Gunung Api Purba Nglanggeran – Jogjakarta

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kota Jogja dari Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Suara jugijak-gijuk-gijak-gijuk menandai keberangkatanku dari Stasiun KA Senen menuju Kota Gudeg, Jogja. Sudah tak terhitung berapa kali aku berkunjung ke kota nan sarat sejarah itu. Boleh dikata, Jogja sudah menjadi rumah ke-2 bagiku. Kotanya yang ramah dan hommy membuatku tak pernah berpikir panjang untuk kembali ke sana. Suasana Jogja, sangat kerap menyisip di sanubari dan membawa langkah kaki berderap laksana hentakan kaki kuda di Malioboro. Kota Jogja ituuu…. “Ahhhh sudahlah.. Buruan ceritain soal Nglanggeran” 

Jpeg
@Stasiun Tugu

Berawal dari ajakan seorang teman, sebut saja namanya Rudy (Bukan Rudy Hartono apalagi Rudi Choiruddin) mengajakku mencoba jalur pemanjatan di tebing Nglanggeran. Setelah melihat foto-foto pemanjatan beberapa tebing di sana, akhirnya aku tertarik. Tiket kereta PP Jakarta-Jogja-Jakarta di booking dan Rudy pun bersedia menemani. Bahkan dia sangat bersemangat dan bersuka cita karena kembali dia berkesempatan memanjat tebing bersamaku. Kami berkomunikasi cukup intens untuk persiapannya.

Untung tak dapat di raih, malapetakan terkadang sulit di duga apalagi tolak. Begitulah yang dialami Rudy. Beberapa hari menjelang hari-H, dia ternyata wajib menghadiri salah satu acara kampus. Tidak boleh tidak. Waktunya hari Minggu  pula. Tentunya hal itu membuyarkan semua kegembiraan yang sudah dia pupuk sejak dulu kala. Rudy murung, bersedih. Nafsu makannya hilang, entah nafsu-nafsu yang lain. Aku yang membaca whatsapp-nya bisa merasakan kesedihan dan duka laranya. Namun aku tak bisa berbuat banyak. “Maaf ya Rud, aku ndak bisa bantu apa-apa selain doa. Makanya itu kuliah cepat dikelarin “

Singkat cerita, aku langsung menemui Rudy sesaat setelah tiba di Stasiun Tugu hari sabtu pagi. Bukan untuk menghiburnya, namun karena aku mau numpang mandi di kosan dia. Rudy tetap akan menemaniku memanjat seharian sebelum balik ke Jogja di malam harinya. Berdua kami naik motor meninggalkan Kota Jogja yang sudah mulai dipadati para kaum ‘pengungsi’ dari kota-kota lain.

Jpeg
Selfie di Gerbang

Tak pakai lama apalagi macet, kami tiba di pintu masuk kawasan Geopark Nglanggeran sejam kemudian. Tulisan selamat datang terpampang dengan lebar. Selfie, itu yang pertama kali aku lakukan, buat barbuk! Beberapa petugas geopark menyambut kami, salah satunya mas Rama, kenalan Rudy. Mas Rama ini juga yang sering menemani para pemanjat berlatih di beberapa tebing yang sudah terpasang jalur.

Usai sarapan, kami segera menuju ke salah satu pendopo tepat di samping tebing. Carrier di buka, alat di keluarkan. Carabinner, harness,  tali carmantel, runner, sepatu, chalk bag dan peralatan me-lenong pun di pasang. Cuaca cerah, langit biru. Rudy membawaku ke salah satu tebing kira-kira setinggi 5 meter.

Jpeg
Siap-siap nge-lead

Ahhhh, tebing yang lain gak ada Rud, ini mah mudahhhh. Liat aja neh banyak poin dan pijakan” Kataku dengan sangat sombongnya.

