Gunung Guntur Garut, Amazing!

Jpeg

Treknya mirip trek menuju puncak Semeru dan Rinjani, naik selangkah mundur 2 langkah. Ditambah lagi ada 3 puncak yang harus di daki untuk menuju titik triangulasinya di 2249 mdpl. Sungguh sebuah perjuangan yang memerlukan cucuran keringat meski tak perlu air mata.  Saat turun pun tak kalah menyebalkannya. Tak heran jika bebeberapa pendaki menjulukinya Semeru-nya Jawa Barat.  Ingin tahu seperti apa perjuangan mendaki Gunung Guntur? Ikuti ceritanya.

Perjalanan diawali dari Jakarta saat menjelang senja. Sebelum ke Garut, tempat Gunung Guntur berada, aku mampir terlebih dahulu di Padalarang, tepatnya di Tebing Citatah. Aku akan join dengan Wendi dan Bobbi yang saat itu sedang melakukan Rock Climbing di sana. Tiba di Citatah selepas Maghrib, kami berlatih memanjat Jalur Genset, salah satu jalur pemanjatan yang ada di Tebing Citatah 125. Berlatih memanjat malam menimbulkan sebuah sensasi tersendiri. Perlu kehati-hatian lebih, berbeda dengan saat memanjat di siang hari. Lebih ngeri-ngeri sedap!

Jpeg

Kami menyelesaikan pemanjatan saat jarum jam menunjukkan pukul 10 malam. Usai ngobrol sejenak, kami berpisah arah. Wendi dan rekan lain kembali ke Jakarta, aku melanjutkan perjalanan ke Garut. Hujan senantiasa menemani perjalananku menyusuri Tol Cipularang hingga memasuki Rancaekek. Kantuk mulai menyerang. Awalnya Aku bermaksud mencari tempat menginap di sekitar Nagreg. Hingga mendekati pertigaan simpang tiga Nagreg, tak jua aku temukan penginapan. Akhirnya aku memutuskan menginap di Cipanas, sebuah kawasan wisata di Garut yang terkenal dengan permandian air panasnya di setiap hotel atau penginapan.

Aku sudah beberapa kali menginap di Cipanas, baik bersama rekan ataupun keluarga. Tak sulit bagiku menemukan penginapan. Hanya berbeda dengan biasanya, kali ini aku mencari penginapan murah. “Toh hanya beberapa jam saja untuk tidur dan beristirahat sebelum memulai pendakian keesokan harinya.” Begitu pikirku.

Sebuah hotel murah bertarif 175 ribu aku dapat dengan bantuan akang-akang yang mangkal di pertigaan. Kamarnya lumayan bagus dan di dalamnya terdapat kolam kecil berisi air panas. Lumayan buat meluruskan otot usai panjat tebing dan menyetir sejauh 200 km. Aku baru saja akan membuka baju saat terdengar pintu kamar di ketuk orang. Aku membuka pintu kamar dan mendapati akang-akang yang tadi menunjukkan hotel ini.

Maaf mas, apa mau sekalian dengan tukang pijitnya?” Aku melirik jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul setengah 1 pagi. “Oh, Nuhun kang. Aku mau istirahat. Capek banget!” Jawabku dengan senyum dipaksa sambil menutup pintu kamar. Aku bergegas ke kamar mandi, berendam! “Hmmm..coba tadi tidak menolak tawaran akang-akang tadi untuk mengirimkan tukang pijat yak! Pastinya acara berendam ini jadi lebih… ahh sudahlah. Enak aja kan berendam pas abis mijat.” Begitu yang aku pikirkan. Tak lebih, suerr!

Jpeg

Jam 12 siang aku menjemput Aldi, rekan yang akan mendampingiku nanjak ke Gunung Guntur pekan ini. Aldi masih sekolah di salah satu SMA di Kota Garut. Aku berkenalan dengannya saat kami sama-sama mendaki ke Gunung Cikuray beberapa waktu lalu. Kami menjalani pertemanan setelahnya.

Jam 1 siang, kami tiba di rumah pak RT yang menjadi salah satu basecamp pendakian sekaligus merupakan tempat parkir. Aku di sambut dengan baik oleh Pak RT yang juga membuka warung di depan rumahnya. Segelas es kelapa di suguhkan. Nikmat dan lumayan menjadi pelepas dahaga di siang nan terik itu.

