Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (1)

Part 1 – Mimpi yang Terkoyak

Keinginan untuk menjejakkan kaki di Atap Afrika sudah terbersit sejak 2.5 tahun silam, tepatnya pertengahan tahun 2014. Kala itu aku baru saja pulang usai menjelajah Himalaya di Nepal. Tepatnya di Everest Base Camp (5364 mdpl) dan Gunung Kalapattar (5545 mdpl). Gunung-gunung berselimut salju nan rupawan seperti membius sanubari. Kenangan perjalanan selama 14 hari di Himalaya seperti membelenggu dan enggan pergi dari ingatan. “Ahhh…Himalaya, kau terlalu indah untuk di lupakan.”

Sejak saat itu aku mulai ‘berani’ untuk melangkah lebih jauh. Himalaya seperti memberikan secercah semangat dan rasa percaya diri. Timbul keinginan untuk mencoba menjajaki gunung-gunung di tempat lain. Tapi gunung apa? Entah mengapa, tiba-tiba nama Kilimanjaro dengan puncak Uhuru Peak-nya terlintas dalam pikiran. Puncak tertinggi di Benua Afrika itu seperti memiliki daya magis yang menyihir. “Afrika…ahh seperti apa kehidupan di benua nan eksostis itu?”

Aku mulai browsing di internet. Foto-foto serta video di youtube menyajikan banyak gambar dan video. Semuanya menarik dan menantang! Aku mulai iseng-iseng posting di laman facebook mengenai rencana itu. Tak banyak teman yang merespon. Mungkin mereka berpikir, “Ke Kilimanjaro? Mimpi kali yeeeee…”. Yah ada benarnya, mungkin saat itu aku sedang bermimpi. Mimpi mengibarkan bendera merah putih kesayanganku di salah satu dari 7 tiang tertinggi penopang langit di dunia. Mimpi..yahh…mimpi di siang bolong!

Setiap hari aku mencari tahu cara ke Kilimanjaro. Kapan waktu terbaik, persiapan apa yang harus dilakukan, apa persyaratannya, yang paling penting berapa budgetnya. Aku sempat terhenyak saat melihat biaya yang dibutuhkan. Cukup besar, sekitar USD 3,000 – 3,500 atau sekitar 40 – 45 juta rupiah (termasuk ongkos pesawat PP, biaya pendakian dan biaya akomodasi untuk masa pendakian 7 hari). “Alamakkk… itu duit semua?” Begitu pikirku saat itu. “Udahlah, forget it!”

Aku kurang pandai berbohong, apalagi pada diri sendiri. Meski sudah mencoba melupakan namun Kilimanjaro terlalu menawan untuk di acuhkan. Dia ibarat seorang gebetan yang cukup matre namun memang cantik. Bukan berarti kalau cantik harus matre yak. Aku tetap mencari tahu dan mempelototi foto-foto dan videonya, hampir tiap hari. Keinginan untuk merasakan pelukan dingin puncak berketinggian 5895 mdpl itu seperti merayu dan menggoda setiap detik tidur malamku. Semakin hari semakin nakal.

Untungnya dia tidak bisa berlama-lama menggodaku. Bulan Agustus 2014 tiba-tiba aku mendapat penugasan dari kantor untuk support kantor baru di Yangon, Myanmar. Awalnya hanya 3 bulan. Namun karena kebutuhan operasional akhirnya diperpanjang menjadi 8 bulan. Untuk sementara mimpi ke Gunung Api tertinggi di dunia itu bisa di kubur dalam hiruk pikuk Kota Yangon.

Selepas bertugas di Yangon di bulan April 2015, aku ‘mampir’ ke Himalaya sebelum pulang ke Indonesia. Saat itu aku memilih jalur trekking yang berbeda dengan jalur yang aku jalani setahun sebelumnya, Everest Base Camp. Kali ini trekking ke  Annapurna Base Camp (4130 mdpl). Meski saat itu Nepal sedang di landa gempa bumi dahsyat, aku malah menikmati perjalanan membelah pegunungan Himalaya yang nyaris laksana daerah mati. Hampir tak ada orang. Ceritanya sudah pernah aku publish di Perjalanan ke Annapurna Base Camp Himalaya Nepal

Mengapa tidak langsung ke Kilimanjaro? Banyak pertimbangan, yang paling utama adalah aku belum mempersiapkan fisik untuk ‘bertandang’ ke atap Afrika itu. Selama 8 bulan di Myanmar, aku jarang berolah raga bahkan hampir tidak pernah naik gunung. Di Myanmar ada gunung yang cukup tinggi bahkan merupakan bagian dari Himalaya. Gunung Hkakabo Razi, 5881 mdpl yang merupakan gunung tertinggi di Asia Tenggara. Namun sayangnya, lokasinya cukup jauh dari Kota Yangon. Yang paling penting, gunung itu berlokasi di tempat yang tingkat keamanannya masih terbilang rawan. Jadi belum saatnya di explore. Tunggulah kalau sudah aman…

Usai pulang ke Indonesia, aku baru menyadari bahwa penugasan ke Myanmar membuat angka-angka di saldo tabungan bertambah. Tiba-tiba Kilimanjaro kembali menari-nari dalam ingatan. Melihat saldo tabungan, Alhamdulillah budget sudah lebih dari cukup. Bahkan cukup untuk tinggal 3 minggu di Afrika dan mencari destinasi tambahan lain selain Kilimanjaro. Kemana? Nanti saja di pikirkan. Bereskan Kilimanjaro dulu.