Cobain ini aja dulu bang abis itu kita pindah ke tebing lain. Abang yang nge-lead yak!” Jawab Rudy yang masih terlihat sedih memikirkan nasibnya yang harus balik ke Jogja malam harinya. Oh ya, nge-lead itu artinya pemanjat pertama yang akan memasang runner di Hanger, plus nyantelin tali carmantel buat pengaman. Begitu bahasa gampangnya. Bahasa susahnya? Gak usah aku info lah. Bukan karena kuatir kalian tak paham, aku juga tak tauk! Hahahaha

Aku segera mengambil posisi untuk memanjat. Rudy bersiap back up. Dengan mudahnya runner pertama terpasang. Menyusul runner ke- 2. “Gua gitu lohhhh…” Masih dengan pikiran sombong tingkat dewa yang hampir tak termaafkan. Saat akan memasang runner ke-3, aku sudah mulai kelabakan. Tak ada pijakan dan poin untuk bergantung. Beberapa pijakan dan pegangan aku coba namun tak berhasil. Keringat sudah mulai bercucuran. Akhirnya aku meminta Rudy untuk “lower me” menurunkan aku dari tebing yang terlihat ‘mudah’ itu. Aku akan beristirahat sejenak dan mencobanya kembali.

Percobaan ke- 2 dan ke-3 sama sekali tak membuahkan hasil untuk menyantelkan runner ke-3. Akhirnya aku menyerah dan pasrah. Keringat sudah membasahi seluruh tubuh persis seperti ayam habis di siram air.

“Mana neh tebing yang mudaaahhh?” Rudy mulai menyindirku tanpa perasaan.

“Sebenarnya ini sangat mudah Rud, hanya saja mungkin aku kelelahan semalaman naik kereta, tidur sebentar dan langsung manjat di sini. Nge-lead pulak” Jawabku membela diri ala tersangka KPK.

Sana lu yang lanjutin lead, biar aku yang belay” kataku seraya melepas tali dari harness. Rudy pun mulai memanjat. Tak beda jauh, dia pun bersusah payah meski akhirnya berhasil. Nah di situ bedanya, dia bersusah payah tapi berhasil. Lah aku, ndak perlu bersusah payah tapi berhasil. Beda nasib emang…. Hahahaha

p_20161112_1401391
Lead Climbing

Setelah semua runner terpasang hingga top, kami lalu bergantian magang (Manjat Ganteng). Saat sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba hujan sepertinya cemburu melihat keceriaan kami. Tiba-tiba dia turun tanpa diundang. Kami kelabakan dan bergegas membuka semua runner yang sudah terpasang di jalur. Lagi-lagi aku mencoba untuk melakukan clean up (melepaskan runner dari hanger) dan segera berteduh di bawah pendopo.

Hujan sepertinya sedang mengajak kami bercengkerama. Sesaat setelah berteduh, tiba-tiba hujan berhenti dan kembali cerah. Kami kembali melanjutkan acara magang kami di tebing berbeda. Kali ini Tebing tinggi yang ada di sisi tebing pertama. Tingginya kira-kira 25 meter. Kembali aku mencoba nge-lead. Tak seperti yang pertama, kali ini aku berhasil mencapai puncak jalur dengan memasang 10 runner. “Kalian gak perlu bilang WOWWW, itu biasa aja!”

Arliyan (rekan dari Jogja) dan Mas Rama bergabung. Kami bergantian memanjat. Lagi-lagi, saat sedang seru-serunya memanjat, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Kali ini sudah gak main-main seperti tadi, malah kayak ngajak berantem. Kami kelabakan mengamankan peralatan ke pendopo. Rudy segera melakukan clean up dengan memanjat hingga ke top, di belay oleh Arliyan. Aku bergegas memindahkan peralatan lainnya ke pendopo. Hujan semakin deras seperti tumpah dari langit. Rudy masih di puncak jalur. Sepertinya dia mengalami kendala melepas tali di hanger puncak. Akhirnya dia memilih turun dan bergabung di pendopo.

Hujan mulai reda, mungkin dia lelah. Kami kembali ke bawah tebing untuk membuka tali yang masih terbentang hingga ke puncak. Mas Rama diminta membantu untuk melakukan clean up dengan metode climb down. Ternyata oh ternyata, ujung tali tersimpul mati dan tersangkut di hanger puncak. Sepertinya Rudy lupa membuka simpul pengamannya sebelum menarik tali. Mungkin dia sangat lelah atau masih berselimut duka lara karena harus segera kembali ke Jogja.

