Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (2)

img_0902

Part #2. Never Give up

Sejak berniat ke Kilimanjaro, kejadian demi kejadian mendera silih berganti. Suka dan duka. Awalnya aku anggap sebagai ujian dan tantangan. Namun lama kelamaan aku hampir menyerah juga. Masalah utama tak lain adalah budget. Terkadang aku tak bisa tidur memikirkannya. Hal yang menjadi tabiat burukku (atau malah baik?) sejak kecil. Jika menginginkan sesuatu, tak akan puas sebelum mendapatkan atau mewujudkannya. Terkadang sampai tak bisa tidur dan mulai memunculkan penyakit insomnia-ku.

Tak jarang saat orang lain sudah tertidur pulas aku masih terjaga. Kilimanjaro terus mengganggu pikiranku. Namun aku tak tahu harus berbuat apa mengatasi masalah budget yang mendera. Hingga suatu malam aku seperti mendengar bisikan lirih, “Kenapa tak minta pertolongan Allah?” Aku beranjak dari kasur dan berjalan gontai ke kamar mandi. Ku baluri badanku dengan dinginnya air wudhu. Ku tunaikan shalat malam. Suasana sepi tanpa suara apapun. Hanya detak jam weker berpadu denyut jantung dan nadi. Terasa sesuatu hal yang berbeda. Syahdu dan larut dalam suasana subuh berbalut dingin.

Di penghujung shalat, aku lalu ‘curhat’ kepada-Nya, diakhiri dengan sebait permohonan,

Andai niat dan keinginan ini  baik dari sisi-Mu, mohon Engkau berikan jalan. Saat ini aku sedang tak berdaya, ku serahkan semuanya pada-Mu.”

Tak terasa ada butiran hangat mengambang di pelupuk mata yang mulai meredup. Bukan karena permasalahan yang sedang kualami. Perasaan tak berdaya dan pasrah yang mendalam seperti membuatku merasa begitu dekat dengan-Nya. Terbersit rasa malu pada-Nya. Dia pemilik segalanya yang selama ini terkadang aku lupakan. Namun Dia tetap menerima setiap aku mengadu dan menumpahkan perasaan dan permasalahan. “Aku sungguh mahluk tak tahu diri di hadapan-Mu.  Ampuni aku…”

Jawaban do’a terkadang tak instant yang bisa langsung terlaksana dengan sim salabim. Terkadang doa terjawab tanpa disadari dan perlu pemahaman serta analysa. Hari berlalu seperti biasa. Aku sudah sampai pada tahap tak bisa berbuat apa-apa. Aku pasrah nyaris menyerah.

Akhirnya rencana berubah haluan dan koordinat. Liburan panjang akhir tahun 2016 akan aku isi dengan kembali ke Annapurna Base Camp (ABC) di Himalaya. Aku sudah pernah ke sana setahun sebelumnya. Pertimbangannya tak lain adalah budget ke ABC tak sebesar ke Kilimanjaro. Salah seorang rekan akan bergabung denganku. Meski sejujurnya, hati kecil masih sangat ingin ke Kilimanjaro. Tak seorang pun tahu hal itu. Rencana ke ABC mulai tersusun.

Entah mengapa, rejeki tiba-tiba datang tanpa terduga. Beberapa undangan launching product dan press conference datang dari blog tempat aku sering menulis. Tentunya akan dapat honor dari tulisan. Begitu pula pembayaran royalti buku yang pernah terbit hasil kolaborasi bersama beberapa orang rekan terkirim ke rekeningku. Jumlahnya lumayan. Ditambah lagi ternyata aku punya ‘cadangan  devisa’. Selama ini aku selalu menyimpan sisa budget usai bepergian dari luar negeri. Ternyata jumlahnya cukup besar jika di kurs-kan. Selama ini aku tak pernah menghitungnya.  Ahaaaaa, sebuah semangat baru seperti mengalir dalam darahku. Hitung punya hitung, masih perlu tambahan dana untuk bisa meng-cover seluruh biaya perjalanan. Waktu tersisa 4 bulan lagi sebelum tahun 2016 berakhir.