Pak RT memberikan dokumen pendakian untuk diisi saat kami sudah bersiap-siap berangkat. Dokumen itu nantinya akan di serahkan saat tiba di Pos 3. Tak ada pembayaran apapun. Pak RT hanya memesan agar barang-barang berharga di titipkan di Pos 3 saat akan muncak atau sekalian di bawa. “Harap berhati-hati dengan barang bawaan saat akan muncak!” Begitu pesan pak RT saat kami akan mulai melangkah.

Berjarak beberapa puluh meter dari Rumah Pak RT, kami mampir untuk melakukan registrasi dan membayar karcis pendakian 4000 rupiah per orang. Kami mendapat 2 tiket berwarna pink. Tak perlu mengisi buku registrasi karena sudah dilakukan di tempat Pak RT.

Perjalanan kembali dilanjutkan. Berselang beberapa meter, kami berhenti lagi di sebuah pos kecil. Harus registrasi lagi. Itulah pos 1. Kali ini kami harus membayar 15 ribu per orang. Entahlah, kenapa proses registrasi mendaki Gunung Guntur ini ‘sedikit’ ribet. Pembayaran dan registrasi harus dilakukan di 2 tempat.  Terlalu banyak pihak yang ingin terlibat dan ikut mendulang rupiah? Bisa jadi.

Aku dan Aldi mulai berjalan menyusuri jalanan berpasir. Jam menunjukkan pukul 2 siang. Jalanan gersang dan cuaca panas membuat perjalanan itu cukup menyiksa. Keringat membasahi seluruh badan yang baru saja berjalan beberapa menit. Konon, jika beruntung akan ada truk pasir yang bisa di tumpangi hingga ke pertigaan. Tapi siang itu sepertinya kami kurang beruntung.

Cuaca panas, tanjakan dan beban carrier yang lumayan berat bertengger di punggung membuatku sering berhenti mengatur nafas. Aldi yang berjalan di depan terpaksa ikut berhenti menungguku. Tak heran, selain sudah pernah mendaki ke Guntur, Aldi juga adalah atlet pelajar di bidang atletik yang sering berlatih. Sementara aku? Ah sudahlah…

Setelah berjalan selama 1 jam akhirnya kami bertemu warung tenda. Penjualnya seorang ibu tua ditemani suaminya. Kami berhenti sejenak menikmati syrup sirsak. Karena hausnya, aku meminum 2 gelas. Hausss euyyyy…

Perjalananan dilanjutkan kembali. Tak ada yang berubah, cuaca masih panas, trek jalan berpasir nan mendaki serta keringat sebesar biji jagung membasahi sekujur tubuh. Kalaupun ada yang berubah, tentunya rasa haus yang sudah berkurang usai di sirami 2 gelas jus sirsak dingin.

Trek medan sudah mulai berganti saat kami berbelok kanan. Bukannya lebih mudah namun semakin sukar. Kemiringan mendekati 45 derajat. Untungnya sudah agak teduh karena sudah dinaungi vegetasi. Berkali-kali aku berhenti untuk mengatur nafas yang porak poranda. Aldi masih setia ikut berhenti menunggu. Cuaca panas sudah tertutupi kabut yang mulai turun.

Tak lama berselang, hujan turun. Kami yang saat itu sedang semangat berjalan terpaksa harus menepi. Untungnya ada sebuah warung tenda (lagi). Saat berteduh, kami berkenalan dengan seseorang yang mendaki seorang diri asal Garut. Namanya Dikdik. Dia sudah sering naik ke Gunung Guntur bahkan kadang tidak sampai menginap.  Hebat.

Kami kembali berjalan saat gerimis hanya menetes satu-satu. Tak jauh berjalan, akhirnya tiba di pos 2. Lagi-lagi ada warung, namanya Warung Teduh. Penjualnya teteh-teteh cantik.  Jualannya cukup bervariasi, mulai dari goyangan eh maksudnya gorengan hingga roti sobek. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati segelas teh dan pisang goreng. Sekaligus ngobrol-ngobrol ganteng sama sang teteh yang sangat ramah. Biar dagangannya laku lah yaaa.. coba kalau sang teteh judes, ya tetep aja kita beli, lha kita lapar. Iya kan?  Udah ah, lanjutt..