Nglanggeran mulai gelap. Selain karena mendung, jam sudah menunjukkan pukul 5.30 sore. Kami segera mengemas alat. Rudy harus pulang, aku dan Arliyan harus mencari tempat nge-camp. Awalnya kami akan ikut bergabung dengan weekender lain yang terlihat cukup ramai berjalan ke puncak di kawasan Geowisata dengan bawaan mirip2 kulkas di gendong di punggung. Cukup banyak. Artinya tempat nge-camp ramai. Aku menanyakan ke Mas Rama sebagai Akamsi (Anak Kampung Sini) yang paham seluk beluk dan setiap lekuk wilayah Nglanggeran. Akhirnya Mas Rama menawarkan tempat nge-camp di salah satu puncak Gunung Api Purba yang konon terbentuk sejak 60 juta tahun yang lalu. Lama amirrrr…..

Sebelum bergerak ke tempat nge-camp, terlebih dahulu kami mampir makan siang merangkap makan malam (secara sudah jam 5 lewat) di salah satu warung tersembunyi. Suer, tempatnya tersembunyi. Dari jalan raya arah Nglanggeran kami berbelok ke kiri mengikuti turunan. Namanya Warung Soto Mbak Jum. Awalnya aku pikir ini rumah. Dari Parkiran masih harus ke dalam lagi. Dan ternyata…tempatnya asik dan seru banget pake banget lagi. Tempatnya di pinggir sawah dan banyak tempat buat leyeh-leyeh. Tempatnya di buat sangat natural. Suara jangkrik dan binatang sawah terdengar bersahut-sahutan laksana simponi alam nan syahdu. Hujan gerimis meninggalkan suara berirama semakin melengkapi kesyahduan suasana sore menjelang malam saat itu.

Suasana dan panorama indah khas pedesaan semakin terasa lengkap dengan nikmatnya soto ayam buatan Mbak Jum. Tanpa basa-basi aku minta nambah 1 mangkok lagi. Bukan Rakus, secara sejak kemarin malam aku belum pernah makan secara proper… cuman makanan instant yang apa adanya aja.Giliran ketemu makanan enak, ya wajarlah ya aku makan banyak.. “Udahhhh Iya-in aja biar cepet ceritanya.”

Makan sore beres, hujan masih gerimis. Tak ada jalan lain, kami harus bergegas menuju tempat camping. Gelap mulai turun membungkus semesta. Denyut nadi kehidupan mulai melambat. Namun tidak dengan kami yang mengendarai 4 motor. Kami seperti berkejaran dengan kegelapan. Kabut turun semakin membuat kejar-kejaran itu terlihat dramatis. Aku sudah membayangkan diriku seperti Tom Cruise di Film Mission Impossible. Jalan menanjak, berbelok masih bisa terlibas. Namun pas di ujung, kami bertemu tanah liat yang membuat jalanan licin. Tak ada pilihan, nyetirnya harus pelan dari pada menggelinding. Motor di parkir di rumah salah satu warga dan segera bergegas menuju ke area camping.

Kami tiba di lokasi dalam balutan kabut tebal. Hari sudah benar-benar gelap. Mas Rama menunjukkan lokasi camping di bawah satu-satunya pohon yang ada di sana. Kabut tebal menutupi pemandangan sekeliling. Kami bergegas mendirikan tenda dengan bantuan cahaya headlamp. Saat sedang mendirikan tenda, tiba-tiba kabut menipis dan mempertontonkan pemandangan di bawah sana. Masya Allah, Aku merinding menyaksikan pemandangan city light nan maha indah di bawah sana, meskipun samar-samar di beberapa bagian. Kota Jogja terlihat jauh lebih cantik dari ketinggian. Terkadang Kota Klaten samar-samar mengintip malu dari balik kabut.

Tenda sudah berdiri, carrier sudah dimasukkan. Mas Rama pamit dan mohon maaf tak bisa menemani sementara Rudy dengan sangat tidak rela harus angkat kaki meninggalkan kami. Besok dia harus menghadiri seminar yang wajib diikuti.  Sudah jam 7 malam.