Mimpi yang sudah terkubur beberapa bulan kembali muncul. Mesin pencarian kembali diaktifkan. Sudah percaya diri dan setengah yakin karena yaahh…budget sudah ada. Email ke beberapa trekking provider sudah terkirim. Beberapa yang membalas emailku. Harga yang mereka tawarkan sangat tinggi. Berkisar USD 2000 – 3000, hanya untuk biaya trekking saja. Tiket Jakarta – Tanzania PP sekitar 18 Juta Rupiah belum termasuk. “Fuihhhhhh….”

Secara tak sengaja, aku berkenalan dengan seseorang di FB. Menurut profile-nya, dia adalah salah seorang guide di Kilimanjaro dan sudah memiliki travel agent sendiri. Namanya Philip. Dia sangat bersemangat mengajakku menjejakkan kaki di puncak Kilimanjaro setelah melihat profile facebook-ku. Dia sering melihat postingan tulisanku di salah satu blog. Juga pernah menulis dan menerbitkan buku secara indi bersama beberapa rekan. Philip menghubungiku via whatsapp hampir setiap hari. Dia berharap jika aku join dengan group-nya maka aku akan mempromosikan jasa travel atau trekking provider-nya. Saat itu menjelang bulan Agustus 2015, rencana ke Kilimanjaro aku tetapkan bulan Mei 2016, sesuai target awal. Philip menawarkan harga USD 1200 (sekitar 16 juta rupiah) untuk biaya trekking ke Kilimanjaro. Lumayan murah memang dibanding harga yang diberikan provider lain.

Manusia berencana, Allah yang menentukan, ungkapan paling tepat untuk situasi yang aku alami saat itu. Setelah mulai berkomunikasi cukup intens dengan Philip, Mama tiba-tiba mengajak berangkat umroh saat pergantian tahun. Aku jadi galau. Namun, “Mom’s wish is my command”.  Apalagi beliau  baru saja ditinggalkan seorang diri beberapa bulan di Jakarta selama aku di Myanmar. Setelah mempertimbangkan banyak hal, aku menyanggupinya. Insya Allah masih ada sisa untuk budget ke Kilimanjaro. Lagian, kalau rejeki nggak kemana.

Singkat kata, aku ikut Mama umroh. Menjelang detik-detik pergantian tahun aku berkesempatan ‘make a wish’ di depan pintu Ka’bah. Kabarnya, tempat itu merupakan salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa. Artinya, doa yang dipanjatkan di depan pintu Ka’bah Insya Allah akan diterima, selama dilakukan dengan sungguh-sungguh dan khusyu ke hadapan Sang Khalik. Beberapa doa dan harapan meluncur keluar dari bibir dan diaminkan oleh hatiku.  Salah satunya, “Aku ingin ke Kilimanjaro tahun depan (2016), Ya Rabbii. Mohon keridhaan-Mu untuk mengabulkannya…Aminnnn.” 

Usai umroh di awal tahun 2016, persiapan ke Kilimanjaro mulai disusun. Mulai dari budget dan persiapan fisik. Beberapa gunung-gunung di Jawa menjadi target untuk dijadikan training camp. Rencananya pelatihan fisik akan dilakukan selambat-lambatnya 3 bulan sebelum hari keberangkatan.

Cobaan masih datang menghadang. Saat sedang mempersiapkan program pelatihan fisik, aku dapat kabar dari Mama. Keluarga yang ada di Makassar berencana merayakan lebaran Idul Fitri di Jakarta. Beliau memintaku untuk merenovasi rumah yang ada di Cileungsi karena sejak dibeli belum pernah ditempati. Beberapa bagian sudah rusak dan perlu perbaikan. Tentunya, hal itu butuh dana yang tidak sedikit. Belum lagi untuk pengadaan perabot. Lagi-lagi aku harus memilih antara keinginan orang tua serta keluarga dan keinginan pribadi.

Aku kembali mengalah. Budget yang sudah disiapkan untuk ke Kilimanjaro harus di re-alokasikan untuk renovasi rumah. Entah berapa banyak atau akan tersisa berapa, aku tak memikirkannya lagi. Namanya pengerjaan fisik bangunan, lebih seringnya melewati budget. Untuk sementara mimpi ke Kilimanjaro harus di kubur lagi. (Bersambung)

*Penasaran kelanjutannya? Follow me!

Advertisements

6 thoughts on “Menggapai Mimpi di Atap Afrika, Kilimanjaro (1)

  1. Fadil

    Keren bro…bakat menulis lu seperti kawin siri dengan bakat petualang lu,

    Gw ngebayangin kalo lagi meeting bahasa lu seperi ini, yg ada bukan nahas angka2..tapj menikmati cerita lu ajah

    1. Hi Bro, sorry late reply. Aku tidak jadi menggunakan Philip karena dia agak2 drama. Baca kelanjutannya hingga habis yak, ada di sana alamat provider yang aku gunakan. Anyway, Thanks dah baca and leave comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s