Kami lalu berpisah dengan sang teteh yang tampak begitu berat melepaskan kepergian kami padahal sudah bayar. Hehehe… Langkah kami langsung disambut dengan gemericik air sungai. Samar-samar terdengar suara gemuruh air terjun. Itulah suara air Curug Citiis. Air terjun berketinggian 10 meter dengan airnya yang jernih dan dingin. Itulah mengapa di sebut Citiis yang artinya dingin. Sebuah jembatan bambu yang sudah lapuk kami gunakan menyeberangi kali kecil berbatu. Kami berhenti sejenak karena Aldi memaksaku untuk di foto meskipun aku agak sedikit malas di foto. Tapi karena di paksa yaahh… udahlah, buat nyeneng-nyenengin teman kan termasuk pahala juga…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai menyeberang kali, mulailah penderitaan yang sesungguhnya. Trek berbatu berkemiringan hingga 80 derajat langsung menyambut. Diiringi suara air terjun berpadu dengan detak jantung yang lebih mirip beduk maghrib saat bulan puasa. Keringat terus mengucur. Lagi-lagi aku harus berkali-kali berhenti untuk menikmati pemandangan nun jauh di bawah sana. Sumpah, indah banget… “Alasaaaaannnn, pengen istirahat!” Teriak hati kecilku yang masih polos, sepolos jidat si teteh yang belum di gambari alis palsu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Butuh waktu 30 menit untuk menyusuri tanjakan batu yang tak sedikitpun memiliki belas kasihan. Tak ada bonus sama sekali, meskipun hanya setengah bulan gaji, eh maksudnya setengah meter. Semuanya nanjak, nanjak dan nanjak. Untungnya hanya setengah jam, tanjakan yang agak landai sudah menggantikan tanjakan batu. Juga, dari jauh sudah terlihat pos 3 dengan tenda warna-warni berpadu dengan sang dwi warna berukuran besar sedang berkibar. Merah Putih. Aku mempersilahkan Aldi berjalan duluan dan membiarkanku seorang diri. Aku ingin istirahat sejenak di trek karena masih sangat lelah, sungguh! Meskipun aku lebih lelah melihat kamu.. iyaahh kamuhhh!

Jam menunjukkan pukul 5.15 saat aku tiba di Camping Ground. Kabut sesekali menyelimuti kawasan begitu juga hatiku. Kami segera mencari tempat yang agak rata untuk mendirikan tenda. Tidak ada tempat yang rata karena area camping ground itu punggung gunung. Kalau ingin dapat area yang rata, silahkan jalan turun kembali ke rumah pak RT.

Gelap datang pertanda malam mulai bertugas. Cahaya terang di langit mulai menghilang berganti kegelapan malam. Suara binatang malam mulai terdengar. Suaranya menyejukkan hati dan pikiran. Di saat itulah sebuah pemandangan nan maha indah terhampar nun jauh di bawah sana. City Light! Huffttt… aku sangat kesulitan menggambarkan dengan kata dan kalimat panorama malam yang terhampar nun jauh di bawah sana. Lihat saja foto-fotonya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jpeg

Secangkir kopi panas dan gorengan yang sudah membeku hasil beli dari teteh yang menjadi teman malam itu. Sesekali terdengar suara candaan dari tenda yang ada di atas. Kami memang sengaja memilih tempat yang agak terpisah. Bukan apa, salah satu tujuan ke gunung adalah untuk menikmati ketenangan. Kalau mau nyari yang ribut-ribut kan gak perlu ke gunung, cukup buka sosial media. Pasti rame dan berisik.

Usai makan malam, Aku dan Aldi memutuskan untuk tidur cepat. Selain karena sangat lelah, kami juga rencananya akan bangun jam 2.30 untuk summit attack. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Baru tertidur tak seberapa lama, aku terbangun oleh suara berisik. Ada pendaki yang bermain gitar dan menyanyi sambil berteriak. Persis jika aku sedang karaoke di Smule. Bedanya, aku tak mengganggu orang lain. Aku mencoba menikmati lagunya yang cukup bervariasi. Mulai dari lagu Flashlight-nya Jessy J. hingga lagu Indonesia Raya. Nah lagu terakhir yang agak sulit aku nikmati. Biasanya setiap mendengar lagu kebangsaan itu, aku pasti berdiri siap. nah ini kan aku lagi posisi tidur. Gimana berdirinya?