Sepeninggal mereka berdua, Aku dan Arliyan mulai membereskan tenda sambil masak air. Buat ngopi tentunya. Kabut masih menyelimuti dengan dinginnya. Kami berdua ngobrol beberapa hal untuk mengisi malam nan dingin itu. Saat sedang ngobrol, HP Arliyan berbunyi. Signal di sana memang on off. Kadang kencang kadang letoy.  Arliyan info bahwa Pijar dan salah seorang rekannya sudah ada di bawah dan ingin bergabung. Namun mereka berdua tak tahu jalannya. Tak ada pilihan lain, Arliyan harus turun menjemput mereka. Artinyaaaaa…. aku harus tinggal seorang diri. Suer, seorang diri. Sebenarnya gak seorang diri juga seh.. Tadi sebelum pulang Mas Rama pesan kalau mau kencing jangan mengarah ke salah satu sudut karena 5 meter dari tempat  itu adalah … KUBURAN!!! Perfecto!!! Hiiiiii……

Tinggallah aku seorang diri merenungi nasib dalam balutan kabut di luar sana. Beberapa meter dariku ada beberapa orang yang sudah usai bertugas di bumi dan sedang mengisi hari-harinya di alam kubur.  Secangkir kopi panas dan sebungkus biskuit menjadi teman malam. Aku melangkah keluar tenda dan duduk di ujung tebing. Kabut tebal kembali menyelimuti Kota Jogja dan seputarannya. Tak terlihat apapun selain warna putih. Duduk seorang diri di puncak gunung dalam situasi seperti itu membuatku sedikit melloww… Banyak hal yang ada di kepala dan pikiranku. Rasa sendu dan syahdu berpadu laksana wulan merindu…du..du..du..du..du..du….

Saat sedang menyeruput kopi panas yang sudah berubah hangat. Dalam kesunyian aku berandai -andai, “Alangkah indahnya jika saat ini Sang Maha Pencipta lukisan alam nan maha indah menyingkirkan kabut di depanku dan memberiku pemandangan indah. Hanya itu yang aku inginkan saat ini”.

Dalam hitungan detik, angin tiba-tiba berhembus. Cukup kencang. Aku merapatkan jaket, masih enggan beranjak dari tempat duduk. Pandanganku seakan menembus tebalnya kabut putih. Dalam sekejap, pemandangan di depanku tiba-tiba berubah. Pekatnya kabut putih serta merta berganti kelap kelip lampu kota. Sempurna. Kabut tebal seperti lenyap menyublin ditelan kegelapan malam. Aku tertegun. Badanku gemetar. Secepat itukah Sang Maha Indah menjawab doa dan keinginan hambanya yang sedang seorang diri ini? Tak terasa ada setetes air menitik menghangatkan wajah yang sudah menggigil dingin oleh pekatnya kabut kehidupan dan masa lalu.

Tak ingin bermelow lama-lama, aku beranjak ke tenda mengambil kamera. Moment indah nan mempesona itu aku abadikan dengan teknik slow speed. Hasilnya?

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kota Jogja dari atas

Arliyan dan Pijar ditemani salah seorang rekannya (aku lupa namanya) datang dan bergabung. Hal yang aneh, sesaat sebelum mereka tiba, kabut tebal yang tadi bersembunyi entah kemana tiba-tiba sudah menyebar dan menutupi seluruh pemandangan indah di bawah sana. Kami mengobrol dambil ngopi-ngopi. Rasa ngantuk mulai menyerangku yang belum beristirahat sejak kemarin malam. Aku bukan orang yang gampang tidur, apalagi sambil duduk di kereta. Aku pun terbang ke alam mimpi.

Aku terbangun pukul 4 pagi saat yang lain masih bercengkerama di alam mimpi. Saat melangkah keluar tenda, pemadangan city light kota Jogja masih dengan genitnya menggodaku. Aku menyambut kegenitannya dengan mengambil kamera. Aku mengambil gambar dari berbagai sudut. Ahhhh…. aku tak bisa melukiskan keindahan subuh menjelang pagi nan sunyi itu…

