekking selama 6 hari 5 malam via Machame Route. Harga tersebut sudah termasuk biaya menginap di hotel 2 malam sebelum dan sesudah trekking, permit dan seluruh akomodasi selama trekking. Aku menyetujuinya dan berharap semoga tak terulang lagi kejadian seperti sebelumnya. Segera kuhubungi mojhi.com untuk konfirmasi pilihanku. Aku dikirimkan beberapa dokumen untuk dipelajari serta dikirimkan link untuk pembayaran online. Aku bisa membayarnya dengan kartu kredit. Cukup meyakinkan.

Avinash, staff dari mojhi.com kembali mengirimkan email dan menyertakan alamat email Richard, direktur sekaligus pemilik Safari Heroes. Tujuannya agar aku bisa berkomunikasi dan berkoordinasi langsung. “Mojhi.com akan tetap memonitor,” begitu janji Avinash.

Aku lalu berkomunikasi intens dengan Richard via email dan whatsapp. Dari percakapan kami aku bisa menyimpulkan bahwa perusahaannya cukup professional. Dia mengirimkan beberapa dokumen untuk aku pelajari sehubungan dengan persiapan ke Kilimanjaro. Aku kembali bersemangat.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kali ini aku dapat untungnya. Richard mengirim email yang isinya bahwa jika aku bersedia membayar 50% dari total biaya maka dia akan memberikan discount sebesar USD 100. Aku meminta waktu untuk berpikir dan dia tidak keberatan. Aku memikirkannya beberapa hari dan Richard juga tidak menekanku. Hampir dia tidak pernah menghubungi untuk menanyakan apa keputusanku. Akhirnya aku setuju membayar USD 500 via kartu kredit dan sisanya akan dibayar sesaat setelah tiba di Tanzania. Aku pasrah saja. Andai kembali tertipu, berarti memang sudah takdir. Namun jika benar, berarti discount sebesar USD 100 itu untuk mengembalikan uang yang sudah pernah aku transfer ke Philip dan tak balik. Aku sudah tak berkomunikasi lagi dengannya karena semua akses sudah aku blok, termasuk di FB.

Melalui Richard pula aku melakukan reservasi untuk bersafari. Richard memberikan harga USD 450 untuk bersafari selama 2 hari 1 malam dan akan melakukan campsite. Artinya aku akan bermalam di dalam tenda di tengah hutan Afrika. Wowww…

Aku lalu mencari tahu harga yang ditawarkan provider lain via web. Harganya lebih mahal. Aku segera menghubungi Richard. Dia masih memberikan kabar baik bahwa jika aku bersedia membayar lunas, lagi-lagi dia akan memberiku discount USD 100, jadi biaya safari hanya USD 350. Tawaran menarik. Namun aku berpikir, “Apakah perlu mengeluarkan uang USD 350 (setara Rp. 4.7 juta) hanya untuk menyaksikan hewan-hewan liar di Afrika dan menginap bersama mereka selama 1 malam?” Ada pergulatan dalam hati yang akhirnya, aku memutuskan, “Liburan itu ibarat kado buat kerja keras selama ini jadi…jangan pelit sama diri sendiri. Berangkaaattt…”

Proses pembayaran segera di selesaikan. Richard mengirimkan semua kuitansi bukti pembayaran. Total dana yang sudah ditransfer via kartu kredit ke Richard sebesar USD 980 atau sekitar Rp.13.2 juta. Akankan masalah kembali muncul dan akan kehilangan untuk yang kedua kalinya? (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s