Subuh menjelang, Aku dan Aldi segera bersiap-siap. Saat membuka pintu tenda, arghhh pemandangan city light di bawah sana masih terhampar dengan indahnya. Sudah jam 02.30 dinihari. Segelas energen menjadi penghangat perut sebelum mulai beraktifitas.

Ada hal yang berbeda di Gunung Guntur ini. Jika di hampir semua gunung (meskipun tak semua), kita bisa meninggalkan barang bawaan di dalam tenda saat melakukan summit attack. Tapi di sini, ada 2 pilihan, menitipkannya di pos penjagaan atau membawanya naik. Di sarankan untuk tidak meninggalkan barang apapun tanpa penjagaan di dalam tenda saat summit attack. Setidaknya begitulah pesan dari Pak RT sesaat sebelum berangkat kemarin. Akhirnya kami harus ‘packing’ terlebih dahulu. Beres, kami segera menyetorkannya di Pos Penjagaan. Sebelum mulai jalan, terlebih dahulu kami mengisi botol air untuk bekal.

Perjalanan ‘menyerang’ puncak dimulai. Beberapa pendaki sudah berada di depan. Terlihat dari cahaya senter yang mereka bawa, tampak sudah ada yang mendekati puncak. Entah mereka mulai start jam berapa.

Jpeg

Cuaca dingin menemani perjalanan menuju puncak diterangi sorotan cahaya headlamp. Medan menanjak berkemiringan sekitar 45 – 75 derajat lagi-lagi membuat langkah kaki seperti terseret. Kehati-hatian, fokus dan konsentrasi adalah hal mutlak. Trek terjal dan medan berpasir membuat perjalanan terasa sangat menyulitkan meski tak sampai menyedihkan. Sekali melangkah bisa jadi mundur 2 langkah. Sudah kayak baris berbaris defile dah… Belum lagi pendaki lain yang terkadang berhenti tertidur di trek tanpa menyalakan lampu senter juga menjadi tantangan tersendiri untuk di hindari.

Meskipun berat namun pemandangan saat membalik badan selalu menjadi penghibur karena keindahannya. Apalagi kalau bukan city light. Saat dingin kembali menyergap pertanda keringat sudah mulai mengering, pertanda waktu istirahat sudah habis. Hayo kembali nanjak sampai puncak. Puncak bukan tujuan utama? Itu kalau orang lain. Bagiku puncak adalah target dan sasaran yang harus di perjuangkan untuk di capai. Hingga titik-titik keringat bercucuran pun tak apalah. Puncak saja aku perjuangkan, apalagi kamu? Iyaahh, kamu, kamu dan kamuuu…

Setelah berjibaku melawan trek pasir yang semakin mendekati puncak semakin berulah, ditambah lagi dengan antrian di jalur semakin padat. Setelah berjalan hampir 3 jam tiba jualah kami di puncak. Akhirnyaaaa…. tapi eitssss, jangan senang dulu. Itu baru puncak 1, sementara puncak tertingginya ada di….puncak 3! Tapi tak usahlah di pikirkan dulu. Nikmati saja dulu apa yang ada di Puncak 1.

Jpeg

Jam menunjukkan pukul 5. 30 saat kami menjejakkan kaki di puncak 1. Beberapa rekan pendaki lain sudah di sana menanti datangnya sunrise. Tapi nampaknya pagi itu sang mentari lagi malas gerak (mager) dari balik awan. Hanya ada cahaya sumringah yang sesekali menyembul dari balik awan tebal di ufuk timur. Tampak seperti menari di atas lautan awan. Menari bersama pendaki-pendaki lain yang sibuk berfoto dan berteriak-teriak ndak jelas khas anak alay.