Beberapa tindakan Money Tight Policy alias penghematan perlu segera dilakukan. Semua pengeluaran-pengeluaran yang tak begitu penting di pangkas. Aku yang biasanya naik mobil ke kantor harus kembali naik motor, meski saat itu musim hujan. Tak jarang aku pulang pergi kantor harus basah kuyup kehujanan. Tak mengapa, anggap saja latihan menghadapi cuaca buruk dan dingin kelak di Kilimanjaro.

Berdasarkan hitung-hitungan diatas kertas, andai program penghematan itu berhasil selama 4 bulan, biaya akan tertutupi. Bahkan bukan hanya ke Kilimanjaro, namun bisa menghabiskan waktu 3 minggu di Afrika. Yess !!! “Inikah jawaban dari-Mu? Inikah jawaban doa lirih di depan Baitullah-Mu?”

Aku kembali bersemangat. Rencana pelatihan fisik yang tertunda kembali disusun. Beberapa target harus di sesuaikan. Awalnya aku berencana kembali ke gym untuk berlatih fisik . Rencana itu terpaksa ditiadakan, diganti dengan jogging setiap pagi dan malam. Latihan pendakian ke beberapa gunung pun di sesuaikan. Rencana awalnya akan berlatih di beberapa gunung yang belum pernah aku daki. Gunung Agung di Bali, Gunung Dempo di Jambi, Gunung Singgalang dan Gunung Marapi di Padang sudah masuk dalam daftar. Semuanya terpaksa diganti dengan hanya berlatih di gunung-gunung yang tak jauh dari Jakarta. Alasannya, penghematan! Point yang penting adalah tetap berlatih fisik.

Diawali dengan mendaki Gunung Slamet untuk ke-3 kalinya. Ditemani dengan sahabatku di Guci Tegal, kami berdua mendaki Gunung Slamet via jalur Bambangan. Kami hanya nge-camp di Pos Pelawangan, pos terakhir sebelum puncak. Selanjutnya mendaki Gunung Guntur Garut. Meski hanya berketinggian 2249 mdpl, namun treknya lumayan menyebalkan. Catatan perjalanannya bisa di baca di Gunung Guntur Garut, Amazing!

Gunung berikutnya adalah Gunung Cikuray lagi-lagi di Garut. Sama seperti Gunung Slamet, Gunung Cikuray pun aku daki untuk ke-3 kalinya. Yang berbeda adalah kali ini aku mendaki seorang diri. Rekan yang sudah setuju untuk jalan bareng tiba-tiba membatalkannya di menit-menit terakhir. The show must go on, jangan pernah tergantung pada orang lain. Toh nanti ke Kilimanjaro aku akan berangkat seorang diri dari Jakarta. Aku tetap mendaki Gunung Cikuray meski seorang diri. Alhamdulillah bisa menyelesaikannya dengan baik hingga ke puncak. Bisa lihat videonya di Gunung Cikuray

Selain mendaki, aku juga membekali diri dengan latihan memanjat. Selain aktif berlatih bouldering (panjat dinding/tebing tanpa menggunakan alat) di rumah, aku kerap menyambangi rekan-rekan yang berlatih di Ragunan Climber Club (RCC). Tempatku sering berlatih panjat selama ini. Selain di RCC, aku menyempatkan diri berlatih di tebing Citatah di Purwakarta, tebing Pantai Siung dan tebing Gunung Api Purba di Ngelanggeran, keduanya di Jogjakarta. Bisa baca catatan perjalanannya di Gunung Api Purba Ngelanggeran

Bukan apa, berdasarkan penelusuran di internet, keahlian memanjat kelak akan di perlukan saat mendaki Kilimanjaro. Ditambah 1 lagi latihan rutin yang aku lakukan hampir tiap hari di kantor. Naik ke kantor yang terletak di lantai 6 tanpa menggunakan lift tapi lewat tangga darurat. Hal itu aku lakukan selama 4 bulan! Semua dijalani dengan penuh semangat.

Komunikasi dengan Philip (calon provider trekker) di Arusha Tanzania terjalin hampir tiap hari. Tahap persiapan sudah hampir final hingga sebuah kejadian yang tak aku harapkan terjadi antara aku dengan Philip. Kejadian itu membuat semua rencana nyaris batal. (Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s