Pagi menjelang. Suara lenguhan sapi dan kokok ayam terdengar hingga ke puncak gunung berketinggian 700 mdpl ini. Kami masih menikmati suasana pagi. Awan dan kabut tebal sesekali masih menyelimuti dan menyembunyikan sunrise dan puncak Gunung Merapi. Ada sedikit bersit kekecewaan. Matahari sudah mulai bersinar. Tak ada pendar warna matahari pagi yang indah. Kami bersiap-siap untuk membongkar tenda. Tapi tunggu dulu. Dari kejauhan terlihat sebuah rangkaian warna warni berbentuk lengkungan. Masih samar-samar, namun perlahan semakin memperlihatkan bentuk aslinya. Laksana sebuah tangga melengkung perlahan dan pasti barisan bidadari cantik sedang berbaris turun ke bumi untuk mandi. Begitulah dongeng semasa kecil jika ada bidadari. Barisan sawah di bawah sana seperti melengkapi keindahan pagi damai itu.

Jpeg
Pelangi di langit Jogja

Usai menikmati pelangi, kami segera membereskan tenda. Masih ada agenda memanjat salah satu tebing sebelum balik ke Kota Jogja. Kami kembali menyusuri jalanan yang semalam kami lalui. Pagi itu kondisi jalanan sudah tak selicin semalam. Meski demikian tetap harus berhati-hati.

Setiba di pendopo, kami memilih salah satu tebing tak jauh dari lokasi pemanjatan kemarin. Kami menamakannya jalur Jepang karena konon dulu ada orang Jepang yang mencoba memanjat jalur itu namun tak bisa sampai puncak jalur. Jalur yang sama di buat oleh Kelompok Sekolah Panjat Tebing Merah Putih, dimana aku bergabung.

Lagi-lagi aku yang harus nge-lead. Sama seperti tebing pertama kemarin, meski terlihat cetek, sangat sulit untuk bisa mencapai puncak jalur yang hanya perlu 5 runner. Setelah berjibaku dengan susah payah, akhirnya kami memutuskan untuk memasang hanya 4 runner. Aku sudah tak sanggup lagi, sudah terlalu lelaaaah…

Setelah 4 runner terpasang, Arliyan, Pancar dan rekannya memanjat. Aku sendiri sudah menyudahi sesi dengan beristirahat. Tenaga sudah habis terkuras memasang runner sampai mencoba 4 x, itupun hanya bisa sampai hanger ke 4. Tapi itupun sudah sesuatu yak, secara aku nge-lead ..hehehehe

Usai pemanjatan jam 12 siang. Langit kembali berduka. Awan hitam putih terlihat siih berganti. Mereka seperti mempermainkan kami. Tapi mereka pastinya kecewa karena kami sudah mau pulang. Carrier sudah terisi penuh peralatan, area sudah bersih dari sampah yang kami bawa turun. Kami melangkah gontai menuruni anak tangga di Kawasan Geopark indah itu. Kami kembali ke parkiran di temani Mas Rama. Langsung Pulang? Ohhooo…tentu saja..tidak! Kami kembali mampir ke Soto Mbak Jum yang enaknya sampai ke ubun-ubun. Setelah semangkuk habis ludes sampai mangkuk licin, kami lalu berpamitan ke Mas Rama untuk kembali ke Kota Jogja. Hujan rintik-rintik mengiringi kepulangan kami. Nglanggeran seperti bersedih kami tinggalkan, namun apa daya. Aku harus segera kembali ke Jakarta untuk mencari nafkah. Membanting tulang memeras keringat demi sesuap nasi plus lembaran-lembaran tiket. Hahaha…

Sampai ketemu di petualangan berikutnya… Gak usah pake sedih gitu dong karena ceritanya habis. Coba senyum…..nahhh gitu dong, Cakep kan? Hahaha

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
My sweetest smile for you, my lovely blog reader

Untuk melihat perjalanan ini dalam bentuk Vlog, silahkan unduh videonya Video Nglanggeran. Klo suka silahkan like dan suscribe, kalo nggak yahh di share ajalah…. Situ pasti dapat pahala. Hehehe…

Special Thanks to Rudy Winardy, Mas Rama/Pengo, Arliyan, Pancar and temannya . See you next year, Insya Allah.

Advertisements

One thought on “Gunung Api Purba Nglanggeran – Jogjakarta

  1. Pingback: Menggapai Mimpi di Atap Afrika (2) – Rahmat Hadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s