Usai beristirahat perjalanan kembali di lanjutkan. Meskipun lebih ringan dan lebih landai dari trek ke puncak 1, trek ke puncak 2 tetap saja menyiksa. apalagi matahari sudah mulai bersinar dengan garangnya. Aldi berjalan di depan dan aku mengikutinya dari belakang. Dari kejauhan terlihat Gunung Cikuray berdiri dengan gantengnya. Sesekali lapisan dan goresan awan centil terlihat menggoda puncaknya. Tapi Cikuray tetap tak bergeming, stay cool. Asap belerang dari kawah Gunung Papandayan juga terlihat mengepul laksana asap cerobong. Langit biru dengan lapisan awan tipis, hijau pepohonan,pasir coklat kehitaman…ah sudahlah.. Intinya cuman 1 , indah! Itu aja.

Jpeg

Tiba di puncak 2 setelah berjalan selama 20 menit. Tak banyak yang kami lakukan di sana selain istirahat sejenak melepas dahaga. Foto-foto? Lagi-lagi si Aldi memaksaku untuk di foto. Tapi karena kondisi jiwa dan raga kurang begitu siap (baca : kecapean, red), akhirnya banyakan aku yang memotretnya. Tak pakai lama, kami lanjut ke Puncak 3.

Perjalanan ke Puncak 3 tak beda jauh dengan ke 2 puncak sebelumnya. Hanya kali ini kami lebih bersemangat karena sudah merupakan klimaks perjuangan kami pagi itu. Biasanya kalau sudah akan mencapai klimaks, agak slow-slow manja gitu jalannya. Sesekali Gunung Cikuray melempar senyum alay-nya. Gantian kami yang sok cuek dan stay cool. Tetap aja jalan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Akhirnya, jam 7.10 kami tiba di puncak 3. Hufffttt…. aku menghempaskan badan yang sudah gempor ke tanah. Letih lemah lesu loyo seperti menguap bersama keringat yang sudah membasahi sekujur raga. Untuk menambah indahnya nuansa pagi kala itu aku bermaksud membuka kompor dan nesting. Apalagi kalau bukan Ngopi-ngopi ganteng. Baru saja mo bikin kopi, ternyata dikdik, si solo trekker dari garut yang ketemu di trek kemarin sudah nyampe duluan. Dia lagi sibuk foto-foto narsis pake tripod. Kami pun nyusu-nyusu bareng (kopinya ternyata gak kebawa pemirsahhh… hahahaha).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jpeg

Usai ngobrol, foto-foto dan nyusu-nyusu, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Nahhh, penderitaan lain sudah mulai menghadang. Menuruni trek pasir yang membuat aku dan pendaki lain harus ber-salsa di atas pasir agar tak jatuh. Tak jarang pantat yang sudah gempor ini mendarat dengan sangat tidak mulus di pasir sambil meluncur ke bawah. Karena kesal, akhirnya aku mencoba untuk meluncur ke bawah menggunakan maaf, pantat. “Sekalian aja,” Begitu pikirku. Tapi ternyata, rasanya menyenangkan. seperti main perosotan. Akhirnya aku menggunakan metode ‘perosotan pake pantat’ itu hingga mendekati Pos 3. Memang menyenangkan dan lebih cepat sampai di bawah. Tapiiii…. ada tapinya neh, perlu pengorbanan. Bukan hanya korban maaf lagi, pantat terasa nyut-nyutan, juga ikut mengorbankan gaiter jadi robek, trekking pole yang patah daaann ini yang paling parah celana jadi robek bagian belakang. Untung saja celana yang aku pakai bahannya dobel jadi tidak sampai mengumbar ‘belahan’ ku. Bahaya,  itu kan aurat! Hahaha..

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setiba di Pos 3, kami langsung berkemas. Tenda di bongkar, di lipat dan di packing. Barang titipan di ambil di Pos Penjagaan dan kami langsung meluncur turun. Seperti biasa jika jalan turun, hanya memerlukan waktu 75 menit dari Pos 3 hingga ke rumah Pak RT. Usai menikmati es campur buatan Pak RT, kami langsung melesat menuju Garut untuk mengantar Aldi pulang. Usai itu, aku kembali menyusuri jalanan di Nagreg dan Tol Cipularang untuk kembali ke Jakarta. Sampai jumpa lagi, Guntur. I’m gonna miss you. Trust me!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Advertisements

One thought on “Gunung Guntur Garut, Amazing!

  1. Pingback: Menggapai Mimpi di Atap Afrika (2) – Rahmat Hadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s